DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terkandung bahasa yang cenderung vulgar dan sarkastik. Tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur di bawah 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak sedikitpun bermaksud mendiskreditkan kepercayaan, agama, ras, suku, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan kepercayaan, agama, ras, suku dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita yang semata-mata ingin mencoba menggambarkan kondisi sebagian kelas pekerja, terutama perempuan yang berkarir di Indonesia berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi penulis. Beberapa merk komersil terinspirasi dari kehidupan nyata dan telah dideformasi. Tujuan utama cerita ini adalah proses prokreasi dan berkesenian, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi.Dilarang mengatasnamakan suatu aksi dengan dalih meniru adegan dalam cerita ini.

Dulu…kuanggap diriku Ratu

Kini…aku gundik para serdadu

Melangkah…dalam titah Raja Palsu

Membawaku…pada hamparan bunga layu

Meratapi…simulasi temporal bulan madu

Meresapi…barisan kasih semu

Merasuki…babak baru penuh ambigu

Perjumpaan yang Dipaksakan

Jiwa raga yang dilibas rutinitas. Hari-hari yang terus dijalani tanpa pernah berhenti…Untuk mengamini kemacetan, rutinitas kerja yang penuh tekanan, dan raga yang terus diberi asupan kekacauan. Dalam setiap jabatan, cobaan adalah suatu keniscayaan.

Bersikap ramah pada rekan kerja harus selalu ku bina di hadapan Atasan yang cadas dan Bawahan yang malas. Demi sepenggal kesan dan citra baik: itulah yang kulirik. Mayoritas dari mereka adalah laki-laki yang kebanyakan punya ‘mata lelaki’ yang senang berburu aurat. Tatapan mereka ada yang ku anggap menjijikan, ada juga yang membuatku terkesan: tergantung kualitas mereka tentunya.

Aku membawahi beberapa pekerja yang kebanyakan lebih muda dariku beberapa tahun. Mungkin sekitar 3 sampai 5 tahun. Mereka rata-rata lulusan D1 atau D3. Bawahanku yang cowok rata-rata terlihat bugar, penampilan mereka rapih dengan tatanan rambut yang rata-rata dipangkas ala rockabilly.

Di luar pekerjaan, aku kerap ikut nongkrong bareng mereka―terutama pas habis gajian. Kadang mencari tempat-tempat yang enak buat nongkrong, kadang juga bikin acara liburan untuk menghindari suasana ibu kota. Kemeriahan liburan pun kerap dirayakan dengan kehadiran alkohol dan rokok.

Mumpung ada waktu, kesempatan, dan mereka―aku pun tak pernah pikir panjang untuk merasakan sensasi petualangan ke banyak tempat wisata. Baru-baru ini, aku pernah ML dengan salah satu dari mereka, walaupun aku tahu mereka punya pacar dan akupun punya pacar. Terjadi begitu saja, ketika kami berdua berada dalam alunan alkohol.

Malam setelah kejadian, Jat datang menghampiriku yang masih terjaga. Aku yang sedang menghisap rokok di depan bakon kostan pun sudah terbiasa dengan kedatangannya yang tak kenal waktu dan tempat.

“Ketika alkohol mulai bergelora di tubuhmu, para security inderawi di gerbang kulit itu secara perlahan mulai terkapar dan pudar fungsinya sebagai pengontrol daya waspada. Syaraf-syaraf yang tertidur tak lagi bisa mengabarkan kesadaran pada pusat  syaraf otak.”

“Be-ri-sik, hidup gue gimana gue…”

“Hidupmu gimana alkohol kalo persetubuhan yang barusan…”

Kepalaku yang masih agak pusing terhempas minuman―sedang tak mau berurusan dengan mata kuliah dari Jat. Aku pengen dia segera enyah dari eksistensiku.

“Yaudah sih…gue gak ngerugiin lo juga kaliiii! Dasar keles! Gue lagi pengen rileks”

“Gimana rasanya?”

Happy…for awhile. Si Gagah bukan player kok, jadi aman…”

“Oh, itu trusted coworker-mu. Yang katanya suka nganter-jemput kamu pas cowok kamu sibuk? Yang katanya kamu deket sama ceweknya juga?”

“Yup”

“Yang pernah liburan bareng kamu sama rombongan coworker-mu ke Puncak sama Bali?”

“Yup”

“Yang waktu itu…..”

