Gamers jomblo memang sering didiskreditkan sebagai suatu aib, terutama di Indonesia, padahal tidak semua gamers jomblo memilih untuk jomblo karena terpaksa. Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai renungan bagi gamers yang sudah berpasangan dengan non-gamers dan juga artikel lain yang membahas renungan gamers yang berpasangan dengan gamers lainnya. Sekarang saatnya, artikel yang mencoba membahas tentang renungan yang mungkin berguna bagi para gamers jomblo. Yang harus kita pikirkan ulang adalah pola pikir masyarakat (terutama generasi muda) yang sering menggunakan predikat jomblo seseorang atau kelompok sebagai aib yang musti segera dicomblangi dengan orang lain atau berusaha membabi buta mencari jodoh. Padahal, resiko mencomblangi seseorang akan berakibat fatal bila tidak ditunjang dengan keadaan yang bisa membahagiakan kedua pihak, sebagai contoh: biro jodoh atau teman mencomblangi kita tanpa mempertimbangkan latar belakang orang yang akan mereka jodohkan pada kita dan mengakibatkan kita dirugikan, karena orang yang mereka jodohkan pada kita lebih memilih sesuatu yang lain selain eksistensi diri kita, misalkan: kecantikan atau ketampanan, uang, status sosial, dan jabatan.

Spekulasi yang bisa artikel ini simpulkan adalah ada dua jenis kategori gamers jombo: pertama adalah gamers jomblo yang memang susah untuk mencari jodoh, padahal mereka ingin sekali mendapatkan pasangan, dan kedua adalah gamers jomblo yang memang memilih untuk tidak berpasangan untuk sementara waktu ataupun untuk jangka waktu yang mereka belum ditentukan akibat berbagai pertimbangan (meniti karir eSports, belum siap untuk berprinsip, sedang menempuh jenjang pendidikan, fokus pada kemandirian ekonomi, dll.) Spekulasi yang baru saja diutarakan sifatnya masih berupa stereotipe umum, mungkin masih banyak berbagai macam pra-kondisi yang membikin para gamers jomblo tetap memegang predikat tersebut. Namun yang jelas, bahwa predikat gamers jomblo bukan merupakan suatu aib, para lelaki “penjahat kelamin”-lah yang mengejek kalian dengan status jomblo atau “perempuan matre” yang tanpa mau berusaha untuk membangun kemandirian ekonomilah yang sebenarnya patut kita simpulkan sebagai perbuatan yang memproduksi aib. Pola pikir inilah yang harus kita bongkar dan rubah sebagai generasi yang terus menerus gampang dikibuli, tidak percaya diri, oleh sesuatu yang sebenarnya belum kita pahami secara jelas.

Karena ada dua spekulasi umum yang artikel ini simpulkan, maka akan ada 2 renungan: yang pertama buat gamers jomblo yang terpaksa menjadi jomblo padahal ingin memiliki pasangan, dan yang kedua buat gamers jomblo yang memang memilih untuk belum mau berpasangan. Mari langsung saja kita renungkan bersama!

Renungan Bagi yang Ingin Punya Pendamping Hidup

Artikel ini tidak akan mengaduk-aduk preferensi kalian tentang tipe-tipe pasangan yang ingin kalian dapatkan. Namun, ada hal yang harus kalian pertimbangkan secara matang dan terstruktur bila ingin mendapatkan pasangan. Walau kehendakmu untuk mencintai seseorang itu besar, hal itu tak akan pernah terwujud tanpa adanya tindakan yang akan membuatmu untuk memiliki sebuah probabilitas (kemungkinan) untuk mencintai dan dicintai. Apa maksud dari kalimat di atas? Dengan latar belakang gamers yang rata-rata jarang untuk keluar rumah, akan sulit untuk membuka peluang berkenalan dengan orang-orang baru, itulah sebabnya gamers harus menyeimbangkan kehidupannya dengan cara pro-aktif dalam kehidupan sosial, sebagai contoh: gathering komunitas, berolahraga secara berkelompok, bakti sosial atau kegiatan lain yang dapat menunjang kalian untuk bertemu dengan orang-orang baru.

