DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terdapat bahasa yang cenderung vulgar dan tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur di bawah 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak bermaksud untuk memojokkan salah satu agama, suku, ras, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan agama, suku, ras, dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita agar mendekati bahasa dan keseharian sebagian remaja urban di Indonesia yang bersumber dari pengalaman pribadi penulis. Sebagian nama gim dalam cerita diambil dari kehidupan nyata, sebagiannya dideformasi. Tujuan utama cerita ini adalah prokreasi, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi. Dilarang keras mengatasnamakan sebuah aksi dengan dalih meniru adegan yang ada dalam cerita ini.

“Jer, jangan ngomong yang berat-beratlah. Idup aja udah berat su!” Aku protes lagi.

“Bah, katanya kau mahasiswa; agen perubahan, terpelajar, mercusuar dan penerang masa depan? Giliran si Genjer khotbah serius, kau malah banyak alasan. Kasian Mamak kau di rumah yang ngurusin kebutuhan kau! Terutama billing warnet!”

Kali ini giliran aku yang didakwa oleh Frans, tapi aku cuman senyam-senyum kayak orang habis kebanyakan makan dan kena dampak ‘kenyang bego’ alias gak bisa mikir gara-gara habis makan.

Ku urang bere contohna ogekalem moal matak lieur..”

“Jangan kebanyakan pake Sunda Mang Genjer, kalo yang umum-umum kayak ngewe, ngebol, sama ngijut mah gapapa. Kalo itu, semua yang ada di warnet juga tau kalo kurang-lebih artinya ngentot! Nyampur kata Sunda yang gampang aja ya? Maneh ngomong ke Rachel juga bisa Inggrisan doang!”

Ya…ya.. Emang kami semua lagi berdiri di tanah Sunda, jadinya kami harus mengerti bahasa Sunda. Tapi masalahnya emang yang Sunda di depan Warnet ini cuman si Genjer, anak-anak lainnya perantau. Tapi.. ah banyak tapinya sih, ntar dia pasti ngomong; di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung lagi.

“Nya sebenerna aing mau sekalian buka kursus bahasa Sunda buat kamu-kamu ini, jadi sengaja licik pake bahasa Sunda kitu. Bayarna make bitcoin ameh kekinian.”

“Krik..kriik…” Semua serempak mengejek Genjer dengan berusaha menirukan suara jangrik yang suaranya lebih terdengar mirip ‘krik-krik’ daripada suara jangkrik ori.

Nyaalah jokes receh. Yaudah, siaap coks! Jadi kieu, terlepas dari agama, kepercayaan, atau tradisi milik siapa, makna umum dari Valentine yang lebih kita kenal sekarang adalah Hari Kasih Sayang. Kegiatanana biasana pernyataan cinta, kencan, pacaran, atau second honeymoon kitulah

Bibir Genjer yang pecah-pecah pun kembali menghisap rokoknya sebelum melanjutkan. Setelah monyong-monyong buat bikin asap bentuk bulat, dia melanjutkan:

“Tapi liat sekarang? Makna-makna hari besar termasuk Valentine telah dieksploitasi oleh segelintir orang coks!”

“Oleh ?” Aku bertanya dengan perasaan acuh dalam hati.

“Oleh-oleh! Sale Pisang, Kripik Cireng, Kripik Pangsit, Bayem Goreng!”

“Hahahasu! Pantek! Serius dikit kau! Receh kali!” Frans yang sedari tadi khidmat nampak tertawa kecil dibarengi protes kecil pula.

“Wakakaka kaleum, selow, Prans! oleh banyak orang! Contoh kecilnya oleh game-game favorit kalian; rayakan momen palentin ini! Ekspresikan kasih sayangmu dengan beli itemall ini itu! Bla..bla..bla!”

“Kayak kau Jer; bela-belain bolos kuliah buat double exp dan double drop rate. Kau sendiri hanyut dimakan arus promosi!”

“Heh! Da aing mah tidak merayakan palentin Prans! Pleus aing ga membeli segala bentuk item virtual yang dijual di dalamnya, baik dengan atau tanpa events! Maneh gak tau penderitaan pemain MMO yang gak pernah sekalipun beli itemall dan RMT sih! Double exp dan double drop rate tuh butuh buat aing survive di dunia yang isinya dikuasai oleh pemain pay to win dan tukang beli gold in Erpe! Rata-rata mereka cuman kuat bayar, giliran mekanik, APM, PVP, sama strategi Bossing-nya goblog banget! Ibarat pamer kontol yang baru aja di serpis ke Mak Erot, didoping viagra, sama steroid paket kumplit!”

Dunia MMO memang hampir tidak ada bedanya sama hidup ini, apa yang dikatakan Genjer memang ada benarnya. Aku pernah mengamati dia bermain. Dia emang orang yang kalo dibaikin bakal baik banget dan kalau dijahatin bakal jadi buas kayak komodo yang menyerang warga setempat.

