Masa muda adalah masa paling kalut yang penuh dengan bermacam proses pencarian dan peneguhan eksistensi manusia. Krisis identitas dan terbawa arus zaman merupakan penggalan kehidupan yang sering menjadi cuplikan babak kehidupan yang terjadi di masa muda.

Di kesempatan kali ini, penulis ingin sedikit membagikan pengalamannya ketika ia bersentuhan dengan gim bernama Dota yang sampai saat ini masih berkembang dan masih digandrungi oleh beberapa penggiat gim. Tentu saja hal itu akan dimulai saat penulis pertama kali bermain hingga ia berhasil menjadi seorang gamer pasif yang mencoba peruntungannya dalam mendokumentasikan pengalaman hidupnya dalam alam internet berbentuk tulisan.

Tulisan ini bukan tutorial ataupun highlights visual yang biasanya kalian temukan di kanal YouTube. Bukan pula pengalaman bermain yang penuh dengan prestasi dan unjuk gigi kemampuan tinggi perihal gim. Nostalgia yang didedikasikan pada penggalan masa lalu, serta orang-orang yang pernah terlibat dalam pengalaman Dota lawas mungkin lebih pas untuk tema dari tulisan ini.

Dengan mengandalkan ingatan yang samar-samar serta bermodalkan jari-jari yang kehilangan APM tingkat tinggi saat bermain MOBA, mari kita mulai saja kesuraman masa muda penulis.

2006, Reuni Sesat

Lari dari hari terakhir Masa Orientasi Siswa (MOS) atau yang lebih dikenal OSPEK, saya memutuskan untuk menginjakan kaki di warnet bernama Commando. Tempat itu sudah bangkrut dan telah berubah menjadi ruang ekspansi dari sebuah pusat perbelanjaan bernama Istana BEC, Bandung. Bagi saya yang sudah mulai mengenal buku Aku Ingin Jadi PeluruMOS adalah sebuah ajang perpeloncoan yang penuh dengan klise senioritas, berbalut modus ke siswi cantik, dan pembenaran akan rentetan keangkuhan yang diinjeksikan kepada siswa baru bertamengkan legitimasi atas pengenalan lingkungan sekolah.

Atas dasar itu saya pun memutuskan bolos dan bermain di warnet. Ternyata, tanpa disangka-sangka saya bertemu dengan R, teman sekelas saya waktu SMP. R dan saya tidak satu SMA, tapi mungkin alasan kita bolos agak sama: kabur dari hari terakhir MOS yang pastinya ditutup dengan kakak kelas yang bentak-bentak dan memarahi kami tanpa alasan substansial layaknya buruh sweatshop yang dimarahi mandor.

Main Ragnarok? Sudah pensiun, gim lain saya kurang paham, main Solitaire? Di rumah juga bisa. Akhirnya saya bermain Counter-Strike dengan menyewa komputer yang harga per jamnya paling murah sehingga uang saku saya cukup untuk bermain hingga siang hari: waktu standaran pulang siswa-siswi.

R yang menyewa komputer dan duduk berjarak beberapa meter dari saya―nampak sedang bermain gim yang asing bagi saya. Terlihat seperti Warcraft, tapi bukan campaign mode, plus permainan itu nampak dimainkan oleh 10 orang yang mengendalikan karakter-karakter berwujud macam-macam. R pun berkata bahwa gim itu bernama Dota yang dimainkan secara LAN.

Saat itu dia memakai karakter bernama Bone Clinkz, hero yang bisa invis (menghilang) karena kelebihan dari skillnya bernama wind walk. Saya pun diajak R untuk mencoba Dota yang kala itu baru mencapai map versi 6.27 yang tentunya memiliki meta, heroes, dan items yang sudah menjadi artefak bila dikomparasikan dengan Dota 2 berserta update-annya.

