Setelah menjelaskan panjang lebar tentang novel visual hingga era kontemporer dalam dua seri artikel, kali ini kita sampai pada bagian penutup dari seri dinamika novel visual. Pada artikel pertama dan kedua, kita telah menelusuri sejarah dinamika novel visual selama kurang lebih 42 tahun (1975-2017), mulai dari awal kemunculan, bentuk visual, fitur, genre, dll. Semua dinamika itu bertalian erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kreatifitas.

Setelah mencoba mengurutkan dinamika novel visual hingga kontemporer yang tersegmentasi secara umum, kali ini penulis ingin mencoba untuk sedikit membahas judul-judul novel visual yang  ‘keluar trayek’ dari tema-tema novel visual popular kontemporer pada umumnya (yang banyak didominasi oleh genre simulasi kencan heterogen [laki-laki dan perempuan], dan dipenuhi oleh karakter protagonis laki-laki yang dimainkan oleh pemain).

Perihal anomali ini dibahas untuk menegaskan bahwa novel visual masih bisa berpeluang untuk dikembangkan menjadi media yang dapat memperkenalkan gagasan-gagasan baru, hampir sejajar dan selayak buku dalam gaya yang lebih baru nan kontemporer.

Kilasan Judul Anomali yang Terekam dalam Novel Visual

  • Lamento: Beyond the Void
Lamento
Cuplikan Lamento

Setelah eksploitasi tubuh perempuan besar-besaran yang diusung oleh novel visual populer berlangsung, muncul gerakan novel visual yang khusus mengusung tema yaoi (hubungan sesama lelaki) atau BL (Boys Love). Novel visual semacam Lamento: Beyond the Void berhasil menjadi salah satu judul yang  berinovasi untuk mempertontonkan ‘onderdil’ dari laki-laki, mungkin demi keadilan atas penindasan yang dilakukan oleh para pengusung konten yang cenderung lebih memihak kepada laki-laki pada umumnya. Genre yang tersegmentasi menjadi yaoi dan BL umumnya disukai oleh para penganut gerakan sosial berjuluk fujoshi.

Kemesraan sesama lelaki seakan menjadi masuk akal dalam semesta game ini, alkisah dalam semesta game ini populasi perempuan sudah hampir punah dikarenakan suatu wabah penyakit masif dan mematikan yang menyerang dunia. Hal tersebutlah yang mendukung dari berubahnya pola interaksi manusia didalamnya. Bagaimana menyelami pengalaman para laki-laki yang sebelumnya belum mengenal istilah ‘perempuan’ dalam hidupnya?

  • Sono Hanabira Ni Kuchiduke Wo 
Sono Hanabira Ni Kuchiduke Wo
Sono Hanabira Ni Kuchiduke Wo

Setelah kita melihat gambar sampulnya, mungkin kita sudah mengerti tentang apa yang ingin novel visual ini tampilkan. Sono Hanabira Ni Kuchiduke Wo memang bekisah tentang romansa para lesbian/yuri. Berbeda dengan Lamento: Beyond the Void, novel visual ini tak butuh pra-kondisi untuk menceritakan kenapa para perempuan ini memilih untuk mencintai sesamanya. Intinya, novel visual ini berisyarat bahwa laki-laki tak perlu punah untuk dapat mengutarakan perasaan cinta sesama perempuan.

  • OZMAFIA!!
OZMAFIA!! Otoge
Tampilan interaksi dalam OZMAFIA!!

Pada umumnya, para pemain kebanyakan berperan sebagai tokoh protagonis laki-laki dalam novel visual. Hanya laki-laki yang boleh memilih bermacam karakter perempuan sebagai pendampingnya, hanya laki-laki yang berwenang dalam pengambilan keputusan, hanya laki-laki yang boleh menjadi dominan adalah ‘makanan’ sehari-hari para penggemar novel visual.

Bagi kalian, khususnya perempuan yang bosan dengan tema-tema “dunia hanya milik laki-laki, dan perempuan hanya bisa jadi figuran ,”  mungkin perspektif dalam novel visual OZMAFIA!! bisa menjadi solusi. Dalam novel visual ini kalian akan berperan sebagai tokoh protagonis perempuan yang berpeluang untuk menjadi petualang paling liar dalam semestanya.

  • Kawakaburi no Cherry
Shota
Interaksi dalam Kawakaburi No Cherry

Novel visual berjudul Kawakaburi No Cherry memiliki tema romansa antara dua insan yang memiliki selisih umur yang lumayan jauh. Pemain akan berperan sebagai bocah ingusan yang sedang berkunjung ke rumah temannya pada musim panas. Tak disangka, temannya sedang tidak ada di rumah dan hanya meninggalkan Ibu temannya di rumah tersebut. Ternyata Ibu temannya tersebut menggoda sang bocah untuk mencoba hubungan suami-istri padanya.

Pada umumnya, novel visual bergenre ini digolongkan kedalam jenis shota (hubungan romansa atau hubungan ‘panas’ antara bocah laki-laki atau seseorang yang menyerupai bocah laki-laki dengan perempuan dewasa). Hubungan cinta berbeda usia bukan barang baru dalam dunia nyata, namun, membayangkan bocah yang belum akil baligh melakukan  hubungan suami-istrilah yang kadang membuat kita gagal paham.

