Pernahkah saat Anda ingin bermain gim daring (online game) merasa bingung dengan kelebihan dan kekurangan dari gim free to play dan pay to play? Berikut penjelasan yang cukup umum mengenai kelebihan dan kekurangan dari kedua gim yang mengusung kategori itu.

Informasi berikut merupakan refleksi dari pengalaman penulis sebagai eks pemain gim daring militan yang sudah cukup puas dengan “manis-pahitnya” dunia gim daring.

Free to Play

Secara garis besar, gim yang mengusung kategori ini menawarkan jasa berupa bermain di gim daring secara gratis. Calon pemain tidak dipungut biaya sepeser pun untuk turut bergabung meramaikan gim daring tersebut.

Pengembang (game developer) biasanya mencari keuntungan dari barang virtual yang dijajakan di dalam permainan. Mulai dari item boosters (yang biasanya dapat meningkatkan exp gain [perolehan experience dalam permainan untuk memudahkan menaikan level avatar] dan drop rate [mempermudah perolehan barang langka yang dihasilkan dari membunuh monster di dalam permainan], hingga barang dan kostum premium yang hanya bisa didapatkan melalui konversi mata uang asli dan lain sebagainya.)

Selain hal di atas, pengembang pun bisa mencari keuntungan dari donasi dan juga pembelian merchandise alias pernak-pernik yang berhubungan dengan gim tersebut, seperti; action figuret-shirt, ataupun periperal gim (gaming peripheral) yang biasanya memiliki logo atau maskot dari gim tersebut.

Kelebihan (+)

  • Tentu saja gratis bisa digolongkan sebagai kelebihan pertama! Memainkan gim daring tanpa harus membayar jasa dari gim tersebut kerap dijadikan opsi bagi para pemain yang hidupnya sudah disibukan dengan rentetan cicilan dan biaya hidup.
  • Biasanya, registrasi untuk membuat akun pun cukup mudah dan tidak jarang membuat beberapa pemain memilih membikin banyak akun (multiple account) demi “keperluan” pribadinya.
  • Dapat langsung ditinggalkan tanpa penyesalan ketika gim tersebut di rasa kurang cocok bagi pemain. Kalau sudah bayar “ini-itu” tentunya Anda akan merasa sedikit kecewa bukan?
  • Cenderung memiliki populasi pemain yang ramai, apalagi jika gim tersebut sudah viral, populer, dan mendapat respons positif dari berbagai kalangan.

Kekurangan (-)

  • Gratis dan mudahnya membuat banyak akun dapat memicu sekelompok oknum untuk membikin program bot yang bertujuan untuk menguntungan para pengguna bot. Penggunaan bot sudah merupakan larangan umum dari regulasi yang dimandatkan oleh penyedia jasa permainan.
  • Perekonomian di dalam gim mudah goyah. Penyebab utamanya adalah populasi bot yang “menambang” mata uang di dalam gim secara serampangan. Meningkatnya jumlah mata uang secara drastis akan menurunkan nilai mata uang tersebut sehingga harga barang di dalam gim pun menjadi tidak stabil.
  • Membludaknya kekayaan berbentuk mata uang virtual disegelintir pengguna bot akan membuat mereka memperjualbelikan mata uang virtual tersebut kepada pemain lain dalam bentuk mata uang di dunia nyata. Pertukaran tersebut biasa disebut RMT (Real Money Trade). RMT sendiri biasanya sudah menjadi larangan umum dari regulasi yang dimandatkan para penyedia jasa permainan.
  • Variabel komunitas pemain yang heterogen cenderung membuat suasana komunikasi di dalam gim menjadi kurang terkontrol dan penuh dengan perlakuan kasar, terutama kata-kata yang bersentimen agama, ras, dan juga gender (biasanya seksis alias diskriminasi berdasarkan jeni kelamin,[umumnya menimpa perempuan, seperti contoh; ‘cewekmmah g*bl*k gak bisa main,’ ‘cewek mah matre,’ ‘cewek lemah,’ dan bla bla bla lainnya). Kemudahan registrasi akun pun tak jarang membuat pemain pindah ke akun yang khusus untuk menghina bila suasana memang betul-betul “memanas”.

Pay to Play

Gim yang mengusung kategori ini mewajibkan calon pemain membayar jasa saat registrasi akun untuk ikut bergabung memainkan gim yang disediakan oleh Pengembang. Gim daring MMORPG jenis ini cenderung populer di kawasan Eropa, karena biasanya keamanan dan ketertiban di dalam gim lebih terpelihara.

