Menemukan buku Mengapa, Dina? ibarat mencari perawan pun juga perjaka di kerumunan kehidupan remaja urban. Maklum, ini buku independen, jadi sulit ditemukan. Gak ada ISBN, tidak masuk toko buku, dan hak ciptanya hanya dilindungi oleh Sang Maha Pencipta, semacam gerakan copyleft.

Namun, buku yang bisa digolongkan sebagai novel ini menyumbangkan sesuatu yang segar dalam dunia persilatan sastra Indonesia. Sesuatu hal yang langka dalam kondisi industri buku di Indonesia yang rata-rata penulis newbie-nya dikebiri oleh serentetan peraturan yang terkadang menghilangkan jati diri sang penulis.

Buku ini sangat ekspresif dan cenderung kelewat gila dalam berdiksi! Mungkin inilah alasan Rendy Adiwilaga untuk belari di rel indie, gak perlu di-bully regulasi karena dia penulis new tanpa bie.

Bermula dari narator yang menceritakan tentang protagonis bernama Ted yang berprofesi sebagai guru sejarah di sekolah negeri ternama di kota Bandung. Pada bagian pertama, diceritakan bagaimana pengalaman retrospektif Ted semenjak ia masuk sekolah. Mulai dari julukkan Ted (Mashudul Haq merupakan nama asli si protagonis), doyan berkelahi sekaligus dekat dengan Dewan Keluarga Mesjid, membaca buku di perpustakaan, dan bolos sekolah demi ke museum adalah beberapa penggalan masa lalu yang membangun karakter Ted.

Ted memang bukan Paulo Freire, namun sejak SMA dia berani berkoar tentang buruknya sistem pendidikan yang timpang. Namun, bukan cuman berkoar, setelah menjadi guru sejarah, dia selalu melakukan manuver-manuver alternatif pada para siswa-siswinya. Hasilnya, selama 3 periode, Ted dinobatkan sebagai guru terfavorit pilihan murid-murid.

Kelas sejarah mengenai perisitwa pembantaian 1965 pun disisipkan secara sekilas. Berkat cara Ted mengajar, digambarkan bagaimana para murid diberi kebebasan untuk berpikir kritis, sehingga kelak, niscaya mereka tidak perlu lagi dibodohi bibit-bibit rezim totalitarian.

Guru sejarah macam Ted bagus untuk mengencingi impunitas di Indonesia. Namun, bukan itu inti ceritanya! Ted si bujang kurap ini ternyata memiliki ketertarikan khusus pada seorang dokter gigi bernama Dina. Ya, sesuai dengan bentuk pelafalan dalam buku ini yang ada unsur Dina di akhir judul, sebelum tanda tanya.

Dina? Siapa Dina? Dina-saurus? Bukan, Dina itu semacam heroine-nya novel ini. Ted kenal Dina dari sahabatnya bernama Kania yang juga dokter gigi. Waktu Ted mengidap sakit gigi dan meminta Kania mereparasi gigi Ted, kebetulan Kania lagi ada janji. Kania memberi opsi, dan bertemulah Ted dengan si Dina ini.

Dideskripsikan bagaimana kecantikan Dina yang bukan main. Selain cantik, Dina itu orang yang supel, pandai bergaul, dan kelewat baik hati sampai-sampai banyak lelaki yang ke-ge’er-an dengan sikapnya.

Berkat Dina yang punya peran sebagai pendengar yang baik, tumbuhlah perasaan cinta yang bersemayam dalam diri Ted. Novel Mengapa, Dina?  menitikberatkan dinamika dari kehidupan Ted dan Dina di tengah semesta batin pribadi mereka, betapapun absurdnya pergulatan psikologis itu.

Alkisah, mereka berdua pun hanyut dalam komunikasi yang intens, kadang ngambek-ngambekan, kadang becanda-becandaan, kadang curhat-curhatan. Di bawah tatapan Ted, Dina merupakan sebuah obyek di dalam dunianya, begitu pun sebaliknya. Perlahan, mereka pun mengalami kematian subyektifitas diri.

Ada dimensi dari relasi mereka yang sebenarnya adalah konflik, yakni konflik saling mengobyekkan. Cinta adalah sesuatu yang palsu pada konteks ini, ketika setiap kehendak untuk menguasai orang lain terjadi, yakni kehendak untuk menguasai kebebasannya.

Karena sewajarnya dimensi itu berlapis-lapis, jika cinta yang dirasakan Ted atau pun afeksi yang dirasakan Dina itu mempunyai makna, maka makna itu dapat digunakan sebagai dasar bagi suatu solidaritas antara mereka. Bermakna ketika Ted dan Dina sama-sama saling mengisi dan mendengarkan keluh kesah mereka, bermakna ketika mereka menyukai dan membenci sesuatu yang sama.

Kisah romansa yang terlalu naif dibilang “bertepuk sebelah tangan”, dan terlalu ugal-ugalan disebut “altruisme” ataupun harkos alias “harapan kosong”.

‘Udah ah, segitu aja spoilers-nya, ntar gak pada minat baca lagi…’

Keunikan

  • Lokasi 

Lokasi-lokasi yang digunakan dalam Mengapa, Dina? kebanyakan merupakan lokasi yang ril ada di kota Bandung, berikut dengan suasana di dalam lokasi tersebut tak luput dari pengamatan Rendy. Novel ini secara tidak langsung memperkenalkan para pembaca kepada kota Bandung, bisa berguna sebagai semacam gambaran umum apabila benar-benar penasaran tentang lokasi itu.

