Indomie, siapa sih yang ga tau produk mie instan yang satu ini? Salah satu produsen mie instan terbesar di dunia buatan indonesia, siapa sangka indomie sangat di gemari di seluruh dunia, bahkan ada suatu fenomena indomie, dimana mie instan ini benar-benar digemari di Nigeria, ya negara yang kaya minyak asal Afrika ini merupakan salah satu penikmat indomie terbesar di dunia. Mengapa produk mie instant ini di Afrika bisa sangat fenomenal?

Fenomena Indomie

Di Nigeria sendiri Indomie itu merupakan kata ganti mie instan, setiap orang yang ingin mie instan pasti menyebutnya dengan Indomie, begitu besar sekali pengaruh brand yang satu ini di Nigeria, bahkan disana Indomie merupakan makanan pokok pengganti nasi. Jika seorang pelajar Nigeria melakukan studi diluar negri hal yang mengingatkan mereka dengan rumah adalah indomie, bahkan orang nigeria sendiri berpikir bahwa indomie merupakan produk asli negara mereka.

Fenomena Indomie lainnya yaitu, Indomie menguasai 74% pangsa pasar mi instant di Nigeria, angka ini termasuk penurunan mengingat 10 tahun lalu Indomie sempat memonopoli pasar mi instan di seantero Nigeria, jadi bagaimana ceritanya Indomie bisa ‘menjajah’ meja makan rumah tangga Nigeria?

Cerita bermula pada dekade 80-an PT Indofood Sukses Makmur mengekspor produk mereka kepada Dufil Prima Foods, produsen pangan Nigeria. Karena permintaan pasar sangat tinggi, kedua pihak meningkatkan kerja sama dengan membangun pabrik lokal hasil joint venture antara Tolaram group Singapura dan Salim Group Indonesia. Kini, pabrik tersebut skalanya terbesar di seluruh Benua Afrika. Indomie laba kotor hingga US$600 juta (setara Rp 7,8 triliun) per tahun di Afrika, masuk dalam jajaran merek urutan ke-8 paling banyak dibeli di seluruh dunia berdasarkan riset Kantar Worldpanel.

Kesuksesan Indomie terbantu ketepatan momen. Ketika mi instan pertama kali diperkenalkan akhir 80-an, sama sekali tidak ada pesaing di Nigeria. Selain itu, orang Nigeria belum punya budaya makan mi sebelumnya, berbeda dari penduduk Asia atau negara-negara Barat. Perkembangan bisnis ini awalnya sangat sulit. Tidak ada penduduk Nigeria yang tahu apa itu mi instan, lalu indofood berusaha mati-matian memperkenalkan produk ini dari rumah ke rumah, mengatakan pada setiap orang kalau mi instan itu setara dengan beras, gandum, ataupun kacang-kacangan yang lebih populer sebagai makanan pokok di Nigeria.

Kerja keras Dufil Prima Foods akhirnya terbayar ketika Junta Militer Nigeria tumbang pada 1999. Pasar Nigeria menjadi semakin terliberalisasi, membuat Indomie semakin leluasa melebarkan sayap di toko-toko dan supermarket negara tersebut. Perekonomian Nigeria pun membaik sejak 1999, dengan Produk Domestik Bruto melonjak hingga US$431 miliar pada 2014. Artinya, semakin banyak orang mampu menyisihkan uang untuk membeli bahan makanan pokok selain beras. Indomie pun jadi pilihan.

Kesamaan status Nigeria dan Indonesia—sebagai negara mayoritas muslim—turut memudahkan masuknya merek Indomie yang sejak awal memasang label halal. Kini ada sekitar 15-17 produk mi instan serupa di Nigeria. Namun, Indomie masih menjadi primadona, Berkat tak adanya pesaing berarti, Indomie bahkan sukses bertahan dari krisis ekonomi yang melanda Nigeria tiga tahun lalu. Faktor lain adalah harga jual Indomie yang tetap murah ketika Nigeria mengalami krisis ekonomi. sebungkus Indomie lebih mudah dibeli rata-rata rumah tangga dibanding beras satu kilogram.

Iklan-iklan Indomie di Nigeria juga sangat agresif. Banyak pariwara televisi menyasar ibu-ibu, mengingatkan mereka bahwa Indomie merupakan pilihan termudah untuk mencukupi kebutuhan pangan satu keluarga. Iklan televisi Indomie sangat populer di Nigeria, sampai-sampai orang Nigeria tidak sadar jika produk ini sebenarnya dari Indonesia.

Begitulah kurang lebih fenomena indomie di Nigeria, siapa yang sangka kalau indomie di negara ini branding-nya bahkan lebih kuat dibandingkan dengan di negara asalnya sendiri, menjadi kata pengganti mi instant dan bahkan makanan pokok di Nigeria benar-benar menjadi sebuah fenomena tersendiri bagi orang Indonesia hehe.