Leopard Kampus adalah novel ke-6 racikan Rendy Adiwilaga yang mengambil latar belakang sisi lain kehidupan perkuliahan di kota Bandung. Bila kalian telah membaca ulasan Mengapa Dina? sebelumnya, mungkin kalian tidak akan terlalu kaget dengan isi novel ini.

Leopard Kampus
(dokumentasi penulis)

Rendy pun tetap hadir dengan trademark-nya! Meluncurkan buku tanpa ISBN, tidak beredar di toko buku, dan hak ciptanya hanya dilindungi Sang Maha Transenden.

Leopard Kampus
(dokumentasi penulis)

Tapi tenang, dengan segala keabsenan itu, Rendy tetap akan menemani kalian dengan jurus nulis yang terkadang membuat kalian tersenyum tipis, meringis, dan terbawa dalam alur ritme ritmis.

Mengambil latar belakang Bandung pada tahun 2010, diceritakan hiduplah Bintang Timur, sang protagonis, mahasiswa baru jurusan sejarah Universitas Padjajaran. Untung saja namanya bukan Bintang Merah, mungkin kalau yang komunistophobia bakal langsung memboikot buku ini secara selengean karena Bintang Merah adalah majalah yang berafiliasi dengan PKI.

Dalam babak pertama Leopard Kampus, Bintang Timur atau kerap disebut Timur alias Mur harus menghadapi absurdnya seremoni masa orientasi mahasiswa yang kental dengan senioritas.

Disinilah Timur bertemu dengan Che, si gadis populer kala SMA, mantan anggota cheerleader. Che alias Saskia Eleanor Chantika yang dalam persepsi Timur, tak lain dan tak bukan adalah fantasi seks para gamer pelajar yang cuman hadir di sekolah ketika cheers pentas (sisanya bolos, begadang, dan paket malam).

Mereka berdua pun akhirnya berteman, walau nampaknya Che berusaha menjadi gadis yang baik, tapi Timur tetap menilai Che dari kulit luarnya. Setelah babak orientasi siswa yang menyebalkan berjalan, akhirnya Timur terpaksa menemani Che untuk mencari kostan.

Akhirnya, merekapun menemukan kostan yang cocok. Namun, ternyata isi kostan itu penuh dengan para senior kampus seperti Omar jurusan filsafat angkatan 2006 yang lebih dikenal dengan dewa (rusuh) filsafat, Asep jurusan sastra Arab angkatan 2009, Kevin jurusan geologi angkatan 2009, dan juga Jojo jurusan kedokteran angkatan 2008.

Garis besar novel ini adalah dinamika kehidupan dari sekumpulan anak kuliahan yang tinggal di kostan itu. Ada Che yang siap menelan kepalsuan hidup, ada Omar si tukang rusuh dan disegani di kampus, ada Asep yang terkadang bijak dan terkadang sengak, ada Kevin si playboy kampus yang doyan nidurin gadis-gadis terbaik UNPAD, dan ada Jojo yang memiliki Anima yang terlalu kuat dalam tubuh gantengnya yang menjadikan Jojo seorang gay.

Melalui penuturan Timur, para pembaca akan mengarungi bermacam kenyataan telanjang kehidupan yang menerpa anak kuliahan. Mulai dari keabsurdan ospek kuliahan, senioritas, percintaan, perkelahian, cara menasehati anak kecil tentang arti kedewasaan, kesetiakawanan, bahkan pengkhianatan.

Oh iya, satu lagi, kalau kalian telah membaca Mengapa Dina? sebelumnya, kalian akan bertemu Ted Ferdison sang guru eksentrik dan muridnya yang kebetulan masuk UNPAD bernama Mona Sofia Asmarandana.

Diam-diam Timur itu menyukai Mona, dan memodusi Mona dengan pembahasan filsafat eksistensialisme Soren Kierkegaard, dekonstruksi Jacques Derrida, sejarah nusantara dan pemerintahan neolib.

Novel ini ingin menunjukkan cara bahwa untuk mendekati perempuan tak melulu memakai rayuan, tapi bisa juga dengan pengetahuan.

Kalian tak akan dapat menyimpulkan siapa itu Leopard Kampus yang dimaksud dari judul novel ini sebelum menyentuh babak akhir dari cerita.

Segitu dulu ya spoiler-nya para rekan Virtual Verbal, kalau diceritain secara lebih gamblang, ntar malah pada makin males baca buku. Kasian si Rendy makin gak ada pemasukkan dari perbukuan.’

