Nama Tan Malaka pastilah cukup asing di mata dan telinga para pemain Dota 2. Beliau adalah merupakan sosok cerdas yang menjadi salah satu konseptor pertama bangsa Indonesia. Bahkan, di kalangan para akademisi, terutama dalam peta sejarah, namanya seringkali dikucilkan terutama pada masa Orde Baru.

Soekarno pernah berkata  tentang seorang Tan Malaka dalam epilog buku Tan lainnya bahwa dia maju sebelum kita memikirkan sesuatu, ia telah melakukannya terlebih dahulu. Tak bisa dipungkiri bahwa ia merupakan filsuf asli Indonesia.

Mengingat di bangku sekolah jatah Tan Malaka kerap kali sangat sedikit dibahas, mari kita luangkan waktu kita sejenak untuk melihat beberapa kutipannya. Nah, bagaimana jika beberapa kutipan Tan Malaka  diseret ke dalam permainan Dota 2? Akan relevankah? Mari kita coba uji kutipan Tan Malaka dalam permainan Dota 2!

 

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.

Kutipan yang satu ini adalah salah satu yang terpenting. Dalam permainan Dota 2, kita kerap harus menghadapi pahit getirnya permainan ini ketika kita tidak mengetahui dasar dari gim ini. Ditambah dengan semakin bertambah Hero dalam gim, serta meta dari gim ini yang dinamis dan selalu berubah-ubah demi keseimbangan dalam permainan.

Tan menyebut kata terbentur sampai tiga kali sebelum menyebut kata terbentuk. Bila kita seret ke dalam Dota 2, tentunya setiap pemain akan melalui proses yang sama: tidak tahu, paham, sampai menjadi mahir. Terkadang dalam proses tersebut kita akan berinteraksi dengan pemain-pemain yang tidak ramah (toxic players) dan membuat mental kita menjadi labil.

Notabene, bermain di server South East Asia merupakan tantangan yang sangat besar, mengingat populasi toxic players tumbuh subur di regional ini. Mungkinkah taraf kebahagiaan hidup di regional yang rata-rata memiliki predikat sebagai negara dunia ketiga (third world country) alias negara berkembang merupakan salah satu faktor yang membikin toxic players terus beranak pinak?

Terlalu stress menghadapi regulasi dan sistem pendidikan, upah murah, tingkat perselingkuhan, dan juga harga-harga bahan pokok serta gim yang semakin hari semakin mencekik?

Dengan kalimat “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk,” Tan Malaka menawarkan kita kesabaran dalam bermain Dota 2. Perbenturan dengan berbagai relasi sosial akan membentuk pribadi kita menjadi pemain Dota 2 yang semakin mahir. Ya, tentu saja mau mahir di-bacot-nya atau mau mahir di-skills-nya? Tergantung pilihan kalian.

Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, e-sports telah dinobatkan sebagai salah satu pendidikan formal di beberapa negara. Dota 2 pun telah dianggap sebagai salah satu gim yang bisa dikategorikan sebagai e-sport dan memiliki total hadiah terbesar dalam kompetisi resminya.

Dengan bermacam alasan tersebut, tentunya semakin masuk akal apabila Dota 2 digolongkan dalam kategori pendidikan. Karena jika kalian cukup pintar memainkan gim ini dan serius, kalian bisa meraih pundi-pundi ekonomi yang dapat menyokong stabilitas taraf hidup kalian, sehingga pendidikan yang membebaskan kita dari kungkungan yang menindas bisa terwujud.

Dalam kutipan Tan yang kedua, beliau mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan. Sudahkah para pemain Dota 2, terutama yang bergelut dalam scene kompetitif memiliki ketiga hal tersebut?

Bergelap-gelaplah dalam terang, berterang-teranglah dalam gelap!

Kutipan ketiga dapat kita seret ke dalam hal yang lebih teknis, terutama juking dan warding. Dalam map yang terang, kalian dituntut untuk lari dari sergapan tim musuh dengan melakukan manuver jukes. Kalian bisa memanfaatkan pohon-pohon serta kondisi rotasi siang dan malam dalam Dota 2 untuk memperbesar kemungkinan kalian lari dari musuh.

Untuk kalimat “berterang-teranglah dalam gelap!” akan mengingatkan kita pada teknis permainan terutama ward placements. Wards dibutuhkan untuk lebih mengontrol map, sehingga tim lebih leluasa untuk melakukan mobilisasi dan memprediksi gerak lawan.

Pemain dengan peran Hero Support harus lebih banyak berinisiatif melakukan hal ini. Di server SEA, terlalu sedikit pemain yang memiliki jiwa support. Terlalu banyak carrywannabe, sehingga kerap pemain yang memilih peran sebagai Hero Suppport pun sering sekali melewatkan hal penting seperti warding.

Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkah jadilah murid dari Timur yang cerdas.

Dota 2 merupakan permainan asal Barat. Gim ini pun didominasi oleh para pemain yang berdomisili di Barat. Sehingga, kerap kali gaya permainan Dota ala Barat kerap dijadikan sebagai pedoman. Kalau sebagai referensi, tentunya hal itu tidak masalah, tapi kalau pola pikir Barat yang negatif seperti umpatan dan gaya hidup yang ditiru?

Dalam kutipan yang keempat, Tan Malaka mengingatkan kita untuk tidak segan belajar dari Barat. Tapi, Tan juga mengingatkan kita bahwa jangan pernah melupakan akar identitas kita. Sehingga bahasa-bahasa Inggris setengah matang semacam “Indonesia jaman now” hanya akan mengingatkan kita bagaimana campuran bahasa Indonesia dan bahasa asing yang tidak pada tempatnya hanya akan mengingatkan kita pada masa-masa kolonial. Atau memang kita sedang dijajah secara tidak langsung?

Berpikir besar, kemudian bertindak.

Dota 2 termasuk permainan yang memiliki tempo cukup cepat. Satu atau dua kesalahan dapat membuat tempo permainan dalam gim ini berubah secara drastis. Dalam kutipan yang kelima ini, Tan mengajak kita untuk berpikir besar terlebih dahulu sebelum bertindak.

Ketika kita seret kutipan itu ke permainan Dota yang cukup alot, niscaya apabila kita kalah pun tidak akan ada satupun penyesalan.

Sedangkan cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting dari hasil sendiri.

Kutipan yang keenam lebih ditujukan pada pemain-pemain yang membeli akun dengan MMR yang tinggi tanpa mau berusaha keras meraih hasil tersebut dengan kemampuannya sendiri. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, yang perlu adalah refleksi diri yang panjang dan lebar.

Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.

Kutipan yang terakhir bisa kita seret ke dalam teknis permainan. Ketika kalian melewati sebuah kondisi dimana Hero kalian mati. Sambil kalian menunggu respawn, kalian bisa berpikir keras agar hal itu tidak terulang, atau kalian bisa melihat kondisi teman satu tim kalian dalam permainan.

Bantulah teman kalian meraih kemenangan sebisa kalian, walau kalian sedang tersungkur menghitung umur. Dan setelah kalian melahap ketujuh kutipan ini, mungkin kalian bisa mengenal sosok Tan Malaka dalam konteks yang lebih serius, tak hanya sekedar dalam Dota 2, bisa jadi untuk kemajuan umat manusia?