NOOT, NOOT!” adalah lontaran kalimat yang sering sekali keluar dari mulut si Pingu, sang tokoh utama dari serial anime berjudul Pingu in the City yang telah mengudara di seantero dunia sejak 7 Oktober 2017.

Pingu in the City
(animenewsnetwork.com)

Perawakan Pingu yang lucu, berjenis tayangan untuk segala kalangan, dan ceritanya yang simpel dengan durasi 7 menit per judulnya membuat anime ini semakin populer dan memiliki banyak sekali penggemar baru.

Tunggu, tunggu dulu! Anime? Apakah serial Pingu in the City dapat digolongkan sebagai anime? Tentu saja bisa, karena pengertian secara umum mengenai anime adalah karya-karya animasi Jepang yang dikerjakan secara manual (hand-drawn) atau menggunakan animasi komputer.

Pingu in the City sendiri merupakan sebuah karya anime yang pengerjaannya lebih banyak menggunakan sistem CGI (Computer-generated Imagery) alias lebih banyak memanfaatkan media perangkat lunak pada komputer.

Bila kalian amnesia atau sekedar tidak tahu, anime juga adalah cara pengucapan orang Jepang terhadap kata “animasi”. Jadi bagi kalian yang menganggap anime itu sekedar 2 dimensi, mata besar, dan banyak fans service, berarti paradigma kalian mengenai anime masih terlalu terkotak-kotak, mungkin karena kebanyakan makan nasi kotak dan otak-otak (Bercanda Boss, jangan baper).

Diprakarsai oleh rumah produksi bernama Polygon Pictures yang juga pernah merealisasikan Ajin, Knight of Sidonia, dan Blame! menjadi anime, kini rumah produksi ini seakan ingin mendobrak pola-pola produksi anime di Jepang yang semakin kesini semakin penuh sesak, berjibaku dengan tema-tema seperti fans service yang sarat akan eksploitasi seksual, sihir-sihiran dan juga orang-orang yang terjebak dalam dunia gim (game).

Sejarah Singkat Pingu

Diprakarsai oleh Otmar Gutmann (24 April 1937 – 13 Oktober 1993), seorang berkebangsaan Jerman yang menggeluti profesi sebagai produser dan animator. Dengan nama awal Pingu: A Pre-School Children’s Story berhasil diproduksi di Swiss pada tahun 1986.

Pingu
Pingu pada tahun 1986 (pingu.wikia.com)

Pada tahun yang sama, BBC mendapatkan hak siar dari serial televisi ini untuk regional Inggris. Dalam kanal BBC khusus anak-anak bernama Cbeebies, serial ini terus dipertontonkan sampai tahun 2015.

Carlo Bonomi adalah pengisi suara dari serial ini sejak musim pertama hingga ketiga, diteruskan oleh Marcello Magni dan David Sant.

Pada pertengahan 90-an, terjadi perombakan besar terhadap musim pengiring baru (soundtrack) serta dubbing ulang terhadap serial ini. Hasilnya, musim pertama hingga ketiga serial ini mendapatkan peremajaan musik dan suara yang lebih baik. Versi terbaru dari Pingu mulai tersirkulasi ke luar Inggris, dan menjadi cukup populer pada awal milenium setelah HiT Entertainment membeli acara tersebut.

Setelah 6 musim berlalu, episode berjudul Pingu and the Abominable Snowman menjadi akhir dari sepak terjang Pingu kala itu. acara itu pun terhenti, tanpa konfirmasi atau kejelasan tentang lanjutan dari kisah tersebut.

Acara bernama The Pingu Show (Agustus 2006-2007) yang merupakan spin-off dari serial ini kembali menjadi buah bibir. Acara ini terkenal dengan naratornya yang bernama Marc Silk, dan memiliki jumlah episode sebanyak 78.

Pada 4 September 2017, NHK Jepang mengumumkan bahwa Pingu akan kembali ke layar kaca setelah 10 tahun berhibernasi dari hiruk-pikuk dunia hiburan. Di bawah naungan rumah produksi bernama Polygon Pictures, serial ini kembali bereinkarnasi dengan judul Pingu in the City dan tayang perdana pada tanggal 7 Oktober 2017.

