DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terkandung bahasa yang cenderung vulgar dan sarkastik. Tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur di bawah 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak sedikitpun bermaksud mendiskreditkan kepercayaan, agama, ras, suku, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan kepercayaan, agama, ras, suku dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita yang semata-mata ingin mencoba menggambarkan kondisi sebagian kelas pekerja, terutama perempuan yang berkarir di Indonesia berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi penulis. Beberapa merk komersil terinspirasi dari kehidupan nyata dan telah dideformasi. Tujuan utama cerita ini adalah proses prokreasi dan berkesenian, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi.Dilarang mengatasnamakan suatu aksi dengan dalih meniru adegan dalam cerita ini.

Kadang aku surga dunia

Kadang aku karcis neraka

Kadang aku hanya Irkalia

Kadang aku dianggap boneka

Ingin aku tetap manusia

 

Aku berselimut dosa

Membunuhku isu pahala

Takdirku tak teraba

Nasibku dipinjam nestapa

Namaku tetap Irkalia

Alibiku sifat manusia

Menggugat Opini Laki-laki

“Konteks? Ya, pandangan uring-uringan mereka tentang pernikahan!” rokok keduaku telah tersulut untuk kali kedua, aku melanjutkan tanpa memberi jeda untuk Jat,

“Sok banget tuh cowok! Kalo emang dia pikir ‘beban’ kehidupan cuman buat kaum mereka kayak ‘beban’ pernikahan, terus peran perempuan apa? Tanya pada budaya! Seperti apa kadang hak cowok dalam pernikahan yang cenderung lebih dominan?” pria itu terdiam, matanya terpusat pada sorot mataku yang penuh peluru.

“Coba kamu bandingin! Semua khayalan cowok tentang ‘beban’ pernikahan! Harusnya mereka sadar, itu biaya yang sangat-sangat murah bila dibandingkan dengan pengorbanan cewek! Mereka kadang harus diwajibkan memasak, mengerjakan perkerjaan rumah tangga, mengurus anak, dan melayani suami yang kadang disalahgunakan menjadi: budak suami!”

“Sedangkan, cara mereka melayani istri? Cuman sebongkah harta? Maukah mereka sekedar tau dan bisa dasar-dasar dari pekerjaan rumah tangga? Sekarang, kalau istri mereka bekerja dan kewajibannya bertambah, rata-rata perempuan pun wajib bisa multitasking ngerjain pekerjaan rumah dan mengurus anak. Kalo laki-laki? Gak wajibkan rata-rata?”

“Sebentar Bu, mungkin maksud Ibu bila kewajiban laki-laki dan perempuan setara: apakah mau laki-laki mengerjakan kewajiban yang telah membudaya dimandatkan buat perempuan?”

“Ya, itu maksud gue! Dan, gak usah bawa-bawa kodrat! Melahirkan itu kodrat, kalau rata-rata pekerjaan rumah ‘buat’ cewek itu bukan kodrat!”

“Hahaha…pinter darurat Bu?” pria itu tampak setengah mengejek.

“Lucu? Kamu pikir lucu perkataanku?”

“Gak, cuman heran sama perlawanan verbal Bu Lia yang menggebu-gebu.”

“Gak, gue gak pernah ngelawan, cuman menjelaskan, menerangkan apa yang gue rasakan.”

“Saya tahu Ibu belum pernah menikah…Oh, dan Ibu telah melawan, walau masih dalam buah pikiran.”

“Gue punya ibu yang menikah sama bapak gue, kita pernah serumah. Gue punya kakak perempuan kelahiran 84 yang telah menikah, punya ijasah, dan berakhir berkarir ‘di rumah’.”

“Imajinasi psikologis antar perempuan! Mengagumkan!”

“Gak usah sok intelek dan pake istilah yang bikin bingung…”

“Oke maaf, solidaritas antar perempuan yang keren! Sekarang, coba Ibu jabarkan dampaknya!” pria ini terus saja bertanya seperti dosen yang menguji mahasiswinya…

“Dampaknya? Sudah banyak di dalam milyaran cerita: cowok-cowok yang haus kesuksesan dan kena krisis kejujuran. Mereka bakal merasa terancam kalau tidak mapan dan gagal pas meraih mimpi tentang kesuksesan!”