Ada cara lain selain aktif di luar rumah, yaitu dengan aktif dalam komunitas yang terjalin dalam dunia games yang kamu geluti, seperti contoh: guild, clan, team dalam game yang kamu sukai. Carilah gamers perempuan atau laki-laki yang sekiranya nyambung dengan kamu. Cara ini cenderung lebih sulit dari yang pertama, karena dalam dunia virtual, kejujuran adalah hal yang sangat sulit untuk dipertanggung jawabkan, terutama masalah status hubungan, umur, jenis kelamin, bahkan wujud fisik. Kalau kalian sudah bersiap dengan resiko tersebut, silahkan mencobanya, tidak ada jalan tunggal untuk menemukan cinta kalian. Intinya, untuk tahu seberapa besar kehendak, tak cukuplah sekadar bayang-bayang di benak, gerutu di mulut, atau curhatan di media sosial.

Cinta tak hanya bisa selesai diukur hanya dengan menghitung ongkos jalan-jalan dan belanja, ada hal yang lebih penting daripada hanya menghitung, yaitu mencari jalan untuk mempunyai kemandirian ekonomi yang mantap dan terukur. Perlu diketahui, hal di atas tidak ada korelasinya dengan nilai-nilai mata pelajaran anda di kelas, selama anda bisa mengembangkan potensi anda, bekerja keras, memanfaatkan kesempatan, dan pantang menyerah, niscaya jalan akan terbuka lebar. Sedikit merenovasi kata-kata Aristoteles pada Etika Nikomakian, ‘Tidak ada asosiasi cinta tanpa pertukaran, tidak ada pertukaran tanpa keseukuran.’

Dua hal tersebut membutuhkan kepercayaan diri dan setelah kalian telah berhasil mendapatkan kesempatan itu, kalian akan naik ke level yang lebih tinggi lagi, ibarat kalian bermain game, tingkatan kalian dalam mencintai seseorang pun akan selalu meningkat, dan membutuhkan berbagai macam perspektif dan pendekatan yang baru dalam menghadapinya. Keterikatan menunjuk pada segala kekuatan, baik yang positif maupun negatif, yang berfungsi untuk mempertahankan individu dalam suatu hubungan. Orang yang merasa terikat pada suatu hubungan dengan orang lain akan senantiasa berada bersama-sama dengan orang itu dalam “suka maupun duka.”

Renungan Bagi yang Berprinsip Untuk Belum Mau Berpasangan 

Kalau kalian memang berprinsip untuk belum mau berpasangan, silahkan. Manusia memang dianurgerahi oleh milyaran pilihan, berprinsip untuk belum mau berpasangan adalah salah satu contohnya. Hal yang tidak boleh kalian lupakan adalah, kalian harus benar-benar bahagia dalam kondisi ini. Kebahagiaan hakiki tentunya, bukan kebahagian yang dihasilkan dari memberikan penderitaan kepada orang lain. Bila kalian telah berprinsip untuk menjadi seorang gamers single, jangan pernah lupakan untuk terus mengembangkan potensi yang kalian miliki, baik itu dalam dunia virtual, maupun dalam dunia nyata. Apabila kalian dapat membahagiakan diri sendiri dengan cara yang benar, kalian akan terbiasa jika seandainya sudah terbuka jalan dan kesiapan kalian untuk mencintai orang lain dan berpartisipasi secara aktif untuk membahagiakan dia dan orang-orang disekitarnya. Kalian mungkin telah menguasai dunia virtual yang kalian geluti, tapi jangan lupa untuk menengok sedikit hal-hal yang krusial dalam kehidupan kalian, mungkin sebagai contoh: tagihan listrik yang mahal, biaya billing di warnet, biaya internet, tumpukan cucian, kamar yang masih acak-acakan, keluarga kalian yang membutuhkan pertolongan kalian, penghisapan manusia atas manusia lain, dll. Salam gamers militan!