Aku pernah melihatnya menolong noobs menyelesaikan quest, memberi tips tempat farming/hunting, memberi perbandingan harga barang agar gak ditipu seller dan masih banyak lagi tanpa sedikitpun meminta balas budi. Waktu dungeon party, dia pernah bela-belain nge-kite boss selama berjam-jam karena party yang dia bawa isinya pemain-pemain cupu dan random semua, jadinya ibarat dia solo dungeon gitu sekaligus di-leech.

Aku juga pernah melihat ‘anak didiknya’ yang dia bimbing dari cupu hingga jago, dan ketika si cupu itu udah jago dan sombong plus lupa sama Genjer, dia langsung melabrak orang itu sampai tidak berbekas. Dia memang agak pendendam. Nyambung ngomong sama orang luar negeri karena wawasannya luas dan selalu ngebahas kondisi politik, terutama politik identitas dan isu rasial basi ala Trumph.

Dia jarang berteman sama players dari negaranya sendiri. Dengan alasan; banyak scammer, tukang modus, banyak hode, bela-belain jual mata uang di game in Erpe tapi equipnya rongsok, muka dua, dan suka bikin ribut di World Chat Inter dengan bahasa lokal yang menurutnya sangat mengganggu. Ditambah ‘anak didik’ yang kubilang barusan ternyata orang lokal.

“Tapi tuh katanya maen bareng Rachel, secara gak langsung berarti ikut merayakan Valentine doong?” Aku usil menjeda.

“Gak usah nunggu palentin kalo mau menghabiskan waktu maneh sama orang yang maneh anggep ‘berarti,’ gak usah munafik; sama kayak kita-kita yang gak usah nungguan pahala dan dosa untuk melakukan sesuatu yang salah ato bener. Karena kadang, bener dan salah gak ada artinya tanpa tau apa ‘sebab-akibat’ dibalik suatu keadaan yang kita anggap bener atau salah tersebut. Pra-kondisi Kausal!”

Ada jeda yang berkisar setengah batang rokok mild ketika si Genjer ngebacot. Semua nampak terdiam sambil merokok, minum, buka-buka Whaddup dan Binalgram di hape. Genjer sih! Kadang, bacotnya harus dimengerti dengan bantuan Eyang Google.

“Jadi, mungkin semacam makna ‘kasih sayang’ itu sendiri yang dieksploitasi di hari Valentine?”

Aku menebus keusilanku dengan mencoba ikut berpikir ‘sok kritis’.

“Baaah!? Wirooo! Tumben kau mikir lurus? Ngeri kali!”

“Kalo teu salah, kata Freud mah alam bawah sadarnya mulai bereaksi.”

“Siapa lagi itu Freud?”

“Goblog! Smester kamari kan belajar coks! Matkul Psikologi Persepsi! Anak Fikom karbitan maneh!”

“Freud Tang rasa jeruk? Lanjuutlah Jer! Lupa coy!”

“Mungkin, ada benerna statement si Wiro; ekspresi-ekspresi manusia yang mengandung nilai positip sering disalahartikan atau digiring menjauhi nilai positip itu sendiri. Emang nilai positip itu berkembang dinamis, tapi kadang nilai positip itu sengaja dirancang sedinamis mungkin demi keuntungan segelinir pihak tanpa opini penyeimbangnya! Ibarat dagang obat, tapi gak dikasih tau apa efek sampingnya! Kalaupun aya, itu juga gak balance, kayak kolom ‘syarat dan ketentuan’ di papan iklan yang kecil mirip kontol saha?”

“@#!(&#!(!#!#(&%!#” Jelas, ekspresi saling tuduh yang sangat sulit dideskripsikan nge-crot keluar.

Lagi-lagi, gelak tawa nyaring dan saling menuduh. Kalo yang terjebak dan menjawab pertanyaan itu dengan menuduh kontol ‘si anu,’ maka orang malang itu telah dijebak dan dibilang pernah mengoral kontol ‘si anu’. Genjer dengan bangga memperkenalkan jebakan itu dengan julukan; Zhu Ge Liang’s Trap.

(Bersambung ke bagian III)


Tentang Ilustrator: Seorang fresh graduate dari jurusan desain. Tugas Akhir dia adalah membikin buku ilustrasi anak-anak tentang pamali atau yang lebih dikenal dengan tabu dalam perspektif kebudayaan Sunda. Benci gaya gambar manga serta dosen muda dan gemar gaya gambar kartun Prancis. Pernah mengikuti lomba menggambar sketsa yang diadakan oleh Faber-Castel dengan membuat sketsa manusia Sunda dengan balon kata bertuliskan “Gandeng Anjing!” saat perlombaan. Tentunya dia tidak juara.