Menanggapi wacana jurusan esports yang akan hadir di Indonesia, pada artikel pertama, kita telah mempelajari mengenai sekilas sejarah pendidikan dan esports, dan pada artikel kedua, kita telah mempelajari pemeran utama yang membuat esports semakin eksis yaitu para pemain profesional.

Pada artikel ketiga, sekaligus artikel penutup, kita akan mencoba untuk mensimulasikan bidang keilmuan apa saja yang dapat mendukung para gamer profesional sesuai dengan kebutuhan mereka berdasarkan dinamika kehidupan mereka.

Mengambil sudut pandang pendidikan sebagai alat untuk: membebaskan manusia dari kungkungan lingkungannya yang menindas, artikel penutup ini akan mencoba menjawab kebutuhan apa yang kira-kira dibutuhkan apabila realisasi tentang jurusan esports hadir di Indonesia.

Pendidikan yang Memberikan Prinsip Fundamental Bagi Gamer

Poin yang paling penting, kebutuhan umum atas dasar realitas yang dibutuhkan oleh para gamer. Beberapa hal diantaranya adalah strategi untuk terus bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi, baik itu pengetahuan dasar terhadap perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware).

Dengan peningkatan kemampuan terhadap penguasaan software, baik itu berupa sistem operasi komputer beserta tetek bengeknya, dan juga penguasaan terhadap gim-gim yang kira-kira berpotensi untuk menjadi gim yang sering dilombakan untuk turnamen esports yang berskala masif, pemain profesional akan mudah beradaptasi dan mempunyai arah yang lebih sistematis untuk pengelolaan kemampuan mereka.

Dengan peningkatan kemampuan terhadap software, pemain profesional pun dapat lebih mudah untuk mensosialisasikan nama mereka di internet dan sosial media. Sebagai contoh: prinsip dasar agar mereka bisa melakukan live streaming dalam berbagai medium yang dapat mempermudah mereka mensosialisasikan namanya, terutama pada para penggemar dan juga komunitas.

Dengan peningkatan kemampuan terhadap hardware, pemain profesional diharapkan dapat menonjolkan kemampuan terbaik mereka dengan memilih spesifikasi gaming gear dan computer hardware terbaik sesuai dengan preferensi mereka masing-masing.

Selain itu, dengan semakin terbukanya wawasan para gamer profesional mengenai hardware, mereka tak perlu lagi takut untuk menghadapi perkembangan hardware yang begitu masif dan diharapkan mampu untuk terus beradaptasi dengan kondisi tersebut, sehingga tidak ada lagi alasan untuk tertinggal atau tidak dapat memberikan kemampuan terbaik gara-gara hardware.

Pendidikan yang Memberikan Ruang untuk Memperkuat Mentalitas Pemain

PPD (mantan pemain profesional dan pemenang The International 5 Dota 2), pernah berkomentar pada acara The International 7 Dota 2 bahwa rata-rata pemain dari Asia Tenggara terbilang cukup baik dari segi kemampuan, namun hal yang kurang dari mereka adalah pengelolaan kepemimpinan (leadership) dan kurangnya kekuatan mental.

Dari argumen dan kenyataan bahwa esports Asia Tenggara perkembangannya masih jauh dibawah negara-negara di benua Eropa dan Amerika. Disinilah pendidikan, terutama disiplin ilmu dari bidang Psikologi akan sangat membantu para pemain profesional untuk mengelola mentalitas dan jiwa kepemimpinan mereka agar bisa bersaing di kancah Internasional.

Dengan Psikologi jugalah pemain dapat belajar untuk mengontrol emosi, sehingga pemain profesional lebih mempunyai etika dalam berkompetisi. Apabila kejiwaan tidak stabil, pemain dapat berpotensi melakukan hal-hal tidak masuk akal yang akan mencoreng nama mereka dalam kancah esports yang notabene berprinsip dasar pada sportifitas.

Pendidikan yang Membantu Pemain Mempraktekan Komunikasi yang Efektif

Bidang keilmuan semacam ilmu komunikasi akan sangat membantu para pemain untuk dapat berkomunikasi secara efektif, hal ini berguna untuk pertandingan-pertandingan esports beregu yang membutuhkan ketangkasan dalam berstrategi yang unsur dasarnya adalah komunikasi.

Tanpa komunikasi yang efektif, strategi sebrilian apapun tak akan mampu untuk dimanifestasi secara utuh. Selain komunikasi, bidang keilmuan seperti antropolgi dasar pun dapat membantu pemain untuk mengerti latar belakang dan kebiasaan pemain-pemain lain mengingat Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan ras.

Apabila pemain dapat mengaplikasikan komunikasi yang efektif, pemain pun dapat lebih mudah bersosialisasi dengan komunitas, fans, dan veteran yang akan membantu meningkatkan performa pemain dari bermacam dimensi, terutama kepercayaan diri.

