Dilan 1990 merupakan salah satu dari sekian banyak proyek ekranisasi di Nusantara. Pemahaman mengenai ekranisasi sendiri tersusun mantap pada artikel buatan Christopher Woodrich (2017) di laman Cinema Poetica.

Kalau bahasanya terlalu ‘sekolahan,’ mudahnya—ekranisasi adalah upaya mengadaptasi karya novel ke film. Dilan 1990, termasuk film yang diadaptasi dari novel yang tergolong teenlit alias teenager literature atau literatur remaja.

Penulis novelnya sendiri adalah Pidi Baiq yang sempat terkenal sebagai vokalis dari The Panas Dalam. Kesan yang Pidi Baiq tancapkan ke sanubari penulis artikel ini adalah bukunya yang berjuluk Drunken Marmut (soalnya baru baca yang ini) serta kafe bernama Iluminasi Nasion The Panas Dalam yang terletak di Jalan Ambon No. 8, Bandung.

Pidi Baiq pun berperan sebagai sutradara dalam film ini—duet bareng Fajar Bustomi, sutradara muda yang gemar membikin film dengan latar tempat di luar negeri seperti Kukejar Cinta ke Negeri Cina (2014), Winter in Tokyo (2016), dan From London to Bali (2017). 

Gagasan besar dalam film ini adalah tema yang tak akan pernah habis-habisnya dibahas hingga akhir zaman: cinta. Lebih fokusnya adalah cinta antara dua insan yang sedang dalam fase remaja SMA, dengan latar waktu pada dekade awal 90-an.

Perhatian: berapa penjelasan di bawah ini mengandung bocoran/’spoilers’ mengenai film Dilan 1990. Bagi mereka yang belum dan akan menonton, bisa langsung geser ke bagian Penutup serta kolom The Review yang menjelaskan plus-minus film ini secara lebih ringkas.

Sinopsis

Cerita dibuka dengan latar cerita tahun 2014. Seorang perempuan nampak terekam berada di sebuah raungan yang cukup modern pun hadir. Semua hal tersebut berbarengan dengan narasi dari perempuan tersebut.

Perempuan yang mukanya seakan sengaja membelakangi kamera pun tampak sedang mengamati panorama Jakarta dari balik kaca jendela. Tak lama, ia lantas beralih ke laptop untuk menuliskan mengenai hal yang dari tadi ia narasikan.

Alur suara dalam hatinya menjadi narasi utama film. Titik awal dia menulis adalah perihal kenangan yang seolah terpatri di lubuk hatinya. Kenangan mengenai seorang pria yang pernah mewarnai kehidupannya kala remaja.

Ingatan dari perempuan itu pun berubah menjadi jalan cerita yang akan berkembang manis. Keindahan Bandung awal dekade 90-an mulai mendominasi. Jalan yang penuh dengan pepohonan rindang, rumah-rumah paska kolonial yang kini telah menjadi milik rakyat Indonesia dan turut menjadi tempat tinggal Milea dan juga Dilan ikut terekam apik menghiasi prolog film.

Puluhan siswa yang berjalan kaki menuju sekolah sehabis menaiki angkot pun terlukis. Hal ini wajar di Bandung karena beberapa jurusan angkot tidak berhenti tepat di depan sekolah. Daerah Buah Batu Bandung, terkenal dengan beberapa sekolah negeri (seperti SMAN 8 Bandung dan SMAN 22 Bandung) yang mewajibkan siswanya harus rela menyusuri beberapa jalan kecil untuk tiba di sekolah—setelah  angkot singgah di jalan utama yang memang jadi trayek.

Sosok narator pun menjelma menjadi seorang gadis SMA, berjalan menyusuri teduhnya suasana pagi di Bandung era 90-an bersama dengan puluhan siswa. Tak lama, seorang cowok berseragam datang sembari memacu motor CB100 dengan perlente. Dengung motor yang memang se-mainstream gaulnya motor jenis Ninja pada era kekinian pun berhenti di samping si gadis.

Dengan gaya yang eksentrik, cowok tersebut pun bertanya apakah sang gadis bernama Milea (diperankan oleh Vanesha Prescilla) atau bukan. Gadis itupun mengiakan dan serentetan “modus” untuk lebih kenal dengan Milea bermodalkan pengakuan sebagai peramal pun dimulai.

Dalih sebagai peramal adalah cara awal. Cowok ini  nampaknya memang berupaya untuk pedekate/modus dengan si Milea namun memakai cara yang bisa dibilang cukup kreatif, eksentrik, dan terang-terangan. Seiring berjalannya waktu, Milea mengetahui bahwa nama cowok gigih ini bernama Dilan (diperankan Iqbaal Ramadhan).