Gim daring berjenis pay to play pun mengusung transaksi mikro (micro transaction) seperti pembelian exp gain booster, drop rate booster, barang eksklusif, dan kostum premium yang hanya dapat diakses melalui konversi mata uang di dunia nyata ke dalam mata uang virtual.

Sama seperti gim free to play, gim berjenis pay to play pun tak jarang menghasilkan keuntungan dari bermacam penjualan produk merchandise.

Kelebihan (+)

  • Keamanan dan privasi pemain cenderung lebih terjaga dan lebih terjamin. Sejumlah uang yang dibayar di muka saat registrasi pun biasanya menunjang pelayanan dari costumer service dalam gim. Pengaduan perihal pelayanan dalam gim dan juga pelanggaran dari pemain lain biasanya ditangani lebih responsif.
  • Kemungkinan besar tidak ada bot. Karena, registrasi akun harus dilakukan dengan pembayaran uang di dunia nyata. Penggunaan bot biasanya dilakukan oleh sekelompok oknum yang membikin multiple account untuk menambang mata uang virtual di dalam gim secara masif. ( Bot yang digunakan untuk personal use, seperti; autocasting, autofarming, autotasks dan sebagainya masih bisa muncul).
  • Perekonomian di dalam gim cenderung lebih stabil. Dengan hilangnya eksistensi bot penambang uang virtual, mata uang virtual di dalam gim akan cenderung lebih stabil dan terhindar dari inflasi. (Kemungkinan dari inflasi akan tetap muncul dari para pemain yang melakukan sistem resselling alias membeli barang dari pemain lain dengan lebih murah, mengumpulkannya, kemudian menjual dengan harga lebih tinggi. Akumulasi dari keuntungan itu akan terus mereka putar menjadi modal [kapital] dan melakukan hal yang berulang sehingga akan berdampak pada rusaknya harga di pasaran. Kasarnya atau istilah “seremnya,” mereka adalah tukang riba atau kapitalis).

Kekurangan (-)

  • Beberapa pemain “paranoid” dengan kalimat “pay to play” karena berhubungan dengan membeli sesuatu. Padahal, tagihan listrik, jasa internet, dan juga billing (bila bermain di warnet) pun merupakan kegiatan transaksi jual-beli.
  • Membayar bila ingin registrasi, membuat populasi gim pay to play cenderung kalah banyak bila dibandngkan dengan gim free to play. Terkecuali, jika gim pay to play tersebut sudah sangat-sangat populer dan menjadi “demam” di kalangan pemain seluruh dunia. Contoh: PUBG.
  • Terkadang, gim pay to play akan terasa berat untuk ditinggalkan. Alasannya adalah karena Anda sudah terlanjur membayar sejumlah uang untuk memainkan gim tersebut. Tak sedikit, beberapa pemain menjual akun mereka dengan harga yang lebih murah jika hal tersebut sudah terjadi.
  • Agak sulit untuk mengajak teman lain (masih karena alasan membayar). Bila gim tersebut bukan MMORPG, biasanya pemain tak segan untuk melakukan account sharing saat bermain. Contoh: bermain gim PUBG secara bergiliran bila sang pemilik akun sedang tidak menggunakannya.

Kesimpulan

Itulah kira-kira beberapa kecenderungan umum perihal kelebihan dan kekurangan dari sistem free to play dan pay to play yang semakin ramai dimainkan oleh banyak orang. Bisa di konsol, PC, ataupun mobile di handphone (tapi kebanyakan nebeng di Wi-fi sehingga kata mobile pun jadi kehilangan arti).

Kelebihan dan kekurangan dari gim dengan kedua sistem tersebut tidak stagnan. Penulis yakin, kecenderungan-kecenderungan tersebut akan bergerak dinamis seiring dengan wolak waliking jaman (istilah dalam bahasa Jawa yang berarti zaman yang terbalik-balik).

Segratis-gratisnya gim dengan bermacam promosinya, Anda tetap harus membayar biaya listrik yang semakin naik, jasa internet yang kecepatannya kadang tidak sesuai dengan kata-kata pada barisan iklannya, dan juga billing warnet (jika Anda bermain di warnet).

Mungkin kalau Anda masih berada dalam tanggungan orang tua, hal itu tidak akan menjadi soal (untuk sementara, karena semua pasti akan menua).

Penutup

Karena pola komunikasi kita di jaman now memang sangat cenderung lahir dari bantuan internet, alangkah baiknya jika internet bisa dijadikan ajang untuk melatih diri kita untuk menjadi manusia yang lebih bijak. Mungkin, bijak dalam memilih gim dan pola memainkan gim tersebut bisa jadi salah satu media latihan kita semua.