Virtual Verbal berkesempatan untuk sedikit k.e.p.o mengenai keseharian, pengalaman, dan harapan AudreyFF, NabbskyFF, dan MikochanFF sebagai atlet eSport profesional. Walaupun mereka terlihat agak jaim, namun ternyata mereka adalah perempuan-perempuan yang ramah dan sudi menerima wawancara ngalor-ngidul dari tim redaksi Virtual Verbal yang muka-mukanya mirip jones di sosial media.

Jadi, kalian jangan sungkan untuk ngefans atau mendukung jejak langkah mereka, karena sebenarnya mereka itu humblefriendly, dan down to earth kok. Tapi, jangan lupa sopan santun ya VirutalVriends, karena mau siapapun orangnya pasti akan sangat tidak nyaman dan terganggu kalau diperlakukan macam-macam. Berikut mengenai mereka berdasarkan wawancara singkat kami dengan NabbskyFF, salah satu anggota divisi CS:GO dari FF Gaming.

Rutinitas Nabbsky

Gadis kelahiran 9 November 1996 ini adalah salah satu personil dari divisi CS:GO. Selain menjadi salah satu anggota divisi CS:GO, Nabbsky masih aktif menjadi mahasiswi di London School of Public Relations. Dia sedang sibuk-sibuknya kuliah dan telah sukses mencapai semester ke-7.

Nampaknya Nabbsky tidak menjadikan atlet eSport sebagai alasan untuk mengenyampingkan jenjang pendidikannya. Bagi kalian yang masih mencari-cari alibi antara memilih karir eSport dan pendidikan, selama ada akses jalan atas kedua tujuan tersebut, mengapa tidak mengikuti manuver Nabbsky? Toh Nabbsky pun membuktikan bahwa eSport dan pendidikan tidak saling menegasikan dan bisa berjalan beriringan.

Rintangan Sebagai Gamer Profesional

NabbskyFF
NabbskyFF (tengah), saat bersama dengan kedua temannya yaitu AudreyFF (kiri), dan MikochanFF (kanan)

Kendala yang paling dirasakan Nabbsky pada saat in-game adalah adanya perbedaan pendapat dan persepsi antar sesama anggota. Nabbsky memberikan resep, bahwa untuk menghindari problematika tersebut, mereka mencoba untuk mengerti satu sama lain, karena setiap individu mempunyai sifat-sifat yang berbeda.

Dalam bahasa akademis, hal tersebut akrab disebut sebagai imajinasi psikologis. Hal semacam itu tentu sangat penting, dengan hal itu kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, mengenyampingkan ego demi kemajuan bersama dan juga merupakan salah satu rentetan proses pendewasaan.

Puncaknya, apabila mereka mengalami kekalahan, mereka akan menanggung beban itu secara bersama dan juga akan bangkit bersama-sama, dan apabila mereka menang, tentunya akan menjadi kebahagiaan kolektif yang dapat menjadi arsip memoria yang tak terlupakan.

Iklim Kompetisi eSport yang Ideal bagi Nabbsky

Nabbsky berpendapat, dari perspektif kompetisi, dia lebih berharap dapat bermain dengan tim yang terdiri dari perempuan dan laki-laki, hal ini mungkin demi pemerataan jam terbang dan kemampuan antara laki-laki dan perempuan. Namun, masih ada faktor yang masih menghalangi hal tersebut, berikut kutipannya:

Sebenernya sih kalo mo dibilang enak, sebenernya lebih enak kalo kita nyampur sama cowok, ya cuman kan di Indonesia ini persepsi orang-orang itu kan sama cewek kan masih direndahin, jadi ya masih banyaklah cowok-cowok yang belum percaya kalo masukin cewek di dalam satu tim, beda kalo misalkan kayak tim Thailand, kayak MiTH, dia kan masukin salah satu cewek tuh..

