Al Massir (Inggris: Destiny) adalah sebuah film kerjasama Mesir-Prancis yang mengudara pada tahun 1997. Film Al Massir disutradarai oleh Youssef Chahine, sutradara asal Mesir. Film ini pernah disiarkan pada festival film Cannes di tahun 1997.

Al-Massir
Salah satu poster film Al-Massir. kredit foto: misrinternationalfilms.com

Film sejarah tentang Ibnu Rusyd (Inggris: Avverroes) tokoh puncak dari tradisi peripatetik Islam yang hidup di kota Cordoba, Anadalusia (sekarang Spanyol) pada abad ke-12. Mengambil suatu sudut cerita ketika averroisme (ajaran mengenai pemikiran Ibnu Rusyd) mulai dikenal oleh Barat, kemudian diharamkan oleh gereja, dan barang siapa yang tertangkap tangan belajar dan mengajarkan tentang averroisime, maka mereka akan dieksekusi mati dengan cara dibakar.

Al-massir
Cuplikan eksekusi dari pengkaji karya Ibnu Rusyd.
Cuplikan eksekusi dari pengkaji karya Ibnu Rusyd.

Masa kejayaan peripatetik (cara berfilsafat Aristoteles dan murid-muridnya) Islam adalah masa kejayaan peradaban Islam, dimana Islam menguasai berbagai bidang sains, teknologi, dan filsafat secara bersamaan. Ironisnya, setelah masa Ibnu Ruysd berakhir, Islam beserta peradaban intelektualnya mengalami deklinasi besar-besaran sampai hari ini.

Selain mendapat teknan dari Barat, Ibnu Rusyd juga mendapatkan tekanan dari kubu-kubu saudagar yang lebih mengedepankan dogma daripada esensi dari fitrah Islam di dunia yang selalu berdialektika. Para saudagar membuat permufakatan jahat, mengkafirkan ajaran Ibnu Rusyd, dan melakukan infiltrasi ke dalam kekhalifahan untuk mendompleng jabatan Ibnu Rusyd yang terkenal sebagai hakim yang adil di Cordoba.

Mereka membakar buku-buku Ibnu Rusyd, menghasut murid-murid Ibnu Rusyd untuk tidak lagi berguru pada beliau, mengharamkan orang-orang yang mendendangkan lagu dan menari, kemudian mencuci otak anak bungsu dari Sang Khalifah yang dibujuk untuk membunuh Khalifah dan mencalonkannya menjadi “Khalifah Boneka” demi kelanggengan kebiadaban mereka bertamengkan agama Islam yang disetel sedogmatis mungkin.

Melihat cuplikan dari penggalan kisah Ibnu Rusyd, kita mungkin merasa hal-hal yang terjadi pada film Al Massir merupakan pengulangan yang terjadi pada suasana kusut umat muslim di era kontemporer. Sebelum meninggalkan dunia fana, Gus Dur sempat menangis ketika beliau membaca manuskrip dari Ibnu Rusyd.

Kalau tak membaca karya Ibnu Rusyd, ajaran Islam yang saya terima selama ini dapat mengubah saya menjadi teroris,” ujar Gus Dur seperti ditirukan Duta Besar RI untuk Maroko, Tosari Widjaja.

Ketika Barat merebut peradaban dari Islam, mereka menjadikan ajaran Ibnu Rusyd sebagai patokan yang  mereka jadikan kiblat peradaban. Ibnu Rusyd tidak terlalu diingat oleh dunia Islam, namun dunia Barat tidak akan pernah dapat melupakan jasanya dalam peradaban.

Averroisme merupakan ajaran yang membikin gelisah gereja kala itu, maklum averroisme memang suatu momok yang menakutkan bagi gereja karena gerakan itu membawa pesan rasionalisme pada tradisi gereja yang jumud. Barat mulai maju ketika gereja mengadaptasi pemikiran Ibnu Rusyd, mendandani dan mengakhiri tradisi jumud yang dilakukan gereja, lalu menggantinya menjadi tradisi yang cemerlang oleh rasionalitas.

Benar saja, setelah Barat mengamalkan rasionalitas dan membuang kejumudan, lahirlah era Renaisans, yaitu sebuah era yang diklaim sebagai era pencerahan yang menjadikan Barat sebagai poros kemajuan dunia sampai hari ini.

Berbeda dengan wajah kondisi Islam saat ini, salah satu dimensi tradisi Islam yaitu filsafat seakan terasa terdegradasi. Hal itu ditandai dengan semakin dominannya fiqh, lalu dilanjutkan oleh tasawuf. Menurut Ustad Fahruddin Faiz, sampai hari ini Islam hanya ibarat fiqh dan puncaknya adalah tasawuf. Islam seakan kehilangan dimensi penting, karena fiqh dan tasawuf itu akan mati jumud bila kehilangan dimensi filsafat.

Bulan ramadhan tiba, apakah masih ada sedikit suasana ramadhan ketika jalan raya dipenuhi oleh kelakuan para pengedara kendaraan di daerah perkotaan yang tak taat aturan? Apakah masih ada hikmah ramadhan ketika sebagian oknum gamer mengumpat melalui chat dibarengi dengan bentakan dari aroma mulut yang sudah kadung bau? Bagaimana suasana ramadhan di sosial media?

Semua pertanyaan takkan pernah keluar jawabannya tanpa adanya kesadaran kolektif dari umat Islam itu sendiri. Dalam kepelikan dinamika Islam yang terlihat semakin runyam dengan dogma, mungkin ada baiknya jika kita mempelajari pesan dari Ibnu Rusyd dalam Al Massir untuk membuka paradigma agar pikiran dan ilmu kita menjadi lebih terbuka alias openminded dalam kata yang kerap dipakai generasi kekinian.

Sebagai penutup, mari kita kutip kata-kata mutiara dari seorang sufi pengelana bernama An-Nifari yang menyinggung soal ilmu:

Ilmu adalah huruf yang tak terungkap kecuali perbuatan.

Dan perbuatan adalah huruf yang tak terungkap oleh keikhlasan.

Dan keikhlasan adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh kesabaran,

Dan kesabaran adalah huruf yang tak terungkap kecuali oleh penyerahan.