DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terkandung bahasa yang cenderung vulgar dan sarkastik. Tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak bermaksud mendiskreditkan kepercayaan, agama, ras, suku, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan kepercayaan, agama, ras, suku dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita yang semata-mata ingin mencoba menggambarkan kondisi sebagian kelas pekerja, terutama perempuan yang berkarir di Indonesia berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi penulis. Beberapa kejadian sejarah diambil dari kisah nyata sejarah Indonesia. Tujuan utama cerita ini adalah prokreasi dan proses berkesenian, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi. Dilarang keras mengatasnamakan suatu aksi dengan dalih meniru adegan dalam cerita ini.

Side Story: Ketika Imlek Menjelang

16 Februari 2018, rata-rata orang yang harusnya bekerja dan yang bersekolah hari ini menikmati long weekend. Hal itu tentunya tidak menimpa diriku yang bekerja di sebuah perusahaan retail. Karena tentu saja pusat perbelanjaan bakal diserbu pengunjung ketika hari libur. Bayangkan saja kalau aku orang seperti aku dapat jatah libur? Siapa yang bakal melayani perjalanan wisata belanja mereka?

Menurut pengalamanku, semua pengorbanan kami sebagai pekerja tak selamanya di balas manis oleh konsumen. Masih ada aja yang suka complain gak jelas dan terkadang crew yang aku bawahi pun kena labrak. Tentunya waktu masih supervisor, aku yang berikutnya mereka jadikan kambing hitam. Jadi, mereka jarang sekali berterima kasih pada kami-kami yang tidak menikmati longweekend ini. Itulah ramalan yang bakal kuhadapi hari ini, walo hari ini akan bekerja sebagai manager pun pasti gak jauh beda.

Aku sudah rapih berdandan, dan sedang bersiap-siap menuju tempat gawe. Aku harus bersiap 1 jam sebelum waktu shift-ku karena jalanan ibu kota itu macet, apalagi di musim liburan gini! Topeng make up terpasang rapih, atribut-atribut kantor sudah pada tempatnya, lalu latihan menyiapkan senyum palsu di depan kaca.

Sebelum aku memulas lipstik, aku menyalakan sebatang rokok Ezze favoritku. Jangan biarkan aku gila terlalu dini wahai kepulan asap dan secercak cahaya dalam bara mungil.

“Weitss, udah rapih nih Mbak! Siap-siap gawe?”

Seonggok manusia yang mempermalukanku ketika terakhir kali kami bertemu pun kembali datang. Tetap tanpa diundang tentunya. Aku tidak pernah memberikan alamatku tapi si Tuan Nyebelin ini sudah ada di depan pintu kamar kostku yang baru saja kubuka agar diriku tak pengap termakan asap. Inikah special ability yang dia gembar-gemborkan?

“Hai…” Dengan cemberut aku menyapanya.

“Hai Bu Lia, gak ikutan libur imlek?”

Dengan seenak jidat, dia memanggilku dengan nama itu, deket aja kagak.

“Gak, gue ada shift siang. Ngapain kamu ke sini? Mau ceramahin gue karena ngerokok lagi?” Akupun mulai berbicara tanpa adanya batas hormat.

“Justru saya yang mau memberikan kesempatan pada Bu Lia untuk bertanya…”

“Kamu mau gue nanya apaan? Nanya kamu jomblo apa kagak?”

“Selir saya banyak kayak raja-raja jawa.”

“Trus bangga? Mau jadiin gue selir juga gitu?”

“Becanda Bu, sama sekali enggak. Mau ngomongin sejarah dan kearifan Timur Bu..mumpung Sincia.”

“Apaan tuh Sincia?”

“Nama lain dari Imlek Bu..”

“Lah gue gak libur juga hari ini, bakal sibuk gawe, bahkan nikmatin ‘tanggal merah’-nya aja gue gak bisa…”

“Hahaha, tetep aja masih bisa belajar banyak dari hal itu Bu! Masih inget kan waktu beberapa hari yang lalu kita ketemu? Bu Lia merayakan kenaikan pangkat secara diam-diam?”

“Ya, terus?”

“Waktu di kafe itu, Bu Lia itu ibarat seseorang yang merayakan Imlek waktu Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tertanggal 6 Desember 1967 masih berlaku. Waktu itu rezim Orde Baru melarang komunitas-komunitas yang ingin merayakan Imlek secara terang-terangan dan bebas.”

“Alasannya?”

“Politik Identitas mungkin? Cari sumber yang lebih ‘primer’ aja Bu kalo mau belajar, inimah ngomongin ‘permukaan’.”

“Gue gak tertarik ama hal yang berbau politik.”

“Saya ngomongin sejarah Bu, politiknya kan selingan. Bu Lia tuh harus merebut kebebasan Ibu sebagai person layaknya Gus Dur mencabut tuh Inpres dengan mencanangkan Kepres Nomor 6 Tahun 2000 tertanggal 17 Januari 2000! Waktu itu emang belum jadi libur nasional, tapi orang-orang jadi lebih bebas merayakan Imlek!”

