Gamer militan atau gamer hardcore, mempunyai segudang talenta dan jiwa kompetitif yang tinggi, sehingga tentu saja perlu sekali diorganisir supaya menjadi aset yang dapat membuahkan hasil yang bermanfaat bagi bagi mereka pribadi atau pun untuk umum.

Dengan semakin diakuinya eSports di Indonesia, cabang olah raga yang masih seumur jagung ini telah menjadi primadona baru olah raga dikalangan anak muda, dengan semakin canggihnya teknologi sudah tidak bisa dibendung lagi para gamer militan yang muncul, oleh karena itu perlu sekali mengorganisir para gamer militan sehingga bakat mereka dalam game dapat semakin berkembang dan mungkin saja di kemudian hari dapat bermain dan menjadi atlit profesional eSports.

Dunia eSports Internasional

Tentu saja peran yang paling penting disini adalah pemerintah, dengan memberikan fasilitas dan tentu saja eventevent kompetisi yang dapat mendukung segudang bakat para gamer militan akan menaikan dan membuat gamer militan menuju tingkat yang lebih tinggi mungkin dapat menjadi atlit yang dapat mengharumkan nama Indonesia, jangan sampai dengan pertumbuhan teknologi yang pesat dukungan pemerintah kurang dalam mengorganisir dan pada akhirnya gamer militan menjadi permasalahan negara contohnya seperti di Jepang.

Di Jepang dengan sangat pesatnya kemajuan teknologi disana tidak seimbang dengan peran pemerintah mengorganisir gamer militan, sehingga banyak sekali para hikikomori atau orang-orang yang hidup mengurung diri dirumah tak pernah keluar rumah dikarenakan sangat freak bermain game, atau bahkan seorang NEET (Not in Education, Employment, or Training) atau seorang pengangguran yang kerjaannya hanya bermain game dan menjadi sebuah problematika di Jepang sendiri, dan banyak sekali gejala-gejala yang buruk sekali selain hikikomori atau NEET dengan kurangnya mengorganisir gamer militan.

Ilustrasi Hikikomori dan NEET, Sisi Gelap Perkembangan Teknologi di Jepang
Ilustrasi Hikikomori dan NEET, Sisi Gelap Perkembangan Teknologi di Jepang

Oleh karena itu di Indonesia yang merupakan salah satu negara yang sedang berkembangnya teknologi di negara kita tercinta ini, mengorganisir sangat perlu sekali agar tidak ada problematika yang lebih buruk dari efek kemajuan teknologi, karena pada faktanya sekarang mulai banyak sekali gamer militan di Indonesia, contohnya seperti para gamer militan DOTA2, rata-rata permainan dota berakhir paling cepat 30 menit, dan dalam sistem ranking DOTA2 yang diakui dunia, setiap memenangkan sebuah game, point ranking pemain bertambah +25 setiap kali menang dan berkurang -25 setiap kali kalah, dan hingga saat ini player dengan rank tertinggi mempunyai 9000 point, yang artinya 360 kali game dengan hasil menang, 360 game dengan durasi tiap game 30 menit dibutuhkan waktu sekitar 10.800 menit atau 180 jam itu jika asumsi menang terus dan tanpa diselingi waktu makan dan tidur, tentu saja apabila kurangnya organisir dari pemerintah efek seperti inilah awal mula dari pengangguran dan hikikomori terlalu adiktif bermain game dan tak adanya organisir dapat membuat efek-efek negatif tersebut.