DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terkandung bahasa yang cenderung vulgar dan sarkastik. Tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak bermaksud mendiskreditkan kepercayaan, agama, ras, suku, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan kepercayaan, agama, ras, suku dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita yang semata-mata ingin mencoba menggambarkan kondisi sebagian kelas pekerja, terutama perempuan yang berkarir di Indonesia berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi penulis. Beberapa merk komersil terinspirasi dari kisah nyata dan telah dideformasi. Tujuan utama cerita ini adalah prokreasi dan proses berkesenian, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi. Dilarang keras mengatasnamakan suatu aksi dengan dalih meniru adegan dalam cerita ini.

Lari dari Trauma, Dijemput Perkara

Yaah, aku gak mau muna sih; terkadang aku emang ngerasa kesepian. Emang sejak kecil sampe kuliah, aku tinggal sama orang tua. Jadinya agak kaget juga di ibu kota plus jauh dari orang tua yang biasa men-support kebutuhanku seperti makan atau nyuci baju.

Sahabat-sahabatku udah susah ditemui dan dihubungi. Yah panggilan alam; sekolah lagi, cari nafkah, berkeluarga, beranak, daan lain-lain. Jadinya ya gitu; deket sama lingkungan kerja, lingkungan hiburan, dan lingkungan-lingkungan yang sering bilang kalo kita ‘kurang piknik,’ kita juga bakal jadi kurang waras.

Sebenerenya males sih cerita ginian, tapi yah dari situlah banyak kenal ama cowok. Ada yang jadi pacar, ada yang cuman asik di ajak jalan, ada yang ngejar-ngejar, dan banyak yang jadi selingkuhan. Ada yang setara, lebih muda, dan lebih tua juga berkeluarga. Intinya, pergaulan bebaslah.

Setahun setelah merantau aku masih ‘polos’ ama yang begituan. Namun, 4 tahun berikutnya semua emang udah terlanjur berubah. Ya…semenjak ada seorang cowok yang ngasih aku luka trauma yang cukup mendalam. Tragedi yang nyebelin dan bawa sial. Tragedi yang seakan membuatku amnesia dan makin tumpul untuk membedakan arti ‘benar’ dan ‘salah,’ ‘baik’ dan ‘jahat,’ ‘siang’ dan ‘malam,’ ‘dosa’ dan ‘pahala’.

Jadi intinya kalo tentang pria? Pria sempurna itu legenda! Jat pernah bilang; bahwa aku sedang menikmati sebuah masa; di mana aku sedang asik terlena mengoleksi serpihan-serpihan tindak-tanduk para pria yang dapat membuatku merasa aman dan nyaman di dunia orang dewasa yang memang berangsur kejam.

Jat juga bilang; kalo aku sedang mengumpulkan serpihan-serpihan tersebut untuk grand design dari kesempurnaan dan kebahagiaan versiku dari banyak pria untuk menciptakan rangkaian  ‘nilai’ yang aku gunakan sebagai pelampiasanku untuk membalaskan dendam pada ‘kenyataan’.

Tragedi pada 14 Februari 4 tahun silam adalah pemicu utamanya. Sejak detik itu, benteng jiwaku mulai runtuh, hidupku mulai terseok-seok tanpa tempat untuk mencurhakan hati yang tepat. Aku mulai menjelma jadi pecandu rokok dan peminum sedikit alkohol.

Aku tetap bertahan dan tidak pulang kampung dengan pertimbangan karir yang sedang kubangun. Sebelum menjabat sebagai manager seperti sekarang aku merintis karirku benar-benar dari bawah sebagai seorang admin lalu costumer service, lalu supervisor lalu menanjak dan menanjak. Di sisi lain, jiwaku masih terindikasi mengalami kemerosotan, mengalir, dan bermuara pada dirku yang sekarang.

Setelah efek dari puluhan bungkus rokok turut mewarnai paru-paruku, setelah beberapa mililiter alkohol turut mengendap dalam perutku, setelah kelenjar air mata ini terlanjur bosan mengalirkan simbol luka, akhirnya pria ‘aneh’ bernama Jat itu tiba-tiba saja hadir di hampir setiap saat aku memainkan gumpalan asap yang penuh kandungan tar dan nikotin. Aku mengenalnya kira-kira setahun yang lalu.

Aku bertemu Jat untuk yang pertama kali di Second Sex: Beauvoir’s Cafe. Makanan adalah salah satu ritualku untuk self-rewarding myself for working so hard! Yap, setahun yang lalu aku baru saja mendapat kenaikan pangkat menjadi manager, aku cuman pengen mencoba merayakannya seorang diri walaupun banyak pria yang mengucapkan selamat melalui sosial media dan mengajaku jalan via private messages.

