DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terdapat bahasa yang cenderung vulgar dan tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur di bawah 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak bermaksud untuk memojokkan salah satu agama, suku, ras, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan agama, suku, ras, dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita agar mendekati bahasa dan keseharian sebagian remaja urban di Indonesia yang bersumber dari pengalaman pribadi penulis. Sebagian nama gim dalam cerita diambil dari kehidupan nyata, sebagiannya dideformasi. Tujuan utama cerita ini adalah prokreasi, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi. Dilarang keras mengatasnamakan sebuah aksi dengan dalih meniru adegan yang ada dalam cerita ini.

“Daaah…udah! Agak di-‘rem’ dulu becandaannya. Balik lagi, ada benernya tuh apa yang dibilang ama si Gen dan Wira.”

Om Epul kembali menengahi pembicaraan yang kian ekstrim ini, ngisep vape, dan nampak ingin melanjutnya obrolan:

“Kasus ginian emang bisa kita seret kemana aja. Hampir di semua hari besar. Di negeri ini banyak contohnya; lebaran yang makna polosannya adalah kembali ke kondisi suci, kenyataanya sekarang malah ucapan maaf yang lebih sekedar seremonial dan ajang promosi iklan sirop dll. Sisanya? Diskon lebaran, makan ketupat, dan lalu mudik; isinya kadang berputar-putar nanya ‘kapan lulus?’ trus ‘kerja apa? ‘trus kapan nikah?’. Pertanyaan kayak gini rata-rata menyinggung  privasi seseorang. Apalagi, ketika orang yang bertanya langsung ngebanding-bandingin dengan status pendidikan, pangkat, dan status perkawinan mereka.”

“Gue paling sensitif masalah ginian! Kadang mereka lupa, ato kita juga lupa bahwa pernikahan di jaman sekarang bukan cuman perkara ngehalalin seseorang buat dikentot!”

Om Epul terlihat sedikit emosional untuk yang satu ini. Konon, dia tipe pria setia dan telah banyak menghadapi ‘asam-manis’ dalam menjalin hubungan. Dari ditinggal gara-gara lulusnya kelamaan, sampai diselingkuhin ketika dirinya sedang menabung buat ‘tetek bengek’ rencana pernikahan. Dia pemalu kalo sama cewek, juga gak berani ‘macem-macem,’ dan konon pun masih perjaka; suatu kondisi yang langka di jaman sekarang bagi orang seumuran dia.

“Orang-orang itu kadang gak sadar atau emang kena amnesia akut! Mereka lupa, bagi orang kayak gue yang bener-bener kerja dari nol;tanpa warisan dan tanpa bantuan orang tua harus mikirin yang namanya Kredit Kepemilikan Rumah, kredit mobil, asuransi pendidikan anak, sama ongkos hajatan!”

Antusiasme Om Epul makin beringas, dia tergolong pekerja kantoran yang memang sudah mapan namun tetap penuh perhitungan. Mungkin gara-gara trauma yang pernah dialami saat bangkrut-bangkrutnya dia di masa muda.

“Mau ngewe aja hese yah Om? Ditambah jargon-jargon yang kadang dilebay-lebaykan; macam laki-laki itu pemimpin dan perempuan itu ‘pelengkap’. Salah satu struktur nu ngajieun perempuan jadi pasif dalam meraih kemandirian ekonomi. Di North America, contohna Rachel malah gak suka sama yang gituan teh.  Cewek Bule makin rajin malah dalam meraih kemandirian ekonomi dan status pendidikan. Rachel gak pernah berandai-andai nemuin cowok kaya atau ‘mapan’ sambil berbaris dan berdandan. Kita ge pernah berandai-andai mun jadi sampe ke pelaminan, bagusnya rekening teh bikin 3: 1 pribadi buat penghasilan cowok, 1 pribadi buat penghasilan cewek, dan yang terakhir tabungan bersama yang didasarkan pada kebutuhan bersama.”