“Keyen Bu! Dan perempuan!? Kadang merasa terancam kalau gak punya pilar kecantikan? Dan takut dibilang perawan tua atau ‘kadaluarsa’ kalau belum menikah di umur 30-an?”

“YA!” jawabanku singkat karena hatiku sedikit tergurat.

“Persaingan antar laki-laki di medan laga pengerukan kemakmuran, perempuan berdandan dalam kontes kecantikan fisik. Timpangnya distribusi dan kepemilikan membuat kedua gender sering tersingkirkan dalam peta masyarakat. Terutama perempuan yang tanpa perlindungan dari sang pencari distribusi kepemilikan dominan! Hal itu menimbulkan ketakutan baru bagi para pencari distribusi kepemilikan yang dominan: kesetaraan kepemilikan di tangan perempuan.” Jat mulai lagi, bahasa yang sulit untuk dipahami, tapi cenderung gampang untuk diresapi.

“Ya….ya! Ya! Itu! Truus jadinya adanya kecenderungan si cewek di anggap barang, ia kan? Kalo mau anggep cewek kayak barang, yaudah gak usah ngeluh yang aneh-aneh! Saling berebut aja sana di panggung laga! Cewekkan trofinya? HERO GETS THE GIRL?”

Aku memang merasa selalu terombang-ambing oleh keputusan laki-laki. Kalau memang itu terjadi, gak usah sok bijak dan mempertanyakan hal perihal beban perkawinan atau juga dalam kasus pacaran, bahkan dalam drama menjadi ‘peliharaan’: semuanya hampir sama, cuman statusnya yang sedikit berbeda.

“Gak usah jauh-jauh ke pernikahan! Mau kita pacaran, mau kita jadi peliharaan, siapa coba yang cenderung selalu dominan? Kondisinya hampir kayak gini, ia kan? Cewek dikasih makan dan jemputan, terus cowok dikasih badan?”

“Dan Ibu pun terjebak di dalamnya?”

“Terus kenapa? Sebandingkan? Kita saling menguntungkan! Realistis aja deh!”

“Sebanding? Setara? Ukuran kesetaraan Ibu yang perlu ditinjau ulang. Ada berlapis dimensi kehidupan dan ada berlapis dimensi kebenaran. Ada sebab, ada akibat; dalam kepercayaan Ibu, ada ushul fiqh ada fiqh. Hilang sebab, hilang juga akibat. ‘Sebab’ terkadang terselimuti misteri yang akan menarik garis batas antara ilmu dan opini. ‘Akibat’ penuh dengan kontradiksi yang akan menarik garis batas antara hukuman dan keadilan.”

I don’t give a damn! Sana masuk ruang kuliah PAK DOSEN!” Aku kesal, gak bisakah dia mengatakan sesuatu dengan lebih simpel? Yang mudah untuk dicerna? Yang instan?

“Hahaha…gimana nasib dari kondisi dari para istri beserta anak dari cowok yang Ibu biarkan masuk kehidupan Ibu? Lalu, perasaan para pacar yang diam-diam Ibu kencani? Gimana kalo keluarga Ibu tau? Kita, para cowok yang melakukan hal itu, kadang masih bisa sembunyi di balik predikat; suhu, playboy, player, chickmagnet, arjuna, dan umumnya masyarakat masih bisa menerima kita dengan tangan terbuka asal mapan dan cuuukses, hehehe.”

Jat pergi dari pintu kostan, beranjak berjalan menuju meja riasku yang berhadapan dengan cermin, ia kemudian kembali meneruskan:

“Kalau perempuan? Apa predikat umum yang bakal melekat setelah itu? Sundal? Binal? Bispak? Perek? Pelacur? Bayur? Lonte? Whore? Bitch? Tunasusila? Lirik-lirik lagu dangdut macam ‘janda bodong’? Pilih Bu, monggooo…

“Oooh, udah mulai berani nge-judge gue lo?”