Kabar buruknya, pria yang menghancurkan hatiku 4 tahun yang lalu masih secara berkala meneror kostanku. Untungnya, aku sempat melihatnya sedang duduk di atas motor, menungguku tiba nampaknya tuh anak, mungkinkah dia nge-stalking sosmedku? Sebelum dia merasakan kehadiranku, aku pun berputar arah dan mencari tempat aman untuk memesan ojek online yang membawaku merayakan keberhasilanku di kafe ini sekaligus bersembunyi dari teror pria itu.

Boef bourguigon dan bavarois di tempat ini memang yang terbaik! Selain terkenal karena masakan Prancisnya, tempat ini menyediakan tiramisu yang juga sangat juara dan pas rasanya! Ketiga menu tersebut adalah favoritku. Itu menu ‘luar’ loh yah, kalo menu lokal favoritku tetep aja bakso berhiaskan beberapa sendok sambel tentunya!

Konon, menunggu makanan mateng adalah salah satu kegembiraan sebelum menikmati makanan. Tapi, aku terjebak dari situasi yang campur aduk antara senang dan panik, perasaan yang bercampur layaknya gado-gado.

Daging yang dimasak dengan cara direndam red wine lalu di-bruised memang cukup memakan banyak waktu sebelum siap saji. Pikiran kacauku coba kualihkan pada bayang-bayang boef bourguigon yang kupesan, namun bayang-bayang pria itu tetap saja melintas.

Bayangannya semakin menikam, hatiku mulai tersiksa; bukan karena aku merindukannya tapi karena orang yang membuangku layaknya sampah itu kembali mencoba singgah ketika aku sudah terbiasa tersiksa setiap harinya karena trauma yang ia hunus. Aku kemudian meminta sebuah asbak kepada seorang waiter dan kemudian menyulut rokok. Please keluar dari kepalaku sialan!

Seorang cowok tiba-tiba saja datang menghampiri tempat dudukku yang terletak di pojok ruangan. Aku kemudian sekilas menatapnya. Ekspresinya datar, tanpa senyuman, dan alisnya berkerut seperti orang marah.

“Maaf, Mbak Irkalia Sarjono?” Suaranya tegas. Tapi, kenapa dia tau namaku?

“I-iyah, Mas siapa yah?”

“Saya Jat, pernah satu kampus ama Mbak.”

“Jat? Jat yang mana yah? Aduh maaf, saya emang agak pelupa orangnya!”

“Jat siapa yah? Sebenernya Jat doang sih Mbak, tapi Mansur Al-Hajat  juga boleh Mbak.”

Whaat!? Kenapa ngomongnya blepotan gitu ? Ni cowok mau modusin aku apa?

“Aduh sori nih, bener-bener gak kenal! Maaf yah Mas!” Aku memasang ekspresi annoyed biar nih orang tau kalo aku bener-bener mulai keganggu dan gamau diganggu.

Sialan nih orang! Ketahuan amat mau modusnya! Tapi kok dia tau namaku sih? Follower-ku kah? Ah, padahal aku gak update status di kafe ini! Kalo aku update status trus ngasih tau ni tempat, kan aku sama aja ngasih petunjuk buat si cowok sialan yang satu lagi!

“Mbak Lia, IGN: Irka friend code: 1610-1312-2008-1990. Mbak dulu seneng maen Pokemon Platinum dan mati-matian menuhin Pal Pad biar bisa trade-kan?”

“Kamu main Pokemon?” 

Goshh, udah lama banget emang aku gak maen game. Itu bener-bener pas zaman kuliah! Tapi perasaan, aku main Pokemon sendirian loh! Ya maksudnya online gitu tanpa pernah maen bareng anak-anak kampus. Mereka rata-rata nganggepnya itu permainan anak kecil dan cuman tau Pikachu doang.

“Main Mbak, sekarang saya boleh ikutan duduk gak?” Ekspresinya tetep datar, nyebelin banget tampangnya.

“Maaf, perasaan saya gak pernah main Pokemon bareng anak kampus deh! Mas salah orang kayaknya.”

Maaf ya Tuan Nyebelin, aku lagi gak mau dirayu.

“Kita pernah satu kampus, tapi saya gak kuliah di kampus Mbak, saya cuman nebeng wi-fi gratisan doang kok di sana.”

This guy…..arrrghh! Mau cabut, tapi aku udah kepalang mesen 3 menu favoritku! Dan kebetulan memang aku harus membayar duluan untuk menu yang sudah kupesan. Kayaknya aku ancem aja nih orang.

