Pemuda generasi 90-an mungkin sudah tidak asing dengan Arcade Game atau sering disebut dengan istilah ‘ding-dong’. Pada zaman itu, ‘ding-dong’ tumbuh subur, hampir di semua sudut perkotaan, terutama di tempat-tempat bisnis umum, seperti restoran, bioskop, pusat permainan hiburan, bahkan pasar.

Sebetulnya, ‘ding-dong’ hanyalah salah satu  dari beragam jenis arcade game, jenis lain dari arcade game adalah permainan video/video game/’ding-dong’, mesin pinbol/pinball, permainan elektro-mekanis, dan permainan-permainan berhadiah. Hingga saat ini, khusunya Indonesia, arcade game masih terus bertahan menghadapi gelombang evolusi permainan video yang masih terus berkembang secara dinamis.

Sejarah Arcade Game

Sebelum membahas lebih jauh tentang arcade game, cukup penting untuk mengulas sejarah kemunculan arcade game itu sendiri.

Artefak tertua mesin pinbol/pinball, mulai dikenal sejak abad ke-19 Masehi. Pada masa itu, nenek moyang mesin pinbol akrab disebut Bagatelle-Table. Ibarat kawin silang antara meja biliar dan kotak kaca yang dipenuhi paku besi yang tersusun membentuk labirin, mesin ini mampu menghadirkan hiburan yang cukup unik pada zaman itu. Pada periode akhir abad ke-19 Masehi, seorang penemu bernama Montague Redgrave mematenkan sebuah mesin yang ia adaptasi dari Bagatelle-Table, dan beri nama Ball-Shooter. Konsep permainannya tak jauh berbeda dengan Bagatelle-Table, namun Ball-Shooter memanfaatkan sebuah penemuan yang cukup terkenal pada masa itu, yaitu baja pegas, atau yang akrab kita kenal dengan nama ‘per’. Pemain bisa melontarkan bola yang akan melewati rintangan labirin dengan bantuan baja pegas yang dililitikan pada sebuah stik kayu panjang, sebuah stik yang umumnya digunakan pada permainan biliar. Tugas pemain adalah berusaha membuat bola besi tetap berada dalam areal rintangan, semakin lama bola bisa bertahan dalam areal rintangan, semakin tinggi skor yang dapat diraih. Biasanya pemain yang memiliki skor tertinggi akan mendapatkan hadiah  berupa makanan, minuman, dan rokok.

Ball-Shooter
“Ball-Shooter” , Sumber: http://www.bmigaming.com

Pada tahun 1947, Thomas Goldsmith, Jr, dan Ray Mann yang menemukan Cathode Ray Tube Amusement Device. Prinsipnya adalah mengarahkan roket (yang disimbolkan dengan titik sinar katode) untuk menghantam pesawat (yang disimbolkan dengan titik serupa).

Cathode Ray Tube Amusement Device
http://screwattack.roosterteeth.com

Pada tahun 1961, sejumlah mahasiswa dan asisten dosen di laboratorium statistik Universitas Harvard membuat permainan bergenre space shooter pertama dalam komputer, yang  bernama Spacewar!. Pada tahun 1969, permainan ini dirombak oleh Rick Blomme menjadi permainan daring (‘online‘) dengan dua pemain menggunakan server PLATO di MIT.

SpaceWar!
https://arstechnica.com

Pada tahun 1966, SEGA meluncurkan sebuah permainan berjenis elektro-mekanis bernama Periscope. Dalam permainan ini, sang pemain mengendalikan sebuah kapal selam dengan sebuah misi, yaitu menghancurkan seluruh kapal selam yang dimiliki oleh musuh. Permainan ini sangat populer di kawasan benua Amerika, benua Eropa, dan negara Jepang. Permainan ini hanya bermodalkan mekanisme sederhana yang digabungkan dengan efek cahaya dari tabung-tabung lampu elektris.

Periscope, Arcade Game
https://www.arcade-museum.com/

Pada tahun 1970 pendiri Atari Inc. yang bernama Nolan Bushnell dan Ted Dabney mengembangkan Spacewar! menjadi permainan shooter yang lebih baik secara visual dan memasarkannya dalam bentuk arcade game, dengan nama Computer Space.

Galaxy Game, Arcade game
http://io9.gizmodo.com

Setahun kemudian, sekelompok mahasiswa dari Universitas Standford menjadi pelopor lahirnya permainan video yang mempergunakan koin untuk memainkannya. Permainan video bernama Galaxy Game menggunakan teknologi dan pemrograman yang cukup kompleks pada zamannya. Hal tersebut memicu perhatian dari banyak pihak, khususnya para perusahaan pengembang game.