Untungnya, Milea bukan tipe gadis yang risih dengan manuver-manuver si Dilan yang cukup obsesif. Dilan, pelajar SMA yang belakang pula diketahui bahwa dia telah menjabat sebagai panglima perang salah satu geng motor di kota Bandung. Panglima perang alias panglima tawuran antar anggota geng yang rata-rata pelajar.

Dari langkah inilah, cerita seolah berkembang seakan Milea mencoba mendeskripsikan semua kenangan yang ia bangun bersama Dilan dari awal hingga akhir film. Kenangan macam apa? Kenangan manis nan romantis tentunya pemirsa!

Dilan yang banyak akal buat menghibur Milea, berlama-lama berdiri di telepon umum untuk menelpon Milea, berwatak eksentrik—terlebih demi menghadirkan senyum Milea , humoris—spesial untuk memancing gelak tawa Milea, kadang suka basa-basi untuk menenangkan Milea, kadang jujur untuk mem-baper-kan Milea, kadang berandal nan uring-uringan namun tidak pernah secuil pun kasar terhadap Milea, terinspirasi berkarya karena Milea, serta hidup seakan-akan serasa makan mie instant tanpa kandungan micin—kalau Milea tidak ada.

Manuver keseharian Dilan memegang kendali cerita, bertabrakan dengan sejagat konflik eksternal dan internal yang pada umumnya dihadapi dan terjadi pada fase-fase remaja khususnya pelajar SMA urban. Rentetan irisan-irisan kehidupan yang berusaha membuat para penonton tertawa terpingkal, sedih nan baper, sampai marah yang mungkin marahnya melebihi para sosiopat dan netizen alias warganet di sosmed: meledak-ledak serta impulsif.

Milea adalah gadis yang tergolong cantik. Layaknya rahasia umum yang sudah membudaya, gadis cantik otomatis banyak yang naksir: teman sekelas, murid-murid di luar teman sekelas, guru, bahkan guru les privat. Kadang bibit konflik lahir dari kecantikannya. Kerap kali para gadis dalam kondisi ini harus berkompromi, tabah, dan harus sangat hati-hati.

Ditambah, Milea ternyata sudah punya kekasih. Kekasih Milea adalah anak Jakarta yang terilustrasikan sebagai anak orang kaya. Perlu diketahui, Milea berdomisili di Jakarta sebelum akhirnya ia pindah ke Bandung karena ayahnya yang dipindah tugaskan ke Bandung.

Diam-diam, Milea nampaknya menganggap hubunganya dengan si Jakarta itu monoton. Pria ini lebih mengandalkan modal harta orang tuanya yang dikombinasikan dengan menculik potongan-potongan puisi dari majalah remaja untuk mengeskpresikan cinta yang diklaimnya buat Milea.

Perasaan bahwa hubungan mereka monoton terasa makin tajam ketika Milea telah melihat dan merasakan upaya Dilan untuk selalu berusaha membuat nyaman Milea dengan bermacam cara. Ya, Dilan yang unik serta seakan memecah ruang-ruang monoton dalam kehidupan asmara Milea.

Perlu diingat, Dilan hanya berusaha tanpa pernah dan mungkin tidak mau bertanya apakah Milea sudah punya pacar atau belum. Sedangkan Milea, tetap memberi beberapa jarak langkah akan interaksinya dengan Dilan di kala masih berpacaran dengan si Jakarta. Ketika tabiat si Jakarta mencabik-cabik perasaan Milea, gadis ini pun seakan makin mantap menggenggam erat segala keunikan Dilan.

Uniknya Dilan 1990

Nilai yang membuat film komedi romantis ini unik adalah tindak-tanduk Dilan pada semesta kehidupan remaja—terutama perihal selera humor Dilan. Sebagai contoh, bagaimana Dilan mencoba berkenalan dengan ayah Milea yang merupakan anggota tentara dan konon galak (kata Milea): pemuda ini datang malam-malam ke hadapan ayahanda Milea dengan berpura-pura sebagai utusan kantin yang menawarkan batagor (penganan khas Bandung) dengan tiga rasa baru.

Adegan itu lantas menghadirkan kebingungan pada seluruh anggota keluarga, ditambah dengan rasa kagum dan tawa kecil Milea ketika mendengar celotehan ayahnya. Tingkah Dilan membuat kehidupan Milea serasa tak membosankan.