“Dah! Udah! Nanya terus ih! Kalo mau berkhotbah pas kayak bahas topik pernikahan―mendingan jangan deket-deket gue deh, annoying tau! Datang seenaknya, blepotan saran-saran gak jelas seenaknya, menghilang seenaknya. Kamu tuh harusnya nyadar―bahwa kamu udah sangat-sangat mengganggu privasi gue! Gue gak pernah minta kamu hadir di hidup gue!”

“…” pria itu hanya diam, tatapannya kosong, dan dia pun hanya berdiri mematung sambil menatap wajahku.

“Denger yah, gue gak butuh bullshit dari lo! Mendingan lo simpen tuh tenaga, lo kumpulin! Lo bikin buku, vlog, ato tutorial biar bisa bermanfaat buat orang yang emang butuh sama tips n tricks lo yang sama sekali gak gue ngerti dan gak minat gue pahami! Lagian, lo kemana pas terakhir gue putus asa?”

Ketika aku telah memanggil seseorang dengan kata ‘LO,’ berarti orang itu sudah kuanggap teman dekat dan bisa juga orang yang sudah kuanggap musuh. Jat udah masuk di kategori kedua. Semenjak pertemuan terkahir dengannya yang pergi begitu saja ketika aku butuh banyak sekali masukan, aku udah gak bisa lagi denger ocehan-ocehannya.

“Tolong buang rokok itu dan saya bakalan pergi…” senyum tipis yang terkikis oleh perkataanku yang tajam, itulah yang Jat pancarkan ketika aku mengisyaratkan kemarahan untuknya. Tanpa pikir panjang, kubuang rokok itu dari atas balkon kostanku sambil masih terus menatap pria itu.

Cairan kemuakan terus menggumpal di balik bola mataku, masih dengan tatapan penuh kebencian ke arah pria itu. Jat terlihat menghela nafas panjang dan nampak mulai membalikkan badan―lalu kemudian berjalan.

“Irkalia…selama ini saya selalu ada di samping kamu. Namun, layaknya setan yang dikutuk Tuhan―saya hanya akan bisa hadir satu langkah di belakangmu. Segala kemampua saya hanya bisa saya gunakan di setiap langkah yang saya harus sesuaikan dengan langkahmu. Saya selalu selangkah di belakangmu Irkalia! Ibarat setan, saya hanya akan menyantap makanan sesudah kamu menyantapnya. Dan saya gak bisa meramal masa depan. Irama kehidupan saya hanya tercipta dari gema yang kamu hasilkan.”

“Pergi…” tanpa berusaha memahami apa yang Jat coba jelaskan, aku mencoba untuk mengusir Jat untuk yang kesekian kalinya.

“Suatu saat, kamu pasti paham. Selamat malam.”

Sosok yang terlihat muram itu pun berjalan menjauh dan menghilang bersama hitamnya malam. Anehnya, amarahku yang sedari tadi berkecamuk pun berubah menjadi perasaan kehilangan. Aku merasa seperti bisa merasakan kesedihan yang mungkin sedang dirasakan Jat pasca aku mengusirnya secara tidak hormat.

Aku yang membisu pun kembali ke kamar. Dalam ruangan yang tak bercahaya, aku merebahkan diriku yang masih membisu. Mataku yang terpejam menghasilkan dua lapis kegelapan yang bebatasan dengan kegelapan ruang. Suasana yang cocok dengan perasaanku yang menghitam. Dalam pikiran yang digenangi ucapan Jat, aku pun berusaha untuk terlelap.


Hari ini, kantorku hanya buka setengah hari. Jalan utama ibu kota akan dipakai rapat G-69 yang merupakan rapat 69 negara yang katanya bertujuan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi antar negara. Tapi anehnya, setiap rapat konferensi, tak jarang banyak sekali demonstran yang menentang acara ini.

Entahlah, pusing mikiran yang gituan. Orang mikirin hidup sendiri aja udah susah. Yang jelas aku hari ini bisa tidur siang sepuasnya di kostan! Yesss!

“Eh Gah, anterin pulang yah?” Aku berbicara dengan Gagah, bawahanku yang sejak tadi sedang mengobrol dengan beberapa rekan kerjanya di parkiran kantor. Sebetulnya udah chat sih daritadi, tapi yah untuk sekedar mempertegas dan mengusir secara harus gerombolan itu, ya aku harus bertindak.