Setelah berhasil mempelajari semua itu, bidang keilmuan seperti bahasa asing, terutama bahasa Inggris akan membantu pemain untuk dapat meraih jenjang karir sebagai pemain esports profesional yang bisa berkarir di luar Indonesia.

Pendidikan yang Mampu Mengadvokasi Para Pemain Profesional

Mempelajari keilmuan seperti ilmu hukum akan membuat gamer profesional melek hukum. Apa keuntungannya? Gamer profesional akan lebih berhati-hati terutama dalam masalah kontrak kerja. Dengan pengetahuan dan payung hukum yang jelas, diharapkan para pemain profesional dapat menerima haknya sebagai gamer profesional secara utuh, terutama masalah keuangan.

Semakin pemain profesional terbuka pandangannya terhadap hukum, semakin susahlah para managemen atau organisasi-organisasi nakal yang mencoba mengeksploitasi para gamer profesional dengan melakukan segala bentuk penipuan.

Ya, bukan hanya pemain profesional saja yang harus bertindak sportif, para managemen nakal pun harus insyaf ataupun menggundurkan diri dari semesta esports. Bagaimana pemain profesional akan berkembang jika mekanisme yang menjadi pendukung esports penuh dengan kecurangan?

Selain hak, diharapkan dengan semakin terbukanya pemain terhadap bidang hukum, para pemain pun dapat mengetahui apa saja kewajiban dan konsekuensi mereka sebagai profesional, sehingga tidak ada satupun pihak yang dirugikan.

Lingkungan esports yang sehat dan saling mendukung akan menciptakan sinergi antara para pemain dan penggiat esports, potensi itulah yang dapat membuat skema esports Indonesia mengalami lompatan besar dalam perkembangannya.

Pendidikan yang Membantu Menopang Perkembangan Kreatifitas Para Pemain

Dengan bidang keilmuan seperti seni rupa beserta turunan-turunannya hadir, seperti: Seni Musik, Seni Peran, Seni Lukis, Desain, Sinematografi, Game Maker dan juga bidang keilmuan seperti Sastra, diharapkan pemain lebih banyak memiliki opsi untuk menceritakan pengalamannya secara lebih mandiri.

Semua faktor tersebut dapat berguna apabila pemain profesional gagal ataupun pensiun dari karir mereka sebagai pemain esports. Kalau gagal sebagai pemain, mereka tetap dapat berkontribusi di dunia esports dengan kemampuan-kemampuan dasar mereka untuk mengembangkan kreatifitas.

Bayangkanlah, ketika karya-karya unik dan menarik hadir dari tangan-tangan yang pernah bersentuhan secara langsung dengan dunia esports. Dapat dipastikan mereka bisa lebih menghasilkan karya yang menjiwai dunia esports itu sendiri, sehingga mereka pun bisa mempunyai opsi lain selain bertarung dalam dunia esports.

Sebagai contohnya, ingat, Indonesia itu masih krisis komentator atau announcer di bidang ini esports. Bilamana kreatifitas para penggiat esports hadir dan bisa dimaksimalkan, tentu saja perkembangan esports di Indonesia bukanlah hisapan jempol belaka.

Harapan bagi Kemajuan Esports Indonesia

Itulah beberapa simulasi mengenai rumusan tentang pendidikan yang sekiranya dapat melepaskan para pemain profesional dari kungkungan lingkungannya yang menindas.

Bisa dilihat, untuk mewujudkan semua itu, keilmuan esports tidak bisa berdiri sendiri, hampir semua keilmuan pun hadir dan mempunya korelasi untuk berkontribusi dalam pendidikan esports.

Bilamana jurusan esports hadir, tentunya biarkanlah ia menjadi mungkin, tetapi harus hadir untuk membantu membebaskan para pemain profesional dari bermacam problematika yang harus mereka hadapi.

Pemain dan para penggiat esports harus berperan pro-aktif untuk menanggapi wacana mengenai jurusan esports yang katanya bakal hadir ini.

Dan jangan lupa! Mari teriak beasiswa!

Jangan biarkan pendidikan esports, jurusan esports, atau apapun itu namanya yang berhubungan dengan pendidikan dan esports hanya berfungsi untuk membuat segelintir pihak yang tidak peduli dengan perkembangan esports mengeksploitasi ranah ini.

Kalau sekiranya pendidikan esports hadir dan berfungsi mirip seperti organisasi atau serikat managemen ditambah bumbu sertifikasi berupa ijasah, ya buat apa? Kan sudah ada?

Buang-buang waktu, buang-buang uang, terjebak euforia, dan pencitraan semu. Pemain makin rugi, dan segelintir makelar pendidikan pun happy.