MMORPG terkadang dijadikan ajang “lari dari kenyataan” oleh sebagian orang. Tanda-tandanya adalah orang tersebut menjadi lebih mementingkan gim tersebut ketimbang peran sosialnya di dalam masyarakat. Kehidupan virtual dan ril pun jadi seakan terbalik.

Gim daring (online game) semakin banyak dinikmati oleh para pemain baru dari berbagai macam platform. Populasi dari gamer pun makin membludak seiring dengan perkembangan gawai (gadget), terutama ponsel pintar (smartphone) yang menyediakan bermacam gim-gim yang dapat diakses dengan mudah.

Fungsi sekunder dari ponsel kekinian tak jarang membuat sebagian orang yang awalnya acuh terhadap gim alias video game pun bermetamorfosis menjadi gamer. Melihat seorang satpam asyik bermain mobile legends saat bertugas pun seakan bukan lagi menjadi pemandangan yang aneh.

Banyak pula bermunculan gim daring bergenre MMORPG yang multiplatform. Ponsel pintar pun tak luput dari sasarannya. Euforia menjadi gamer militan yang asalnya hanya menjangkit para pemain gim konsol dan PC pun menyebar semakin merata.

Di berbagai media, orang sibuk mempromosikan gim ini dan itu, tanpa pernah membahas secara serius apa dampak buruk yang mungkin muncul dari akibar “terlalu serius” memainkan gim tersebut. Yang penting nambah followers dan gampang di endorse.

Dari bermacam dinamika tersebut, penulis yang memang juga eks pemain gim MMORPG yang cukup frontal ingin sedikit memberikan argumennya perihal keyakinan “lari dari kenyataan” dengan MMORPG yang banyak menjangkit beberapa pemain.

Lari dari atmosfir sekolah, kuliah, dan kerja yang memuakkan kerap terasa terobati oleh beberapa pemain di gim MMORPG. Quest-nya yang seakan tanpa akhir, level maksimum dari avatar yang terus di-update oleh patch yang diperbaharui, dan juga sistem-sistem baru seperti pernikahan antar avatarhousing system, dan dungeon baru pun kerap membuat beberapa pemain menjadi “terlalu terikat” dengan sebuah gim.

Melalui beberapa contoh di atas, penulis akan sedikit memberikan perbandingan yang mencoba untuk menyatakan bahwa hal-hal di atas tidak akan pernah bisa dijadikan jawaban kita untuk lari dari kenyataan hidup.

Jangan Lupakan Kalimat ‘Role Playing’

Sebelum berbicara lebih jauh, mari kita sedikit lebih memaknai singkatan dari MMORPG itu sendiri. Massively Multiplayer Online Role-playing Game atau biasa disingkat menjadi MMORPG bisa diartikan sebagai permainan (Game) massal (Massively/Multiplayer) yang dimainkan secara daring (online) dengan cara memerankan suatu karakter/avatar (Role-playing) di dalam permainan.

Kalimat yang cukup penting dari penjelasan di atas adalah unsur “role-playing” alias memerankan sesuatu. Coba Anda bandingkan kalimat tersebut dengan kehidupan nyata Anda; mungkin, Anda saat ini sedang berperan sebagai pelajar atau mahasiswa, pekerja, seorang ayah atau ibu dan fungsi sosial lainnya.

Sama seperti avatar Anda di MMORPG, jika Anda memerankan fungsi sosial Anda dengan buruk, tak jarang Anda pun dikucilkan dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang memang semakin menyeramkan. Dari satu aspek dasar itu saja, Anda sudah dapat peringatan keras dari “realitas” bahwa Anda tak bisa lari dari kehidupan dengan MMORPG karena kalimat “role-playing” di sini akan mengingatkan Anda perihal peran Anda di kehidupan.

Apa yang biasanya Anda perankan di MMORPG? Kategori kelas petarung dengan bermacam sub-peran seperti tanker, dps, dan support role. Tujuan Anda berperan di MMORPG? Untuk menjadi lebih kuat dan keluar dari lingkaran “noob” (sindiran untuk pemula dan pemain yang kurang pandai bermain). Untuk apa menjadi lebih kuat? Jadi kaya dan menaklukan berbagai macam tantangan yang terdapat dalam gim.

Semua hal di atas terjadi secara bertahap dan beriringan di alam MMORPG. Bila kita renungkan, semua aspek tersebut tak jauh berbeda dari “peran” kita di dalam masyarakat. Kita lahir ke dunia ini mulai level terkecil, putih, kosong, dan tidak mengetahui apa-apa. Kita memilih sub-peran kita di dalam masyarakat melalui tempaan pendidikan formal dan non-formal demi menghadapi “kedewasaan” yang akan menghampiri kita.