Yang Asli dalam Semifiksi

Kalau novel ini boleh dibilang semifiksi, ada beberapa hal yang asli dalam novel ini, terutama dari dimensi lokasi. UNPAD yang bukan kampus fiktif, menyaksikan perselisihan sesama jenis di restoran Verde, sampai penyebutan Calais PVJ dan Golden Monkey sebagai sarang-sarang berkegiatan muda-mudi gaul. Semua lokasi ada di kota Bandung, yang menjadi latar belakang cerita novel ini.

Selain dimensi lokasi, novel ini pun seperti memberi rekomendasi film yang asli, seperti The Lady yang menceritakan Aung San Suu Kyi dan juga Taken yang Liam Neeson bintangi.

Lantunan deskripsi lirik Morrisey pun digunakan untuk mendiskripsikan kehidupan gay yang dialami Jojo, intinya serba sulit dan berbelit. Sama rumitnya dengan peristiwa Soddom dan Gommorah ataupun peristiwa kota Pompei dan ledakan gunung Vesuvius.

Kekuatan dari Percakapan

“Eh Che, kelinci, loncat sana loncat sini, umurnya 8 tahun, anjing, loncat sana loncat sini, umurnya 15 tahun. Sekarang liat kura-kura…”

“Kenapa jadi ke kura-kura?”

Doing Nothing, 150 tahun, artinya kan.. Malas pangkal panjang umur” ― Leopard Kampus, halaman 33-34

Ciri khas dari Rendy adalah bacotan-bacotan dalam percakapan yang kental dengan kondisi kenyataan. Percakapan yang mengambil latar belakang kehidupan urban anak kuliahan kota Bandung pun disuguhkan mendekati kenyataan. Bahasa Indonesia, Sunda, Inggris, Arab pun bermutasi, seakan saling melengkapi, mendekati percakapan muda-mudi Bandung kini.

“SUNDAY MORNING RAIN IS FALLING!”

“Ini senin dan udah malem goblog!”

“Kumaha aing we seblak! geus maneh nu nyanyi tu anying lah!”

“Asep Levine lagi cape, ngerti dong!” ― Leopard Kampus, halaman 16

Pegulatan Psikologis Sang Protagonis

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai penutur cerita, berbeda dengan novel Mengapa Dina? yang menggunakan sudut pandang orang ketiga sebagai penutur cerita.

Karena narasi Bintang Timur dituturkan dalam sudut pandang orang pertama, kita bisa bayangkan potret-potret kehidupan anak perkuliahan dari yang gelap sampai yang terang melalui sudut pandang pelaku.

Dampaknya, pergulatan psikologis seorang pemuda bersama relasi-relasinya dapat lebih membekas di pikiran para pembaca. Amarah Timur saat mengalami teror dari senior, ketidakpekaan Timur terhadap ketulusan yang Che berikan, keangkuhan Timur mengenai suatu konsep percintaan alami yang ujungnya malah jadi duri, keputusasaan Timur ketika menghadapi masalah ekonomi, semuanya tersaji untuk merangsang imajinasi.

Akhirulkalam

Seperti apa yang dituliskan di sampul belakang Leopard Kampus. Novel ini bukanlah kisah tentang lika-liku kampus yang membicarakan dinamika organisasi, persaingan pemilihan presiden BEM, apalagi perjuangan suatu angkatan untuk menurunkan rektor melalui demo besar-besaran dalam bentuk gerakan sosial.

Novel ini ingin lebih melukiskan isi jeroan otak para mahasiswa dan kehidupan di kampus dan lingkungan mereka. Mengajak pembaca yang pernah kuliah untuk mengenang kehidupan kampus, dan mengajak pembaca yang belum atau tidak berkesempatan untuk kuliah turut meraskan potret-potret kehidupan perkuliahan remaja urban.

Coretan-coretan Rendy Adiwilaga mungkin memang belum masuk ke hati dan sanubari kalian, karena kalau dalam masalah pemasaran, Rendy menolak segala bentuk pembelian secara formalitas. Diumurnya yang masih kepala 2, dia telah berhasil menerbitkan 6 buah novel dan 1 buah kumpulan cerpen dengan jalan independen.

Dengan cara ini, dia bisa menekan biaya produksi, harga buku-bukunya pun jauh lebih murah daripada novel-novel yang ada di toko buku. Nampaknya penulis yang juga berprofesi sebagai dosen ini memang benar-benar ingin memanjakkan para penggemar sastra.

Itu baru spekulasi, lebih baik aslinya kalian cari tahu sendiri!’

Yang berminat memesan dan membaca dapat menghubungi Rendy di:

rendyadiwilaga@gmail.com