“Eh Bu Irka, siap laksanakan Bu!” dia menyapa dengan muka yang sedikit merona. Mungkin dia masih ngebayangin kejadian semalem. Kalau ekspresiku biasa aja, lagipula―pertengkaranku dengan Jat masih lebih terasa bila berbanding itu semua.

Akhirnya, kami berdua pun melaju di jalanan ibu kota, tentunya harus segera buru-buru sebelum jalan utama buat rapat G-69 dinetralisir dari kendaraan. Hembusan angin pertanda melajunya motor milik Gagah dapat kurasakan pada telingaku yang tertutup helm half-face. Cowok yang satu ini emang doyan ngebut dan selap-selip di jalanan perkotaan yang saat ini lumayan padat.

“Gah, kamu gak lapor Rosi tentang kejadian kemaren?”

“Buset, bisa bubar Bu kalo Rosi tau…Ngaco aja si Ibu mah!”

“Ya kaliii, kamu masih teler terus lapor ke ‘Nyonya Rumah’!”

“Woles Bu, aman.”

“Okeee….” nampaknya Gagah tak berani menanyakan hal yang sebaliknya padaku. Mungkin dia segan atas jabatanku di kantor atau ia memang yakin bahwa hal seperti affair emang udah seharusnya gak mungkin dibilangin ke pacarku yang saat ini sedang ada pelatihan di luar kota.”

Di tengah jalan, smartphone-ku bergetar, menandakan adanya pemberitahuan tentang informasi yang masuk. Ada sms masuk dan ternyata dari orang yang sangat-sangat tidak aku harapkan mengirim SMS…

From: Kelvin

Ders 1 thing i want u to believe:

I love u

I miss u

I miss u

So very….very much

I am a bird who can’t fly at all

I daydream everyday

Won’t u give me wings?

So i can fly under u

I saw the news about the G-69, so i’m goin to visit u right now

I’m so excited! Please wait for me!

“Anjrit!”

“Eh, napa Bu?” Gagah nampak kaget mendengar teriakanku yang spontan keluar.

“Engga Gah, gapapa kok…” sial! Pasti berita tentang diliburkannya kantor dan sekolah di jalan yang akan dilewati perserta G-69 ini yang bikin orang itu mau nekat dateng! Aduh harus gimana nih?

“Beneran Bu?”

“Ia, gapapa…”

Yang harus kulakukan sekarang adalah berharap aku sampai di kostan duluan dan segera mengunci kamar kostanku rapat-rapat! Aku gak mau ketemu sama orang itu! Aku udah capek sama orang itu!

“Gah, agak cepetan yah bawanya! Gue cape, lagi pengen istirahat…”

“Siap Bu!”

Motor matic yang Gagah terus gas poll pun akhirnya membuat jantungku berdebar dengan lebih kencang. Setelah melewati beberapa jalan utama, akhirnya Gagah sedikit melonggarkan gasnya ketika ia memasuki areal komplek perumahan yang menandakan bahwa kostanku sudah dekat.

*VROOOOOM*

Suara knlapot ini sangat familiar di telingaku. Suara itu terasa dekat dan hanya berjarak beberapa meter dari motor Gagah. Beberapa saat kemudian, motor sport hitam yang dahulu sangat sering aku tumpangi pun nampak sudah berada di samping motor Gagah yang masih melaju.

“Lia!” suara lelaki yang mengendarai motor sport itu memanggil panggilan akrabku. Oh gosh! Tentu saja, itu Kelvin! Kenapa dia bisa datang secepat ini? Apa emang dia udah ngerencanain ini semua ketika berita tentang G-69 tersebar mulai beberapa minggu kemarin?

Aku hanya membuang muka, acuh dan pura-pura merasakan ketidakhadirannya yang sudah ada di samping kanan kami.

“Lia! Lia! Ini aku, Kelvin! Woy lo, minggir lo! Buruan!”

“Bu, ini siapa Bu?”

“Jalan terus Gah, jangan minggir!”

“Liaaa! Please dengerin aku dulu!”

Demi meredam kegaduhan yang ia hasilkan, aku mengarahkan pandangku padanya…

“Entar, depan kostan!” Aku ingin membuatnya bungkam walau hanya sesaat. Situasi ini terlalu memalukan untuk terus dilanjutkan. Kelvin pun sedikit tenang dan melaju lambat di belakang motor Gagah.

