DISCLAIMER: (Untuk 16 tahun ke atas) Cerita ini hanya fiksi belaka. Di dalam cerita ini terdapat bahasa yang cenderung vulgar dan tidak cocok dibaca oleh orang-orang yang belum memiliki pikiran dan kepribadian yang matang. Pembaca berumur di bawah 16 tahun dilarang keras membaca cerita ini. Cerita ini tidak bermaksud untuk memojokkan salah satu agama, suku, ras, dan komunitas tertentu. Adapun beberapa cuplikan yang berkorelasi dengan agama, suku, ras, dan komunitas hanya bertujuan sebagai ilustrasi fiksi dari cerita agar mendekati bahasa dan keseharian sebagian remaja urban di Indonesia yang bersumber dari pengalaman pribadi penulis. Sebagian nama gim dalam cerita ini diambil dari kehidupan nyata, sebagiannya dideformasi. Tujuan utama cerita ini adalah prokreasi, bukan adu domba, persekusi, ataupun menebar kebencian. Semua sikap yang Anda lakukan setelah membaca cerita ini adalah murni tanggung jawab Anda sebagai pribadi. Dilarang keras mengatasnamakan sebuah aksi dengan dalih meniru adegan yang ada dalam cerita ini.

Siang itu, aku bangun di atas kasur yang tak pernah kujemur. Sudah seminggu aku gak pernah ngerjain tugas kuliah. Yasudah, jadinya semalam aku berperan layaknya Sangkuriang; ngerjain tugas kuliah semaleman!

Bedanya, aku gak make jin dan gak mengidap Oedipus Complex macam Sangkuriang. Gantinya jin, aku nyogok salah satu temanku yang cukup pintar yang biasa kupanggil dengan sebutan Genjer. Aku meminta copy-an tugas-tugasnya doang sih.

Untungnya dia gamer juga. Tinggal rayu dengan Steam Wallet, akhirnya imannya runtuh juga. Lagian, aku gak sekedar nyontek, cuman mencari ‘referensi,’ dari tugas dia aja, hehehe.

Laptop yang lebih sering kupakai onani pun semalam kembali ke tujuan awal laptop itu dibeli; membantu kinerjaku untuk meraih gelar sarjana.  Tak ada revisi yang berarti, isi tugasku bentuknya asal jadi. Revisi yang paling kuingat adalah mengganti nama dan NIM yang asalnya milik Ginanjar Karta Suwirya menjadi nama dan NIM-ku, Wiro Yudho.

Ya gitu, jadinya tadi subuh beres tuh tugas semingguku yang asal jadi. Saat mu’azzin melantunkan merdunya adzan subuh, aku serasa dininabobokan dan terlelap dalam lullaby tanpa mimpi. Sampai akhirnya aku bangun siang persis yang kuceritakan tadi.

Selepas buang tai di lubang kloset kostan, kubawa raga ini pergi dari dari pelataran bangunan yang akan menjadi sarangku selama 8 semester (ato LEBIH kayaknya). Setelah berjalan dan meratapi tembok-tembok gang yang bau pesing dan konturnya bergerigi, akhirnya aku tiba di jalan utama yang akan mengalirkanku ke kompleks kampus. Setelah berhenti buat nge-print tugas di tukang foto kopi, aku masuk kampus.

Tak ada yang spesial di kampus, kecuali adek dan kakak kelas cantik, serta tukang martabak spesial depan kampus. Setelah ngumpulin tugas di ruang dosen, aku langsung berjalan layaknya zombie dan lanjut bobo siang di kelas. Dosen yang  satu ini cuek sama yang tidur di kelas, tapi ngamuk kalo ada yang ngobrol. Setelah kegiatan basi di kampus rampung, segera aku cabuts, kembali ke kostan, lalu mengambil dan menunggangi Yamaho Mia dengan posisi dia nungging dan aku mendudukinya, sangat dominan, yeah! Yamaho Mia adalah motor matic bututku yang akan kupakai hijrah ke Stoned Fruit.

Stoned Fruit adalah nama warnet tempatku menghabiskan waktu luang dan bentengku untuk menjadi tidak produktif. Komputernya bagus dan kuat dipake maen game berat kayak PUBG. Monitornya juga monitor gaming, jadi ga usah lagi merana karena fps drop. Koneksinya stabil daan yang paling keren adalah pelanggannya yang gokil-gokil. Aku bisa dibilang akrab dengan mereka.

