David namanya, dia nampaknya enggan untuk mengutarakan nama lengkapnya. Perawakannya berpostur sedang—untuk ukuran orang Asia. Dengan topi koboi yang bermotif kekinian, kaos lengan panjang dilapis kemeja pendek putih yang tak dikancing, kalung rosario berbentuk unik yang tampil melingkari lehernya, ditambah dengan sarung tangan hitam dan celana jins. Dandanannya mantap bagai anak hipster.

Dari tampilan luarnya, David nampak seperti anak-anak remaja biasa dengan kehidupan dan masa depan yang lurus dan cerah. Namun, siapa sangka di balik tampilannya yang ceria, dia sempat tak memiliki kepejalan hidup di masa lalunya yang rapuh dan berkarat.

Pada acara Kenali dan Cegah Bunuh Diri yang berlangsung tanggal 17 September 2017 di Car Free Day Dago, Bandung—David lantang menceritakan pengalaman masa lalu dan percobaan bunuh diri yang pernah ia lakukan.

Berawal ketika ia duduk di bangku SMP, dia bercerita pernah menjadi korban bullying satu sekolah (bukan satu kelas lagi), tak pernah ada yang membela, tak terungkap, dan sendirian—membuat dirinya menjadi semakin depresi. Tidak hanya itu, David harus terus hidup dengan vonis penyakit epilepsi yang semakin membuat hidupnya terasa semakin inferior penuh teror.

Tidak berhenti sampai disitu, dia harus menjadi korban dari prahara rumah tangga ayah dan ibunya yang membuat kesedihan, kepanikan, dan kemarahannya terakumulasi. Kepahitan hidup yang berakumulasi pun membuat kondisi psikologisnya semakin impulsif.

Hingga pada suatu waktu dia memutuskan untuk mencoba mengakhiri hidupnya. Percobaan bunuh diri pertama ia lakukan di dalam kelas sewaktu pelajaran dengan bermodalkan sepotong pecahan kaca yang ia goreskan ke bagian urat nadinya. Atraksi yang bukan sulap ala Houdini itu terekam dalam lensa mata teman-teman sekelasnya.

Reaksi yang David dan penulis bayangkan pun mungkin nampak di luar dugaan: mereka hanya menonton dan tertawa melihat David beserta pergelangan tangannya yang sudah dibanjiri oleh darah, tanpa ada yang memanggul rasa iba atau mungkin ada yang iba—namun ditahan agar terlihat solid bagai slogan-slogan ospek: “sekelas harus solid”.

Penulis: “Jadi kok bisa selamat?”

David: “Anehnya urat nadiku gak putus-putus..”

 

 

Bukan rasa simpati yang ia dapatkan. Setelah tertawaan, kembali lagi ia mendapatkan rentetan cacian dan hinaan dari orang yang selayaknya menjadikan David sebagai teman. Tindakan pengobatan pun baru ia dapatkan setelah ibunya melihat David sampai di rumah dengan membawa pulang tangan yang berlumuran darah.

Melihat contoh kasus bullying pada mahasiswa berkebutuhan khusus di Gunadarma sampai kasus bullying yang berujung pada berujung pada pemaksaan duel ala Gladiator, rasanya kasus David hanyalah salah satu dari jutaan kasus yang tak terungkap akibat makin berkibarnya bendera krisis moral para pelajar Indonesia.

Tak cukup sekali, ketika kondisi psikologis yang ekstrim itu bangkit menghampiri David—lekas-lekaslah dia mencoba cara bunuh diri baru: meloncat dari jembatan, mencoba menabrakan diri ke kendaraan bermotor, minum cairan obat nyamuk, overdosis obat-obatan, semuanya sudah pernah ia coba. Namun, berkali-kali lagi nyawanya pun tertolong.

Dia sempat lari dari semua kenyataan itu dengan bermain gim Counter Strike Online. Dengan kondisi sekolah yang tak lagi kondusif, dia sempat melampiaskan rasa ketidakberdayaannya dengan bermain gim bergenre first person shooter itu. Rasanya seperti menembak orang-orang yang selalu merisak dan merundungnya (mem-bully).

Titik balik dalam hidupnya akhirnya terlahir. Karena bosan mencoba bunuh diri dan tidak mati-mati, David pun seakan terasa mendapat “tamparan” keras dari Tuhan. Dari situ, dia berusaha mengorganisir orang-orang yang hampir bernasib serupa untuk berkumpul dan berserikat dalam wadah berbentuk komunitas Bipolar Care Bandung.

Bipolar sendiri adalah sejenis gangguan mental yang bercirikan perubahan suasana hati yang ekstrim: terkadang terlalu senang, terkadang terlalu sedih alias impulsif. Dalam kondisi terekstrimnya, bunuh diri menjadi pilihan terakhir dari para pengidap gangguan ini.

