Dampak buruk dan kecanduan akan bermain game (kecanduan video game komputer, konsol, atau pada sistem portabel/handheld) menarik perhatian masyarakat dan ilmuan sejak beberapa dekade lalu, tepatnya tahun 90-an, bukan hanya dari khalayak media, tetapi juga Psikolog, Psikiater, Organisasi Kesehatan Mental, dan juga dari gamer itu sendiri.

Karena belum lama ini, WHO (World Health Organization) sebagai organisasi kesehatan dunia mengklasifikasikan kecanduan bermain game sebagai kelainan kontrol impuls yang “asli” layaknya kecanduan perjudian dan alkohol. Terlebih, bermain game secara berlebihan, apalagi yang memiliki fitur Online memang sangat dikaitkan dengan gejala depresi, kegelisahan, keinginan bunuh diri dan fobia sosial. Dan hal ini terjadi pada khalayak muda dan ABG yang mungkin sudah mengabdikan waktu hidup yang sudah tidak terhitung lamanya untuk dihabiskan bermain videogame.

Dalam hal kecanduan, kita bisa saja hanya terfokus pada game online saja, karena mengapa? Game online adalah permainan yang tidak memiliki batas, dibandingkan dengan game standar yang memiliki fitur single player dan memiliki tujuan dan misi yang terpampang jelas untuk ditaklukan. Ketika pemain sudah memiliki pemikiran untuk menjadi yang terbaik, orang lainpun yang memainkan game tersebut akan melakukan hal tersebut, inilah yang dinamakan competitive gaming. Selain ajang pengakuan diri, game online juga terkadang dipakai untuk melarikan diri dari dunia nyata dan bisa saja menjadi tempat nyaman dimana seorang pemain tersebut dapat diterima oleh komunitas dan nyaman berada di dalamnya hingga melupakan kehidupan nyata.

Di sini, kita akan mengupas apa yang terjadi pada pemain game yang kecanduan berdasarkan data penelitian yang telah kami himpun.

kecanduan

Studi yang telah membuktikan hubungan antara ‘Gaming’ dengan Depresi dan Kecanduan

  • Jurnal yang diterbitkan oleh Pediatrics pada Januari 2018 yang melibatkan 3000 siswa pada kelas 3, 4, 7, dan 8 selama 2 tahun. Yang membuktikan bahwa memainkan video game dapat menyebabkan depresi, kegelisahan, dan kerusakan hubungan sosial 2 tahun setelahnya, yang dipadukan dengan penurunan nilai akademis, menderita kelainan kontrol impuls, dan yang paling penting adalah rubuhnya kehidupan sosialnya. Jurnal lainnya pun yang dilakukan pada 1000 siswa di China yang menjalani kebiasaan bermain game menemukan bahwa penggunaan internet berlebih (terutama untuk video game) dapat mengalami depresi dua kali lebih besar minimal 9 bulan setelahnya dibandingkan dengan siswa yang tidak terlalu eksesif. Dan ketika kebiasaan bermain video game-nya dibatasi, tanda-tanda depresi juga ikut berkurang.
  • Journal of healthy Psychology menerbitkan hasil dari penelitian pada bulan Desember 2017 yang melibatkan 130.000 partisipan yang beranggotakan gamer dari semua umur. Ternyata dampak buruk dari bermain game adalah depresi dan kegelisahan, dan menyebabkan 16% dari partisipan mengalami obsessive-compulsive disorder (OCD).
  • BMC Psychiatry menerbitkan hasil dari penelitian yang dilakukan pada bulan Juli 2012 yang dilakukan pada asosiasi gaming online, social phobia, dan depresi. Diantara 722 gamer online yang berumur antara 16 sampai 18 tahun ditemukan korelasi positif antara lama bermain game online dengen depresi. Peningkatan waktu bermain menghasilkan peningkatan konsekuensi negatif dan munculnya keinginan untuk bunuh diri, kegelisahan, OCD, kekurangan atau kehancuran hubungan didunia nyata dan harga diri rendah.
  • Journal of Affective Dissorder menerbitkan hasil penelitian pada bulan Januari 2018 yang melibatkan 1.205 orang mahasiswa S1 yang dilaporkan bermain video game. Penelitian ini membandingkan pecandu video game dengan kontrol mahasiswa yang sehat pada tingkatan kesehatan secara umum. Partisipan yang diaporkan memiliki waktu yang lebih lama bermain game terlihat memiliki peningkatan depresi dan kegelisahan dan lebih terisolasi secara sosial.
  • Frontiers in Psychiatry menerbitkan hasil penelitian pada bulan Januari 2018 yang melibatkan 563 siswa yang berumur 16-21 yang memiliki syarat harus menghabiskan 20% waktu sehari-hari untuk bermain game di Internet atau online ketika data dikumpulkan. Penelitian ini berfokus pada perubahan atau perbedaan pada otak pada sebelum dan setelah perlakuan. Lalu didapatkan bahwa terlihat peningkatan hubungan antara otak bagian amigdala (Emosi) dengan prefrontal cortex. Hubungan menyimpang antara dua bagian otak tersebut sangat dekat berhubungan dan mendasari terjadinya dampak buruk pada siswa terutama depresi. Penemuan ini lebih meyakinkan bahwa kecanduan bermain game dengan depresi sangat berhubungan.

Intinya, dari beberapa jurnal di atas mengeksplisitkan kenyataan bahwa bermain game merupakan aktifitas yang buruk apabila tanpa adanya peran dari keluarga dan sangat rentan akan terjadinya penyakit dan kelainan pola fikir dan berakhir pada depresi. Lalu kita harus keluar dari kebiasaan atau hobby gaming tersebut? Tidak juga. Selama kita dapat mengatur kehidupan nyata dengan hobby kita bermain game bahkan jika kita dapat menghasilkan prestasi, mengapa tidak dilakukan. Maka dari itu mari simak artikel dibawah ini agar menjadi gamer yang budiman dan positif. Sampai jumpa lagi Vriends pada artikel selajutnya!

(Sumber: A Forever Recovery,Parents Guide For Video Game Addiction, 2018).