Akhirnya, kami pun tiba di deoan kostanku. Aku bergegas turun, dan Kelvin pun bergegas memarkir motor seadanya dan menghampiriku.

“Lia…” tanpa ba-bi-bu lagi, Kelvin pun memeluku dari depan. Pelukan yang sama sekali tidak memberikan rasa aman dan cenderung sangat bertenaga sehingga membuatku sulit bernapas.

“Apaan sih! Lepasin! Aku gak bisa nafas Vin!” dia tidak melepasnya, hanya melonggorkan sedikit pelukkannya.

“Lia…Tolong kasih aku kesempatan…Aku gak bisa apa-apa kalo gak ada kamu…” Kelvin membisikan ucapan yang penuh lirih di samping telingaku. Sedikit membuatku tertegun, namun hatiku sudah terlanjur membatu..

“Gak usah drama gini deh! Lepasiiiin! Lepasiiin!” tak ada yang bisa kulakukan selain berontak. Sayang, tubuh Kelvin memang atletis dan besar―sehingga membuat usahaku untuk melepaskan diri darinya bagaikan mimpi di siang bolong.

“Sori Bang, jangan diapa-apain tuh Bu Irka. Kasian udah nangis-nangis gitu.” Gagah nampak datang memasang ekspresi yang terlihat sedikit cemburu. Dia mencoba melepaskan Kelvin dari belakang, sehingga aku dapat melihat raut mukanya yang tak karuan.

Kelvin mulai melepaskanku, dia nampak sedikit terpancing dengan omongan Gagah dan kelvin pun berbalik arah.

“Lo balik sono! Ngapain ikut campur urusan kita? Gue cowoknya! Lo mau ribut ama gua?”

“Kalo ada masalah kan bisa diobrolin baik-baik Bang! Kasihan itu Bu Irka ampe nangis-nangis gitu!”

“Bacot anjing!”

*BRUGGHH! BRUUGH! BRUGHH!*

Gagah yang proporsi tubuhnya memang lebih kecil dari Kelvin pun dipukul oleh kepalan tangan Kelvin yang makin membabi buta. Pertama bersarang di muka dan dia tersungkur. Kedua dan selanjutnya, Kelvin mendudukinya sambil meninju wajahnya dalam rangkaian pengulangan.

“Jangan! Jangan Vin, udah lepasin!” Aku terpaksa memeluknya dari belakang. Bukan demi persaan cinta atau sayang, namun sekedar ingin menyudahi penderitaan Gagah. Kelvin pun berhenti menyalang dan beranjak dari tubuh Gagah yang wajahnya sudah babak belur, bonyok, dan berias darah.

Tak ada yang melerai, suasana kompleks ibu kota memang agak renggang di jam yang masih tergolong dalam masa jam kantoran. Penghuni kost masih banyak yang bekerja, dan rata-rata mereka tidak bekerja di area dekat konferensi G-69. Penjaga kost dan beberapa warga pun hanya menonton adegan ini, layaknya mereka haus akan hiburan dan tak ingin acara panggung bubar.

Gagah nampak berusaha berdiri. Aku tidak berusaha menolongnya dengan pertimbangan: menjaga amarah Kelvin yang mungkin bakal bertindak lebih tak waras jika melihatku berusaha menolongnya. Akhirnya, Gagah pun berhasil berdiri sambil berusaha mengusap luka-luka yang sudah menghiasi wajahnya.

“Gah, maaf banget yah buat hari ini…Udah, kamu pulang aja. Aku gak apa-apa kok…” bohong, aku berbohong, demi kebaikannya. Tapi, tolong Gah, jangan pergi! Kumohon jangan pergi dan tolong lindungi aku! Pandang aku! Tolong ngerti isyaratku!

“Ia Bu, gak apa-apa. Pamit Bu…” I knew it! Dia emang keliatan jealous banget daritadi. Apa mungkin gara-gara kejadian semalem―dia jadi ada sedikit rasa? Kalo emang niat nolong, pastinya kamu ngerti dan gak akan ninggalin aku dalam kondisi gini! Gah, please don’t go!

