DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terkandung bahasa yang cenderung vulgar dan sarkastik. Tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur di bawah 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak sedikitpun bermaksud mendiskreditkan kepercayaan, agama, ras, suku, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan kepercayaan, agama, ras, suku dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita yang semata-mata ingin mencoba menggambarkan kondisi sebagian kelas pekerja, terutama perempuan yang berkarir di Indonesia berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi penulis. Beberapa merk komersil terinspirasi dari kehidupan nyata dan telah dideformasi. Tujuan utama cerita ini adalah proses prokreasi dan berkesenian, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi.Dilarang mengatasnamakan suatu aksi dengan dalih meniru adegan dalam cerita ini.

Tentang Jat: Pria Aneh, Tukang Ngoceh

Jat bukan pelipur lara, karena dia itu gak asik dan doyan jadi ‘tukang ceramah’ saat aku lagi bete dan tak jarang malah bikin aku makin bete. Dia gak pernah ngajak jalan, karena dia sering nongol tanpa diundang. Tapi, dia sering sekali datang ketika aku lagi galau dan frustasi.

Jelas dia gak bikin nyaman, karena dia selalu aja ngingetin diriku tentang ‘rahasia umum’ dari hidup yang sebenernya malah makin bikin tersiksa kalau tambah diperjelas. Dia gak bikin aman, karena dia gak pernah ngelindungiku dari apapun secara fisik.

Yahh, Jat emang gak pernah bikin kontak fisik. Aku pernah mencoba untuk ‘memancing-mancing’ dia buat pinjemin bahu atau minta peluk pas lagi banyak masalah. Tapi, apa reaksinya? Dia kayak tau gitu aku mau ngelakuin itu. Dengan kemampuannya yang semacam inderta ke-6 itu, Jat selalu satu langkah didepanku dalam bertindak.

Entahlah, Jat itu di golongan pria yang macam apa? Pria alim? Sok alim? Atau mungkin homo?

Tapi, ya enaknya dia kurang lebih gak pernah nge-judge aku, ‘separah’ apapun kelakuanku. Yang aku tangkep, dia gak lagi modusin aku. Padahal banyak cowok yang ngedeketin aku gara-gara aku curhat ke mereka. Kadang mereka sok bijak, tapi ujung-ujungnya tetep aja minta minta naik ke ranjang. Yasudahah, aku juga kadang ngerasa happy for awhile kok.

Padahal udah ampir setahun aku kenal Jat dan gak sedikitpun dia menyentuhku, sehelai rambut pun enggak!

Intinya: dia cuman kayak pengen motivasi aku gitu…Caranya? Yahh terus aja dicekoki buat mikir ini dan itu!

Dia pantang nyebut kata ‘wanita’. Katanya, kata ‘wanita’ banyak mengandung asosiasi negatif; wanita tunasusila, terus juga istilah kayak harta, tahta, dan wanita, teruus…ya masih banyak lagi contohnya. Jadinya, dia selalu aja make kata ‘perempuan’ kalo ngomongin masalah gender.

Tiap kali ngobrol dan ceramah, pastiii aja dia suka bawa-bawa topik pembicaraan kayak hak pekerja, tuntutan 8 jam kerja per hari, perempuan harus mandiri, memperjuangkan haknya, dan gak boleh merasa terlalu ‘bergantung’ sama laki-laki, budaya patriarki dan bla..bla..bla…

Kata Jat, ‘penyerahan diri’ secara total kepada seseorang yang kita suka atau cinta bisa berpotensi untuk menghilangkan idenitas diri kita secara pribadi. Alienasi gitu katanya. Penyerahan diri cuman untuk subjek Transenden dan bila penyerahan diri dilakukan di tempat yang salah, kita secara tak langsung telah memberhalakan sesuatu, ujar Jat.

Aku disuruh bedain apa itu ‘memberikan kepercayaan’ dan apa itu ‘penyerahan diri’. Dia suruh aku mikir pake usaha sendiri dan menyikapi itu juga secara mandiri.

Menggapai kemandirian ekonomi, membuka pikiran, mengadvokasi diri, bela diri, sampai belajar berkendara. Konon, aku bisa lebih mencintai diriku sendiri kalau rasa ketergantungan pada orang lain, terutama ketergantungan pada laki-laki katanya bisa aku buang jauh-jauh ke tempat sampah.

Semua itu demi usaha menguasai jiwa dan raga kita sendiri dan gak gampang ditipu-tipu. Ya, kalau jiwa dan raga ini pinjaman dan milik Tuhan, setidaknya jiwa dan raga ini tidak dieksploitasi oleh ciptaan Tuhan, gitu kata Jat.

Yah, itulah si Jat. Aku gak pernah secara total paham yang dia jelasin. Katanya itu cuman kisi-kisi. Resiko dari membuka pikiran adalah terus mencoba belajar dari banyak sumber dan pengalaman. Walo Jat sudah bersabda sampai berbusa-busa. aku belum sempat melakukan semua yang dia ocehkan.

Entah akunya yang belum siap? Atau akunya yang enggan berubah? Atau aku udah cukup puas dengan keseharianku?

Tapi, aku terus merasa sudah terlanjur membusuk! Setengah hariku masih disiksa oleh pekerjaan, seperempatnya aku pakai istirahat, dan sisanya aku pake untuk nyari hiburan demi bertahan dari kemuakan. Cukup saja bertahan, karena aku belum punya cukup keberanian untuk lari dari zona nyaman.

“HALOOOO BU IRKALIA!! Jangan ngelamun woy!”

“Brisik Jat, gak usah teriak!”

“Mikirin saya yah?”

“Ge’er nyet!”

“Ahahaaha, mikirin pembahasan tentang cerita yang lagi dibaca?”

“Iyeeee…”

“Pas bagian: anak-anak warnet yang ngomongin perkawinan?”

“Iyeee Pak Dukun!”

“Setuju ama apa yang diomongin?”

“Gak”

“Gara-gara?”

“Arogan….”

“Alesannya apa Bu?”

“Keliatannya simpatik, tapi isinya pathetic! Hajatan, KPR rumah, biaya pendidikan anak, ‘membahagiakan’  keluarga calon mempelai itu MURAH banget kalo dibandingin ama apa yang kebanyakan laki-laki dapet setelah pernikahan.”

“Daaan apakah itu?”

“Kebebasan Perempuan…”

“Dalam konteks?”

(Bersambung ke bagian IV)


Berusaha untuk terlahir tiap minggu di hari yang berbeda-beda, sesuai dengan mood penulis yang sibuk mengisi konten website yang lebih berkualitas hampir seorang diri.