Seperti biasa, peribahasanya sulit dimengerti, tapi kayaknya dia gak punya maksud jahat sih. Mau sok-sok motivasi hidupku kali…

“Kenapa gak ngurusin hidup kamu sendiri? Terus lu pikir gampang ngelakuin itu semua?”

“Karena saya ngurusin hidup saya sendirilah saya ngomong sama Bu Lia! Memang gak gampang Bu, terlebih lagi sebagai perempuan dalam suasana tatanan patriarkis!”

Anjirtlah, ngomongnya blibet amat! Blepotan! Tambah gak ngerti!

“Kamu ngejawab tapi jawabannya malah bikin pertanyaan baru, aneh tau! Terus apaan lagi maksud kamu bawa-bawa perempuan?”

“Karena hari libur nasional ini lahir dari tangan seorang perempuan! Presiden ke-5 Indonesia, sekaligus Presiden Pertama perempuan di Indonesia: Ibu Megawati Soekarnoputri! Beliaulah yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional pada tahun 2003!”

“Ok Bapak Kamus! Siapa Presiden Perempuan Pertama di Iceland?” Aku asal nyerocos, habisnya pengen banget liburan ke Iceland, kayaknya asik.

“Vigdís Finnbogadóttir, itu perempuan hebat! Diangkat jadi presiden walo statusnya janda beranak satu! Perempuan kuat walau mengurus anak sendirian!” Cepat sekali si Jat menjawab, seperti udah tau apa yang ada dalam pikiranku. Sialan nih orang!

“Trus, asal-usul penanggalan Cina yang berlambang binatang itu dari apa? Kan kalau gak salah sekarang tahun Anjing tuh dalam penanggalan Cina…”

“Konon, Sang Buddha memanggil semua hewan untuk memberikan penghormatan kepada beliau. Gak semua hewan dateng tuh, kenapa Ibu juga gak dateng?”

“Kamu kira gue hewan apa? Dasar kunyuk!”

“Hahaha, oke lanjut, jadi yang dateng cuman 12 ekor tuh; Tikus, Sapi, Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Kera, Ayam, Anjing, dan Babi. Sebagai bentuk penghargaan, nama ke-12 binatang tersebut dijadikan siklus penanggalan.”

“Jadi apa itu kebahagiaan?” Aku memang sedikit termenung dan sedikit meresapi semua yang ia bicarakan. Aku langsung main tembak saja, berniat mengakhiri pembicaraan. Sehabis merokok, aku harus langsung siap-siap berangkat kerja.

“Dalam Feng Shui, ada yang dina..”

“Stop! Gue…”

Feng Shui bukan agama, woles Bu, feng shui itu keselerasan hidup dengan lingkungan sekitarnya.”

“Yaudah buruan, gue mau gawe bentar lagi…gue cabut yah abis sebat?”

“Oke, di Feng Shui, ada istilah tien chai alias keberuntungan dari Surga, ti chai alias keberuntungan dari Bumi, dan ren chai keberuntungan dari Manusia. Saya ini ren chai kali ya Bu? Hehehehe..”

“Berisik, buruan lanjut!”

“Ibu ga bisa ngendaliin keberuntungan surgawi, hal itu sudah baku. Tapi Bu Lia bisa dan HARUS mengendalikan keberuntungan bumi dan keberuntungan manusia. Panggil keberuntungan dari bumi dan Ibu bisa menyeimbangkan apa yang kurang dari keberuntungan surgawi dan cara terbaik bagi Ibu untuk mengendalikan keberuntungan manusia milik Ibu adalah dengan bekerja keras, tabah, dan jangan mau terlalu diatur laki-laki secara serampangan kalo bagi perempuan! Laki-laki juga harusnya mikir sih untuk poin yang terakhir!”

Apa yang dia bilang emang mungkin ada benernya sih, terus gue gak disuruh nyembah ini itu pas dia ngomong gitu, ya emang masuk akal.

“Ibu masih ceroboh dan malas dalam beberapa hal, bukan ngomongin kerjaan nih ya? Ngertikan? Ceroboh dan malas adalah hal yang membuat feng shui terbaaaik pun jadi wasted! Bahkan Sheng Chi paling kuat pun akan menguap atau diam di tengah negativisme dan kemalasan!”

Sheng Chi? Apaan lagi tuh?”

“Hahahaha, cari aja sendiri Buu, tanya Mbah Google!”

Bara rokok sudah mendekati filter, waktu sudah menunjukan bahwa diriku berada di ambang ketelatan!

“Ntar disambung lagi dah! Gue udah telat! Tuh kan gara-gara kamu gue bisa dicap males nih sama Bos!”

“Yooo”

Aku keluar kamar kostku, mengunci pintunya rapat-rapat, dan membuang puntung rokok di depan kamar lalu kuinjak dengan high heels-ku. Aku bener-bener udah gak ada waktu lagi untuk mempedulikan si Jat, aku harus pergi sebelum kemacetan melumat…


Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakan! (penulis)