Kali ini Virtual Verbal akan membahas bola, bukan bola beklen, bola jakun ataupun bisul yang segede bola, melainkan anime sepakbola. Ya, orang-orang Indonesia rata-rata doyan sama sepakbola. Terkadang, mengejar mantan atau nge-date malam mingguan pun bisa ditunda demi sesuatu yang berbau sepakbola. Yang gabisa ditunda paling buang air besar kali ya?

Anime sepakbola sempat booming pada era 90-an, mungkin yang paling nge-hits saat itu adalah Captain Tsubasa atau lebih akrab dikenal di Indonesia dengan Kapten Tsubasa. Negeri yang mayoritas masyarakatnya tidak bisa melafalkan huruf “L” memang cukup jago memproduksi animeanime olahraga untuk menyemangati generasi muda diseluruh penjuru dunia.

Ya, tak perlu menunggu menjadi juara SEA, Asia, ataupun dunia untuk menyemangati bibit-bibit muda kita tentang sepakbola, bisa bermacam cara salah satunya lewat karya seni yang bukan air seni. Segitu saja introduksinya, mari kita fokus kepada judul yang akan kita bahas: “Anime Sepakbola dalam Tiga Perspektif Cerita”.

Perspektif atau sudut pandang mana yang kali ini akan kita bahas? Tentu saja dari sudut pandang cerita, kalau membandingkan efek visual anime lawas dengan anime baru ya nantinya gak apple to apple kalau kata bahasa sok Inggris setengah matengnya. Ibarat membandingkan orangutan dengan Asuna yang kamu pelototin lewat nerve gear.

Bagi para generasi 90-an yang sudah pengen bernostalgia dan generasi milenial yang penasaran dengan artefak-artefak kakak-kakak-an kalian, mending kita langsung saja membahas anime sepak bola dari perspektif cerita!

Perspektif Pertama: Bola adalah Teman

anime sepakbola
(http://4.bp.blogspot.com)

Jargon “Bola adalah Teman” kerap dikumandangkan dalam Kapten Tsubasa, diceritakan bagaimana sang protagonis Tsubasa Ozora yang mulai dari balita sampai remaja nanggung sudah punya fetish dengan bola sepak, kemana-mana giring bola, di sekolah dan juga di jalanan.

Kebayang ga sih? Kalau Tsubasa latihan menggiring bola di lingkungan jalanan Indonesia yang tak ramah pada non-sepeda motor? Mungkin judulnya bukan lagi Kapten Tsubasa melainkan berubah menjadi Pasien Tsubasa. Waktu tim Nankatsu (tim sepakbola saat Tsubasa masih SMP) masih pada cupu, Tsubasa kerap melontarkan dorongan-dorongan moral kepada kawan-kawannya dengan perumpamaan itu.

Perumpamaan “Bola adalah Teman” bisa mempunyai arti yang jamak. Yang jelas, dalam cerita Kapten Tsubasa memang memfokuskan inti cerita tentang pertemanan yang terjalin lewat sepakbola, mulai dari mereka pemula, berkompetisi, berpisah ke berbagai penjuru negara, disatukan kembali oleh sepakbola setelah menimba teknik bermain, berkerjasama, dan akhirnya memiliki ambisi besar untuk mewujudkan mimpi bersama untuk menyongsong Piala Dunia.

Anime sepakbola
(wallpapercave.com)

Terlepas dari jurus-jurus fiktif semacam tendangan elang dan tendangan macan, Kapten Tsubasa memang boleh dibilang anime sepakbola yang memfokuskan diri pada persahabatan.

Sebenarnya ada satu anime sepakbola yang mirip dengan Kapten Tsubasa dan pernah juga tayang di Indonesia yang berjudul asli Ganbare! Kickers. Di Indonesia pernah akrab dikenal dengan judul Kickers, walaupun tahun produksi Kapten Tsubasa 3 tahun lebih tua dari Kickers, namun Kickers tampil lebih dahulu dibandingkan Kapten Tsubasa dalam layar kaca Indonesia.

anime sepakbola
(youtube.com)

Ceritanya hampir mirip dengan Kapten Tsubasa, bedanya menceritakan sepakbola anak SD, dan timnya lebih lemah. Tak ada yang bisa diandalkan selain Kakeru (Protagonis sekaligus striker dalam cerita) dan Hongo sang penjaga gawang.