Spacewar! , Arcade Game
http://thedoteaters.com

Berselang dua tahun setelah kemunculan Computer Space, Allan Alcorn, seorang staff dari Atari Inc., mengembangkan permainan video ping-pong yang kemudian ia namakan Pong dan dipasarkan dalam bentuk arkade. Permainan ini mendapatkan respon positif dari para gamer, terbukti dengan lahirnya beberapa komunitas gamer yang mulai berkompetisi di pusat arcade game/game center.

Pong
https://www.wired.com

Enam tahun kemudian, arcade game bernama Space Invaders menuai popularitasnya. Perusahaan Jepang bernama Taito, berhasil mengembangkan genre space shooter yang dipelopori oleh Spacewar!. Salah satu alasan permainan ini menjadi populer ialah ketika perusahaan bernama Midway membeli lisensi permainan ini dan memasarkannya di kawasan benua Eropa dan benua Amerika.

Space Invaders
http://www.firstversions.com

Pria berkebangsaan Jepang bernama Toru Iwatani berhasil melahirkan sebuah permainan bernama Pac-Man. Dengan karakter ikonik berbentuk bulat dan berwarna kuning, permainan ini menjadi legendaris, dengan rekor penjualan sebesar 400 juta unit dalam rentang waktu dua tahun semenjak peluncuran pertamanya pada tahun 1980.

http://www.arcadedirect.co.uk

 

Setelah sempat anjlok dengan kehadiran permainan video berbentuk konsol pada pertengahan 80-an, permainan video arkade berjudul Double Dragon menjadi pelopor permainan video arkade bergenre side-scrolling action. Permainan yang diluncurkan pada tahun 1987 ini merubah skema perkembangan arcade game, mulai berpedoman pada genre side-scrolling action. Permainan ini telah menginspirasi terlahirnya permainan Street Fighter, beserta dengan sekuelnya Street Fighter II yang mulai merajai pasar permainan video arkade dimasa 90-an. Melalui titik berangkat itu, permainan video arkade pada era 90-an mulai berevolusi dengan sistem operasi yang lebih mutakhir dari sebelumnya. Fitur grafis tiga dimensi, dan multiplayer-play mulai bermunculan, seperti Virtua Cop, Daytona Racing, dan Virtua Fighter. Permainan tersebut dapat dimainkan oleh 1 hingga 4 orang secara bersamaan.

Arcade game
http://www.techradar.com

Perkembangan arcade game mengalami lompatan besar ketika mencapai akhir 90-an dan era milenium. Jepang sebagai poros utama pengembang arcade game, mulai berinovasi dengan genre simulasi. Pada tahun 1998, lahir arcade game bernama Dance-Dance Revolution, permainan inilah yang menjadi pioner arcade game bergenre dance simulator. Berdansa dengan mengikuti instruksi karpet berbentuk anak panah adalah ciri khas permainan ini, didukung dengan lagu-lagu populer yang membuat para pemain lebih bersemangat saat memainkannya. Saat ini permainan jenis ini berkembang pesat sehingga mampu mendeteksi pergerakan tubuh sang pemain secara otomatis.

Dance-Dance Revolution
http://primetimeamusements.com

Seolah tak ingin ketinggalan dengan dance simulator, arcade game bergenre music simulator mulai bermekaran. Dengan ciri controller berbentuk alat musik dan lagu-lagu popular, permainan ini menawarkan sensasi bermain alat musik melalui permainan video arkade. Jenis permainan ini dipelopori oleh permainan video arkade berjudul GuitarFreaks dan DrumMania.

DrumMania
https://www.gamespot.com

Turut meramaikan permainan simulator, permainan berjudul Police991 menjadi pelopor permainan bergenre motion control simulator. Permainan ini melibatkan gerakan pemain dalam mengoperasikannya. Pemain dituntut untuk menggerakan tubuhnya untuk menghindar dari gerakan musuh dan berlindung dari tembakan peluru musuh. Seperti yang telah dibahas, permainan berjudul Dance-Dance Revolution mengadaptasi genre motion control simulator dalam pengembangannya.

POLICE911, arcade game
http://www.starfox-online.net

Untuk membendung fitur save yang terdapat pada game console/permainan konsol, para pengembang arcade game mulai memutar otak untuk terus bisa bersaing dengan fitur tersebut. Hal tersebut diwujudkan dengan hadirnya fitur magnetic card. Fitur ini, kurang familiar pada skema arcade game di Indonesia. Pada umumnya, magnetic card ini digunakan sebagai pengganti koin yang biasanya digunakan pada mesin arkade. Selain itu, pemilik kartu ini dapat menyimpan profil mereka sesuai identitas yang mereka inginkan, sekaligus menyimpan data yang berguna untuk permainan.

