Menambah berkah pengetahuan di bulan penuh barokah tentunya bisa dijadikan sebagai alternatif pengisi waktu positif bagi kalangan umat muslim. Daripada sibuk berkutat di kolom komentar dalam sosial media, menambah pengetahuan tentang khazanah Islam dari buku teks mungkin bisa dijadikan sebagai sebuah solusi.

Atas dasar itulah, Virtual Verbal mencoba ikut meramaikan wacana tersebut dengan memberikan beberapa judul rekomendasi buku yang mungkin dapat bermanfaat sebagai suplemen tambahan bagi para penikmat “wisata pemikiran” yang lebih doyan untuk melebarkan perspektif pemikiran.

Selamat menikmati ringkasan buku rekomendasi pilihan Editor berikut ini dan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadan bagi yang menjalankannya.

The Young Sufi: Jejak Cinta Sang Sufi Muda karya Juwandi Ahmad

buku teks
Dokumentasi penulis

Kasih sayang adalah ketika engkau berusaha untuk tetap memberi meskipun sesungguhnya tak ada lagi yang bisa engkau berikan, dan untuk itu mungkin engkau akan menghela nafas panjang dari hati yang hening dan jiwa yang perih. – Juwandi Ahmad

Itulah sedikit kutipan yang puitis dan penuh dengan perenungan yang bisa Anda temukan dalam buku ini. Definisi dan eksistensi cinta yang bernafas sufistik akan menggiring para pembacanya pada ruang pemikiran yang mensinkronisasikan semangat untuk mencintai manusia dengan semangat mencintai Tuhan sebagai tolak ukurnya.BACA JUGA:  Subkultur Fujoshi versus Sudut Pandang Laki-laki

Sebagai contoh, di bab awal buku ini, pembaca akan diajak untuk membuka pandangannya tentang cinta yang umumnya hanya sekedar definisi ke dalam sebuah bentuk eksistensi dari fitrah-religius, psikologis (jiwa), kesadaran dan nilai spiritualitas.

Dalam buku ini, Juwandi Ahmad akan mempertegas pernyataan di atas dalam sekumpulan jawaban:

  1. Dalam fitrah, kita menemukan hakikat diri dan tujuan besar kehidupan.
  2. Dalam religi, kita menemukan apa yang semestinya dan sebaiknya dilakukan.
  3. Di dalam jiwa, kita mengerti ketidakterbatasan nafsu dan kehendak.
  4. Dalam kesadaran, kita menyadari tarian jiwa (cycle of soul) dan potensi kecerdasan kita.
  5. Dalam nilai spiritualitas, kita menjadi bagian, dekat, menyatu, dan tak terpisahkan dari diri kita sendiri, manusia lain, alam, hewan, tetumbuhan, benda-benda, dan terutama sekali dekat kepada Sang Pencipta,

Tema di atas, menurut Juwandi Ahmad adalah “akar” sekaligus persoalan yang sering ditemukan dalam cinta. Pembaca diajak untuk memahami makna-makna itu secara lebih mendalam untuk memastikan bahwa cinta bukanlah kekeliruan, ketidakpahaman, dan ketidaksadaran kita terhadap diri sendiri, manusia lain, dan terlebih ketidaksadaran kita akan Tuhan.

Buku ini juga dilengkapi beberapa contoh tentang akibat dari kekeliruan seseorang dalam memahami cinta. Selain itu, terdapat sajak-sajak cinta berhaluan sufistik yang akan mengingatkan kita pada pola-pola penulisan para penyair sufi di masa lalu seperti Rumi.

Teks-teksnya seakan memberi kita secercah purifikasi dalam memahami dimensi cinta yang kerap terisolir oleh citra dan nafsu. Sangat cocok dibaca oleh kaum muda yang senang dengan terminologi baper dan galau.

Ibadah Sufistik karya Haidar Amuli

buku teks
Dokumentasi penulis

Barangsiapa mencari-Ku, niscaya ia menemukan-Ku.

Barangsiapa menemukan-Ku, niscaya ia mengetahui-Ku.

Barangsiapa mengetahui-Ku, niscaya ia mencintai-Ku.

Barangsiapa mencintai-Ku, niscaya aku membunuhnya.

Barangsiapa Aku bunuh, maka ia berada dalam tebusan-Ku.

Dan barangsiapa berada dalam tebusan-Ku,

maka Aku adalah tebusannya.

Itulah kalimat pembuka ketika Anda membuka lembar awal dari buku ini. Buku ini merupakan terjemahan kitab Asrar Al-Syari’ah wa Athwar Al Thariqah wa Anwar Al Haqiqah (Bab Furu’ Islam) karya Sayyid Haydar Amuli atau bisa ditransliterasikan menjadi Haidar Amuli dalam bahasa Indonesia.

Buku ini akan menjelaskan apa arti dari Furu’ Islam berdasarkan isi kegiatan dari Furu’ tersebut (Shalat, Puasa, Zakat, Haji, dan Jihad). Dilengkapi dengan penjelasan untuk memaknai ibadah-ibadah tersebut dari perspektif syariat, tarikat, dan, hakikat.

Syariat, tarikat, dan hakikat adalah tiga dari empat unsur utama dalam upaya para penempuh jalan spiritual untuk meraih ridho Allah. Unsur-unsur tersebut akrab juga disebut maqamat (kata jamak dari maqam yang bisa diartikan sebagai “kedudukan”).