Dalam wadah komunitas Bipolar Care Bandung, David menjadi salah satu orang yang mengajak untuk mentransformasikan energi destruktif itu menjadi energi hidup yang bernilai kreatif dan edukatif. Kegiatan pelatihan dan berkesenian merupakan santapan para penggiat komunitas ini.

Gambar di atas merupakan salah satu hasil buah tangan David dalam mentransformasikan semuanya dalam bentuk yang lebih estetik. Kegiatan semacam inilah yang menjadi salah satu kegiatan rutin yang sering dilakukan oleh kawan-kawan dari komunitas Bipolar Care Bandung.

Teori psikososial adalah hal yang dibutuhkan oleh mereka, bukan cacian, hinaan, dan keabusrdan dari tembok hati manusia. Berkumpul bersama, meringankan beban sembari berempati dan bersimpati bersama-sama untuk mencabut “paku kaca keangkuhan moralitas” dan potensi perilaku bunuh diri.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bunuh diri adalah kematian yang disebabkan oleh perilaku melukai diri sendiri untuk mengakhiri kehidupan. Kira-kira 800.000 orang di dunia melakukan tindakan bunuh diri setiap tahunnya. Angka kejadian bunuh diri di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 1,6-1,8 per 100.000 jiwa atau sekitar 5000 orang per tahunnya.

Pada tahun 2012 meningkat sekitar 4.3 per 100.000 jiwa pertahunnya. Dari data WHO tahun 2015 disebutkan bahwa 78% kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Bunuh diri merupakan masalah kesehatan yang serius. Namun, kasus bunuh diri dapat dicegah dengan intervensi pada waktu yang tepat dan biaya yang rendah serta strategi pencegahan dari multisektoral yang komprehensif.

Faktor Risiko

Dengan mengetahui faktor-faktor risiko bunuh diri, diharapkan dapat dilakukan pencegahan terhadap tindakan bunuh diri. Faktor risiko terhadap terjadinya tindakan bunuh diri yaitu:

  • Laki-laki
  • Usia>65 tahun dan 15-35 tahun
  • Riwayat tindakan bunuh diri di keluarga
  • Mengidap penyakit kronis
  • Mengalami gangguan jiwa
  • Dukungan sosial yang buruk/isolasi sosial
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang
  • Mengalami kekerasan seksual/fisik
  • Gejala depresi
  • Putus asa
  • Merasa tidak berharga
  • Kehilangan minat terhadap hal yang disukai (anhedonia)
  • Cemas
  • Serangan panik (panic attack)
  • Kemarahan
  • Ide, kecenderungan dan rencana untuk bunuh diri
  • Akses yang mudah terhadap sarana yang bisa dijadikan bunuh diri
  • Riwayat tindakan bunuh diri
  • Permasalahan saat ini yang tidak terselesaikan
  • Halusinasi yang memerintahkan untuk melakukan kekerasan terhadap diri sendiri atau bunuh diri

Pencegahan Bunuh Diri

Bunuh diri dapat dicegah. Tindakan pencegahan dapat dilakukan terhadap populasi maupun perorangan. hal yang bisa mencegah tindakan bunuh diri, yaitu:

  • Mengontrol akses yang dapat dijadikan sarana bunuh diri (contoh: pestisida, senjata api, benda tajam, obat-obatan tertentu)
  • Menerapkan kebijakan penggunaan alkohol untuk menghindari penggunaan alkohol yang membahayakan.
  • Deteksi dini, pengobatan dan perawatan terhadap orang-orang dengan gangguan jiwa, penyalahgunaan zat, penyakit kronis, dan gangguan emosional yang akut.
  • Layanan “hotline bunuh diri”

Penutup

Manusia memang terkadang merasa takut pada hal yang tidak mereka ketahui. Orang-orang yang berbeda secara fisik dan mental pun terkadang ikut tersisih sebagai salah satu faktornya. Para minoritas fisik, mental, materi, pemikiran, dan keyakinan pun kerap jadi korban dari gilasan tirani mayoritas.

Kejadian itu terkadang berlangsung dan diwajarkan. Membuka pola pikir bagi para pelaku dan membuka diri bagi para korban mungkin bisa dijadikan sebagai salah satu sarana alternatif yang bisa melahirkan bermacam tindakan preventif yang ampuh untuk memutus “lingkaran setan” semacam itu.

Di era ketika orang bisa lupa dan bolos untuk meminta maaf kepada para orang yang disakitinya dengan mantra kalimat sakti seperti: “Ih, kamumah baperan” jelas bukan solusikan?


Kepustakaan

Tentang bunuh diri, faktor risiko, dan pencegahan bunuh diri diambil dari brosur berjudul “Kenali dan Cegah Bunuh Diri” yang difasilitasi oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sebagai cara untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Dunia setiap tanggal 10 September.