Konsep besarnya tetap persahabatan, namun dikemas dengan lebih berbeda dan terkesan berani. Bila Kapten Tsubasa menyuguhkan orang-orang yang lemah, kurang jago, dan berlatih, lalu kemudian berhasil memetik kemenangan, Kickers malah tampil dengan lebih berani menampilkan tim lemah yang tiap hari terus berlatih dengan keras tapi di ujung cerita tetap menelan kekalahan.

Dengan latar cerita anak-anak SD, mungkinkah para kreator di Jepang ingin menunjukan kepada generasi mudanya kala itu bahwa kekalahan bukanlah suatu aib melalui Kickers?

Perspektif Kedua: Bola adalah Drama

anime sepakbola
(alchetron.com)

Anime sepakbola dalam kategori ini lebih menitik beratkan pada konsep-konsep cerita yang menggugah jiwa, terkadang bisa bikin baper, dan tak jarang juga bikin sedih. Pokoknya bikin labil dan terkadang juga bikin hiperaktif ingin menyentuh bola.

Salah satu judul dari anime sepakbola dari kategori ini adalah Aoki Densetsu Shoot!. Pernah tayang menghiasi layar kaca para bocah 90-an Indonesia di kala petang. Berkisah tentang tiga sekawan bernama Toshiniko Tanaka berjuluk si kiri maut, Kazuhiro Hiramatsu si cerdas di kelas pun juga saat dribbling, dan Kenji Shiraishi si kiper yang juga mantan preman.

Selain ketangkasan dan kompetisi bermain bola, titik berat cerita dalam Shoot! adalah konflik eksternal dan internal yang meliputi perseorangan dan juga tim yang diracik sedemikian rupa untuk menghadirkan unsur dramatik dalam anime.

Toshi yang harus menjadi penerus sang jenius sepakbola yang tewas bernama Kubo Yoshiharu, Kazuhiro yang berkonflik dengan orang tuanya yang memaksa dia untuk menjadi dokter dan membuang impiannya bermain bola, Kenji yang harus menghadapi bayang-bayang masa lalu suramnya sebagai preman yang diincar musuh-musuh lamanya sungguh apik dihadirkan dalam anime sepakbola ini.

anime sepakbola
(decoshoot.files.wordpress.com)

Belum lagi adanya cinta segitiga yang melibatkan Toshi, Kazuhiro, dan Kazumi, ditambah dengan Kenji yang berpacaran dengan kakaknya Toshi, dan mantan pacar Kubo yang mencari bayang-bayang almarhum Kubo dalam sosok Toshi membuat cerita dalam Shoot! semakin tambah runyam. Gimana? Kurang banyak drama?

Perspektif Ketiga: Manajer Bola adalah Jagoan Utama

anime sepakbola
(http://3.bp.blogspot.com)

Anime sepakbola berjudul Giant Killing adalah anime yang berani mengambil sudut pandang manajer bola sebagai ksatria utama. Berbeda dengan kebanyakan anime sepakbola yang hanya berani bermain diseputar pemain dan mengabaikan efek dari seorang manajer bola atau pelatih bola.

Bercerita tentang dinobatkannya Tatsumi Takeshi sebagai manajer sebuah tim sepak bola profesional bernama East Tokyo United alias ETU. Beberapa tahun kebelakang ETU sering menjadi langganan klasemen papan bawah akibat performanya yang terus menurun dan semakin menjungkirbalikkan kredibilitasnya sebagai tim yang penuh kejayaan di masa lampau.

Bagaikan David melawan Goliath atau Nabi Daud melawan Jalut, perlahan-lahan Tatsumi Takeshi berhasil mengalahkan tim-tim papan atas klasemen yang membuat banyak manajer bergengsi menaruh dendam, takjub, dan salut padanya.

Tatsumi bagai jelmaan Kasparov di atas papan catur ketika menangani ETU. Namun lucunya, diceritakan ETU hanya dapat menang melawan tim-tim raksasa. Giliran melawan tim papan tengah dan bawah, tetap saja ETU kewalahan, terkadang mendapat hasil imbang, terkadang kalah, berbeda ketika mereka mempecundangi tim-tim besar.

Dalam anime sepakbola Giant Killing inilah yang memberikan spotlight pada manajer, para pemain ya terkadang harus offscreen.

Penutup

Itulah beberapa anime sepakbola yang memiliki perspektif yang berbeda-beda dari segi cerita. Bila ada pesan dalam setiap cerita, amatilah. Bila kalian anggap dalam setiap cerita terkandung makna, resapilah. Dan bila kalian anggap semuanya tak bermakna, maknailah, atau mungkin buatlah jalan cerita kalian masing-masing, berkreasilah!