Dalam tingkatan maqamat tersebut, konon sang pejalan spiritual akan merasakan suatu keadaan spiritual bernama ahwal (kata jamak dari “keadaan”). Tingkatan maqamat akan berangsur meningkat, seiring dengan meningkatnya kesadaran spiritual dari sang penempuh jalan. Dalam prakteknya, menjalani hal ini akan sangat sulit dilakukan oleh seseorang tanpa bimbingan dari seorang mursyid (Istilah yang mengacu kepada guru spiritual yang benar-benar ahli dalam praktik tersebut).

Buku ini, mencoba menjelaskan teori-teori dari hal tersebut dalam bentuk teks yang dapat memberikan penggambaran perihal praktik-praktik dalam furu’ Islam sebatas hal-hal yang bisa diterangkan oleh kata-kata. Walaupun berbentuk penggambaran (karena prakteknya akan jelas lebih sulit daripada teori), pembaca akan diajak menyelami dimensi-dimensi praktek-praktek beribadah yang ternyata tidak hanya berhenti pada sebatas ritual gerakan saja.

Sebagai contoh, gerakan membasuh wajah dalam gerakan wudu akan diterangkan dalam perspektif yang lebih dalam; menerangkan bahwa membasuh wajah dalam wudu merupakan simbol dari memalingkan wajah kita kepada hal-hal yang berbau duniawi. Hal itu dilakukan sebagai persiapan untuk menghadap kepada-Nya.

Kedalaman esensi dari beribadah itulah yang niscaya akan membuat kita bisa menjalankan berbagai praktek ibadah dengan lebih berarti. Tidak hanya sekedar shalat, puasa, zakat, haji, dan jihad tanpa mengetahui esensi terdalam dari ibadah-ibadah tersebut.

Tahafut At-Tahafut karya Ibnu Rusyd

buku teks
Dokumentasi penulis

Merupakan sanggahan, respons, dan kritik-balik atas Tahafut al-Falasifah karya Al-Ghazali. Bagi Ibnu Rusyd agama dan filsafat sebenarnya tidak perlu saling dibenturkan dan dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan seiring, selaras, dan bersifat saling melengkapi satu sama lain.

Pengaruh pemikiran Ibnu Rusyd atas kebangkitan kembali intelektualisme filosofis di dunia Islam dan juga di Eropa-Barat sealama Abad Pertengahan dan Renaisans sangat besar dan signifikan. Seperti apakah bukti konkrit beliau dalam menanggapi kritik Al-Ghazali yang ia anggap kurang sesuai dengan kenyataan?

Terlepas dari polemik antara kedua tokoh tersebut, kita bisa melihat contoh bagaimana para intelektual muslim di masa lalu berupaya untuk menanggapi sebuah perdebatan; mereka membuat buku dengan ulasan dan pernyataan yang mereka gali secara teliti. Tradisi seperti ini sudah lama hilang, digantikan dengan video- video berdurasi menit yang rata-rata berisi opini singkat, persekusi di kolom sosial media, tanda tagar alias hashtag dan mungkin juga meme?

Islam dan Teologi Pembebasan karya Ali Asghar Engineer

buku teks
Kredit: goodreads.com

Pemikir yang terkenal dengan kontribusinya pada studi Islam dan gerakan progresif ini, meninggalkan begitu banyak buah pemikiran yang membahas berbagai topik: dari sejarah Islam, teologi pembebasan, studi konflik etnis dan komunal, analisa gender, studi pembangunan dan masih banyak lagi. (Iqra Anugrah, 2013)

Inti dari buku ini adalah integrasi antara keadilan sosial dan semangat keberagamaan dalam Islam. Mencoba kembali memaknai dan memposisikan Islam sebagai agama pembebasan bagi kaum tertindas layaknya di era Nabi Muhammad.

Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam karya Sir Muhammad Iqbal

buku teks
Dokumentasi penulis

Ada yang menyebutnya seorang filsuf sekaligus penyair, ada juga yang menyebutnya seorang tokoh eksistensialisme Islam. Muhammad Iqbal adalah tokoh intelektual yang berkontribusi untuk mengembangkan khazanah pemikiran Islam ke dimensi yang beriringan dengan perkembangan zaman.

Dia mendapatkan penguatan pemikirannya dari hasil studi terhadap para filsuf seperti Bergson, Nietzsche, dan Mactaggart. Menurut Dr. Ishrat Hasan Enver dalam The Metaphysics of Iqbal, ada empat konsep utama dalam karya Iqbal berjudul Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam; intusisi, diri, dunia dan Tuhan.

Karya-karyanya berpengaruh besar pada perkembangan dunia sehingga pada tahun 1922, ia diberi gelar bangsawan oleh Raja George V dengan gelar “Sir”.

Penutup

Itulah beberapa buku teks yang mungkin bisa Anda pertimbangkan untuk dibaca di bulan Ramadan. Semoga suplemen-suplemen pemikiran yang disumbangkan oleh buku-buku tersebut dapat membuat kita semakin dekat pada kondisi tafakur dan muhasabah.

Berharap dengan hadirnya pengetahuan tersebut, kita bisa mempraktikan hidup dengan menjauhi hal-hal yang berujung teror bagi orang lain dan diri kita sendiri.

Bila Anda kurang berminat dengan buku teks dan lebih menyukai pengeahuan dalam bentuk audio visual, penulis artikel menyarankan Anda untuk mengunjungi kanal YouTube bernama Media Koentji. Di sana, banyak materi-materi tentang khazanah Islam yang dibawakan dengan cukup santai, terutama oleh Ust. Dr. Fahruddin Faiz M.Ag yang sering memberikan materi-materi pengetahuan yang bertajuk Ngaji Filsafat.