DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terkandung bahasa yang cenderung vulgar dan sarkastik. Tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur di bawah 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak sedikitpun bermaksud mendiskreditkan kepercayaan, agama, ras, suku, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan kepercayaan, agama, ras, suku dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita yang semata-mata ingin mencoba menggambarkan kondisi sebagian kelas pekerja, terutama perempuan yang berkarir di Indonesia berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi penulis. Beberapa merk komersil terinspirasi dari kehidupan nyata dan telah dideformasi. Tujuan utama cerita ini adalah proses prokreasi dan berkesenian, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi.Dilarang mengatasnamakan suatu aksi dengan dalih meniru adegan dalam cerita ini.

Aku Irkalia yang terjerumus

Dalam luka yang terhunus

Segitiga gila yang meringkus

Pada skema yang ambisius

 

Terlena…bernubuat Succubus

Tersiksa…berkeringat Icarus

Terhina…berbelikat Sisyphus

Ternista…bernisbat Asmodeus

Hikayat Irkalia dan Kelvin Sang Pemberi Trauma

Ini kisah dua sejoli yang sempat meneguk palsunya hidup dan kebahagiaan sejak masa kuliah sampai dunia kerja. Sebut saja pasangan itu bernama Kelvin dan Irkalia. Umur mereka sepantar, namun Kelvin baru masuk kuliah―setahun sesudah Irkalia.

Kelvin doyan menguraikan indahnya suasana malam dengan mengendarai motor besarnya. Tentu saja bersama Irkalia di belakangnya yang tak bosan-bosannya memeluk erat Kelvin―dari jok belakang. Sungguh suasana klise nan romantis yang sering sekali terjadi di jalanan urban dan cerita-cerita kekinian.

Punggung besar Kelvin seakan menjadi nampan bagi buah dada Irkalia yang subur. Motor dengan 4 silinder  itu seakan menjadi saksi bisu dari kemesraan mereka. Dulu, waktu habis jadian―mereka hampir selalu bertualangan pada akhir pekan. Petualangan-petualangan yang terkadang ditutup dengan kecupan atau hisapan.

Kondom penuh muatan dan bercak darah di sprei kasur Kelvin pun akhirnya menjadi dekorasi paling kontras di kostan Kelvin yang cukup mewah. Kelvin dan Irkalia―membayar di muka perihal kenikmatan yang biasanya hanya dimiliki oleh pasangan suami-istri di malam pengantin.

Mereka pun mulai semakin akif secara seksual. Mereka gemar beradu birahi di banyak tempat; kebun teh, rumah kosong, kuburan, kostan, hotel, cottage, villa, mobil orang tua Kelvin, dan juga rumah orang tua Kelvin yang cukup kaya. Sungguh perilaku anak muda yang banyak ditentang agama, norma, dan keluarga tentunya.

Repetisi yang memabukkan, diselingi rentetan kencan; di bioskop, tempat makan mewah, dan juga wahana-wahana. Kecupan, ciuman, cubitan, remasan, pelukan, genggaman, apitan selangkangan, bisikkan, dan juga teriakan selalu mereka bagi dalam konsepsi waktu yang berjalan maju, namun nampak sulit mereka maknai babak akhirnya. Mirip novel remaja yang menggebu dibaca saat muda dan ditinggal tak bermakna ketika menua.

Pergumulan yang bikin lemas dan menguras banyak pelumas itu telah banyak memakan korban; kawanan sperma yang mati mengering di tisu yang menguning, kawanan sperma yang mati berkubang dalam kondom bekas yang telah diikat berbentuk simpul asal-asalan, dan yang mati setelah dimuntahkan atau tertelan―dari mulut yang tak lagi menawan karena belepotan: melahirkan rasa lega bagi pria dan kepanikan perempuan perihal datang bulan.

Kasihan sekali kawanan sperma itu! Bila saja mereka diizinkan menemui sel telur―mungkin saja mereka bisa jadi calon presiden, menteri, pejabat, bintang rock, atau mungkin anggota girlband.

Tapi, kalau itu terjadi―tentu saja kemungkinan besarnya Irkalia menjadi kurang waras tertekan gunjingan komunitas masyarakat dan Kelvin pun kemungkinan besarnya kabur layaknya Edi Tansil di penghujung Orde Baru. Yahh, walaupun menikah secara formalitas―kebanyakan juga paling bertahan 1-3 tahun. Habis itu auto-divorce.

Untungnya, di zaman kondom dan pil KB yang sudah dijajakan eceran di warung-warung areal kostan mahasiswi dan mahasiswa―mereka berdua berhasil menanggulangi pertemuan epik antara sperma dan sel telur.

Setelah mengantongi ijasah sarjana, Irkalia pun mengadu nasib di ibu kota untuk mencari kerja. Kalau Kelvin? Masih doyan main, hura-hura, jalan-jalan, dan foto-foto narsis demi tuntutan sosial media; kadang bersandingan dengan mobil orang tuanya, kadang juga dalam kokpit setir mobil orang tuanya, kadang juga dengan motor besar pemberian orang tuanya yang berlatar suasana alam yang indah atau perkotaan yang megah.

Kelvin memang doyan tebar pesona. Dia lupa, dunia orang dewasa, nasib menjadi pekerja, dan jargon-jargon entrepreneur sukses akan terus menghantuinya pasca bermahkota gelar sarjana.

