Quan Zhi Gao Shou itu apa? Kartun Tiongkok? Anime made in Tiongkok? Atau apa? Yang jelas, penulis tak ingin terjebak dalam permainan kata macam itu. Penulis sendiri berkesimpulan bahwa Quan Shi Gao Shou merupakan salah satu karya seni animasi yang harus diapresiasi, terutama bagi para penggemar anime berlatar cerita tentang game online.

Kenapa? Karena Quan Shi Gao Shou berani menerapkan dan bersaing dalam hal kualitas yang setara dengan pakem-pakem anime dalam unsur visualnya. Hal ini semacam ingin menunjukan bahwa animasi macam anime, ya memang bukan monopoli Jepang. Negara yang di luar Jepang pun bisa membikin anime yang punya kualitas setara dengan negeri asalnya.

Konon, zaman sekarang kalau ingin menghasilkan anime yang nge-hits harus melewati dua kriteria; hal pertama adalah unsur fanservice (semacam memberikan sensasi sensual [kenikmatan yang bersifat naluri] kepada para penonton) yang akan membuat penonton tergila-gila dan jatuh cinta pada sang protagonis, hero, maupun heroine, dan hal kedua harus memiliki latar cerita yang menceritakan tentang semesta game online.

Dua poin tersebut memang hanya sebuah spekulasi, namun sejak anime SAO (Sword Art Online) muncul pada tahun 2011, seakan semua rumah produksi anime berlomba-lomba untuk menayangkan latar yang serupa tapi tak sama, macam Sword Art Online.

Jejak Langkah Anime Bertema Game Online

Garapan anime bertema game online telah dimulai sejak tahun 2002, .hack//SIGN adalah anime yang memiliki tema game online pertama yang hadir dalam belantara anime, namun apresiasi terhadap anime tersebut cukup minim, terbukti dengan ratingnya yang cukup rendah.

Berbeda dengan SAO yang apresiasinya seakan membludak terhadap relasi-relasi sosial lainnya. Mungkin rating dari anime SAO memang cukup rendah, namun saat SAO berelasi dengan para gamer, kita mungkin pernah merasakan jutaan gamer yang bermain MMORPG dengan menggunakan overused in-game name yang berbau dengan Kirito sang tokoh utama SAO.

Penulis mempunyai pengalaman sebagai mantan pemain anime MMORPG (2012-2016) dan masa itu kebetulan bertepatan dengan nge-pop-nya SAO di seantero jagad MMORPG. Penulis memang cukup muak dengan berbagai macam tipe kiritowannabe yang bergentayangan di alam MMORPG, mereka sok-sokan menjadi solo player macam Kirito, merusak suasana raid grup yang memang bukan didesain untuk ajang solo-soloan, dan membuat server penuh dengan job-class yang berelasi dengan jobclass Kirito dalam SAO, yaitu Dual-sword.

‘Racun’ dari narasi Kirito sang solo player, seakan menghipnotis jutaan pemain MMORPG untuk menjadi Kirito palsu. Hal itu membuat penulis berpikir harus memperkenalkan Quan Zhi Gao Shou kepada pemirsa Indonesia. Alasannya? Karena Quan Zhi Gao Shou memiliki peran yang cukup riil dalam memotret realitas gamer.

Dari yang Futuristik (SAO) ke yang Lebih Realistis (Quan Zhi Gao Shou)

Khayalan tentang VRMMORPG, mati di dunia game = mati di dunia nyata, dan menjadi solo player untuk meng-carry seluruh server adalah beberapa ciri dari SAO. Banyak pemain MMORPG meniru aturan main Kirito sang solo player, tanpa menyadari bahwa mereka tidak pernah berada dalam situasi yang dijalani oleh Kirito.

Kirito bertindak-tanduk macam itu demi meminimalisir korban dalam SAO versi semesta Aincard, bukan untuk gaya-gayaan dan berjalan dengan pongah untuk pamer di depan player lain. Para gamer kadang menjadikan Kirito sebagai panutan sembari mengalami amnesia akut tentang pra-kondisi yang Kirito alami.

Hal-hal macam itu sangat-sangat jauh dari realitas kehidupan para gamer saat ini, ya memang temanya juga fantasi. Berbicara mengenai panutan dan kenyataan, Quan Zhi Gao Shou lebih apik menampilkan hal tersebut.

Bercerita tentang Xiu Ye (叶修) seorang gamer profesional dari game online berjudul Glory yang harus berhadapan dengan kejamnya manajemen dari organisasi game profesional, dia ditendang dari line-up sekaligus dari posisi leader karena menolak hal-hal yang berbau komersialisasi.

Menolak sponsorship, mengamalkan income-nya demi membiayai rehabilitasi para mantan profesional gamer yang terseok-seok menjadi para kere setelah pensiun, dan menolak menampilkan wujud aslinya sebagai gamer selebritis adalah faktor yang membuat Organisasi Jianshi (Excellent Era) menendangnya karena orang tukang amal macam ini sangat buruk bagi citra organisasi yang ingin beken dan meraup banyak keuntungan.

Seakan tak ambil pusing, ia menandatangi kontrak untuk berhenti menjadi gamer profesional ditambah dengan syarat lain, yaitu menyerahkan akun game-nya yang sudah sangat overpower kepada organisasi Jianshi.Quan Zhi Gao Shou

Menolak berputus asa, ia nyambi sebagai operator warnet demi menyambung hidup dan membuat akun game baru di dalam server Glory yang ke-10. Dia mengumpulkan anggota baru, mengasah potensi mereka, dan mengajak mereka berjuang bersama-sama dari titik nol. Dia mengakui bahwa bermain game dan menyusun strategi bersama-sama akan menghasilkan efek yang lebih memuaskan dari pada menjadi solo player macam Kirito dalam SAO.

Maju bersama-sama, membangun bersama-sama, dunia itu tak harus berpusat pada diri sendiri dan yang lain malah offscreen. Itulah falsafah hidup yang lebih rasional daripada menghadapi narasi Kirito-kirito-an dalam menghadapi realitas gaming.