  • Narator

Selain lokasi, hal yang membikin novel ini unik adalah kenakalan narator sebagai pendominasi cerita dalam novel ini (novel ini mengambil perspektif orang ketiga, yaitu narator sebagai sang maha sok tahu dan maha satire).

Mengapa, Dina?
…binatang-binatang yang sulit ditemui di halaman dan tembok rumah manapun, seperti panda, anoa, siamang, orangutan, dan kamu.

Bisa kalian saksikan, pada halaman 184, bagaimana si narator kurang ajar itu mensejajarkan pembaca dengan teori evolusinya Darwin yang kebenarannya masih diperdebatkan, karena itu hanya “teori”, korespondensi terhadap kenyataannya masih dipergunjingkan seiring dengan makin dinamisnya perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, jelas konteks dari teks tersebut hanya semacam satire, yang bertujuan menghibur pembaca yang budiman.

“Sayang semua hanya di film, semuanya cuman ada di puisi, semuanya cuma ada di luar negeri. Disini, ada tanah kosong sedikit, kalau tidak jadi apartemen, perumahan, ya jadi pabrik. Kapitalis monyet.” ― Mengapa, Dina? Halaman 175-176.

Narator pun banyak menggunakan perumpamaan yang berbau-bau sejarah, macam menyamakan ruang praktek dokter gigi dengan kamp Auschwitz buatan Hitler, atau menyamakan rasa kegalauan Ted dengan kekalahan Napoleon Bonaparte.

  • Menerjang Bahasa

Selain narator, yang menjadikan novel ini spesial adalah unsur dramatik yang hidup, terutama dari percakapan. Percakapan yang Rendy bikin adalah percakapan yang sangat mendekati otentik dengan bahasa pergaulan anak-anak urban Bandung, yaitu bahasa mutan yang terdiri dari campuran bahasa Inggris, Sunda, Indonesia dan sedikit micin.

Rendy tak pernah takut untuk menerjang bahasa, inilah yang membuat unsur dramatik dari novel ini meledak, tidak kaku seperti serial FTV ataupun sinetron. Berangkat dari percakapan yang hidup, Rendy bisa meracik konflik, ketegangan, rasa ingin tahu, dan kejutan yang sangat bisa menghibur pembaca.

  • Karakter yang Hidup

Karakter Ted sekilas mirip Holden Caufield dalam Catcher in the Rye. Mereka berdua sama-sama pemuda yang membenci kemapanan dan kepalsuan masyarakat. Bedanya, Ted bukan anak orang kaya macam Holden. Macam Salinger, Rendy menghadirkan profil psikologis Ted sebagai sosok ekstrovert yang cerewet, mirip sekali dengan Holden.

Dari sifat ekstrovert Ted itulah justru bibit-bibit komedi satire lahir dari novel ini. Mengapa Dina? tetap mampu menghadirkan komedi yang jenaka di tengah-tengah pergulatan batin Ted yang membenci “lingkaran setan”  realita kehidupan Indonesia.

Salah satu contoh lelucon Ted di-maktub-kan dalam Mengapa, Dina? dengan cara bagaimana Ted memodifikasi akronim A.C.A.B yang berarti All Cops Are Bastards menjadi All Cops Are Beauty mirip Briptu Eka.

Kekurangan

Pada halaman 8 buku Mengapa, Dina? dituliskan bahwa novel ini bercerita tentang sepotong kisah Ted pada tahun 2009. Namun sayang, novel ini menyisipkan lagu Brave yang dipopulerkan Sara Bareilles sebagai lagu yang membuat Ted memiliki keberanian untuk menelepon Dina dan lagu Tiba-Tiba Cinta Datang ciptaan Maudy Ayudya yang diputar Ted ketika ia kasmaran dengan Dina.

Rendy nampaknya lupa, bahwa lagu Brave baru rilis tahun 2013, dan lagu Tiba-Tiba Cinta Datang pun baru rilis tahun 2011. Inilah yang sedikit menggugurkan konsistensi bahwa kejadian dalam novel Mengapa, Dina? adalah tahun 2009.

Selain hal tersebut, saya (penulis artikel) sangat menikmati sekali buku terkutuk milik Rendy ini. Saking serunya, dengan kisaran waktu 5 jam, buku dengan teks gurih ini berhasil disantap, lezaaat.

Penutup

Dalam Mengapa, Dina?, Rendy cukup piawai memotret kondisi sosial masyarakat Indonesia secara umum. Selain itu, kenyataan dalam diri seorang manusia pun dituliskan dengan jujur, ikhlas, dan sederhana, tanpa tendensi untuk memoralisasi para pembaca.

Buku ini adalah buku ringan, ringan di dompet, dan juga ringan dipikiran dari segi percakapan. Namun, jika kalian orang-orang yang penasaran dengan jalan pikiran seorang Ted dan juga kritis tentang situasi Indonesia, mungkin kalian akan semakin kepikiran tentang nasib Indonesia, sebagaimana Ted memikirkan Dina, ujungnya galau, murung.

Bagi yang berminat membaca buku ini, bisa langsung kepo-in Bung Rendy di:

rendyadiwilaga@gmail.com