Saya pun tertarik mencoba karena kalah melulu dan tersudut di pojok leaderboard ketika main Counter-StrikeHero yang pertama kali saya mainkan adalah Lich, tipe INT, dan punya tugas utama sebagai nuker (berkontribusi untuk memberikan damage yang cukup besar pada saat pertempuran [dalam konteks ini berupa magic attack]). Saya dan R akhirnya memenangkan babak tersebut.

Dulu, banyak pemain yang belum akrab dengan item untuk mendeteksi hero yang mempunyai skill invis seperti Sentry Ward dan Gem of Truesight (Dust of Appearance belum terimplementasi kala itu). Jadi, meta kala itu bisa disimpulkan menjadi: pakai hero yang bisa invis dan kemungkinan untuk memenangkan permain pun terbuka lebar.

Saya pribadi lebih suka memainkan hero INT yang rata-rata punya magic skills dan dapat dengan mudah merundung hero-hero AGI di awal permainan. Plus, rata-rata hero invis populer seperti: Gondar, Rikimaru, dan Bone Clinkz adalah tipe AGI dan rata-rata pemain AGI itu suka memaksakan membeli item dengan ATK tinggi dan mengenyampingkan survivabilty mereka sehingga bisa disikat secara cepat dengan magic skills.

R adalah invis spammer, dia suka sekali memakai hero jenis seperti itu karena pada menit-menit akhir dari permainan, hero invis yang rata-rata memiliki peran sebagai carry―sangat kuat di masa pasca akhir permainan.

Banyak meta yang mungkin bakal aneh bagi kids jaman nowAegis of Immortal merupakan barang yang bisa dibeli di NPC shop (Tergolong consumable itemsetelah 3 kali mati, jatah resurrection kalian habis plus kalian tidak bisa men-drop item ini), Kelen’s Dagger of Escape alias Blink Dagger masih bisa digunakan walaupun hero kalian terkena hit dari musuh dan Blade Mail merupakan passive item yang membuat serangan melee berjenis physical akan terkena 15% pantulan serangan secara paripurna apabila memukul pengguna blade mail tanpa perlu mengaktivasi item dan Blade Mail pun stackable sehingga bila Anda menggunakan 4 Blade Mail, Anda dapat memantulkan serangan physical berbentuk melee sebesar 60%, sungguh mimpi buruk bagi hero macam Motred, Phantom Assassin.

Meta Blade Mail lebih sering dipakai oleh hero semacam Visage yang dulu punya skill pasif untuk memantulkan serangan musuh sebesar 15%. Karena Blade Mail-lah, hero AGI berjenis range lebih populer kala itu, atau kalau ingin hero melee pun, Jahrakal Troll Warlord bisa dijadikan solusi karena hero ini bisa mengganti jenis seranganya ke dalam bentuk melee dan range.

Pengalaman yang saya anggap lucu di masa itu adalah Mogul Khan Axe harus membeli mekansm karena Vanguard belum ada dan hero STR yang punya jurus invis seperti Rootfellen Treant Protector bisa memenangkan permainan seorang diri dengan hanya bermodalkan Aegis of Immortal serta lawan yang kurang paham bahwa Sentry Ward dan Gem of Truesight itu eksis.

Oh iya, Scroll of Town Portal pun belum diaplikasikan dengan baik, sehingga jalan dari lane satu ke lane yang lain adalah pemandangan umum kala itu (kecuali kamu beli Boots of Travel yang harganya 2200 gold kala itu). Sand King pun sering di-spam karena jarang yang tahu cara mengagalkan jurus Epicenter-nya.

Jangan anggap generasi kami bodoh, YouTube baru berumur setahun serta tak populer dan kanal informasi mengenai gim pun sangat terbatas yang berbahasa Indonesia plus Internet masih milik kaum berada. Umur Dota masih muda, dan komunitasnya tak seheboh sekarang. Pada zaman itu, Dota adalah permainan yang terlahir dari learning by doing bukan learning from watching seperti jaman now.

Singkat kata, saya pun pulang dengan bahagia karena Dota dan berpikir keras untuk memahami Dota. Teman saya yang sedang MOS mungkin pulang dengan perasaan kesal sehabis dibentak-bentak senior dan dipaksa masuk geng motor yang saat itu menjamur di kota Bandung.