“Nah, ya betul itu Gen! Kesadaran-kesadaran seperti yang cewek lu pikirin itu belum jadi populer di sini! Yang terjadi di sini; rata-rata kalo lu mau ngawinin anak cewek, lu harus ‘kawinin’ ibu dan bapak mertua, gak lupa sekalian sama kakak dan adik ipar lu juga! Harusnya biaya perkawinan tuh bisa ditekan ke urusan yang lebih manfaat buat calon pengantin! Belum lagi pas pesta; lu duduk depan pelaminan pake kostum daerah yang cuma lu pake pas hari Kartini dan nikahan ditambah salaman sama ratusan orang yang belum tentu lu kenal! Kebebasan mengatur siapa yang diundang udah jatoh ke banyak pihak! Bukan pasangan yang menikah! Kalo gue pribadi mending yang kayak gitu di pake buat honeymoon keliling Eropa! Ato sekalian aja bikin sunatan massal gratis tuh biaya! Beneran dah guemah! Impian gue banget sih sebenernya kalo ntar gue emang bisa nikah, gue pengen nikahan yang sederhana, undangan cuman buat kerabat dekat, tapi dengan tabungan yang lebih dari cukup!”

“Keyeen euy Om! Eheem, jadi ‘kasih sayang’ aja gak pernah cukup! Makna-makna yang disimbolkan kayak cinta dan kasih sayang selalu ada di barisan depan! Makna lain kayak birahi, konsumsi, dan promosi selalu nyumput, bersembunyi! Bener teu?” Genjer nyeletuk tanpa dijawab oleh seorang pun.

“Kenapa gak dua-duanya aja Om? Nikah meriah sama kehidupan keluarga yang mewah?” Iqbal si tajir memberikan lose-lose solution.

Pantek kau Bal! Macam harta Bapak kau sudah kau kuasai! Ngeri kali bacot kau!”

“Jangan bapeeer, becandaa Frans! Seloow!” Iqbal nampaknya emang lagi ‘teler,’ matanya merah banget, dari awal gelagat  dia emang udah kayak yang habis ‘make’ meth mungkin?

“Becanda pala kau!” Frans nampak sedikit marah ketika topik yang suatu hari akan kami hadapi ini malah jadi bahan olok-olok Iqbal. Semua yang ngumpul di sini emang rata-rata anak-anak dari ‘pekerja kelas menengah’ kalau kata si Genjer. Cuman Iqbal yang ortu-nya tajir. Frans juga seorang perantau yang pernah di-stop biaya hidupnya oleh ortu-nya selama setahun gara-gara maen game mulu. Dia bertahan, dan kuliahnya mulai lancar lagi, kumpul cuman karena kangen anak-anak dan maen game cuman bentar.

Untuk mencairkan suasana, aku mencoba sedikit mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya beberapa hal pada Frans:

“Frans, kita kan di sini outsider-lah istilahnya…” Aku mencari kata-kata yang tepat karena masalah ginian lagi rame-ramenya jadi bibit konflik di negeri ini. Aku kemudian melanjutkan:

“Kalau cara lu pribadi memaknai Valentine dan Natal sendiri itu gimana?”

Awak sederhana saja; selebrasi bagi awak penting, asal esensi di balik hari-hari besar dan kesederhanaan tetap awak junjung tinggi.”

“Trus, pendapat lo tentang Chirstmas Eve dan Valentine yang kekinian? Yang ‘berlendir-lendir’ tanpa ikatan gitulah!” Aku bertanya makin to-the-point.

“Hahaha, awak tau maksut kau; kimpoi bebas? seks bebas?”

“Heuheuheu, enya eta Prans! Budaya pop lagi in pisan mempromosikan eta! Di tipi, novel, atawa internet. Malam Natal dan palentin teh deket pisan dengan ewean! Kalo kita mah emang mulutnya doang yang doyan bersetubuh, kalo kelakuannya mah gak gitu, kecuali Iqbal! Wakakakaaka!”

“Yo’i Frans, maksud gue; hubungan badan, aktif secara seksual, ngeseks, ngewe, ngentot, bersenggama, bersetubuh, penetrasi penis ke dalam vagina!” Aku berubah jadi kamus medioker dengan pengalaman mastrubasi sebagai prestasi seksualku yang tertinggi dan bokep sebagai referensi.

