Bagi yang pernah mengenal tim eSports perempuan bernama Female Fighters, pastinya kalian tidak perlu merasa asing dengan FF Gaming, bagi yang belum mengenal organisasi eSport yang satu ini, jangan berkecil hati, karena tim redaksi Virtual Verbal telah berhasil menghimpun informasi-informasi langsung dari para anggotanya yang kami temui di salah satu acara yang bertempat di ASUS ROG Store, Bandung Electronic Center pada 19 Juni 2017.

Berawal Dari Kumpul Bareng

Saat ini FF Gaming memiliki anggota sebanyak 10 orang, yang semua lininya diisi oleh perempuan. Sesuai identitas, organisasi ini berfokus untuk merangkul gamer perempuan yang mempunyai minat, bakat, serta potensi untuk mengasah kemampuannya dalam dunia eSports yang notabene diisi oleh kaum adam.

Berawal dari iseng-iseng pada  tahun 2010, perempuan-perempuan yang berani untuk berkompetisi dalam turnamen eSports secara profesional berkumpul, mereka pun berinsiatif secara kolektif untuk membuat grup yang mereka namakan Female Fighters. Seiring bergulirnya waktu, terbentuklah beberapa divisi eSports di bawah bendera Female Fighters.

Namun, ujian pun hadir, tim dari VainGlory dan Point Blank pun akhirnya harus keluar karena beberapa alasan, akhirnya mereka pun merasa untuk membuat perubahan dan semangat baru yang dimanifestasikan dalam bentuk identitas baru berjuluk FF Gaming.

“Awalnya sih dari tim cewe-cewe aja, cewe-cewe pengen ngumpul, pengen ikut turnamen, terus kita akhirnya bikin Female Fighters, cuman akhirnya kita ganti ke FF Gaming baru- baru ini juga sih.”

“Setelah divisi PB-nya keluar, dan VainGlory juga keluar, akhirnya kita ngerasa perlu perubahanlah, perlu perubahan baru, terus kita juga perlu perubahan baru, akhirnya kita semua sepakat ganti nama ke FF Gaming dan yah.. untuk semangat baru lagi ajah.”

Itulah kutipan dari Audrey, selaku manager dari tim FF Gaming yang menjelaskan secara singkat mengenai latar belakang pergantian nama organisasi mereka.

Gamer, Gender, dan Nama Organisasi

Dalam belantara dunia eSports yang isinya penuh sesak dengan para laki-laki, tidak harus membuat eSports distempel sebagai ‘milik’ kaum Adam. Hal itu terbukti dengan makin banyaknya tim eSports perempuan yang mulai unjuk gigi dalam dunia kompetitif eSports. Perbedaan gender memang bukan alasan dalam ajang pembuktian kemampuan dan keahlian, FF Gaming tampil sebagai salah satu bukti konkrit dari hal tersebut.

Kesempatan untuk mengetahui seluk beluk eSport dalam perspektif perempuan pun datang, beberapa anggota dari FF Gaming seperti Ridha ‘AudreyFF’ Audrey, Nabila ‘nabbskyFF’ Sulthana, Fitri ‘mikochan’ Hanifah, berhasil untuk kami wawancarai perihal semesta eSport perempuan.

FF Gaming
Perwakilan anggota FF Gaming, dari kiri ke kanan berdasarkan IGN: AudreyFF, NabbskyFF, MikochanFF.

Setelah dijelaskan sebelumnya, para fans yang telah akrab dengan nama Female Fighters harus mengetahui bahwa mereka telah memodifikasi nama mereka menjadi FF Gaming. Mereka berkata, selain membutuhkan perubahan dan semangat baru dalam organisasi, penggantian nama tersebut juga demi memberikan nilai positif, yaitu agar para fans, terutama para pria, agar tidak terlalu takut dihakimi hanya karena terdapat kata Female yang terdapat pada nama sebelumnya.

Nama itu akan berdampak positif bagi para fans pria yang ingin berkontribusi mendukung FF Gaming, karena mereka tidak perlu lagi takut untuk distempel, distigmatisasi, dicap, dilabeli, dihakimi saat mereka mengenakan merchandise dari FF Gaming. Bayangkan bila para pria mencoba men-support  FF Gaming yang belum berganti nama, kemungkinan besar orang awam akan menghakimi mereka karena para fans mengenakan merchandise yang mengandung kata Female dalam atributnya ternyata seorang pria, mungkin kata bencong, banci, androgini, flamboyan pun akan disodorkan oleh orang-orang awam karena hal seperti itu. Bersyukurlah para pria, FF Gaming ternyata memang peka pada para fans dan calon fans mereka! Mungkin sekarang giliran kalian untuk peka?