Yang aku harapkan pun tak terjadi. Gagah pergi berselang beberapa menit setelah ucapan perpisahannya terlontar dengan datar. Gagah pergi, meninggalkan adegan di panggung berbelit yang menjadikanku dan Kelvin beradu dalam satu pentas. Pentas yang memuakan, pentas yang memalukan, pentas yang menjengkelkan…

“Vin, seharusnya gak kayak gini kalo kamu mau meet up…”

“Aku udah bersabar cukup lama Lia! Kamu tuh udah ngehindar dari aku terlalu lama! Aku cuman minta kesempatan buat ngejelasin semuanya ke kamu! Tolonglah Lia! Aku sayang banget sama kamu!”

“Ngejelasin apa Vin? Semuanya udah jelas banget di depan mata! Buktinya juga masih aku simpen! Kamu selingkuh, aku gak terima, titik!”

“Udahlah Lia, gak usah muna! Kamu pikir aku gak nyari info tentang kamu yang selama ini udah berubah? Aku tau kamu pacaran sama yang namanya Ronggo pas habis putus dariku! Aku tau Ronggo juga udah berkeluarga! Kita sama Lia! Mendingan sekarang ayo kita lupain semua masa lalu kita dan mulai lagi dari awal! Cuman kita berdua Lia!”

Aku benar-benar terbakar, terbakar atas pembenaran Kelvin yang mencoba mensejajarkan dirinya dengan diriku! Aku gak mau nerima kenyataan itu!

Alangkah hebatnya bila cara ngusir yang Mbak lakukan ke saya bisa juga Mbak aplikasikan ke si Kelvin. Mbak cukup berani membela diri Mbak secara verbal di depan saya. Sekarang pertanyaanya: apakah Mbak berani melakukan hal yang sama atau lebih tegas kepada Kelvin?”

Terbesit perkataan Jat yang pernah mengalir lirih di telingaku. Yang berusaha mengejekku karena selalu menghindar dari kejaran Kelvin. Yah, mungkin ini saatnya aku melepas dan mengakhiri lembaran hidupku dan Kelvin dengan lebih lantang.

“Sama? Kita sama? Kamu gak mikir apa? Sedikitpun gak mikir kalo aku ini berubah jadi gini gara-gara kamu! Emang aku pernah selingkuh, gonta-ganti pasangan pas sebelum kamu nyakitin aku? Waktu kita pacaran, kamu gak sadar apa aku berusaha ngebiayain kamu itu sebagai bentuk perhatianku sama kamu yang nuduh aku kurang perhatian sama kamu! Terus apa yang aku dapet dari pengorbanan itu? Kamu malah selingkuh ama mantan kamu dan nuduh aku kurang perhatian!”

“Ok fine! Aku salah! Waktu itu aku khilaf! Tapi Lia, bukankah dengan bentuk perselingkuhanmu itu secara gak langsung emang kamu rindu dengan sosok aku? Kamu kehilangan sosok aku dan berusaha untuk jadi aku, ia kan? Tolong Lia, atas dasar itu aku tuh ngejer-ngejer kamu! Aku ngerasa punya beban tanggung jawab untuk balikin kamu ke kondisi semula! Tolong ngertiin aku Lia, kasih aku kesempatan dan kasih diri kamu kesempatan untuk berubah! I-i really love you!

Hilang sebab, hilang juga akibat. ‘Sebab’ terkadang terselimuti misteri yang akan menarik garis batas antara ilmu dan opini. ‘Akibat’ penuh dengan kontradiksi yang akan menarik garis batas antara hukuman dan keadilan.”

Benteng opini yang dibangun oleh Kelvin pun ditimpali oleh perkataan Jat yang tiba-tiba saja terngiang di pikiranku. Opini akan traumaku, berbanding dengan ilmu yang dapat menunjang kemandirian perempuan yang dapat melepas kondisi-kondisi dari dominasi sebagian lelaki yang ingin terus mengeksploitasi. Yang mana fitrah? yang mana anugerah? Mana yang membangun? Mana yang menimbun?

“Maaf Vin, aku udah gak bisa percaya lagi sama omonganmu. Mungkin bisa jadi bener apa yang kamu bicarain, tapi bukan itu yang aku butuhin. Yang aku butuhin sekarang mungkin bukan cowok yang siap sedia siaga buat hidup demi aku. Dengan atau tanpa cowok, aku mau jadi seorang perempuan yang hidup jadi lebih bahagia, terutama buat diriku sendiri dan orang yang ada di sekitarku. Kebahagiaan yang bukan terlahir dari luka dan penderitaan orang lain…”

Air mataku tak terkontrol, kata-kataku mengalir beriringan dengan perasaan terdalam dari lubuk hatiku.

