Kebencian di dunia maya sudah menjadi semacam instrumen yang tak bisa dilepaskan dari pola-pola interaksi para pengguna internet. Contoh konkritnya adalah kolom-kolom komentar di internet yang penuh sesak dengan barisan sambal, racun, dan kanker yang beranatomi dari fasisme, rasisme, dan seksisme yang dapat membidani para despot, bigot, dan bandit seksual untuk lahir.

‘Tinggal isi kuota pake kartu sim promo atau nebeng wi-fi pun, hasrat neurotik kita akan ketidaksukaan bisa menjelma menjadi neraka orang lain.’

Ya, mayoritas modus interaksi sosial kita hari ini beramunisi dari rasa saling curiga dan saling benci. Berbanding terbalik dengan modus interaksi sosial di zaman dahulu yang berlandaskan kemerdekaan dan anti-penjajahan. Di tengah pertarungan labelisasi dan simbolisasi dari kebencian, terkadang kita sering mengeluhkan hal ini, tanpa benar-benar tahu apa itu “benci.”

Kebencian

Benci tidak sama dengan tidak suka. Suka, tidak suka, dan marah merupakan hal yang manusiawi. Benci bahkan tidak sama persis dengan marah, karena marah hanya merupakan suatu gejala awal dari kebencian.

kredit gambar: refe99.com

Ketika ketidaksukaan terhadap seseorang, grup, atau objek itu menjadi semakin mendalam dan ekstrim, secara tidak sadar kita telah memelihara kemarahan yang merupakan bibit-bibit kebencian. Memelihara sesuatu itu ada ongkosnya, jangankan “kekasih gelap,” memelihara marmut atau hamster yang dibeli di pasar minggu pun butuh ongkos, kira-kira berapa ya “ongkos” yang harus kita bayar untuk memelihara kebencian?

‘Kalo situasi penuh kebencian terus berlanjut, mungkin kelak bakal ada penyedia jasa beriklan dengan bunyi: Terima kredit kebencian dengan bunga dan dp 0%, bisa dicicil seumur hidup, berlaku bagi para manusia yang percaya dimensi eskatologis.’

Kebencian itu secara psikologis berhubungan dengan cinta. Namun, benci itu bukan lawan kata dari cinta, atau tiadanya rasa cinta. Lawan kata yang lebih dekat dengan cinta adalah rasa abai.

Sebagaimana cinta, kebencian itu berasal dari dimensi-dimensi pengalaman personal yang membentuk emosi kita.

Teori Polarisasi yang Membidani Kebencian di Dunia Maya

Implikasi kebencian di dunia maya dijelaskan Charlene Li dan Josh Bernoff (2008) dalam buku yang berjudul Groundswell, yaitu ketika sebuah tren sosial dimana orang untuk mendapatkan kebutuhannya lebih memilih dari orang lain (sumber sukender) ketimbang produsen (sumber primer).

Ketika seseorang mencari informasi melalui teman atau komunitasnya, secara tidak sadar manusia akan terus cenderung berada dalam kelompok-kelompoknya dan cenderung mencari informasi yang sesuai dengan pandangan mereka.

Media sosial menyediakan kemungkinan itu dengan adanya fitur-fitur untuk mengikuti orang-orang yang disukai sekaligus membuang mereka yang berbeda pandangan. Lama-kelamaan, seseorang semakin terisolasi dalam kelompok masing-masing di dunia maya sehingga memunculkan pandangan yang semakin ekstrim.

Peter Dahlgren (2009) dalam Media and Political Engagement menamakan polarisasi itu dengan istilah cyberghettos atau bermakna perkampungan terisolasi di dunia maya.

Anatoliy Grudz dan Jeffrey Roy (2014) dalam Investigating Political Polarization on Twitter menggunakan istilah Echo Chamber (ruang gema, karena internet menciptakan ruang gema yang berputar di situ-situ saja mengelilingi sebuah kelompok pengguna).

Eli Pariser (2011) dalam bukunya yang berjudul Filter Bubble, ia menulis tentang bagaimana mesin pencari dan jejaring sosial menyaring perbedaan pendapat dan akhirnya hanya memunculkan “gelembung filter” yang diinginkan penggunanya.

Dari penelusuran acak terhadap kicauan antar warganet (netizen) tampak ada kecenderungan akun yang berkomentar positif terhadap pemerintah terhubung dengan akun-akun dengan karakter sama. Sementara akun yang kontra-pemerintah lebih banyak terhubung dengan akun yang menyuarakan opini yang sama.

Dampaknya di Sosial Media dan Gim Online

Dengan maraknya pola-pola interaksi semacam itu, manusia-manusia yang harusnya bisa mengembangkan paradigma dalam dunia maya seakan menghadapai tembok kaca yang bakal membuat manusia makin asing terhadap dunia dan dirinya sendiri.

Hasilnya di dunia maya? Debat kusir yang berujung pada rasisme, seksisme, dan fasisme di sosial media dan gim online, menyerang penyakit mental, kondisi perekonomian di suatu negara, kebudayaan dll.

Menilai sesuatu dari sebuah gejolak pola pikir yang berat sebelah, tanpa dialektika, dan kehilangan makna.  Dampaknya manusia makin kehilangan rasa simpati (ikut memposisikan diri untuk merasakan perasaan orang lain walaupun orang yang ikut merasakannya tidak mempunyai pengalaman yang sama dengan orang tersebut), dan hilangnya rasa empati (mencoba memposisikan diri merasakan perasaan orang lain yang didukung oleh pengalaman yang hampir serupa dengan orang lain).

Orang yang bisa berpikir dalam dan melakukan refleksi panjang biasanya sulit untuk membenci, karena biasanya mereka akan menemukan variabel-variabel yang menjadikannya tidak harus membenci orang.

Rekan-rekan Virtual Verbal pernah membenci? Penulis sendiri sering melakukannya dan selalu jatuh-bangun memanifestasikannya menjadi energi hidup untuk terus melakukan refleksi diri demi mengobati luka-luka dari kebencian.