Cinta, istilah latinya amor dan caritas, dan istilah Yunaninya philia, eros, dan agape. Percintaan gamer pelajar, sudut pandang yang terkadang terlewat dari bingkai-bingkai percintaan remaja, bisa kita lihat banyak narasi-narasi percintaan remaja yang terekam melalui sinetron, film, dan novel kerap tak bisa mewakili kehidupan yang kadang harus dihadapi oleh gamer pelajar.

Tim VATRENI
Si Boy Anak Jalanan (Stefan Williams, kedua dari kiri) bersama tim Counter Strike Online. Tim VATRENI yang pernah menjadi juara 1 CSO Indonesia. Sumber: KASKUS

Tak heran bila bingkai cinta masa sekolah hanya dipenuhi oleh adegan balapan motor yang absurd macam Anak Jalanan, dan juga FTV yang menceritakan kisah si kaya dan si miskin yang berakhir dengan si kaya ‘mengadopsi’ si miskin cantik/ganteng dengan cara memacarinya, sehingga si miskin tak usahlah berkumpul dan berserikat untuk menutut kehidupan yang lebih layak. Padahal pemeran Boy dalam Anak Jalanan adalah salah satu gamer eSport yang berprestasi, sungguh ironis ketika produser dan sutradara tak mau menangkap spektrum percintaan gamer pelajar, ‘yaah mungkin tidak menjual, hehehehe.’

Maka dari itu, redaksi Virtual Verbal lagi-lagi ingin berspekulasi mengenai hal-hal yang kadang mengerubungi percintaan gamer pelajar. Yah, walapun para redaktur sudah tak lagi jadi pelajar, kami pun pernah muda, pernah jadi bayi yang lahir dari tangan-tangan Dokter, Bidan, pun Dukun Bayi yang kemudian tumbuh gede, dan tentunya pernah menjadi gamer pelajar. Langsung saja kita simak gaes!

Sulitnya Mengatur Keuangan Antara Cinta dan Video Games

dilema antara ngajak satnite si doi atau membeli itemall, gaming gear, dan biaya billing warnet (venturebeat.com)

Salah satu kewajaran yang kerap menimpa gamer pelajar saat berpacaran adalah keuangan, mengingat gamer pelajar rata-rata belum mempunyai penghasilan. Kadang kaum gamer pelajar selalu menghadapi dilema antara ngajak satnite si doi atau membeli itemallgaming gear, dan biaya billing warnet.

Jadi, adakah solusinya?

Dimana ada niat, disitu ada jalan, kata-kata klise itu terkadang memang benar adanya. Gamer Pelajar yang gigih biasanya tak berputus asa dalam hal ini, mereka kadang rela tak makan siang sembari nyicip jajanan teman-temannya, pulang nebeng teman, bahkan rela memakai pensil yang ukurannya udah lebih kecil dari tusuk gigi. Ya, para gamer pelajar selalu berhemat, hal itu dilakukan demi menyenangkan pujaan hati dan juga semangat virtual mereka.

Sulitnya Mengatur Jadwal Bermain dan Berkencan

Main dulu atau kencan ? (socialsecurityinfo.areavoices.com)

Setelah mengerjakan PR dan kerja kelompok (masa ia?) gamer pelajar pun akan terkadang sulit mengatur waktu mereka saat bermain dan berkencan. Ketika mau malming, harus ikut clan wars, atau kadang latihan bersama tim eSports mereka yang membuat si doi ngambek.

Jadinya putus?

Kalo emang cinta, ya jalanin aja dengan segala konsekuensinya. Gamer pelajar yang pintar membagi waktu adalah sebaik-baiknya gamer pelajar, kehidupan itu bukan macam Ujian Nasional yang jawabannya itu pilihan ganda macam A, B, C, D, E.

Masih ada jalan bagaikan esai yang bisa ditempuh oleh gamer pelajar, seperti contoh, pacaran tuh gak harus selalu malam minggu, kalau mereka kosong di malam jumat kliwon, bisa saja mereka berkencan di malam itu.

Bersyukurlah jika kamu dapet pasangan yang pengertian, sehingga para gamer pelajar mungkin bisa mengekspresikan cinta yang lebih besar daripada mitos malam jumat kliwon. Lagian tiket bioskop kalo hari libur tuh mahal, mending buat makan baso, jadi energi.

