Penguin Summer adalah sebuah novel ringan (light novel) karya penulis Jepang bernama Mutsuda Akira. Di Jepang sendiri, budaya light novel sudah memiliki komunitas pembacanya sendiri dan kokoh berdiri sejajar dengan komunitas penggemar manga, anime, dan gim. Tidak jarang juga, beberapa light novel telah diadaptasi menjadi anime, baik itu berbentuk serial atau film lepas.

Apa identitas-identitas umum yang melekat pada light novel, terutama light novel dalam kaidah Jepang? Unsur-unsur seperti ukuran buku yang cukup kecil dan disertai dengan adanya ilustrasi dengan gaya manga kerap menghiasi isi dari light novel. Dengan unsur tersebut, popularitas light novel nampaknya dapat diterima oleh generasi-generasi muda (kebanyakan light novel di Jepang dikonsumsi oleh golongan remaja ke atas).

Yang lebih menarik lagi, terlepas dari panjang dan pendekya serial, light novel selalu tampil dalam tampilan yang kecilnya hampir sama dengan ukuran manga. Light novel juga menganut sistem penerbitan yang hampir sama seperti manga, yaitu per volume. Dengan begitu, ukuran light novel tetap bisa selalu hadir dalam bentuk yang terlihat tipis dan ergonomis meski sebagian light novel memiliki narasi cerita yang panjangnya hampir sama seperti gerbong kereta api.

Ilustrator dari Penguin Summer bernama Shino, penyuka nasi goreng ini kerap mengaku senang menggambar dengan gaya yang unik. Dialah yang menciptakan semua unsur visual dari light novel ini. Shino juga gemar mengoleksi aksesores berbentuk lonceng kecil.

Penguin Summer pertama kali diterbitkan pada tahun 2009 oleh Ichijinsha Inc. di Tokyo, Jepang. Pada tahun 2013, buku ini diterbitkan secara resmi di Indonesia oleh penerbit Shining Rose. Novel ini diterjemahkan oleh Jaka Tanujaya. Nah, yang akan kita bahas sekarang adalah Penguin Summer versi bahasa Indonesia tentunya.

Penguin Summer
(dok. penulis)

Pada lembar pertama buku ini diisi dengan potongan scene dari light novel, lengkap dengan illustrasinya yang berwarna (full color) dan kertas glossy. Pada lembar kedua buku ini tampil perkenalan para tokoh kunci dalam buku ini yang masih dengan tampilan yang berwarna.

Penguin Summer
(dok. penulis)

Masuk dalam lembaran hitam putih, akan ada semacam note yang akan menjelaskan secara ringkas tentang penggunaan beberapa kode kebudayaan Jepang dalam light novel ini. Hal ini akan sangat membantu para pembaca untuk mengenal istilah-istilah, terutama perihal keisho yang umumnya hanya berlaku di Jepang.

Ketika tertulis halaman 1 di pojok kanan bawah, disitulah cerita akan dimulai. Light novel ini terdiri dari 7 chapter, belum termasuk prolog dan epilog.

Sinopsis

Babak dimulai dengan percakapan antara protagonis laki-laki dan perempuan yang nampaknya sudah terlihat sangat akrab layaknya teman masa kecil. Soma Akari mengajak Higashida Takashi untuk mencari Kubinashi-sama di gunung Shirokobe.

Penguin Summer
(dok. penulis)

Dalam Penguin Summer, Akari digambarkan sebagai sosok gadis yang penuh energik namun cenderung ceroboh. Akari kerap melakukan sesuatu hal yang berbahaya tanpa perhitungan yang panjang dan matang. Takashi sebaliknya, dia adalah pria yang terlalu logis, dan terbilang jaim. Dia sering sekali menyembunyikan perasaannya demi pencitraan dirinya yang ingin selalu terlihat logis dan kalem.

Penguin Summer
(dok. penulis)

Hal itu mereka lakukan dalam suasana liburan musim panas di Jepang. Liburan musim panas umumnya dijalani oleh anak sekolahan di Jepang, musim panas sendiri berlangsung kira-kira dari bulan Juli hingga Agustus.

Dalam narasi, diceritakan bahwa Kubinashi-sama merupakan semacam urban legend alias cerita rakyat dari kota Shirokobe. Berkisah tentang epos kepahlawanan Kubinashi-sama yang berhasil mengusir gerombolan Bandit Setan Putih yang meresahkan penduduk Nagase (desa di kaki gunung Shirokobe). Dalam versi legenda umum, kejadian itu terjadi pada era Kamakura.

Uniknya, sosok Kubinashi diriwayatkan bukan berasal dari golongan manusia. Ia adalah makhluk misterius yang kerap digambarkan sebagai sosok tanpa kepala dari golongan peri atau orang mati. Dalam bahasa Jepang, secara harfiah kubinashi dapat diartikan sebagai “yang tidak berleher”.

Efek berantai dari legenda rakyat itu terus hidup di hati dan sanubari warga Shirokobe. Terbukti, setiap 5 tahun sekali ada saja warga yang mengaku melihat sosok Kubinashi-sama. Hal itu ditambah dengan wartawan-wartawan yang datang dari Tokyo untuk mengangkat rumor tersebut.

Saat itu, kota Shirokobe sedang dilanda berbagai musibah seperti teror bom dan diculiknya hewan dari kebun binatang setempat. Kelompok yang mengaku bertanggung jawab dalam insiden tersebut adalah Kelompok Topeng Merah yang disinyalir bersembunyi di pedalaman gunung Shirokobe.