Ugh geng motor, jadi ingat saya pun pernah dipaksa bergabung dengan ancaman verbal oleh salah satu aktor figuran di film Dilan yang pada kenyataanya memang mantan geng motor. Yaah, masa muda!

Virus Dota Masuk Kelas

Singkat kata, saya pun bercerita tentang Dota pada teman sebangku saya bernama C. Ternyata, C sudah mengenal Dota dan terlihat lebih paham daripada saya. Obrolan pun memanjang dan menarik beberapa teman seperti RS, A, dan RF yang terlihat tertarik dengan obrolan kami.

Dari rapat tersesat itulah kami memutuskan untuk bermain di warnet dekat sekolah di daerah Buah Batu, Bandung. Kami berlima pun bermain di warnet yang katanya sampai sekarang masih eksis bernama Drop Zone. Dota zaman itu merupakan permainan LAN dan kami belum pahamcara memainkan mode Battlenet.

Untungnya banyak yang bermain Dota dalam alam LAN, sehingga kami yang kekurangan 5 pemain pun tidak berangsur kecewa, Biasanya bila kami kekurangan orang, kami bermain dengan mode 2 versus 3, mengingat 3 orang teman kami memang tergolong masih baru dalam Dota. Saya dan C tentunya yang melawan 3 orang tersebut.

Pertarungan pun makin seru, berkenalan dengan anak sepantaran, anak kuliahan, pengangguran, sampai bocah SMP yang bermain Dota pun terjadi di Drop Zone. RS yang pernah dihina anak kuliahan karena kebodohannya bermain Dota pun mendendam. Seperti layaknya MC di anime yang berevolusi dari lemah ke kuat, RS pun hampir setiap hari berlatih bermain Dota seusai sekolah. Alhasil, RS jadi tergolong lebih jago dari saya dan mungkin agak sepantar kemampuannya dengan C. RS berhasil mempermalukan W si anak kuliahan yang dulu pernah menghina permainannya dengan mengalahkannya berkali-kali dalam Dota.

Selang beberapa bulan dari kejadian itu, kami pun mulai melangkah ke Battlenet alias bermain daring. Server Battlenet lokal yang dikelola oleh Indogamers alias IDGS pun kami jalani. Server IDGS Public sangat ketat dan sulit untuk membuat ID Dota di server itu. Tapi, singkat kata kami pun berhasil mendapatkannya.

Layaknya bocah yang awam dengan alam komunikasi di Internet, berbacot ria adalah salah satu hal yang paling digandrungi oleh saya kala itu. Saya yang labil pun orang yang pertama kena banned setelah menghina salah satu GM perempuan yang bermain sangat-sangat kacau di salah satu permainan. C dan RS masih punya ID IDGS Public, saya hanya bisa menonton mereka.

Kabar baik pun datang, IDGS membikin server baru bernama IDGS Junior. Kala itu, calon pemain bebas membuat ID tanpa peraturan yang ketat. Kami pun exodus ke IDGS Junior dengan membuat ID sebanyak-banyaknya. Setelah membuat nama ID dari yang menurut kami keren ke ID yang vulgar, pemandangan penuh SARA pun hadir di chat room.

Karena provokator yang menebar SARA terutama perihal agama membludak, saya dan RS pun bertindak. Kami membuat ID yang mengejek secara vulgar terhadap salah satu agama (jangan dicontoh) dan ikut-ikutan debat kusir di chat room, sungguh pemandangan yang chaotic dan memalukan. Untungnya pemandangan itu teratasi dengan ditegaskannya regulasi dan GM yang tidak capek-capeknya mem-banned permanen para provokator. Tentunya ID beraroma SARA kami pun terkena banned, namun tidak bagi ID utama kami.