Untuk menjadi lebih kuat dan tidak tertindas, ilmu yang kita tempa dari pendidikan formal dan non-formal harus kita manfaatkan ke dalam suatu nilai yang kita sebut “bekerja”. Pekerjaan tersebut berusaha kita konversikan ke dalam nilai-nilai yang bisa menunjang kemandirian ekonomi kita. Sedangkan, waktu luang yang kita punya bisa dimanfaatkan untuk mengeksplorasi dunia ini sesuai dengan minat kita.

Cobalah perbandingkan peran Anda sebagai pemain MMORPG dengan contoh yang disebutkan perihal kehidupan di atas. Mirip bukan? Faktor manakah yang akan menarik Anda kepada “lari dari kenyataan” yang terkadang digembar-gemborkan oleh beberapa pemain yang mungkin sedang merasa bingung. “Pekerjaan” Anda untuk “berperan” justru semakin bertambah (peran di dunia virtual dan di dunia nyata).

Jadi, apakah “lari dari kenyataan” masih bisa digelorakan?

Aspek Penting di MMORPG yang Hampir Serupa dengan ‘Kenyataan’

Agar lebih bisa memperjelas perenungan kita perihal fenomena ini, berikut penulis sertakan elemen-elemen penting di MMORPG yang aspek-aspeknya hampir sama dengan kehidupan nyata. Elemen itu akan diperbandingkan dengan kehidupan nyata yang umumnya menyertai kehidupan kita.

  • Status Point di MMORPG: Bila avatar Anda naik level (leveled), Anda akan mendapatkan sejumlah status point yang berguna untuk meningkatkan kemampuan avatar Anda. Di sini, penulis akan mengambil contoh tiga status point umum yang kerap terdapat di MMORPG, seperti; STR (Kekuatan), INT (Kepintaran), dan juga AGI (Kecepatan). Pemain disuruh memilih status point mana yang kira-kira cocok bagi perannya, memilih status point yang tidak sesuai dengan peran akan mengakibatkan kesulitan dalam perkembangan avatar.
  • Memperbandingkan Status Point di Kehidupan Nyata: Kehendak bebas Anda akan memilih peran sosial yang kira-kira sangat ingin Anda dambakan. Misal, bila Anda ingin menjadi atlet, Anda akan melatih kemampuan jasmani Anda yang mungkin bisa disejajarkan dengan STR (Kekuatan) di dunia MMORPG. Biasanya “STR” itu dilatih beriringan dengan AGI (Kecepatan) fisik Anda. Sebaliknya, jika Anda lebih suka ilmu pengetahuan, Anda pun cenderung akan melatih INT (Kepinataran) Anda melalui bermacam sumber pengetahuan. Bedanya, di MMORPG, status point cenderung terbatas, sedangkan di kehidupan nyata, potensi itu bisa digali secara beriringan dan batasannya tergantung dengan bermacam faktor fisik dan mental yang Anda punya.
  • Equipments di MMORPG: Selain status point, Anda juga akan dibekali dengan equipments (perkakas) di MMORPG. Equipments itu bisa Anda dapatkan dari membunuh monster, menyelesaikan quests (misi), atau transaksi jual-beli antar pemain dan juga NPC. Semakin baik equipments yang Anda miliki, semakin ringan pula perkembangan avatar Anda dalam menghadapi rintangan yang hadir di MMORPG.
  • Memperbandingkan Status Point di Kehidupan Nyata: Tak ubahnya MMORPG, Anda terkadang membutuhkan “perkakas” yang pas sebagai penunjang peran Anda di dalam masyarakat. Kebutuhan sandang dan pangan menjadi faktor yang utama, setelah kedua hal tersebut, faktor-faktor sekunder sebagai penunjang perkembangan Anda pun mulai diperhitungkan, contoh; buku, internet, transportasi, dan media hiburan. Semakin baik dan varitaif “perkakas dan fasilitas” yang Anda miliki, potensi untuk mengembangkan diri pun semakin terbuka.
  • Finansial di MMORPG: Untuk menunjang faktor-faktor di atas, pemain pun membutuhkan kemandirian ekonomi di dalam gim. Pemain bisa mendapatkan pundi-pundi itu dengan cara farming dan memburu barang langka (rare item) yang biasanya dihasilkan dari membunuh monster tertentu. Hasil dari perburuan tersebut bisa dijual dan dikonversikan kepada pemain lain yang membutuhkan dalam bentuk mata uang virtual ataupun barter.
  • Memperbandingkan Finansial di Kehidupan Nyata: Untuk bermain MMORPG, pemain harus membayar tagihan listrik, jasa internet, dan juga biaya billing (bagi yang bermain di warnet). Kebutuhan primer seperti makan dan minum pun harus tetap terpenuhi yang bilamana berani menampik hal ini sama saja dengan bunuh diri. Begitu dekat sekali dengan contoh di kenyataan perihal hal yang satu ini. Bagi yang belum bekerja dan masih dalam tanggungan, jangan lupa: semua ini hanya masalah waktu.
  • Interaksi Sosial di MMORPG: “Buat apa maen game online kalo gak berkomunikasi? Maen game offline ae..” Itulah celetukan seorang teman yang penulis ingat ketika berkomentar perihal komunikasi di MMORPG. Seminim-minimnya interaksi, Anda pasti harus berinteraksi dengan pemain lain di MMORPG. Interaksi dengan pemain lain akan memudahkan Anda dalam tantangan-tantangan dalam gim yang memang rata-rata harus diselesaikan secara beregu, contoh: Raid/Bossing/ Guild Events. Gim MMORPG yang baik biasanya tak akan membuat suatu Boss yang bisa dikalahkan seorang diri. Unsur menghibur dalam gim MMORPG, biasanya muncul jika pemain bisa berintergrasi dan bekerjasama sesuai dengan perannya masing-masing untuk mengalahkan tantangan dalam gim.
  • Memperbandingkan Interaksi Sosial di Kehidupan Nyata: Bagi yang mengaku dirinya sebagai anti-sosial pun seminim-minimnya harus berinteraksi dengan orang lain. Misal, ketika Anda mau berbelanja kebutuhan. Kecuali, Anda tinggal di hutan belantara atau pegunungan terpencil. Kembali pada pola hidup pemburu dan peramu seperti nenek moyang kita.
  • Akhir dari MMORPG: Kiamat di gim MMORPG cepat atau lambat pasti akan terjadi. Biasanya terjadi ketika inflasi, misi, dan pencapaian di dalam gim sudah jauh melebihi patch yang diberikan oleh pengembang. “Dunia” yang tak seperti dahulu pun kerap ditinggalkan sejumlah pemain yang tak lagi bisa menemukan unsur hiburan dari bermain gim tersebut. Penderitaan tak kasat mata akan hadir bagi pemain yang terlalu banyak mengorbankan “perannya” di kehidupan nyata.
  • Akhir dari Dunia: Sama seperti dunia MMORPG, kehidupan ini pun pastinya akan berakhir. Setidaknya itu yang diyakini oleh penulis. Bila mengingat hal ini, biasanya seseorang akan mencoba menyesali perbuatannya yang ternyata pernah merugikan dirinya dan orang lain. Tindakan untuk mempurifikasi hal tersebut pun tak jarang datang secara terlambat.