“Gak, cuman bertanya, cuman mempertegas, seperti cara ibu mempertegas isi cerita fiksi dari website medioker yang menceritakan bujang tua di warnet yang memperkeruh opini perihal beban pernikahan. Ya! Mempertegas curhatan perempuan yang dulunya menjadi korban dari skema perselingkuhan yang menjelma jadi tukang selingkuh. Nah! Ini baru menghakimi! Sekalian saja ya Bu Lia, daripada Ibu memfitnah, lebih baik saya judge Ibu sekalian!”

“)*(^%%!$$*&%!!!!” amarahku pecah, air mataku tumpah, jiwaku serasa ingin muntah! Akupun berteriak; keras, kencang, bercampur kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan.

Spontan aku berlari, menjauhi Jat, dan bersembunyi dalam toilet. Rokok yang sedari tadi kuhisap pun memendek dan kubuang ke lubang kloset. Apakah sepantasnya aku marah pada Jat? Atau sebaiknya pada diriku sendiri?

Semua cuman gara-gara cerita fiksi dari website medioker yang gak jelas! Aku, yang tadinya hanya membahas opini seorang tokoh fiksi malah berakhir menjadi begini….

Selang beberapa waktu, aku berhasil meredam air mata dan mencoba bermaksud mencurahkan kalimat-kalimat yang mungkin bisa Jat jawab dalam memposisikan dirinya sebagai laki-laki…

“Jat, kalo kamu jadi suami yang mengaku bertanggung jawab― emang kamu mau gantiin popok bayi yang udah kena pup? Bersedia kamu cebokin anak kamu?”

Tak ada sahutan…

“Kamu mau emang bagi-bagi tugas rumah? Mau belajar masak meski kamu harus kerja? Mau mendukung istri kamu buat mandiri dan menjadi diri sendiri? Kalau istrimu juga kerja, mau emang kamu nyurahin waktu buat anak? Mau kamu berdiskusi dengan istri perihal susah-senang bersama? Pernahkah terbesit bahwa istrimu juga bisa adil dan bijak dalam mengambil keputusan? Kalau istrimu jadi ibu rumah tangga, mau gitu kamu menghargai kerja keras mereka di rumah setara dengan usahamu di pekerjaan?”

Masih tanpa jawaban…

Akhirnya, aku yang berangsur hilang gelombang pun mencanangkan untuk keluar dari ruang tempatku memberang.

“Jat?” tak ada siapa-siapa…hanya pintu kostan yang masih dibiarkan menganga…

“Gue beneran udah jadi Kelvin versi lain?”

(Bersambung ke bagian V)


Sedikit catatan penulis: Hai! Pada minggu ini― Irkalia’s Arc akan terbit minimal dalam dua edisi. Terima kasih bagi para pembaca yang masih meluangkan waktu untuk mengapresiasi! Penulis berencana akan exodus ke forum-forum dan wattpad untuk menjaring pembaca yang lebih banyak dalam waktu dekat. Laman ini akan penulis pakai untuk melatih jam terbang dalam menulis. Jujur, penulis sangat kesulitan untuk berusaha ‘berganti kelamin’ menjadi perempuan di cerita ini. Apalagi, dengan sudut pandang orang pertama yang mewajibkan penulis berpikir dan berkomunikasi layaknya perempuan. Pada episode yang menceritakan masa lalu Irkalia, penulis akan memakai sudut pandang orang ketiga dalam bercerita. Hal ini dilakukan, karena penulis terlalu ‘cepat menyerah’ menceritakan masa lalu Irkalia dalam sudut pandang orang pertama. Sekian untuk saat ini, sekali lagi terima kasih dan penulis akan sangat bersyukur bila Anda tak bosan-bosan untuk menekan tombol ‘share’ di laman somed Anda. Jangan ragu untuk memuntahkan umpan balik atau feedback kepada penulis, baik di muka publik atau dalam ruang privat. Salam!