Keanehan yang bertubi-tubi tak berhenti sampai disini, Takashi menemukan seekor pinguin di belakang rumahnya di musim panas. Tidak sampai disitu, ternyata pinguin tersebut mampu berbicara dalam bahasa manusia! Permintaan pertama pinguin itu saat bertemu Takashi adalah mengganti baterai miliknya.

Baterai? Ya, dia bukan lagi makhluk organik. Sekujur tubuhnya telah diubah menjadi cyborg oleh Kelompok Topeng Merah. Pinguin yang menamai dirinya sebagai Gugigi itu pun bercerita bahwa dia adalah ‘kelinci percobaan’ dari Kelompok Topeng Merah. Di saat Kelompok Topeng Merah ingin menjadikannya senjata untuk memerangi manusia, ia pun kabur tanpa sempat dicuci otak.

Keseruan cerita akan dimulai ketika Takashi, Gugigi, dan Akari terlibat dalam usaha untuk menghentikan masalah-masalah yang diciptakan oleh Kelompok Topeng Merah.

Bentuk Cerita

Alur cerita dalam light novel ini terbilang cukup unik. Berjenis alur campuran, karena alur dalam light novel ini terkadang memiliki alur maju dan alur mundur secara acak. Dalam beberapa bagian, akan disuguhkan penggalan buku harian milik beberapa tokoh di luar tokoh utama. Bagian itu diracik dan terlihat sebagai sebuah penelitian yang akan menjadi sumber penentu jalan cerita utama.

Keunikan

Layaknya budaya Jepang yang mendunia, light novel ini sangat tidak malu-malu untuk memasukan unsur-unsur kebudayaan mereka dengan sangat menarik. Mulai dari makanan yang bernama banana no tamago yang dideskripsikan  sebagai kue sponge berbentuk telur dan berisikan krim rasa pisang khas Shirokobe. Tradisi Ochugen, yang berarti memberikan hadiah kepada sanak saudara, dokter, guru, atau pimpinan yang diadakan antara bulan Juli hingga awal Agustus pun turut ditampilkan.

Kanal berita daring (online) yang berbentuk BBS pun turut ditampilkan dalam light novel ini. BBS (Bulletin Board System) merupakan suatu jaringan komunikasi yang mirip dengan forum tapi lebih berbasis teks. Walaupun sebagian besar negara telah beralih ke forum, tapi di beberapa negara (termasuk Jepang) BBS masih sering digunakan.

Selain itu, kamu bakal menemukan bagian-bagian yang dapat membuatmu tertawa dan tersenyum justru pada babak dimana sang penulis menjelaskan tentang latar belakang para antagonis. Kedua antagonis dalam light novel ini digambarkan sebagai sosok yang jenaka, namun tetap sadis, dan kurang memiliki rasa simpati.

Sebagai contoh, ilmuan gila yang digambarkan sebagai seorang yang jenius namun cukup ceroboh dalam menciptakan perangkat-perangkat jahatannya sehingga terkadang sang ilmuan gila terkena ‘senjata makan tuan’-nya sendiri. Tak hanya itu, Ketua dari sebuah organisasi jahat digambarkan sebagai sosok yang tidak punya jiwa kepemimpinan, pelit, dan cenderung berpikir sempit. Dari kurangnya kredibilitas mereka sebagai anatagonis sejatilah, tawa para pembaca akan lahir.

Bila kalian penggemar Doraemon, Kamen Rider Black, atau Cyborg 009, sensasi bertemu kembali dengan “kantong ajaib” dan “cyborg kabur dari organisasi jahat macam Gorgom atau Black Ghost” akan kalian rasakan di Penguin Summer.

Kekurangan

Saking liarnya imajinasi penulis, ada beberapa penjelasan tentang benda-benda yang tergolong nonsens untuk diimaginasikan. Contoh, dideskripsikan bagaimana seekor pinguin dengan tinggi 1 meter memiliki bobot seberat 5 kilogram hilang dari Kebun Binatang. Tentunya tidak masuk akal bukan bila membayangkan seekor pinguin dengan berat 1 meter hanya memiliki bobot seberat 5 kilogram?

Dalam suatu adegan, Gugigi juga sempat berkata: “aku sudah tidak lagi memiliki otak burung”. Bukankah dengan perkataan tersebut konsistensi Gugigi kabur dari skema cuci otak akan menjadi gugur? Kecuali cuci otak dalam sudut pandang penulis adalah cuci otak yang terjadi setelah penggantian otak Gugigi. Namun, tetap saja hal tersebut dapat menimbulkan spekulasi di kalangan pembaca.

Terlepas dari kekurangan dan keunikan buku ini, Penguin Summer masih sangat layak untuk dinikmati. Terutama bagi para penggemar kebudayaan populer khas Jepang. Light novel ini akan memberikan cukup banyak referensi bagi kalian yang cukup kenyang dengan produk-produk kebudayaan Jepang seperti musik, dorama, anime, manga, dan gim.

Light novel ini kiranya dapat dinikmati oleh semua kalangan, khususnya remaja. Dalam Penguin Summer, tidak ada unsur vulgar dan menyimpang dari nilai-nilai moral yang umumnya berlaku di Indonesia. Jadi, Virtual Vriends gak perlu was-was lagi sekiranya ingin mencoba membaca buku yang sudah secara resmi diterbitkan di Indonesia ini. Selamat membaca!