Biasanya, selepas adzan maghrib mereka akan keluyuran cari makan. Setelah makan, biasanya mereka nongkrong berjamaah setelah sebelumnya mengambil air minum dalam kemasan yang dibeli di minimarket terdekat dengan berbagai merk, jenis, dan varian rasa. Imamnya si Om Epul, cecurutnya banyak, termasuk aku.

Saat kutiba di depan parkiran Stoned Fruit, suasana yang kujelaskan pun tampak hadir di depan mataku.

“Wiro! Wiro Sableng! Sinto guru gendeng!”

Mulut Om Epul mulai mencret sapaan penuh canda ketika aku menghampiri gerombolan Stoned Fruit.

“Oi Om! Maen terus si Om mah! Kapan nikahnya dong Om?”

“Ntar, nunggu elu di D.O dulu baru gue nikah!”

“Hahahaha, dakumah anti-D.O Om! Kan ada Bung Genjer si gamer-filsuf!”

Aku menoleh ke arah Ginanjar ‘Genjer’ Karta Suwirya yang daritadi sibuk menghisap rokok mild-nya sembari cekakak-cekikik. Si bajingan itu emang doyan baca, jadi pengetahuan umumnya cukup di atas rata-rata anak warnet.

Gandeng goblog! Absen aing udah maneh isi?”

“Udah Jer, mentang-mentang pinter jadi suka bolos sekarang?”

“Eiiits, kuliah mah hampir tiap poeevent palentin mah ngan samingguDouble exp jeung double drop rate njing!”

Si Sunda keles yang satu ini emang doyan game MMO. Dia pernah meraih peringkat 7 dunia di game Aura Kong Dome online, terdengar seperti aura kondom di telingaku. Jelek-jelek gitu, pacarnya bule Kanada, cakep parah! Katanya sih mereka deket gara-gara dia adu argumen sama si bule itu perihal tradisi esoteris Ouroboros Intiative versus agama Samawi. Gak taulah apaan yang Genjer bilang! Ouroboros tuh apaa? Esoteris tuh apaa? Yang jelas pasti Genjer  pake pelet!

Memang sulit bagi gamer untuk melewati event tahunan yang sering diselenggarkan oleh para penyedia dan pengembang jasa game online. Kalo promosinya menarik dan kontennya menggairahkan, banyak orang yang rela menghabiskan siang dan malam untuk hadir dan menyelesaikan quests dalam event itu sampai khatam.

“Bang Wahyu, di PUBG ada event apaan? Kan lagi rame banget tuh si PE-U-BE-TE!”

“Di PUBG ada item coklat valentine gitu pas kita maen squad. Tu coklat bisa dipake nge-revive temen yang udah kojor tanpa cooldown.” Bang Wahyu mulai menyambar pertanyaanku, dia emang yang paling keranjingan PUBG.

Mun Dota naon Har? Urang sibuk farming jeung quest palentin yeuh jeung si Rachel.”

Dota cuman ‘kosmetik’ baru kok Jer. Efek panah cinta Mba Mirana jadi kayak panah Cupid.” sahut Raden Kohar yang dari tadi sedang menikmati bir pletok.

“Bah, CS juga cuma ‘kosmetik’! Jelek kali!” jawab Frans.

“Gue gak nanya ler!” aku menimpali.

Pantek kau Wir! Kan awak cuman ngasih tau kau! Kau kira kuis? Harus ada pertanyaan dulu baru ngejawab?”

Frans ngomel, tapi masih sambil nyengir. Mahasiswa jurusan hukum di salahsatu perguruan tinggi swasta bergengsi ini kemudian menyalakan rokok merk Margono-nya untuk yang kesekian batang. Rokok merk itu memang cepet abis kalo ketiup angin.

“Ma…” belum tuntas aku mengobral kata ‘maaf,’ ‘suara gaib’ lainnya sudah mulai membahana dengan cepat.