 

  • Saya no Uta
Saya No Uta
Gameplay dalam Saya no Uta

Setelah mengulas cinta sesama jenis, dan berbeda usia, kita akan mengulas tentang cinta antara monster dan manusia. Novel visual ini tidak seperti cerita Beauty and The Beast yang sang pangerannya pernah menjadi manusia, atau Shrek, yang pasangannya mantan manusia yang berubah menjadi monster macam Shrek. Novel visual ini memang menceritakan jalinan kasih antara manusia dan monster yang benar-benar monster tanpa pernah menjadi manusia.

Saya No Uta Kontemporer
Pandangan dunia dalam pengelihatan Fuminori (kiri)

Bekisah tentang seorang pemuda bernama Fuminori Sakisaka, mahasiswa jurusan kedokteran yang mengalami kecelakaan maut. Semua keluarganya meninggal, hanya menyisakan Fuminori dengan penyakit radang otak. Dia selamat, namun dengan konsekuensi mengidap penyakit mirip penderita agnosia yang membikin persepsi kelima indranya menjadi kusut tak karuan.

Dalam pandanganya, ia melihat dunia bagaikan onggokan daging mentah penuh darah, dalam pendengarannya, ia mendengar suara-suara dalam dunia bagaikan pita kusut yang menggema, dalam indra perasanya, ia merasakan rasa makanan bagaikan kotoran. Penyakit agnosia inilah yang membuatnya terasing dari dunia.

Keterasingan itu seakan hilang ketika Fuminori bertemu Saya, seorang yang dalam persepsi kelima indranya adalah gadis dalam usia nanggung yang cukup manis, beratribut loli. Bila dunia normal dalam persepsi Fuminori adalah rentetan teror, mengapa ia bisa melihat satu-satunya keindahan bernama Saya ? Mungkin anda bisa menebak semonster, seiblis, atau seburuk apakah Saya dalam perspektif manusia normal.

  • Hatoful Boyfriend

Sesama jenis, berbeda usia,dan berbeda spesies, hampir sama dengan Saya no Uta. Novel visual berjudul Hatoful Boyfriend mengambil tema tentang seorang tokoh protagonis perempuan yang bersekolah dengan para unggas. Bukan unggas biasa tentunya, unggas-unggas ini bisa berbicara layaknya para manusia.

Hatoful Boyfriend Kontemporer

Untuk menghindari spoiler, sebaiknya kalian bisa mencoba memainkan novel visual ini sendiri untuk mengetahui apa maksud dari sang developer yang secara tidak langsung menjodohkan manusia dengan para unggas.  Namun, dalam segi terobosan, memang novel visual semacam Hatoful Boyfriend sangat berani untuk menampilkan konsep yang lain daripada novel visual pada umunya.

Novel Visual di Indonesia

Para pembuat game Indonesia tak mau ketinggalan dengan genre novel visual. Salah satu contoh yang paling kontemporer dan komersil adalah novel visual berjudul Just Deserts. Sekai Project adalah perusahaan yang berperan besar dalam mendukung novel visual ini masuk dalam aplikasi Steam. Dari segi cerita dan gameplayJust Deserts mampu bersaing dengan judul-judul novel visual yang berjibun di pasaran.

Jalan Lain Novel Visual untuk Indonesia?

Sudah banyak muncul konsep-konsep novel visual kontemporer yang berani untuk menjauh dari tema-tema yang umum. Dewasa ini, novel visual sebatas dikenali, disukai oleh kalangan tertentu yang kebanyakan suka anime, dan kerap dicap hanya sebagai game mesum oleh kebanyakan orang. Telah kita lihat, banyak sekali contoh-contoh anomali dalam novel visual, dari bukti itulah sebenarnya novel visual masih layak dikembangkan menjadi suatu media yang mempunyai nilai yang lebih bermanfaat, terutama dalam pesepektif Indonesia.

Minat baca Indonesia duduki peringkat 60 dari 61 negara, hal itu memang terasa begitu memprihatinkan bagi negara Indonesia yang masih terus merangkak untuk berkembang. Bila membaca buku teks dianggap sulit bagi masyarakat, mungkin novel visual bisa menjadi sarana alternatif untuk membangkitkan gairah membaca rakyat Indonesia.

Dilihat dari Just Desert yang digarap oleh Indonesia, atribut-atribut Indonesia masih digunakan hanya sebatas nama, dan ciri fisik yang masih tak bisa lepas dari anatomi Jepang (terbukti dari Yumi Wulandari yang diceritakan adalah pernakan Indonesia-Jepang). Jalan cerita pun masih hanya sebatas dunia fantasi (melawan alien), dan unsur visual pun masih berkiblat pada penggambaran jenis manga.

Langkah yang dibuat Just Desert tidaklah salah, namun bila kita berbicara dalam konteks kontribusi untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia pada dunia luar, hal itu masih belum cukup terlihat muncul ke permukaan. Hal ini merupakan PR kita bersama, akan adakah novel visual yang bisa menjawab korelasi tentang potensi Indonesia?

Andaikata ada novel visual buatan Indonesia yang berniat untuk berkorelasi tentang Sejarah Indonesia yang masih amburadul karena ulah kepemimpinan diktator selama 32 tahun, atau mempunyai relasi dengan kebudayaan Indonesia kontemporer, masalah-masalah sosial lain yang bisa membuka paradigma masyarakat Indonesia bahwa keberagaman adalah fitrah manusia yang diciptakan oleh Tuhan, tak menutup kemungkinan novel visual bisa menjadi gerakan sosial yang turut berkontribusi membangun Indonesia sebagai garda depan pembangkit nilai edukatif, kreatif, dan juga positif di era kontemporer.