Adiktif, manipulatif, dan semakin menjalani kehidupan nyata yang semakin pasif. Beberapa kata dan kalimat tersebut dapat mewakilkan secara simpel perihal dampak bermain gim yang kebablasan. Dalam beberapa kondisi, gim yang tadinya berfungsi sebagai salah satu alat untuk rekreasi pikiran, dapat berbalik menyerang kesehatan jiwa kita.

Di tahun 2018, problematika yang bersangkutan dengan gim/permainan video/ video game akan mendapatkan perhatian yang lebih khusus dari World Health Organization. Penyimpangan dalam Gim akan diklasifikasikan secara detail, khususnya perihal diagnosa, dan klasifikasi dari jenis-jenis gangguan jiwa yang disebabkan oleh gim (gaming disorder). Draf (draft) dari WHO mengenai perihal tersebut masih belum rampung. [1] 

Dengan hadirnya wacana tersebut, diharapkan dampak negatif dari gim (online) mau pun luring (offline), perjudian dalam ranah gim, dan kecanduan sosial media baik itu secara langsung mau pun tidak langsung—dapat dicegah sedini mungkin. Contoh-contoh mengenai dampak buruk dari perihal tersebut tentunya dapat kalian googling secara mudah di jaman now. Atau mungkin dampak tersebut bisa saja telah teralami oleh kalian secara pribadi.

Jujur terhadap Diri Sendiri

Ketika gim dan sosial media telah berperan merusak fungsi sosial kita sebagai masyarakat, mungkin ada baiknya kita mencoba jujur pada diri kita. Bisa saja, kita telah masuk pada tahap neurotik (penyakit mental ringan). Ketika gejala-gejala neurotik itu tidak bisa kita atasi secara berkala, masalah tersebut dapat berevolusi menjadi kondisi psikotik (gangguan mental berat).

Contoh mudahnya, bila kamu pelajar—penggunaan gim atau sosial media yang menggugurkan fungsi utamamu sebagai pelajar. Dalam sudut pandang akademik nilaimu ‘terjun bebas’. Tidak sampai disitu, efek berantai dari hal itu juga berpotensi untuk mencabik-cabik fungsimu sebagai anggota keluarga (anak). Biaya sekolah yang tak lagi murah, bisa menjadi amarah. Buat siapa? Orang tua/Wali-mu tentunya yang sudah kerja keras membiayaimu untuk melukis masa depan.

Jangan terlalu berharap pada bimbingan konselingmu di sekolahan. Berdasarkan pengalaman penulis, bimbingan konseling sekolahan pada umumnya tidak pernah secara tuntas membantumu dan mencoba mengerti keinginanmu.

Kalau kamu terlahir dalam lingkungan keluarga yang peduli dengan perkembanganmu secara menyeluruh, kamu mungkin beruntung tapi bagaimana jika tidak? Meski pun kamu punya keluarga yang peduli denganmu, hal itu juga percuma bila kamu cenderung menutup diri.

Bila kamu bukan pelajar, silahkan imajinasikan saja apa fungsimu dalam masyarakat? Pekerja? Istri? Suami? Walau pun kamu Bos dari perusahaan gim kenamaan juga, kamu sebaiknya peduli dengan masa depan konsumenmu! Dampak sosial akan selalu lebih ‘mahal,’ jangka panjang, materil dan imateril, sampai akhirat mungkin (jika kamu percaya hal yang satu ini tentunya).

Mungkin sudah saatnya perusahaan gim dan sosial media kenamaan untuk berhenti menjadi rakus. Contohnya, mungkin sumbangkan lima puluh persen dananya untuk membantu pemulihan orang-orang yang terkena dampak buruk dari gim dan sosial media? Mimpi di siang bolong? Mereka mungkin akan berteriak: “Loe kira kite-kite Lembaga Amal?” wkwkwkwkw!.

Efek berantai dari kondisi-kondisi tersebut akan berlapis-lapis, bahasa sok inteleknya mungkin krisis multidimensi! Oleh karena itu, jujur terhadap diri sendiri adalah kuncinya. Jika memang kamu merasa yakin gim atau sosial media akan menjadi masa depanmu (contoh: pemain esportsYoutubersselebgram), tentunya kamu harus punya perencanaan yang pasti terutama perihal ilmu-ilmu yang akan mempermudahmu menyelami profesi itu dan jangan lupa back-up plans. [2]

Tentunya sulit untuk mengontrol kesehatan jiwa tanpa kejujuran terhadap diri sendiri. Bila kamu bisa jujur dan tafakur, tentunya kamu bisa lebih menikmati kehidupanmu. Nikmatnya kehidupan yang disertai dengan kesehat fisik dan kesehatan jiwa. Tinggal cari jodoh aja ya?

 


[1] Info lebih jelas tentang draf tersebut dapat dilihat pada World Health Organization ICD-11 Beta Drafts: https://icd.who.int/dev11/l-m/en#/http%3a%2f%2fid.who.int%2ficd%2fentity%2f1448597234

[2] Beberapa contoh opini penulis mengenai persiapan menghadapi dunia esports bagi pemain Indonesia dapat dilihat dalam artikel: Mungkinkah Jurusan Esports Hadir di Indonesia (Bagian I, II, dan III)