Djinah 1965 merupakan sebuah novel grafis racikan Evan Photons, Kenro Usman, Theodora Sampe Rampun, dan Nanindra Shri Gala. Bagi rekan-rekan Virtual Verbal yang masih bingung tentang apa itu novel grafis, ya jangan bingung plis. Novel grafis itu semacam komik, namun memiliki teks yang cenderung lebih padat dari komik, makanya namanya novel grafis, lha wong balon katanya padat akan teks seperti novel.Djinah 1965

Novel grafis ini menceritakan tentang pengalaman seorang gadis bernama Sudjinah pada era 60-an di Indonesia. Sudjinah adalah seorang fungsionaris bagian penerjemah di sebuah organisasi bernama GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). Sudjinah kabur dari obsesi orang tuanya yang menyuruh dia kawin gantung dengan pria bangkotan. Setelah kabur, dia pun bersekolah sampai menjadi lulusan di FISIP UGM kala itu. ‘Mending pendidikan daripada menjadi pelampiasan pria bangkotan!’. Sudjinah merupakan gadis yang berprestasi, saking berprestasinya dia dikirim sebagai salah satu delegasi Indonesia ke negara-negara seperti, Polandia, China, Rumania, dan Prancis untuk menyuarakan semangat kemerdekaan. Semenjak itu, ia pun aktif untuk menuliskan buah pikirannya dibeberapa media seperti, Harian Rakyat, Api Kartini dan salah satu media milik Soviet: Pravda.

Semua mimpi tentang perjuangan kemerdekaan itu pun berubah, sejak tanggal 1 Oktober 1965, tuduhan miring terhadap GERWANI pun telah membakar kewarasan jutaan rakyat Indonesia yang mulai membabi buta menghabisi bangsanya sendiri.

Djinah 1965Kitab sejarah versi Orde Baru menuliskan bahwa GERWANI terlibat dalam peristiwa Lubang Buaya. Dalam versi sejarah Orde Baru, diceritakan anggota GERWANI melakukan aksi penculikan 7 Jendral, melakukan tarian telanjang, menyiksa para Jendral, sembari menyanyikan lagu Genjer-Genjer. Dengan semakin banyaknya penelitian dan sumber-sumber sejarah baru, peristiwa Lubang Buaya versi Orde Baru pun semakin dipertanyakan kebenarannya.

Djinah 1965

Dalam Djinah 1965, dijelaskan bagaimana organisasi bernama GERWANI berjuang memberantas buta huruf bagi perempuan, mendirikan taman kanak-kanak gratis bagi rakyat melalui TK Melati, dan mendukung petani menentang Land Reform yang hanya akan menyengsarakan kaum tani. Sungguh berbanding terbalik dengan tuduhan tak substansial macam peristiwa Lubang Buaya.

Pada Djinah 1965, dijelaskan bagaimana kehidupan Sudjinah yang berhasil kabur dari buruan pemerintah pasca peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober). Diceritakan secara sekilas bagaimana usaha Sudjinah yang bergerak dalam gerakan bawah tanah bernama BPKPS (Barisan Pendukung Komando Presiden Soekarno) yang bertujuan untuk melakukan manuver kontra-narasi dari informasi-informasi arus utama yang menyudutkan mereka dengan tuduhan sebagai pengkhianat bangsa.

Novel grafis Djinah 1965 seakan ingin ikut serta untuk memberikan gambaran tentang sejarah dari sudut pandang pelaku sejarah itu sendiri, tanpa perlu diwakili oleh versi pemerintah Orde Baru. Sudjinah bukan tokoh fiktif, ia pernah ada, sebagai salah satu perempuan Indonesia yang melek politik dan benar-benar tulus berperan demi mengisi kemerdekaan Indonesia.

Cara penggambaran novel grafis Djinah 1965 mirip dengan gaya-gaya penggambaran komik-komik Indonesia zaman R.A Kosasih dan Hans Jaladara. Illustrasi yang dipenuhi dengan siluet-siluet gelap makin menguatkan suasana kalut dalam cerita tersebut.

Djinah 1965

Referensi yang tergambar dalam novel grafis ini pun berasal dari foto-foto suasana Indonesia tahun 60-an. Sejarah visual yang akan membawa kalian pada semesta Indonesia masa lampau.

Novel grafis ini akan membantu kalian untuk menemukan sisi lain dalam potongan sejarah Indonesia yang sampai saat ini masih kurang diperhatikan. Mengambil sudut pandang seorang perempuan yang mandiri dan berani menunjukan eksistensinya dalam kemerdekaan akan membuat kita tersadar bahwa perempuan tak melulu berkutat pada urusan dapur, melahirkan, papan iklan, kecantikan dan hiasan bagi figur pria sukses.

Perempuan pun punya kesadaran dalam dinamika kemerdekaan, bukan cuman figuran dalam meme-meme agustusan yang cuman berakhir macam “pilih dipanjat atau dipinang“.

*Novel Grafis Djinah 1965 dapat diunduh secara gratis disini.