“Cukup! Awak gak peduli ama yang gituan dan emang gak semua dari kami terpengaruh sama yang gituan. Yang awak resapi perihal Valentine dan Natal adalah Valentinus memberontak pada penguasa lalim demi cinta, Kristus mengajarkan bahwa berkorban atas yang lain dan mendahulukan kepentingan orang lain adalah keutamaan hidup yang harus dipanggul semua orang.”

Nya emang keren pisanlah! Menelanjangi rejim despotik Romawi! Memberangus bankir-bankir tukang riba depan kuil!”

Omongan Frans dapat kami pahami, kalau Genjer.. ntarlah Googling!

“Apa lagi? Mau mendebat sama awak perihal polemik hari kelahiran? Polemik tiga versi dari Valentinus? Kenapa gak bahas fungsi ka’bah saat tradisi pagan pra-islam atau pra-samawi sekalian Bung Wiro? Bung Genjer?”

“Kereen maneh Prans, nteuuu Prans! Yang gituan mah harus diseret ke ranah akademik dan ilmiah kalau mau sehat. Kita mah sebatas digejala kekinian we! Kalo dibahas di sini mah jadi debat kusir Prans, delman wae udah jarang, gak ucah cari kusirlah! Macam keyboard warrior yang banyak di sosmed tea. Harus sekolah lagi, harus buka pikiran lagi, S-1 wae ncan dapet!”

Si Genjer, yang daritadi jongkok, langsung spontan uhuy berjalan mendekatu Frans dan menjabat tangannya dengan hangat.

Geusstop we sampe disitu bahas yang ini mah…ambil sisi positipna we yang negatip buat Iqbal! Bayangkeun jika semua umat manusia merayakan palentin, malem natal jiga Iqbal, yang tabiatna macem yang sering digrebek di kamar kostan atawa hotel pas bulan puasa! Pastina sensus populasi kematian bakal didominasi oleh AIDS, gonorea, jeung raja singa alias sipilis!”

Tawa gila membahana, yang berlebihan, yang nyaring, dan membuat perut kami sakit, kecuali Iqbal tentunya. Tu bocah malah melangkah pergi menjauh menuju mobilnya yang tak jauh diparkir di ujung parkiran.

“Sstt Gen, tuh anak kena sifilis beneran tau! Gak tepat lu ngasih contohnya. Minggu kemaren gue yang nganterin dia ke dokter spesialis kenalan Bokapnya. Dia makin sering di Stoned Fruit kan belakangan? Ya, gara-gara itu.”

Om Epul setengah berbisik megabarkan hal itu.

Kamanaaa Bal? Euleuh naha Baper! Heureuy coy!”

Genjer berteriak, mencoba beranjak mendatangi Iqbal, namun ditahan oleh tangan Om Epul. Takut malah tambah ribut mungkin. Om Epul kemudian bersabda:

“Udah Gen, biarin aja, lagi ‘teler’ juga kayaknya dia. Daritadi keliatan sih, cuman ya ga enak kalo maen usir. Lu orang tetep temenin aja, asal jangan ikutan make gituan! Mungkin cuman kita-kita yang masih tiga perempat sesat kalo dibandingin ama pergaulan dia di ‘dunia malam’-nya.”

“Sori Om, soalna daritadi dia juga suka becandain orang, urang bales we pake becandaan gitu. Kan konteksna juga becanda jadi kirain aman kalo dibecandain lagi. Urang juga gatau kalo dia kena raja singa.”

Raut muka Genjer terlukis penuh dengan penyesalan.

“Aneh kali Iqbal, bilang awak jangan baper, eh malah dia yang baper! Pantek!

Jeda terasa agak lama kali ini, udara malam pun semakin menusuk kami yang sedari tadi nongkrong depan Stoned Fruit. Jalanan mulai sepi, parkiran semakin kosong, hanya beberapa orang yang maen paket malam yang kayaknya sedang asik di dalam warnet. Iqbal tidak beranjak pergi dari mobilnya yang masih terparkir.