Saya memakai IGN J-Dorama dan K-Drama, C memakai Anlest, RS dengan Shadow_Chaser, dan A dengan Boyd. RF sudah tidak tertarik dengan Dota karena ia sedang asyik masyuk dengan perempuan. Boyd pun hanya bermain sebentar dan kehilangan passion bermain Dota. Tersisa kami bertiga; J-Dorama, Anlest, dan Shadow_Chaser.

Kami pun bertambah akrab dengan trio anak kuliahan lainnya yang ber-IGN; Zone, Niyochan, dan Clark_Kent. Niyochan ternyata teman balet kakak perempuan saya waktu SD, dan Clark_Kent masih sepupuan dengan dosen saya pas nanti kuliah, dunia itu sempit.

Yang paling saya ingat pada masa itu adalah sistem item polling. Dahulu, kalian bisa menggunakan item yang dibeli oleh pemain lain dengan suka-suka sehinga sistem polling kerap dieksploitasi sebagai strategi oleh banyak pemain beregu termasuk kami. Contohnya, Ezalor Keeper of The Light mempunyai skill yang mudah untuk mencari nafkah digunakan sebagai sumber dana bagi hero carry untuk membeli barang. Alhasil, Ezalor dibiarkan telanjang dan memberikan hasil farm-nya kepada hero carry untuk memenangkan permainan.

Anlest yang paling berani untuk bereksperimen dengan heroes di Dota, Shadow_Chaser hanya bermain hero carry, dan J-Dorama terlalu sering berpikir tentang strategi sampai terbawa mimpi, kebanyakan mikir walau skill pas-pasan. Begitulah siklus Dota yang kami jalani hingga kenaikan kelas.

Melemah Menguat

Menginjak kelas 2 SMA, J-Dorama dan Anlest jarang bermain Dota karena sibuk dengan ekskul Pencinta Alam. Shadow_Chaser masih rajin dan kemampuannya pun meningkat. Kami pun telah pindah ke warnet  yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sekolah bernama Glory. Walau Anlest dan J-Dorama jarang bermain, Shadow_Chaser asyik bermain dengan adik dan kakak kelas.

Kemampuan saya sempat menurun karena terbawa dengan program bernama Maphack. Dengan program tersebut, kalian bisa melihat posisi pemain musuh tanpa ada sama sekali blindspot walau tanpa menggunakan observer ward. Karena merasa terlalu dimanjakan dan merasa cupu ketika bermain tanpa Maphack, saya pun berhenti total seiring dengan makin rajinnya map Dota di-update agar anti-maphack.

Di warnet Glory, saya dan teman-teman makin akrab dengan senior dan junior di sekolah. Dari Glory pulalah saya akrab dengan beberapa mantan geng motor yang banting setir menjadi gamer. Trio kuliahan seperti Zone, Niyochan, dan Clark_Kent pun turut pindah ke Glory. Di tambah dengan para pekerja kelas menengah yang juga turut bermain di warnet ini. Solidaritas itu tetap terjaga sampai masa awal hingga akhir zaman kuliah.

Bermain LAN di warnet Glory merupakan sebuah ritual yang mengasyikkan. Apalagi ketika malam minggu, beberapa dari mereka ada yang bermain sambil mabuk, bertelanjang dada, dan naik meja ketika menang. Beberapa dari mereka ada yang sangat jago dan bermain cukup baik dalam persaingan Battlenet di IDGS Public.

Permainan saya yang epik dan masih terngiang di Glory adalah pada saat saya berhasil membeli Monkey King Bar di menit 10 ketika bermain Kardel Sharpeye (Sniper di Dota 2), membalikan keadaan permainan dari status kalah ke menang dengan Rootfellen dan Omniknight yang membeli Refresher Orb, menang 2 versus 5 ketika 3 orang leaver karena hampir kalah, serta bertemu dan melawan  Ritter (Pemain Bintang Dota Indonesia yang kala itu yang tergabung dalam tim esport bernama XCN) di IDGS Public.