Selalu Ngarep Dapet Pasangan Gamers

Pasangan dengan hobby yang sama sangat diidamkan oleh beberapa gamers (kotaku.com.au)

Bila kedua hal di atas tak mempan dan membuat para gamer pelajar menjomblo, biasanya para gamer pelajar sering sekali bermimpi mendapatkan jodoh seorang gamer. Mungkin dengan harapan bahwa berpacaran dengan sesama gamer akan membuat mereka menjadi lebih pengertian.

Tapi sialnya, bagi gamer cowok, gak semua avatar cewek di semesta video game itu beneran cewek…

Selain ketemu hode, populasi gamer cewek itu lebih sedikit dari gamer cowok. Jadi, bagi para gamer cowok, hadapilah kenyataan bahwa saingan kalian itu banyak ketika kalian mau modus sama gamer cewek. Kerja keras macam apa yang berani kalian tawarkan? Semangat dan keep it real deh bagi yang pengen terus maju.

Selalu Menjadikan Video Game Sebagai Bahan Pelarian

Ketika percintaan gamer pelajar kandas, pada umumnya pelarian mereka adalah salah satu video game favorit mereka (http://kron4.com)

Ketika percintaan gamer pelajar kandas, pada umumnya pelarian mereka adalah salah satu video game favorit mereka. Disamping memasang status galau di sosial media, terkadang bermain sampai overdosis pun dilakukan oleh para gamer.

Suasana hati yang murung, terkadang membuat gamer pelajar melakukan manuver-manuver yang merugikan orang lain, terutama ketika mereka bermain permainan tersebut secara online. Kerap memaki-maki pemain lain sampai bertransformasi menjadi pemain toxic dan membuat suasana permainan menjadi muram.

Terkadang hal itu terus berlanjut, sampai titik dimana kita tersadar bahwa semua hal itu tidak akan pernah membalikkan apapun, rasa takut dari jiwa-jiwa yang kusut.

Selalu Ngarep Ngarep Ngarep dan Ngarep

Kebanyakan ngarep sampai melupakan posisinya sebagai manusia pada umumnya dan pelajar pada khususnya juga bukan sesuatu hal yang baik (salon.com)

Bergelut dengan MMO yang penuh dengan dunia fantasi bercampur simbol-simbol abad pertengahan, memegang senjata tanpa perlu izin di dalam adegan medan pertempuran, mengencani pemuda dan gadis virtual melalui game simulasi kencan, kebut-kebutan di game balapan karena tiap sudut jalan di perkotaan memang macet ibarat parkir masal, mencoba menghancurkan berhala-berhala yang di jaga oleh 5 ksatria adalah varian visualisasi yang bisa ditemukan dalam video game.

Semua yang disebutkan pada paragraf di atas kerap membuat para gamer berimajinasi, kadang pun berdelusi sampai pada kadar ngarepsisasi. Ngarep levelnya capped, kemudian disegani, ngarep matchmaking rank-nya meroket dan terkenal, sehingga banyak yang jadi secret admirer yang akan menghiasi percintaan gamer pelajar.

“Kerja keras tidak mengkhianati apapun, tetapi mimpi mengkhianati banyak hal,” kutipan dari tokoh fiktif bernama Hikigaya Hachiman. Sumber Gambar: pm1.narvii.com

Impian memang penting, tapi kebanyakan ngarep sampai melupakan posisinya sebagai manusia pada umumnya dan pelajar pada khususnya juga bukan sesuatu hal yang baik. Bermain video game memang terkadang bagus, agar pelajar bisa refreshing, namun apabila mereka melupakan fungsinya sebagai pelajar, resiko sangat besar.

Keseimbangan dalam setiap lini kehidupan mungkin bisa kita jadikan sebagai pertimbangan?

Kurang lebih begitulah wahai VirtualVreinds, kisah-kisah memang bagus sebagai sumber pelajaran hidup, bukan untuk dijadikan resep atau makanan instan siap konsumsi. Praktikumnya ada ditangan kalian, khususnya para gamer pelajar, hiasi rapor kehidupan kalian sendiri dengan cara kalian yang bertanggung jawab, khususnya untuk kehidupan.