Bila kalian telah membaca/memainkan Narcissu, pastinya kalian tidak akan merasa asing dengan gagasan besar yang dibawa oleh Ame no Marginal. Kedua judul novel visual tersebut lahir dari rumah produksi yang sama dan dikenal dengan nama Stage-nana. Selain novel visual, Stage-nana pun memproduksi light novel dan manga.

Rumah produksi ini memiliki ciri khas yang kental dan tak jarang membuat para pembaca/pemain dari hasil karya mereka terhanyut dalam refleksi panjang atau mungkin juga kegalauan. Stage-nana sering bermain dengan kunci-kunci mayor perihal ‘keyakinan’ dan ‘keputusasaan’.

Apa maksud dari ‘keyakinan’ dalam konteks karya mereka? Protagonis/MC (main characther) seolah akan digambarkan sebagai penganut suatu agama atau kepercayaan tertentu. Setelah mempertanyakan perihal hal tersebut, mereka tidak jarang ‘membangkang’ dan meludahi tradisi dari kepercayaan yang mereka dapat sejak lahir. Biasanya, rontoknya ‘kepercayaan’ mereka terjadi karena suatu konflik dari lingkungan, diri sendiri, atau segelintir orang.

Contoh; tokoh yang bunuh diri walaupun dia penganut katolik atau tokoh yang tidak percaya dengan sebuah ritual keagamaan/esoteris tertentu karena tokoh tersebut merasakan bahwa banyak penderitaan dari hal tersebut.

Lalu kalau keputusasaan? Tokoh utama yang sering diusung oleh Stage-nana adalah tokoh yang jauh dari kata sempurna; terkadang orang-orang sekarat, terkadang orang yang putus asa dan depresi karena ditekan oleh ‘struktur dunia,’ atau tokoh yang terjebak dalam suatu tradisi/kebudayaan yang mengharuskan si tokoh tergambarkan sebagai objek yang menderita.

Dalam novel visual, Stage-nana selalu memiliki ciri khas dalam pengolahan musik latar. Musik latar yang seolah terdengar seperti jenis MIDI dan instrumental yang kental dengan aroma 90-an selalu menjadi ciri khas mereka. Musik latar dengan nuansa yang akan  membawa pemain/pembaca pada kepedihan tentunya.

Oh iya, rata-rata Stage-nana pun membiarkan novel visualnya tanpa pilihan ganda (multiplechoice/ending). Peran partisipatif pembaca hanya sebatas mengklik cursor pada layar monitor layaknya membalikan halaman novel. Jadi, tidak seperti rata-rata eroge (gim mesum) yang punya banyak cerita, novel visual rakitan Stage-nana hanya punya cerita linear.

Setelah sedikit mengenal tentang Stage-nana, mari kita berlekas sedikit mengulas Ame no Marginal!

Sinopsis

ame no marginal

Babak dibuka dengan kehadiran seorang protagonis tak bernama yang terlihat sudah gak passion lagi sama yang namanya ‘hidup’. Seorang pekerja kantoran yang terkesan melodramatis menghadapi kemunfaikan di hari senin yang telah lama menjadi momok bagi para pelajar dan pekerja.

Depresi akut; akibat tumbuh dewasa, terjebak menjadi kelas pekerja dan kelas menengah ngehek sehingga jiwanya termehek-mehek. Hal yang telah dianggap wajar dan hampir menimpa seluruh warga dunia yang merasa ‘dihisap’ oleh sesuatu yang tidak terlalu mereka pahami.

Seorang manusia yang mungkin berada dalam kondisi: mati segan, hidup tak mampu. Dalam kondisi yang tertekan, setiap hari senin, di pagi yang masih buta, ia selalu menjalankan sebuah ritual di loteng kantornya: mencoba bunuh diri dengan meloncat dari ketinggian.

ame no marginal

Dengan ritual tersebut, ia berandai-andai untuk lepas dari semua sumber penderitaannya; pekerjaan yang ia benci, depresi yang selalu membayanginya tiap senin, dan juga tumbuh menjadi dewasa. Namun, sialnya ia tak pernah benar-benar mempunyai keberanian untuk bunuh diri.

Sampai keesokan harinya semuanya akan berubah. Saat ia masuk ke dalam lift menuju ruang kantor, terjadi keganjilan. Singkat cerita, lift itu membawanya pada sebuah ruang yang lain, dimensi yang lain, dunia yang benar-benar asing dan di luar nalar tentunya.

Lift itu mengantarkanya pada sebuah dunia yang dipenuhi dengan rentetan hujan. Dia bertemu dengan seorang gadis yang mengaku sebagai satu-satunya makhluk hidup yang ada di dunia tersebut. Gadis itu memperkenalkan diri sebagai Rin.

Ame no Marginal
Protagonis dan Rin

Rin pun menjelaskan perihal konsepsi dari dunia itu. Hujan abadi, terhentinya waktu, tidak merasa lapar, tidak bisa mati, dll. Cerita pun akan semakin berkembang; berjalan mundur untuk membuka tabir dari masa lalu Rin dan berjalan maju untuk meneruskan petualangan protagonis yang berpetualang di dunia hujan bersama Rin.