“Lia, aku bakal dukung kamu kalo emang kamu mau jadi kayak gitu. Tapi, izinkan aku tetep sama kamu yah pas kamu coba jalanin itu. And please Lia! Kebahagiaan yang gak lahir dari penderitaan dan luka orang lain? Hal kayak gitu tuh gak mungkin terjadi Lia! Pasti selalu ada yang tersakiti, seperti pas kamu nolak aku bertemu aku dengan klaim kamu bakal coba lebih  berbahagia.”

“Mungkin emang gak mungkin, tapi mungkin aja bisa kalau kita terus mencobanya. Untuk sekarang, mungkin aku pengen coba meminimalkan orang-orang yang tersakiti saat aku coba ngeraih kebahagiaanku. Dimensi kebahagiaan dan kebenaran itu berlapis-lapis Vin. Tapi esensi sejati dari kedua hal itu pasti ada.”

“Kamu udah stalking-stalking aku kan? Udah tau kondisi aku kayak gimana? Tiap orang yang aku sakiti, aku selalu nyalahin kamu, padahal aku sadar bahwa itu tindakan aku sendiri yang didasarkan dengan sikap kamu yang dulu pernah mainin aku. Aku mau minta maaf akan hal itu, dan mulai sekarang aku mau bilang bahwa semua yang pernah jadi korban dari affairs-ku adalah murni tindakanku sendiri. Sekarang, aku cuman mau minta tolong kamu ngelakuin hal yang sama ke diri kamu Vin.”

“Aku….” Kelvin terdiam dan tak mampu melanjutkan rangkaian kata yang coba ia susun.

I’m not the one….Kamu mungkin bakal nemuin orang yang bisa bikin kamu lebih baik, tapi untuk sekarang, itu bukan aku.”

“Liiaaaaaaa!!!!!” lengannya bergerak, mengambil ancang-ancang untuk mengancamku, suaranya mulai kembali ke kondisi ketika ia melepaskan kebrutalannya di depan Gagah baru-baru ini.

“Pukul Vin! Pukul! Tampar! Hina aku! Jatohin! Bunuh aku sekalian! Tapi inget: kalau aku berhasil selamat dan bangkit dari semua ini, jangan pernah ulurin lagi tangan kamu untuk bantu aku. Jangan pernah lagi menampakkan diri kamu di depan aku yang sedang berusaha bangkit. Aku bakal lebih kuat dari hari ini!”

*PLAK*

Satu tamparan, satu ayunan, satu hempasan yang mendaratkan tubuhku pada kasarnya aspal panas ibu kota. Nampaknya Kelvin lebih memilih untuk menyakitiku daripada berdamai dengan kenyataan.

“PELACUR!”

Kata-kata khas pria yang tak menyadiri betapa nista kelakuan kelaminnya. Merasa dirinya Arjuna yang malah menjadi tidak terima Drupadi dijadikan istri oleh para Pandawa dan lupa akan tabiat buruknya. Layaknya suami dari Medea yang menuduh Medea sebagai penyihir ketika suaminya berselingkuh.

Aku selalu berada di sampingmu, namun aku bakal selalu berada selangkah di belakangmu.

Pengetahuan ini? Ucapan-ucapan dalam pikiranku ini? Kenapa aku merasa dekat dengan seseorang dan memiliki pengetahuan yang sama dengan seseorang yang kemarin aku usir di tengah malam?

Nampaknya Kelvin sudah beranjak pergi dari sini. Sosoknya sudah hilang, digantikan kepulan asap dan suara bising dari knalpot motornya. Rasa sakit yang Kelvin torehkan tidak begitu terasa karena aku sedang memikirkan seseorang yang seolah-olah merasuk dalam relung batinku.

Kenapa tiba-tiba aku merasa berpikir seperti Jat? Apakah Jat memang selama ini terus berada di sampingku? Siapa sebenarnya Jat?

Sambil diselimuti pertanyaan, aku menggiring raga yang sedari tadi dipermalukan ini melangkah menuju ambang pintu kamar kostku. Rasa sakit ini kulupakan, pikiranku mengawang-awang, perasaanku mengambang dalam bayang-bayang Jat.

Aku ingin menemuinya, bukan untuk memilikinya―namun untuk bertanya: kenapa tiba-tiba aku merasa kamu sangat dekat dan hidup dalam diriku?

(Bersambung ke bagian VII)