Iraklia tergolong pekerja yang rajin, patuh, dan tidak banyak menuntut: favorit para pemegang modal yang antipati terhadap nasib kelas pekerja. Dengan ijasah, predikat fresh graduate, serta umur di bawah 25―Irkalia pun siap melanglangbuana dengan dinamika ibu kota.

Dengan berlapang dada, perempuan itu bertahan di ibu kota sembari merintis karirnya. Perlahan, dia bisa bayar kostan sendiri, membeli amunisi kecantikan sendiri, dan tak ketinggalan: beli ponsel pintar keluaran Yu’Es sendiri. Ponsel pintar dari Yu’Es bikinan almarhum Setif Belowjob memang sangat populer di kalang muda-mudi dan pengusaha seluruh dunia. Inovator penganut Zen Buddishme ini tergolong salah satu orang yang paling berpengaruh semasa hidupnya.

Beroposisi di dalam usaha pencarian kerja, Kelvin pun pelan-pelan udah gak bisa ‘netek’ lagi ke ibu dan bapaknya. Semua subsidi dan bantuan langsung tunai dari orang tuanya diputus dengan maksud agar Kelvin bisa menjadi pria yang mandiri.

Mungkin karena sudah biasa ‘nyusu’ beneran, dia pun beralih ke Irkalia. Kelvin jadi sering menginap dan numpang hidup di kostan Irkalia. Tak jarang Kevlin meminta uang ke Irkalia bagai preman perempatan yang meminta retribusi ilegal ke pedagang-pedagang kaki lima.

Tabiat Kelvin pun semakin mirip preman: minta ‘uang keamanan,’ tapi tidak pernah benar-benar memberikan perasaan aman. Persis seperti adegan pedagang kaki lima yang ditinggal para preman saat SATPOL PP unjuk gigi!

Irkalia memang tergolong penyabar: layaknya menjunjung kata legowo dalam falsafah jawa. Irkalia tetap berusaha men-support Kelvin dengan harapan: agar pria itu lekas mandiri seperti jargon-jargon bahwa ‘Pria sukses selalu didampingi perempuan bla..bla..bla’. Bagaimanapun, Irkalia mendaku sudah terlalu cinta.

Hal itu berubah saat tirai-tirai realitas mulai tersingkap: Kelvin ternyata terindikasi ‘main gila’ dan bergundik dengan mantan pacarnya! Kepercayaan Irkalia pun mulai retak. Apalagi setelah sang selingkuhan Kelvin mengirimkan foto-foto syur Kelvin yang sedang bermesraan dengan perempuan selain Irkalia. Di foto itu, Kelvin berfoto tanpa busana bareng mantan kekasihnya.

Semua rasa cinta, kasih, dan sayang―Irkalia pun berubah menjadi rawa air mata. Semua laknat di dunia pun ia kumpulkan untuk memberangus perlakuan Kelvin terhadapnya.

Hebatnya, pria metroseksual itu malah menyalahkan Irkalia dengan alasan klise: Irkalia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mencampakkannya sehingga Kelvin beralih haluan mencari serpihan birahi yang ia sebut cinta ke mantan pacarnya.

Kelvin yang mungkin ingin menutupi rasa malunya pun menyalahkan Irkalia yang dinilai kurang perhatian. Kenyataannya: Irkalia ‘banting tulang’ dan Kelvin pun turut menghisap keuntungan dari darah dan keringat Irkalia. Ujung-ujungnya, Kelvin pun minta putus dengan Irkalia―setelah tertangkap basah dan kuyup bersama bukti digital mesum.

Hebat betul Kelvin! Kalau saja ‘bakatnya’ bisa ia berdayakan di bidang seni peran, mungkin saja dia bisa dapat Piala Citra dengan nominasi: Aktor Terbaik!

Hancurlah sudah harapan yang dibina Irkalia. Tabungan dari hasil karir selama 3 tahun di ibu kota pun goyah. Niatnya yang baik untuk Kelvin pun terbuang sia-sia, bagai kondom bekas yang tergenang cairan ampas.

Dalam rentetan kehancuran

Yang berirama disonan

Aku terhempas, menjadi ampas

Dalam pentas, yang aktrisnya terkelupas

Di suatu na’as, dalam pelukan Raja Beringas

Mahkotaku pun diperas

Jiwaku pun diretas

Memaksaku menjadi bekas

Ingatan semu pubertas

(Bersambung ke bagian VI)


Sedikit sapa’an dari penulis: Halo! Seperti yang telah saya janjikan: pada minggu ini cerbung Irkalia akan hadir lebih dari dua edisi. Dengan tersesatnya saya dalam mengotak-atik kalimat, otomatis―minggu ini saya masih menyimpan berkas-berkas mengenai ulasan film, anime, komik, dan buku yang seharusnya sudah saya kerjakan dengan manuver lone wolf. Jadi, mohon maaf bagi para pembaca Virtual Verbal yang haus akan referensi hiburan dan merasa kurang suguhan di laman kami. Laman ini masih dalam transisi dan memang kekurangan banyak sumber daya manusia, tapi bukan berarti kami menyerah untuk mencoba sedikit menghibur dan menyentil Anda. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih bagi yang masih sudi mengapresiasinya! Salam! (Gin-Gin, 2018)