Versus Ritter

Saat itu saya kelas 3 SMA, Minggu dini hari membuat banyak penghuni warnet pun terlelap di sofa yang robek dan bangku-bangku beroda yang disusun layaknya kasur darurat. Tersisa saya dan RN alias G (IGN: Stevenson) yang masih asyik menunggu room dalam dota penuh sambil ngomong ngalur-ngidul. Kebetulan saat itu, Stevenson adalah sang pembuat room dan mengajak salah satu virtualnya ber-IGN Raja_Utan. Saya meminjam ID IDGS Public teman saya bernama D yang ber-IGN QuickTime.

Waktu yang padat, mengantarkan Ritter masuk ke dalam grup Scourage, dia booking 1 orang dan saya lupa siapa nama IGN yang temannya pakai. Sentinel booking 3 slot; Stevenson, QuickTime, dan Raja_Utan. Stevenson nampak terpacu dan heboh sendiri karena bertemu Ritter, saya deg-degan karena harus bermain serius (saya sedang terkena flu dan batuk kala itu, di samping saya ada antibiotik dan air mineral yang sudah menyumbangkan rasa kantuk yang hebat.

Stevenson dengan role sebagai Mirana menjadi midlaner, bertarung dengan Ritter dengan role sebagai Lanaya (Templar Assassin) yang dari menit awal sudah tawuran berebut rune. Permainan semakin seru ketika Raja_Utan yang berperan sebagai Kunkka datang dari lane bawah dan beberapa kali berhasil meng-combo Ritter dengan X-Mark on the Spot dan Torrent-nya yang dibantu dengan Sacred Arrow milik Stevenson. Ritter nampak kesulitan.

Bagaimana dengan saya? Hanya figuran tentunya, karena saya sedang asyik masyuk di lane atas dengan role sebagai Treant. Saya bertugas sebagai tukang beli ward sekaligus offlaner. Tempo permainan diatur oleh Stevenson dan Raja_Utan, saya hanya berusaha menjamin vision di map tetap terjaga dan bersiap teleport ketika ada perang besar. Dan tentu saja, memberikan Living Armor ke Stevenson dan Raja_Utan agar mereka bisa terus farming sampai gendut.

Teman Ritter yang berperan sebagai Phantom Assassin pun terlihat tidak begitu menonjol. Saya berhasil men-denied beberapa creeps-nya dan tetap hidup di hardlane. Kurang lebih permainan ada di atas angin dan tentunya ada kepuasan tersendiri bisa bertemu dan menghadang permainan seorang pemain bintang.

Bencana mulai tercipta ketika Raja_Utan yang merasa jumawa bertindak nekat: dia membeli Divine Rapier di saat urgensi untuk membeli item tersebut adalah nol. Ritter dan tim scourage berhasil membegal Raja_Utan yang sedang farm di hutan bawah. Alhasil, Divine Rapier pun jatuh ke tangan Lanaya yang terkenal sebagai carry cadas jika berhasil memposisikan skill aktif Refraction dan skill pasif Psi Blade secara terukur. Ditambah dengan Divine Rapier, tentunya 1-3 hit, kami pun bisa “rata” jika salah langkah.

Ritter dan tim Scourage pun memutuskan untuk menyerang lane bawah, tower tier 3 pun sudah jadi target mereka. Saya yang telah berhasil mengantongi Kelen’s Dagger of Escape bersiap meloncat dan membendung serangan mereka dengan Overgrowth jika diperlukan. Stevenson dengan Mirana sedang mencari posisi yang tepat untuk menembakkan Sacred Arrow yang dapat menghentikan salah satu hero dalam beberapa saat. Raja_Utan? Sedang menunggu timer agar bisa kembali ke dalam permainan dengan status: no buy back.

Setelah tower tier 3 berubah jadi kepingan emas bagi lawan, Raja_Utan pun respawned dan kembali ke arena permainan. Dengan aba-aba yang terukur, saya meloncat dengan Kelen’s Dagger of Escape ke hadapan Ritter dan tim Scourage. Overgrowth saya aktifkan, Black King Bar milik Ritter sedang dalam posisi cooldown akibat tarik ulur tim kami yang melakukan nuke saat perebutan tower tier 3.