“Mas, saya ngerasa Mas punya maksud yang kurang baik terhadap saya. Saya mohon, bisakah Mas jangan mengganggu saya? Kalo Mas tetap ngotot, saya panggilkan security buat mengusir Mas secara tidak hormat!”

Aku sudah mulai mengendorkan topeng keramah tamahanku. Aku mengancamnya setelah dengan sengaja mengarahkan asap rokok ke arahnya, pertanda tidak hormat.

“Gak usah bertindak sejauh itu Mbak. Saya bukan mau ngebahas Pokemon juga sebenernya. Alangkah hebatnya bila cara ngusir yang Mbak lakukan ke saya bisa juga Mbak aplikasikan ke si Kelvin. Mbak cukup berani membela diri Mbak secara verbal di depan saya. Sekarang pertanyaanya; apakah Mbak berani melakukan hal yang sama atau lebih tegas kepada Kelvin?”

Kata-katanya menyambarku layaknya halilintar membersihkan udara. Aku mematung seperti arca yang biasanya cuman ada di depan gapura. Orang itu terlalu banyak tau perihal masa laluku! Siapa dia sebenaranya? Aku bener-bener gak bisa berkata apa-apa!

“Karir Mbak ibarat boef bourguignon ; dulu cuman dinikmati petani ndeso Prancis, sekarang malah banyak dinikmati oleh orang-orang beduit di hotel bintang lima, kafe, dan restoran mewah. Pencarian identitas Mbak agak ‘beku’ mirip bavarois yang disajikan beku, namun Mbak terlalu terlena dengan kelembutan bavarois yang menyentuh mulut Mbak dan memberikan sensasi yang mengejutkan namun hanya berlaku sampai suapan terakhir habis.”

Aku yang masih kebingungan karena dia terus menjejaliku dengan perumpamaan yang tidak sepenuhnya aku pahami, namun bisa sedikit berangsur-angsur aku rasakan.

“Saya Jat, silahkan ibaratkan saya dengan tiramisu yang Mbak pesan; ketika Mbak sedang meresapi sensasi manis dari cream mascarpone, tiba-tiba saya datang dan menjejalkan rasa pahit tiramisu yang berasal dari espresso.”

Aku mulai tertunduk, air mataku yang telah lama mengering pun perlahan terurai, dan aku tak tahu harus bersikap apa pada orang ini. Dia bisa menebak menu yang kupesan tanpa pernah bertanya, ditambah perumpamaan yang benar-benar membuat hariku berantakan.

“Tolong matikan rokok Mbak, saya bakalan langsung pergi kok kalau Mbak mau mematikan rokok Mbak. Ngerokok gak baik buat kesehatan. Tapi terkadang kehidupan yang kurang terukur itu lebih buruk lagi bagi kesehatan jiwa dan raga Mbak.”

Bagai terhipnotis, aku langsung berniat mematikan rokokku. Masih sambil tertunduk, kutekan ujung bara dengan perlahan ke atas permukaan asbak karena merasa hilang semangat setelah mendengar ‘sindiran’ dari orang asing yang mengaku bernama Jat ini.

Bara dari bangkai rokokku meredup, namun belum kunjung padam. Aku masih bisa merasakan kehadirannya yang tetap berdiri di hadapanku. Cepat tepati janjimu sialan!

“Saya punya  banyak special ability Mbak, jadi gak usah kaget kalo saya bisa menebak perihal kehidupan Mbak. Oh iya, saya sama sekali gak punya maksud jahat terhadap Mbak, tapi tolong jangan anggap saya sebagai penolong Mbak, karena saya juga kesulitan menolong diri saya sendiri, ahahahaha!”

Aku gak pernah minta pertolonganmu sialan!

“Eitts lupa! Rokoknya udah mati! Yuk ah dah! Bon Appetit!

Akhirnya, orang aneh itu pergi dengan terbaringnya bangkai rokok yang sedari tadi kuhisap. Bangkai itu tergeletak menyedihkan di atas asbak dan telah menyerah mengeluarkan asap. Filternya telah ternodai oleh warna lipstik yang kupakai di atas permukaan bibirku.

Suasana kembali sepi. Tak hanya sepi, hatiku pun semakin kosong.

Dan aku masih di sini, menanti boef bourguignon-ku dengan kesabaran yang terpatri.

(Bersambung ke bagian III)


Tentang Ilustrator: Pemuda yang jarang mencuci piring dan hanya punya satu piring di kamar kostnya. Dia mengakali itu semua dengan memberi alas nasi di atas piring bulukan kesayangannya. Selain jago menggambar, dia sangat ketinggalan informasi mengenai berita lokal. Sumber informasi utamanya adalah 4chan.