Kritik Terhadap Pola Produksi Anime yang Semakin Monoton

Ruang dalam belantara anime sudah sangat parah dalam perspektif penggolongan umur. Hampir mayoritas anime sekarang hanya digunakan sebagai media promosi dari gim, light novel, dan manga yang notabene semuanya dikhususkan bagi golongan umur 13 tahun ke atas.

Hal itu terbukti semakin kurang populernya anime dari Jepang untuk kalangan umur 13 tahun ke bawah. Rumah-rumah produksi dari Korea Selatan dan Russia berhasil memelihara jenis animasi seperti ini dengan kemunculan segelintir judul seperti Marsha and the Bear, Robocar Poli, dan Tayo the Little Bus. Tak ketinggalan dengan Indonesia yang mengusung judul Adit Sopo Jarwo sebagai salah satu andalannya.

Narasi-narasi dari anime populer Jepang pun semakin tersegmentasi ke dalam 3 narasi besar; fans service yang sarat akan eksploitasi seksual, ilmu sihir yang sering memakai perspektif Kabbalah dan Onmyōdō, serta manusia-manusia yang terjebak dalam dunia gim.

Jarang lagi ada ruang untuk anime bagi semua umur dan juga untuk anak-anak, semuanya makin terdominasi oleh anime yang tersegmentasi bagi kalangan remaja ke atas. Semakin banyak pulalah terlahir para waifus dan husbandos yang makin bergentayangan di hati sanubari para penggemar, semakin bangkrutlah populasi Jepang dan dunia apabila mereka semua (fans/penggemar) benar-benar menikahi para waifus dan husbandos-nya.

Pingu
(pingu.wikia.com)

Dengan kehadiran Pingu in the City, seakan semua hal-hal monoton dalam anime dicoba untuk dipersepsikan ulang; kembali hadirnya narasi dan visualisasi yang dapat dinikmati semua umur, kemasan anime yang tak melulu 2 dimensi, penuh waifus, husbandos, lolis, brocon, siscon, yaoi, yuri, hentai, dan terjebak dalam dunia gim alias video game.

Bagaikan Zarathustra yang baru turun dari gunung dan membawa pesan bijak yang ingin mendobrak kemonotonan hidup, Pingu pun kembali mengunjungi kota, mencoba bermacam pekerjaan, dan kegiatan kaum urban dengan rentetan suka cita.

Pingu
(me.me)

Pergerakan CGI yang memiliki tempo cukup rendah, cocok dinikmati oleh golongan anak dari umur 0 sampai tak terhingga. Cerita tentang kehidupan urban, dapat membuat yang dewasa terkadang terpingkal sembari ikut menertawakan dirinya sendiri dalam bayangan Pingu. Rentetan kegagalan Pingu dalam mengeksplorasi sesuatu yang baru dapat menghibur semua kalangan agar jangan takut gagal dalam mencoba sesuatu yang bermanfaat.

Pingu
(pingu.wikia.com)

Pingu memang selalu nampak gagal saat mencoba sesuatu di dalam setiap epilog, namun ia bukan Sisifus dalam hikayat Albert Camus. Sisifus harus terus memanggul dan mendorong batu itu ke atas bukit, dan sesampainya di sana, batu itu akan menggelinding kembali ke dasar. Satu-satunya makna hidup bagi Sisifus adalah mengulangi tugas yang sama berkali-kali.

Bukan seperti Sisifus, Pingu ibarat lebih memilih untuk menyentuh, menggengggam, dan mendorong batu itu penuh dengan cinta dan suka cita. Dengan begitu, setiap menit yang ia habiskan di sisinya adalah satu menit untuk lebih dekat pada sesuatu yang Pingu cintai.

Pingu
Respon positif dari para penggemar anime seluruh dunia.

Mendapatkan skor tinggi dalam sebuah situs top-list mengenai anime (myanimelist.com) telah membuktikan bahwa anime dengan kemasan seperti ini memang sangat ditunggu-tunggu oleh para pecinta anime.

Dengan skor 8.97, sang Pinguin ekstenstrik ini siap untuk kembali beraksi dalam belantara dominasi anime yang cenderung monoton. Dengan mulut terompet dan suara NOOT! NOOT!, Pinguin lucu ini berusaha untuk menjungkirbalikkan kondisi anime yang semakin hari semakin mendekati tontonan para neurotik. “NOOT! NOOT!”