Kesimpulan

Itulah bebebrapa perbandingan yang menjelaskan bahwa bermain MMORPG tidak pernah bisa lepas dari aspek-aspek yang sangat mirip dengan peran sosial kita di masyarakat. Menganggap bermain MMORPG bisa membius kita pada suasana “lari dari kenyataan” pun akan semakin bisa dipertanyakan kebenarannya.

Penulis bukan berusaha untuk “menakut-nakuti” atau “melarang” orang lain untuk bermain MMORPG. Melainkan berusaha menjelaskan pada pemain atau calon pemain, bahwa memposisikan diri saat bermain MMORPG agar tidak mengganggu peran dan fungsi kita di dalam masyarakat adalah merupakan faktor yang cukup krusial yang harus kita pertimbangkan matang-matang.

Mungkin, sedikit kuncinya adalah masalah inventarisasi waktu dan keuangan.

Penutup

Persiapkanlah matang-matang rencana masa depanmu, selagi memungkinkan. Bila Anda memang mencintai gim, jadikanlah gim tersebut sebagai energi hidup yang bisa membangkitkan semangat edukatif dan kreatifmu. Yang deskruktif semacam keyakinan akan “lari dari kenyataan,” sebaiknya Anda buang jauh-jauh ke tong sampah. Kecuali, Anda memang sudah siap menerima semua resikonya: ada sebab, ada akibat.

Selamat bermain dan selamat tidak lari dari kenyataan.


*Terima kasih buat R.V.R di Vancouver yang telah menginspirasi penulis untuk membikin tulisan ini. Terima kasih atas waktu kita yang berharga beberapa tahun silam di dalam semesta MMORPG. Semoga ekspektasimu dalam hidup seiring terwujud.