Raja_Utan pun meluncurkan Ghost Ship-nya yang terukur, ditambah dengan Chain Frost dari Lich dan juga Starstorm dari Stevenson. Sayangnya saya lupa hero apa yand dimainkan pemain kelima kami. Saya, Lich, dan satu hero support lain pun meregang nyawa. Kami masih punya buyback dan kembali dalam arena permainan.

Kelima pemain Scourage pun mampus dan Raja_Utan kembali mengklaim Divine Rapier miliknya yang hampir saja menjadi senjata makan tuan bagi Sentinel. Tanpa banyak ba-bi-bu, kami pun segera menyerang Frozen Throne milik Scourage tanpa perlu status Megacreep.

Saya menang dan menyimpan replay permainan di komputer warnet. Minggu siangnya, rekaman itu saya tunjukkan pada teman-teman dengan perasaan sedikit haru. Sayangnya, saya tidak bisa menyimpan berkas itu dengan rapih dan bukti otentik itupun hilang.

Mungkin kalau tidak hilang, cerita saya akan lebih lengkap dan tak perlu dramatisasi berdasarkan ingatan payah seperti ini. Intinya saya merasa bersyukur pernah merasakan pengalaman bermain seperti itu di alam permainan yang akan membuatmu sulit untuk bertemu pemain pro sekelas anggota XCN. Berbeda dengan sekarang yang memiliki kalibrasi berbentuk hierarki berdasarkan winrate.Semakin jago dirimu, kemungkinannya semakin besar bertemu dengan pemain pro. Kalau dulu, cuman modal keberuntungan.

Pasca SMA

Masa kuliah, beberapa penggiat Dota berpencar dan bermain gim lain. Ada yang main Seal, World of Warcraft, RF, Tantra, dan Counter-Strike. Saya sendiri bermain Point Blank sampai 2009 dan masih rajin bermain Pokemon sejak 2008 di Nintendo DS.

Di tahun 2011, hampir semua pemain Dota satu pun pindah ke Heroes of Newerth, termasuk saya. Seperti yang kita ketahui, banyak mantan pemain HoN yang juga berpindah pada Dota 2 di tahun 2013. Hal itupun terjadi pada pemain HoN pada umumnya. Saya pribadi bermain MMORPG di server North America bernama Aura Kingdom.

Baru sekitar tahun 2016, saya kembali bermain Dota 2. Itupun hanya sekedar reuni bermain dengan mantan-mantan kawan dari warnet Glory yang sekarang sudah berubah menjadi Guest House. Mereka masih jenaka dan masih jago melawak. Percakapan pun sudah bergeser menjadi pengalaman dinas kantoran, pernikahan, sampai pengalaman dikejar pocong.

Begitulah pengalaman saya bermain Dota di masa muda. Kemampuan bermain memang tidak selamanya bisa dipertahankan, namun pengetahuan tentang Dota tentunya masih tetap ada. Saya pun masih gemar menonton highlights pertandingan di kanal Youtube bernama Noobfromua.

Bagi saya pribadi, pertemanan dan solidaritas yang dipertemukan dari Dota saat masa muda itu lebih bermakna ketika menua daripada kemampuan bermain dalam Dota. Hal seperti itu mungkin sudah jarang terjadi mengingat ada benteng hierarki permainan bernama rank (dulu MMR) dan semakin terkikisnya warung internet serta makin banyaknya pemain yang main di rumah.

Aplikasi komunikasi massa seperti Discord mungkin eksis, namun sensasi keseruan bermain dengan orang-orang yang nyata dan bersebelahan denganmu itu kadang tak tergantingan oleh aplikasi jarak jauh. Kadang akrab dan kadang berantem secara fisik. Yah, memang pola komunikasi pun sudah berubah ke zaman; foto ini, rekam ini, liburan kemana, hari ini makan apa, nyanyi apa, pakai baju apa, selingkuh sama siapa, potong rambut/dandan model gimana yang kadang terlalu overused! Sebal saya!