Cuman sekarang udah gak bisa disebut Female Fighters, emang kita sekarang udah ganti FF Gaming, masih Female Fighters (singkatan FF) cuman kan kalo Female Fighters  masih terlalu ‘dikotak-kotakin’ banget karena cewe gitukan: ‘Female Fighters,’ kalo FF Gaming-kan lebih universal-lah.”

FF Gaming
Audrey (sebelah kiri) saat diwawancara tim redaksi virtual verbal.

Begitulah keterangan dari Audrey selaku Manager dari FF Gaming, masih menurut Audrey, hal tersebut pun dilakukan demi keleluasaan fans untuk menunjukan dukungan mereka terhadap FF Gaming, terutama kaum pria, jadi kaum pria pun tidak perlu lagi malu untuk mengenakan merchandise mereka yang sudah tidak mengandung kata Female yang rata-rata dapat mengakibatkan orang awam gagal paham.

Isu Diskriminasi Basi

Perdagangan perempuan, perlakuan berbeda terhadap perempuan yang memakai jilbab khususnya di dunia kerja, nikah siri, poligami dengan tameng agama dibalik nafsu berbisa, tes keperawanan dan sekolah khusus bagi yang dilabeli sudah tidak perawan, dan masih banyak hal bodoh lainnya yang sering diperdebatkan oleh kalangan oknum-oknum yang memiliki berjuta keinginan yang turut andil untuk membuat suatu tembok dan kontrol atas perempuan.

Diskriminasi semacam itu pun masih terbentuk di semesta eSports, mereka bercerita bahwa salah satu teman perempuan mereka baru saja di-kick (dikeluarkan) dari salah satu tim eSport yang didominasi laki-laki hanya karena dia perempuan, padahal kemampuan sang perempuan itu sudah bisa menyaingi pemain laki-laki. Penilaian eSports berdasarkan gender memang sangat absurd dan tak berdasar.

Berbagai macam pembenaran tersebut sulit sekali ditumpas terutama di Indonesia yang mayoritas pemeluk agama Islam, karena tak sedikit para oknum-oknum mencoba menyulut petaka demi kepentingan dibalik hadis yang dinilai sahih dari Bukhori, Muslim, dan Tirmidzi yang mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam yang bengkok, yang mengesankan kerendahan derajat kemanusiaan perempuan dibanding laki-laki,

Muhammad Rasyid Ridha menjelaskannya dalam Tafsir Al-Manar: Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama (Kejadian II;21) dengan redaksi yang mengarah pada pemahaman di atas, niscaya pendapat yang keliru itu tidak akan pernah terlintas dalam benak seorang muslim.”

DR. Quraish Shihab menambahkan bahwa tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi(kiasan), dalam arti bahwa hadis tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan kebijaksanaan. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan laki-laki, hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan bisa mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.

Kecenderungan inilah yang seharusnya dipahami, sebab dari situ laki-laki tidak kehilangan kelaki-lakiannya dan perempuan tidak kehilangan keperempuanannya. Bagaimanapun, pada diri laki-laki ada sifat keperempuanan dan pada perempuan ada sifat kelaki-lakian, karena setiap diri lahir dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Adanya sifat perempuan pada diri laki-laki akan membuat seorang laki-laki memiliki sifat kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang, dan keberadaan sifat laki-laki pada diri perempuan membuat seorang perempuan memiliki kekuatan sikap dan bahkan fisik untuk menjadi motivator ulung (pemberi semangat/nasihat), pemimpin, atau apa saja.

Dala ranah psikologi kecenderungan ini disebut anima dan animus. Baik laki-laki maupun perempuan bisa menjadi dan melakukan apapun asal ada atau diberi kesempatan. Kecenderungan adalah letak dimana satu sama lain berusaha untuk saling melengkapi, memahami, mendengarkan, mengerti, memahami, dan saling melayani. Namun, kecenderungan sifat ini oleh kebudayaan sering diselewengkan menjadi kodrat, sehingga kelemahlembutan perempuan diperdaya dan terus dibentuk oleh sejarah yang diciptakan oleh laki-laki. Ironisnya lagi, perempuan sering tidak menyadari atau pasrah saja dengan bentukan kebudayaan tersebut. Akhirnya ada semacam kerja sama antara yang memperbudak dan yang diperbudak.

Momentum Pembuktian

FF Gaming adalah sebongkah perlawanan, perlawanan pada beberapa oknum dan juga suatu sistem  yang menganggap candaan-candaan yang seksis ala misoginis itu lucu dan patut untuk ditertawakan, terutama di dunia virtual, termasuk online games. Bentuk kekesalan dari sekelompok perempuan yang ingin memberikan pembuktian bahwa mereka pun bisa untuk berprestasi.

Bersama para perempuan yang sepengelaman, semua diskriminasi akan mereka bayar lunas, mentransformasikannya menjadi energi yang memiliki nilai kreatif dan nilai inspiratif untuk mengobati luka diskriminatif.