Perihal eSport Serta Restu Orang Tua

Perihal restu orang tua, Nabbsky menjelaskan bahwa ketika ia memulai, protes dari orang tua tentu saja ada. Bahkan, sampai sekarang pun walau Nabbsky sudah mendapat sponsor, terkadang orang tua Nabbsky masih suka protes, cuman frekuensinya tidak separah dulu, karena NabbskyFF sudah bisa mendapatkan sedikit penghasilan dari bermain video game. Terkadang orang tua Nabbsky bisa membanggakan prestasi beserta profesi anak mereka yang masih cukup asing dimata dan telinga masyarakat Indonesia.

Nabbsky mengatakan bahwa pengekangan dalam batas-batas tertentu adalah hal wajar, karena hal itu ibarat sebuah naluri dari orang tua yang tak ingin hal-hal yang negatif menimpa anaknya. Nabbsky kemudian menekankan bahwa jika orang tua marah saat kita bermain video game tentu saja ada alasannya, tidak mungkin tak ada alasannya. Nabbsky mengambil contoh dirinya sendiri ketika berhadapan dengan sang Mama:

“..terus andaikan orang tua marah tentang kita main game pasti ada alesannya, gak mungkin gak ada alesannya…mungkin aku sendiri, Mamaku marah mungkin karena aku gak belajar, atau gak ibadah gitu kan, atau gak makan, tapi kalo misalkan kewajiban-kewajiban sebagai anak dilaksanain, pasti orang tua juga gak bakal ngomel kalau kita main game-kan?

Video Game Favorit Nabbsky 

NabbskyFF

Diluar CS:GO, Nabbsky memilih serial The Sims dan Harvest Moon sebagai video game favoritnya. Setelah kalian membaca bagaimana cara Nabbsky untuk mencoba mengerti perasaan anggota tim, dan orang tuanya, dengan cara selalu menilai masalah dari kedua sisi, bisa jadi The Sims-lah yang menstimulus Nabbsky untuk menjadi lebih peka terhadap situasi.

Dalam The Sims, kita sebagai pemain akan mensimulasikan beberapa avatar dengan berbagai karakter yang unik dan plural. Hal tersebut secara tak langsung mungkin akan bisa melatih imajinasi psikologis manusia bila digunakan secara tepat.

Untuk mengerti perasaan orang lain, dibutuhkan pengenyampingan ego, dalam hal ini kesabaran adalah hal yang krusial. Harvest Moon adalah permainan yang mengajak pemainnya menjadi seorang petani, peternak, dan sekaligus pedagang, dan semua hal itu membutuhkan kesabaran dan kerja keras dalam prosesnya.

Menginvestasikan tenaga, pikiran dalam bentuk manajemen waktu, dan uang dalam bentuk perkebunan, pertanian, dan ternak sembari menunggu untuk memetik hasilnya, secara tidak langsung telah melatih pemain untuk menjadi lebih sabar. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu faktor untuk membuat Nabbsky menjadi orang yang cukup sabar? Dan kesbaran tersebut digunakan untuk melatih dirinya melatih orang lain?

Harapan Nabbsky dan Keadilan Turnamen Skala Internasional

NabbskyFF berharap bahwa ada keadilan bagi tim-tim eSports perempuan, terutama di semesta Asia. Karena menurut keterangan Nabbsky, kualifikasi untuk tim-tim eSports perempuan hanya diadakan untuk tim-tim Amerika Utara dan Eropa, sedangkan tim-tim Asia dianak-tirikan.

Andai saja tim-tim Asia diberikan kesempatan yang sama, pastinya dunia eSport bakal lebih seru dan berkembang, seiring dengan semakin meningkatnya persaingan untuk merebutkan lambang supermasi tertinggi dalam dunia eSports, yaitu juara dunia!

Virtual Verbal berharap, bahwa tim-tim eSports perempuan bisa mendapatkan fasilitas dan akses ke dalam kejuaraan yang berskala Internasional, sesuai harapan dari NabbskyFF.