Menanggapi wacana tentang jurusan esports di Indonesia, pada artikel sebelumnya kita telah membahas sekilas tentang sejarah pendidikan dan esports. Pada artikel ini kita akan membahas esports lebih mendalam, terutama kepada para aktor yang berperan dalam esports. Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah gamer profesional serta korelasinya dengan pendidikan yang ideal bagi kondisi para pemain gim profesional.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas sekilas tentang lika-liku kehidupan para gamer profesional pada umumnya. Setelah kita bisa merasakan apa yang mereka sering alami dikehidupannya,kemungkinan besar kita bisa menyimpulkan bentuk pendidikan yang seperti apa yang kira-kira dibutuhkan oleh para gamer profesional, khususnya di Indonesia.

Gaya Hidup Gamer Profesional

“Enak yah, main gim tiap hari, dapet gaji lagi…” Mungkin itulah celetukan sebagian orang tentang kehidupan para gamer profesional, namun apakah sesederhana itu? Kehidupan gamer profesional pada kenyataannya membutuhkan banyak pengorbanan. Tak sedikit dari mereka yang mengalami drop out ataupun memilih untuk tidak menginjak perguruan tinggi demi menjadi seorang pemain pro.

Dengan jadwal kompetisi yang semakin hari semakin banyak dan ketat, para gamer profesional pun harus menghabiskan waktu mereka untuk berlatih. Ditambah, peraturan dalam suatu gim itu terus berubah, tak seperti olahraga konvensional, gamer profesional pun harus terus menguras otak mereka karena perubahan regulasi dalam gim yang biasanya tergantung dengan patch dari gim yang mereka mainkan.

Tak ubahnya macam full time job, kehidupan mereka penuh dengan komitmen, ditambah mereka pun harus bermain sebagai tim yang kerap terpaksa membuat mereka hidup di sebuah gaming house, jauh dari teman dan keluarga tercinta.

Persaingan antar gamer profesional yang semakin hari semakin bertambah pun akan terus menekan mereka untuk meningkatkan kemampuan mereka. Di-kick (suatu istilah dalam gim yang berarti mengalami substitusi permanen alias dipecat) adalah hal yang bakal terus menghantui mereka jika mereka tidak bisa beradaptasi sebagai sebuah tim.

Pemasukan Gamer Profesional

Gamer profesional yang bergabung dalam sebuah managemen atau organisasi biasanya mendapatkan gaji pokok, entah itu perbulan maupun perminggu. Namun, biasanya gaji yang mereka hasilkan belum tentu cukup untuk memenuhi kehidupan mereka. Belum adanya keseukuran yang jelas tentang pemasukkan dan pengeluaran mereka sebagai tim kerap menjadi permasalahan yang terjadi dalam suatu tim profesional.

Selain itu, hadiah dari turnamen adalah salah satu pemasukkan mereka, turnamen-turnamen lokal di Indonesia sudah mulai memberikan prizepool yang menggiurkan bagi para gamer profesional. Tapi, apabila para gamer profesional bisa menembus kompetisi berskala internasional, adalah sesuatu yang membanggakan dan prizepool dari turnamen internasional pun lebih bisa menopang biaya hidup para gamer profesional.

Yang ketiga adalah sponsor, bentuk kerjasama dengan sponsor baik personal maupun tim dapat sangat membantu para gamer profesional untuk berkembang. Tak jarang perusahaan-perusahaan yang memproduksi gaming gears menyokong mereka, baik berupa barang maupun sejumlah uang tunai. Belum lagi dengan tawaran menjadi seorang Brand Ambassador suatu produk.

Keempat adalah live stream, banyak gamer profesional yang berusaha mencari sampingan sembari mempergunakan kemampuan mereka dengan melakukan live streaming disalahsatu saluran streaming online seperti, twitch, YouTube, ataupun Bigo. Donasi dan jumlah viewers-lah yang kerap kali menjadi patokan penghasilan mereka dari kegiatan ini.

Kelima adalah menjadi pelatih, biasanya pemain veteran ataupun pemain yang masih aktif namun biasa menyusun sebuah strategi dalam permainan akan bisa mengisi pos ini. Pelatih bertugas untuk menggali potensi pemain dalam tim, mengobservasi current meta (semacam teknis dalam permainan yang terus dinamis, tergantung dari patch suatu gim), sampai meningkatkan ketangguhan psikologis pemain dalam turnamen.

Simulasi dari Karir Gamer Profesional setelah Esports

Pemain esports profesional umumnya menghadapi kasus yang sama dengan para atlet olahraga profesional, mereka kerap mengalami kekurangan pengetahuan dari pendidikan tinggi dan pengalaman untuk menjalankan kehidupan sebagai masyarakat.

Dampaknya, setelah terlalu lama berkecimpung di dunia esports, sebagian besar dari mereka yang tidak mempunyai kemampuan dibidang selain esports akan mengalami kesulitan, terutama kemandirian ekonomi.

Layaknya atlet olahraga konvensional, mereka tidak mendapatkan pensiun, kemampuan yang mereka asah selama bertahun-tahun pun berangsur memudar akibat faktor usia seperti kecepatan dan juga stamina.

Realita Kehidupan Pemain Esports Profesional dan Pendidikan Formal

Setelah membahas tentang gambaran umum tentang pemain esports profesional, kini saatnya menjawab wacana tentang hadirnya jurusan esports di Indonesia. Tentunya kita tidak mau bila pemain profesional malah justru terbebani dengan adanya wacana jurusan esports di Indonesia.

Formalitas pendidikan dengan tema jurusan esports inilah yang perlu dihindari. Oleh karena itu, pendidikan yang membebaskan manusia dari kungkungan lingkungan menindaslah yang dibutuhkan oleh para gamer profesional beserta para calon gamer profesional.

Tentu saja harapan dari jurusan esports hadir tak semata untuk membuat para pemain esports profesional jago dalam bertanding, harus ada nilai-nilai lain yang dapat menjamin kehidupan para pemain esports profesional dalam menjalani kehidupannya untuk membebaskan mereka dari kungkungan lingkungan yang menindas.

Wacana jurusan esports harus lebih dikembangkan sebagai pendidikan yang memberi bekal kepada para pemain esports profesional untuk memecahkan bermacam problematika mereka ketika “menghidupi” esports. Amunisi yang dipersiapkan bagi mereka untuk menghadapi keadaan seperti: sebelum, ketika, dan sesudah mereka terjun ke dalam dinamika dunia esports.

Apakah itu tujuan sebenarnya dari wacana mengenai jurusan esports yang akan hadir di Indonesia? Kalau jurusan esports hanya memberikan secarik ijasah, gengsi semu, dan menyedot dana pendidikan dari kantong pemain, rasanya hadirnya pendidikan esports tidak cukup penting dan kehilangan urgensinya.

Pada artikel selanjutnya, akan dibahas mengenai simulasi mengenai rancangan keilmuan yang kira-kira dibutuhkan oleh para gamer profesional sebagai pertimbangan apabila wacana tentang ranah esports yang masuk dalam dunia pendidikan terealisasi.***