Magnetic card
Contoh magnetic cards yang digunakan pada arcade game, sumber: https://www.giantbomb.com

Setelah mengulas secara ringkas tentang sejarah arcade game, kita dapat menyimpulkan beberapa kecenderungan umum dari permainana arkade:

  • Meningkatnya beberapa elemen teknologi dan informasi yang menubuh pada arcade game: hal ini dapat terlihat sejak awal kemunculannya sejak akhir abad ke-19 M, ketika mesin pinbol mengadaptasi penemuan baja pegas yang dimanfaatkan sebagai alat pelontar. Hal itu terus dilanjutkan dengan hadirnya arcade game yang memanfaatkan titik sinar katode, tabung-tabung lampu elektris, dan motion control simulator.
  • Meningkatnya kecenderungan permainan yang berbentuk simulator: Persaingan dengan platform dari permainan konsol, membuat arcade game harus mencari pembeda tegas antara dirinya dan permainan konsol. Hal ini diwujudkan dengan bentuk-bentuk permainan konsol yang lebih berorientasi pada jenis simulator. Simulasi menjadi pembalap pada permainan berjudul Daytona, simulasi menjadi penari pada permainan berjudul Dance-Dance Revolution, simulasi menjadi pemain musik pada permainan berjudul DrumMania, adalah contoh nyata yang membedakan arcade game masa kini dengan platform berjenis konsol.
  • Makin mudahnya metode transaksi pembayaran untuk memainkan arcade game: Sekarang kita tak perlu lagi membawa uang koin untuk memainkan permainan arcade karena telah hadir sistem prepaid card yang memudahkan kita untuk memainkan arcade game. Bahkan di luar Indonesia, telah hadir fitur magnetic card yang membuat para pemain bisa membuat profil mereka, sekaligus menyimpan data yang berguna untuk permainan itu.

Arcade Game dalam Skema Indonesia

Fenomena arcade game pun turut membanjiri pasar Indonesia. Kurang lebih, masih terdapat 2 perusahaan besar yang menggarap game center di Indonesia, perusahaan tersebut adalah Game Master dan Timezone. Selain kedua raksasa arcade game tersebut, banyak pusat perbelanjaan di Indonesia seperti Griya, Yogya, dan Borma, turut menggarap areal arcade game, walaupun hanya berskala kecil. Mesin arkade yang tersedia di pusat perbelanjaan tersebut, cenderung bersegmentasi pada mesin arkade yang dapat menarik minat anak-anak yang berumur kurang lebih 2-10 tahun. Sedangkan Game Master dan Timezone, cenderung memiliki mesin arkade yang dapat menjaring semua golongan pemain secara lebih umum.

Arcade game cenderung lebih menghasilkan keuntungan yang stabil dibandingkan dengan permainan dengan platform berjenis konsol. Hal itu terjadi karena arcade game dapat merangkul seluruh  masyarakat menengah ke atas karena memiliki segementasi luas dan tersedia di tempat-tempat bisnis umum yang biasa dikunjungi oleh orang yang berpasangan, berkeluarga, pun yang  masih mencari pujaan hatinya. Selain itu, arcade game tak membutuhkan terlalu banyak waktu untuk memainkannya, berbeda dengan konsol, kadang kita harus melongo didepan layar monitor berjam-jam bahkan berhari-hari untuk dapat  menikmati permainan video, berujung pada tersitanya waktu dan terhambatnya aktifitas sehari-hari.

“Dia” yang Menolak Hilang

Dengan tertancapnya fakta yang telah kita ulas, arcade game masih memungkinkan untuk terus mengembangkan sayapnya.  Dia hadir dan menawarkan solusi, ketika permainan konsol-mu hanya bisa dimainkan oleh satu orang, lalu pujaanmu ngambek bin baper karena hal itu. Dia hadir dan memberikanmu sebuah gagasan, kala cucumu merengek minta main tembak-tembakan atau balapan di game center, sedangkan anak perempuanmu sibuk berbelanja kebutuhan keluarga. Dia bergentayangan dan seolah melambaikan tangan ke arahmu, ketika atasan atau klienmu menginjak-injak harga dirimu, kemudian engkau berjalan melangkah ke mesin arkade tinju, lalu kemudian kau menonjok bantalan tak berdosa itu, untuk sekedar melonggarkan kekeselanmu. Sekali lagi, arcade game memang terus bertahan dan menolak hilang.