Kami masih bersantai depan warnet, aku masih mengantuk akibat kerja rodi kemaren. Anak-anak sibuk dengan rokok, hp, vape, dan minuman mereka masing-masing. Saat rokok kedua kuhisap setelah peristiwa bapernya Iqbal, Genjer nampak belum puas dengan bahasan yang tadi kami bahas.

“Haaah, mun hari-hari besar terus dieksploitasi keur bikin manusia makin konsumtif dan hedonis, nu beunghar jadina ngan kapi…”

***BRUUUGH!!!***

Dari balik selimut kegelapan malam, Iqbal kembali. Akselerasinya bertamu tanpa pernah kami undang, kecepatan  Iqbal datang dan menggilas lamunan kami. Tangannya telah mendaratkan kunci setir yang telah ia ayun tepat bersarang di bagian depan muka Genjer.

Genjer jatuh tersungkur, darahnya nampak sedikit muncrat ke kemeja flanel miliku. Suasana makin chaos, mulut Iqbal menyalang penuh sompral dan aral. Ayunan kedua berhasil dicegah oleh Frans dari belakang. Bagi Frans yang berbadan kekar, itu bukan perkara sulit.

Anak-anak lekas mengerubungi Iqbal untuk menahan kemarahan dan kerasukannya. Raden Kohar berhasil melucuti kunci setirnya yang telah bermandikan darah Genjer. Frans melepaskan kuncian karena anak-anak lain berhasil menguncinya dari segala arah. Frans pun meninju muka Iqbal dari depan beberapa kali.

“Gen! Gen! Gen!” Aku mencoba berkomunikasi dan berusaha menjaganya tetap sadar.

Mukanya bersimbah darah, beberapa pecahan lensa kacamatanya menancap di kedua kelopak matanya. Wah, parah dia pake lensa kaca, mungkin kalau lensa plastik matanya masih bisa selamat.

“…tal….lis.”

Itulah perkataan terakhirnya yang serak-serak basah dan mendesis sebelum tak sadarkan diri.

“Woi! Gimana ini cara manggil ambulans!?” Aku bingung dan makin panik.

“Pake mobil gue Wir, bawa si Frans ikut elu! Lu bisa nyetirkan? Rumah Sakit Bumi Manusia deketkan? Ke sana cepet! Ntar gue nyusul pake mobil si Iqbal. Gue mau ngurus nih bocah dulu bareng anak-anak, trus lapor bokapnya. Kalo gue lapor aparat pas dia teler gini makin ancur masa depan nih anak..” Om Epul membalas dengan penuh perhitungan matang perihal masalah ini.

Tak ada lagi yang pantas kulakukan selain bertindak. Karena dunia itu ibarat game tapi kita hanya punya satu nyawa dan gak ada save ato load game.

-SELESAI-


Sedikit catatan penulis: Terima kasih bagi yang telah berkenan membaca dan mengapresiasi cerita ini sampai selesai. Menulis cerita seputar game memang bukan barang baru. Kita mungkin mengenal Jepang dengan Sword Art Online-nya dan Cina dengan Quan Zhi Gao Shou-nya. SAO kuat dengan harapan futuristiknya yang sebagian telah terealisasi di dunia nyata dan Quan Zhi Gao Shou kuat dengan kondisi psikologis sang pemain jeniusnya dalam menghadapi dinamika esports yang penuh dengan eksploitasi. Di cerita ini, saya mencoba mengambil sisi-sisi yang sering terlewatkan oleh para gamer dan juga masyarkat, terutama dalam kondisi sosial yang saya coba rakit mendekati kondisi sosial Indonesia yang memang penuh dengan pro dan kontra. Ide besarnya seputar cinta, kondisi ekonomi, dan juga kegelisahan laki-laki tentunya. Saya akan mencoba melanjutkan cerita ke bagian yang lebih condong mengambil sudut pandang perempuan sebagai pemegang spotlight cerita. Terima kasih dan selamat Hari Kasih Sayang bagi yang merayakan.