Ketika gim-gim MMORPG kesayanganmu penuh dengan bot, cheaters, dan scammers. Bagaimana cara gamers mengekspresikan kemerdekaan? Diam? Ikutan? atau mengoraginasir umat-umat gamers yang tak ingin gim kesayangannya dinodai?

Sama halnya dengan penganut sekte gim online yang lain seperti, MOBA, FPS, dan lainnya. Apakah akan diam?

Bagaimana dengan kasus game developer yang lebih memanjakan para gamers yang mengkonsumsi item mall yang dapat memberikan eksklusifitas tak terbatas bagi para penggunannya sehingga mengganggu game balance dalam gim kesayangan kalian? Apakah akan menjilat para cashers sehingga kalian kehilangan jati diri kalian di dunia maya dan dunia nyata sekaligus? Atau berdiskusi dan berserikat dalam forum untuk mengusulkan nerf yang dapat merehabilitasi game balance?

Bagaimana dengan harga gim-gim konsol maupun non-konsol yang semakin hari semakin harganya semakin tinggi bagi kurs mata uang Indonesia? Mencari penghasilan lebih giat? Bermain rentalan, gesek kartu kredit, rela makan dinomorduakan, atau beralih ke bajakan?

Apakah gamer merasa bermain secara merdeka ketika terlanjur mengorbankan momen penting dalam kehidupan mereka seperti, bersosialisasi secara langsung, mengenyam pendidikan, dan mungkin pacaran?

Bagaimana rasanya meraih kemerdekaan dalam sebuah permainan ketika kalian tersudutkan oleh coletahan-celothan pemain lain yang menganggap kalian beban? Mengabaikan? Balas menyerang? Mencari potensi di gim baru? Atau tinggalkan?

Apakah kalian merasa merdeka ketika kalian mengumpatkan serangan-serangan rasis, seksis, dan tidak logis kalian pada pemain lain yang kalian rasa lebih rendah dari kalian?

Bagi gamers pria, apakah kalian merasa merdeka ketika melecehkan perempuan secara verbal terhadap minoritas gamers perempuan?

Apakah matchmaking rank memerdekakan kalian? Masih sudikah kalian bermain dengan teman yang rapor matchmaking rank-nya di bawah kalian? Apakah itu merubah sifat kalian menjadi lebih pilih-pilih dalam permainan? Merasa terasingkah kalian?

Apakah kalian hanya akan berhenti sebagai penikmat gim? Penikmat pasif? Tak terbesitkah kalian untuk membuat gim yang sesuai dengan identitas kebudayaan kalian? Menuangkan ide-ide liar kalian dalam bentuk yang lebih kekinian?

Sudahkah menjadi gamers profesional di Indonesia memerdekakan kalian? Perlukah rencana cadangan apabila kalian gagal dalam skema profesional? Yakinkah kalian kontrak kerja dari organisasi tidak mengeksploitasi kalian? Apakah kemampuan kalian meningkat saat bermain secara profesional? Ataukah kemerdekaan kemampuan bermain kalian malah makin direnggut oleh serentetan kewajiban sebagai Brand Ambassador  dan promosi akun pribadi kalian?

Kawan, mungkinkah kemerdekaan adalah nama lain dari keseimbangan hidup?

Ah, sudahlah, ini lebih nampak sebagai rentetan pertanyaan daripada sebuah artikel. Karena kalian mungkin lebih membutuhkan jawaban, bukan pilihan.

Karena salah satu kepastian adalah kematian, mungkin berjanji kepada Tuhan untuk memperlakukan hidup tanpa penyesalan bisa menjadi suatu pencerahan.

Silahkan temukan jawaban kalian, dari refleksi diri kala agustusan.

Salam kemerdekaan?