Otaku, fujoshi, dan fudanshi? Istilah apa sih itu? Kultur pop Jepang mungkin sudah bukan barang baru di negeri Indonesia, fanbase yang mendaku sebagai penggemar animemangaidol group pun semakin bergentayangan di Indonesia. Antuisasme yang mungkin turut juga dirasakan oleh VVriends sekalian. Artikel ini akan mencoba membahas mengenai istilah yang kerap kali semakin dipergunakan untuk mengasosiasikan orang atau perkumpulan yang kerap disebut sebagai otaku, fujoshi, dan fudanshi, khususnya para penggemar kultur pop Jepang di Indonesia.

Otaku?

Istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh esai dari Nakamori, seorang kolumnis dan editor asal Jepang. Digunakan untuk mengasosiasikan orang-orang yang mempunyai dorongan obsesif terhadap kultur pop Jepang, terutama anime (kartun Jepang), dan manga (komik Jepang).

Tak hanya sampai disitu, istilah ini pun semakin mengawang-awang seiring dengan mudahnya akses terhadap internet. Stereotipe masyarakat pun semakin mengisyaratkan, bahwa otaku itu para penggemar anime dan manga yang kurang pandai bersosialisasi secara langsung dengan masyarakat, dan lebih sering menggunakan internet sebagai alternatifnya.

otaku
Illustrasi otaku, kredit illustrasi: misiontokyo.com

Dari gejala gaya hidup seperti itu, tak sedikit kasus tentang gaya hidup mengurung diri dan anti-sosial pun lahir dengan istilah baru yang dinamakan hikikomori. Mengurung diri di kamar, menonton anime, membaca manga dalam kadar yang tinggi, dan memilih internet sebagai jembatan sosial kerap kali membuat masyarakat menempelkan stigma negatif pada para otaku. Namun, apakah benar otaku dapat disimplifikasikan segampang itu?

Tak sedikit para otaku yang berkarya secara produktif dalam bidang yang mereka sukai, khususnya dalam bidang seni rupa, dan cosplay (memerankan tokoh anime atau manga dengan menggunakan atribut yang mencirikan tokoh-tokoh tersebut dalam dunia nyata.) Jadi, ada baiknya bagi VVriends, terutama yang awam, untuk tidak cepat menilai para otaku sebagai manusia gagal.)

Bedanya dengan Fujoshi?

fujoshi
Illustrasi fujoshi, kredit illustrasi: pinterest

Mudahnya, fujoshi adalah para perempuan, penggemar manga dan anime yang memiliki selera pada genre-genre yang berbau homoseksual seperti (khusunya hubungan lelaki sesama jenis.) Mungkin mudahnya, semacam sub-golongan dari otaku perempuan yang seleranya lebih tersegmentasi kepada genre yaoi atau BL (Boys Love).

Penulis menemukan fakta yang cukup unik ketika berbicara dengan sebagian fujoshi, sebagian dari mereka hanya menyukai peragaan aktifitas homoseksual sebatas pada produk-produk yang berbau kultur pop Jepang (animemanga, dan games) di luar hal itu (kisah cinta sesama lelaki dalam film atau kisah nyata) mereka kerap tidak menyukainya.

Lalu Fudanshi?

Fudanshi adalah laki-laki yang memiliki selera pada genre-genre yang disukai oleh fujoshi. Apakah semudah menggelontorkan kata “batang demen batang” untuk menilai para fudan? Perlu riset lebih mendalam untuk dapat menghakimi para fudan dengan stigma ngawur macam itu.

fudanshi
Illustrasi fudanshi, kredit illustrasi: avo-blog.nl

Pengalaman penulis saat bertemu fudanshi cukup unik. Mereka mungkin terlihat agak flamboyan, namun mereka ternyata punya cewek di dunia nyata loh sodara-sodara! Aha, hayo para “jomblo ngenes,” masa kalian kalah sama para fudan yang mungkin kalian kira cuman sekedar esek-esek “batang demen batang”?