“Yaelah, gitu aja baper lu! Dasar Fransiskus Baperius!” Iqbal menyalang dengan cepat dan terdengar berirama. Dia mengubah komposisi nama belakang Frans yang asalnya ‘Xaverius’ jadi ‘Baperius’.

Pantek kau! Nama depan kau pake Muhammad, tapi kelakuan kau bejat! Nama belakang kau Iqbal, tapi klakar kau bebal!”

Frans nampaknya memang cocok jadi pengacara. Tabiat si Iqbal dengan sukses dia dakwa dan persidangkan di hadapan kami; masyarakat Stoned Fruit.

Iqbal memang rupawan kata cewek-cewek eksis. Aku pantang ngomong cowok lain ganteng, karena mengakui cowok lain ganteng secara tidak langsung akan menstimulus alam bawah sadar kita tentang cara pandang kita pada cowok lain (baca: HOMO). Itu kata dosenku, yang tadi mengizinkanku tidur di kelas. Tapi setelah merenung dan berjongkok sambil buang tai, aku pikir petuah dosenku ada benarnya.

Bokap Iqbal berparas khas Timur Tengah, sedangkan Nyokap Iqbal berparas khas Oriental. Ortu-nya tajir emang, bokapnya juragan fastfood dengan brand lokal yang cabangnya hampir tersebar di seluruh perkotaan di negeri ini. Nyokapnya punya butik yang memanfaatkan plastik bekas kondom sebagai bahan baku utamanya dan laku keras di mancanegara. Mungkin makin marak yang rajin ngentot bertamengkan proses daur ulang kondom tuh gara-gara nyokapnya.

Tapi, ya gitu. Bokapnya doyan buka cabang fastfood, eeeh anaknya malah doyan ‘buka cabang’ kalo pacaran. Doyan ‘celup’ sana-sini, dari mulut terus lubang peranakan sampai lubang tai, doyan dugem, doyan mabok, dan doyan sabu-sabu kualitas tinggi semacam racikan Walter White kayak di series Breaking Bad. Kalo nge-game? Ya, doyanlah, kalo gak doyan juga dia gak bakal ada di Stoned Fruit.

Yah itulah Iqbal, adiknya cantiiik parah; yaaa namanya juga blesteran Timur Tengah-Oriental. Cantiknya lebih paraah dan lebih bikin ‘meleleh’ daripada blesteran Bule-Oriental! Meihan Rabiah Adawiyah nama si cantik! Tapi males ah punya ipar kentir kayak Iqbal.

“HAHAHAHAHA”

Kami sontak terbahak mendengar pledoi Frans pada Iqbal yang barusan. Dengan ekspresi tawa yang berwarna pelangi, ibarat simbol LGBT tentunya. Yang jelas, jenis tawa macam ‘wkwkwk’ hanya kami gunakan saat main game dan chatting di apliaksi Whaddup.

“Dah, udah woy! Ganti topiklah daripada ujungnya ribut!”

Om Epul nampak mencoba mengarahkan obrolan ke arah yang bisa mencegah pertikaian. Eaaa! Padahal si Om yang tadi ketawanya paling hardcore.

“Topik Hidayat Om? Pan geus pensiun lain? Tapi backhand smash-na memang terbaiiik!”

“TOPIK PEMBICARAAN KELES! Lu pinter tapi nyerna gituan aja sinyal otak lu udah kayak gprs”

“Amfun Oom! Becandaa! Ngomongkeun bullshit-na perayaan palentin jeung perayaan hari besar nu kekinian we atuh…”

“Tai lu Jer, klise amat? Ngomongin coklat buat kecengan gitu?” Aku protes.

“Palentin jaman now ai sia! Lain palentin jaman ceukolahan!”

“Maaaksud loh!?”

“Hari-hari besar nu berubah makna. Simbol nu jadi leuwih berarti dibandingkeun makna.”

(Bersambung ke bagian II)


Tentang Ilustrator: Fadil Erlangga adalah seorang bocah tua nakal yang pernah menenggak anti-depresan ketika hampir putus asa di penghujung akhir masa perkuliahannya. Ciri khas ilustrasinya adalah arsiran kasar di atas kertas. Baru saja lulus dan sudah lama disunat. Bujangan ini membiarkan laba-laba bersarang di kamar kostannya dengan dalih sebagai ‘obat nyamuk’ alami.