Selamat bertahan hidup Virtual Vriends, stigma negatif memang kerap kali ditumpahkan pada para gamer, tak terkecuali para gamer Indonesia. Mulai dari masa depan yang suram, pola hidup yang tak teratur akibat mengedepankan bermain game daripada hidup sebagai bagian dari masyarakat, pendidikan yang dinomor sekiankan, mitos kutukan jomblo, dsb. Apakah memang betul semua gamer di Indonesia dapat digeneralisasikan seperti contoh-contoh di atas? Karena pertanyaan itulah artikel ini mencoba hadir.

Dari Fenomena ke Fenomena

Dalam dinamikanya, para gamer (terutama yang sudah menjadi maniak bin militan dalam bermain) memang kerap kali diasosiasikan sebagai sesuatu yang tidak wajar. Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi, kreatifitas, dan informasi, semua seakan berubah bila para gamer bisa memposisikan dirinya dengan lebih baik dalam kehidupan, dan tentu saja tanpa perlu merubah identitasnya sebagai seorang gamer.

Seperti yang kebanyakan orang ketahui, peluang untuk mendapatkan kemandirian ekonomi tak lagi didominasi oleh posisi sebagai pekerja kantoran,pengusaha, pengacara, dokter, tentara, ataupun polisi. Banyak jalan lain, terutama untuk para gamer yang berusaha mencari tonggak-tonggak ekonomi dengan cara menjadi gamer profesional yang bertanding dalam ajang video games, yang tak jarang total hadiahnya bisa lebih dari cukup untuk membiayai haji, umroh, wisata rohani ke Tibet, India, Jerusalem, bahkan Vatikan, untuk sekeluarga.

Selain menjadi gamer profesional, ada media daring yang dapat digunakan para gamer untuk melakukan streaming video games yang mereka mainkan. Media daring seperti Twitch, YouTube, dan bahkan Bigo kerap mencari para “Streamers” yang dapat menghibur para penonton dalam jejaring yang mereka miliki. Tidak gratis, namun ada kriteria-kriteria tertentu agar para gamer mendapatkan pundi-pundi ekonomi, yang jelas harus bisa menghibur para pemirsa tentunya.

Pada setiap fenomena, tak jarang kita temui sisi baik dan buruk yang selalu berdampingan, kadang citra positif para gamer selalu tertutupi oleh dampak buruk yang kerap dilakukan oleh para gamer yang kebablasan dalam memperlakukan hidup, sehingga tak dapat membedakan, mana yang virtual, dan mana yang kenyataan. Kiranya, contoh-contoh negatif para gamer sudah bergentayangan, silahkan gali lebih dalam wahai pembaca yang beradab dan toleran.

Yang Bisa Kita Golongkan sebagai Inspirator

Tak percaya begitu saja bahwa citra para gamer, khususnya Indonesia tak selalu negatif? Aha, baiklah, mungkin penulis harus sedikit merangkum tentang kiprah para gamer Indonesia calon idaman mertua yang mungkin bisa membahagiakan para fans di dunia dan akhirat?

  • Muhammad “inYourdream” Rizky
inyourdream
kredit foto: instagram @kikycassa7

Pria kelahiran 7 Oktober 1997 ini tercatat sebagai pemain pertama yang berhasil meraih rekor MMR (Match Making Rank) Dota 2 tertinggi di semesta Asia Tenggara sejak awal tahun 2017. Pemuda yang pernah bergabung dengan squad Fnatic (salah satu tim profesional Dota 2 Internasional) mulai menunjukan taring prestasi yang signifikan. Dia mulai diperhitungkan sebagai salah satu pemain jenius dunia oleh para komentator dan pengamat Dota 2 kelas dunia.

Ketenaran yang ia peroleh tentu saja secara bekesinambungan akan mengharumkan namanya, menaikan pamornya, dan menebalkan dompetnya. Bukti inilah yang dapat kita jadikan acuan bahwa inYourdream memang pantas untuk dijadikan inspirator bagi para gamer Indonesia, sekaligus turut membantu membungkam para oknum yang selalu menggembar-gemborkan citra negatif gamer Indonesia.

  • Hansel “BnTet” Ferdinand
BnTeT
sumber gambar: liquidpedia

Pria kelahiran 28 Agustus 1995 ini terkenal sebagai salah satu pemain terbaik di Asia dan juga kelas dunia dalam semesta eSport. Menggeluti permainan video bernama Counter-Strike: Global Offensive dan pada tanggal 15 Maret 2017, direkrut sebagai “kartu AS” dari tim profesional asal negeri tirai bambu, TyLoo.

Pemuda yang mungkin bisa kita sejajarkan ketampanannya dengan para aktor DraKor (Drama Korea) ini tak jarang membuat para gamer yang bermain CS:GO menjadi melempem karena takjub dengan kejeniusan beliau ketika bermain.

Mungkin para fans perempuan pun makin ingin menjadi pendamping hidup “Oppa” BnTeT dengan berkata, “Please, dor aku dong Oppa,”  setelah melihat kemampuannya men-dor-dor-dor-dor para rival-nya di ajang kompetitif CS:GO.

  • Monica “Nixia” Carolina
Monica Carolina
sumber gambar: nixiagamer.com

Perempuan kelahiran 17 Mei 1991 ini memang punya segudang prestasi. Kalau kalian penasaran dengan deretan prestasi dia, silahkan pelototi saja profil dari situs resmi sang gadis. Daripada fokus jelalatan nongkrongin paras Nixia yang enak dipandang, lebih baik kalian fokus untuk merenungkan bahwa citra positif gamer itu memang benar-benar eksis di depan mata kalian.

Kita tidak perlu menjadi seksis lagi, setelah mengetahui bahwa dunia gaming bukan hanya didominasi oleh kaum adam. Mungkin setelah kita tahu bahwa Nixia itu gamer pro asal Indonesia, kita mulai bisa berpikir untuk menyertakan tanda tagar bertuliskan #girlpower #fightlikeagirl di akun-akun yang mendukung dan mengapresiasi kemampuan para perempuan yang berusaha menjadi gamer teladan.

Jalan Berliku Sang Pemula

Setelah membaca, menyikapi, dan mengapresiasi para suri tauladan di atas, para masyarakat awam pantas untuk berpikir bahwa ‘ada’ masa depan bagi para gamer, khususnya Indonesia. Namun, untuk mewujudkan hal itu, butuh bermacam pertimbangan yang matang mengingat kondisi sosial di Indonesia memang cukup bonyok jika dibandingkan dengan negara-negara yang telah memprakarsai lahirnya para gamer yang memiliki sendi-sendi ekonomi dari hasil bermain game sekaligus berkesempatan memperoleh uang.