Tradisi dan Kebudayaan Jepang Sebagai Inspirasi Penokohan

Sefiksi atau sefantasi apapun karya, inspirasinya tidak mungkin lahir dari kekosongan budaya. Hal itu pun berlaku pada Ame no Marginal. Jepang terkenal dengan kondisi para pekerjanya yang memiliki sedikit sekali pilihan untuk menghadapi hidup, jauh dari Indonesia yang kalau masih nganggur pun bisa jadi pedagang atau supir online.

Di sana, kalau kamu dipecat dari pekerjaan tetap, bakal sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan tetap yang baru. Perempuan hamil pun rata-rata harus keluar dari tempat kerjanya dan bakal sulit untuk kembali ke dunia kerja.

Dari fenomena itu, lahirlah istilah disposable workers, kelas pekerja yang tidak memiliki pekerjaaan tetap dan permanen; ada yang pertahun, bulan, atau hari. Berbeda dari Indonesia, di Jepang bergelimpang pekerjaan paruh waktu, para disposable worker itu mengerjakan bermacam pekerjaan paruh waktu untuk bertahan hidup. Kalian bisa cek laman disposableworkers.com atau simak video di bawah ini sebagai bentuk ilustrasi umum:

Bila kita mengkorelasikan kenyataan tersebut dengan protagonis dari Ame no Marginal, kita akan merasakan bahwa sang protagnois memang mempunyai sedikit sekali pilihan. Salah satu contohnya dia benci pekerjaannya tapi sangat ragu untuk keluar atau mencoba usaha lain. Ekonomi mungkin sama-sama dimonopoli, tapi kita patut bersyukur sebagai warga Indonesia yang masih banyak mempunyai sebongkah celah untuk memperjuangkan kemandirian ekonomi kita di sini.

Bagaimana dengan tokoh Rin? Tokoh Rin sendiri terbentuk menjadi seorang gadis yang terkesan anti-tuhan karena beberapa kondisi sebab-akibat. Hal itu bermula ketika Rin dan kakak perempuannya diadopsi dan dipaksa menjalani peran sebagai miko (semacam bhikkuni [biksu perempuan]/biarawati dalam ajaran Shinto) yang harus menjalani rentetan tradisi esoteris kuno (upacara ritual).

Ritual of Curse Binding adalah ritual yang mewajibkan miko untuk tidak berbicara/berbicara sangat pelan selama 333 tahun. Tantangan dalam ritual itu ditambah upacara cold water ablutions (upaya purifikasi/penyucian diri dengan media air, bisa disiramkan atau bersemedi di bawah air terjun) setiap harinya ditambah dengan hanya memakan bubur tanpa lauk.

Ritual selama 333 tahun tersebut tidak mungkin hanya dijalankan oleh seorang manusia, oleh karena itu pastinya akan memakan korban jiwa. Setelah meilhat kakaknya tewas dalam ‘penyesalan,’ Rin harus menjadi penerusnya. Dengan menyimpan dendam pada para dewa, dia pun terpaksa menjalaninya hingga ia pun benar-benar sekarat.

There are no gods, even if they exist, i refuse to accept them as god. That is what i’ve decide. If there were things that called themselves gods, and were to place upon me punishment…Then let them punish me as much as they please.
-Rin, Ame no Marginal

Setelah kakaknya tewas, Rin benar-benar kehilangan pegangan hidupnya. Kepahitan psikologisnya pun ia muntahkan kepada para dewa.

The amount of punishment i receive…with this unjust fate, my sister’s regrets, my own regrets…Someday, i will turn them into a curse.
-Rin, Ame no Marginal

Dalam cerita, penebusan atas dosa-dosa manusia harus dijalankan dalam cara tersebut. Pelaksananya bukan semua umat manusia, namun kedua perempuan malang tersebut. Dari dasar itulah, Rin mulai terkesan memusuhi Tuhan/dewa.

ame no marginal

Permusuhannya dengan para dewa juga yang akan menjadi inti dari akhir cerita, dan tentunya bakal jadi hambar kalau dijelaskan pada artikel ini.

Kesimpulan

Stage-nana menyuguhkan cerita yang seakan ingin membuat para pembacanya menyisihkan waktu dan keluar dari rentetan permasalahan dalam hidup dengan komplektisitas tradisi dan kebudayaan Jepang sebagai fokus utamanya. Hal itu dimanifestasikan dalam petualangan sang protagonis bersama Rin dalam dunia yang basah oleh rintik hujan.

Ame no marginal ingin menunjukan bahwa saling berbagi, mencurhakan isi hati secara ‘telanjang’ dengan penuh kejujuran adalah salah satu obat dari elegi.

Penutup

Novel visual ini tidak memiliki konten seksual, jadi bisa aman dikonsumsi semua orang. Namun, isi dari konflik utama memang lebih cocok untuk membahas permasalah orang dewasa atau yang sedang beranjak dewasa. Novel visual ini juga merupakan prekuel dari light novel berjudul Mizu no Marginal.