Ditambah dengan rayuan-rayuan, gombalan-gombalan, dan modus-modusan Dilan yang mengandung humor dengan tingkatan yang di atas rata-rata. Jika boleh dideskripsikan, humor ala Dilan itu aktif: manuvernya adalah kombinasi antara gombalan yang selalu disertai aksi nyata untuk mengimbangi gombalan tersebut yang hasil akhirnya selalu menghadirkan pengalaman yang baru bagi Milea.

Pengalaman baru yang seperti apa? Yang unik, cerdas, dan kreatif tentunya. Contoh: ketika Milea berulang tahun, cowok-cowok di sekitaran dia cuman memberikan kejutan yang dihasilkan dari usaha-usaha yang klise dan standaran macam memberikan boneka dan membelikan kue ulang tahun yang mahal.

Nah, si kampret Dilan memang beda: pada saat pelajaran, dia mendatangi kelas Milea, meminta izin pada guru untuk berdalih ada pesan penting buat Milea, mengucapkan selamat ulang tahun di hadapan teman-teman sekelas Milea serta memberikan hadiah yang tampaknya tipis dan terbungkus tidak mewah.

Sesampainya di rumah, Milea membuka hadiah tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah buku kumpulan teka-teki silang (TTS) yang biasanya diisi oleh para tukang becak ketika sedang tidak narik penumpang. Yang membuatnya beda, sampul halaman TTS yang bergambar gadis cantik itu telah dimodifikasi oleh Dilan. Dimodifikasi sedemikian rupa agar gambar gadis tersebut jadi berkumis dengan hiasan balon kata bertuliskan ucapan selamat ulang tahun untuk Milea.

Isi TTS itu sudah penuh terisi dengan disertai sepucuk surat yang kurang lebih berisi untuk menjelaskan maksud dari TTS yang telah terisi tersebut. Sepucuk surat itu menjelaskan, bahwa TTS itu sudah terisi agar Milea tak perlu lagi pusing setelah menerima kado ulang tahunnya. Silahkan kamu nilai sendiri sepenggal aksi dari Dilan tersebut.

Sulitnya Membangun Suasana Bandung Awal Dekade 90-an

Penulis artikel ini kebetulan bisa dibilang orang Bandung dan kurang lebih sudah 26 tahun hidup di Bandung sejak pindah dari tempat kelahirannya di Palangkaraya. Kebetulan juga penulis artikel pernah “memakan bangku SMA” di daerah Buah Batu, Bandung.

Dalam Dilan 1990 terkandungn unsur sejarah dari kota Bandung yang cukup kental. Terlihat, begitu sulitnya membangun suasana Bandung tahun 1990: mayoritas adegan suasana luar sekolah di daerah Buah Batu pun nampaknya tidak lagi bisa diambil di lokasi yang otentik pada tahun 1990.

Padatnya kondisi jalan di seputaran Buah Batu, gedung-gedung, dan kendaraan yang semakin modern serta atribut-atribut budaya ala 90-an semisal kotak pos dan boks telepon umum pun sudah punah. Tidak hanya itu, angkot berubah warna, kaca belakangnya pun sudah berubah fungsi menjadi papan iklan.

Bagaimana dengan perbandingan suasana tempat makan? Gerai makanan cepat saji sudah mendominasi, berhimpit, dan melejit di daerah Buah Batu. Anak SMA pun semakin rajin menjadikan tempat tersebut tempat mejeng. Kantin yang dikelola para Ibu-ibu perumahan ketika lepas jam sekolah pun tidak lagi ramai dikunjungi anak sekolahan layaknya film Dilan 1990. Bakso Akung sudah sukses, alhasil hanya bisa hadir dalam bentuk ilustrasi kala Bakso ini hanya terkenal dalam bentuk gerobak dalam Dilan 1990.

Beberapa pengambilan angle dalam Dilan 1990 menuntut untuk memainkan teknik blur yang intens ketika harus membawa suasana jalanan Bandung sebagai pendukung. Sayang, dalam beberapa scene awal, suasana pemandangan jendela angkot—turut terambil beberapa suasana Bandung pada masa kini: walaupun sudah di-blur, beberapa orang Bandung pasti akan familiar dengan huruf-huruf raksasa yang berada pada taman-taman kota Bandung yang pada umumnya berwarna oranye. Huruf-huruf tersebutlah yang sekilas terbawa walaupun nampak sudah di-blur-kan pada adegan.

Adegan ketika Ibunya Dilan dan Milea berada dalam mobil pun nampak memerlukan bantuan CGI untuk membantu membangun suasana jalanan 90-an.

Adegan ketika Dilan dan Milea jalan-jalan dengan sepeda motor pun terlihat di ambil pada jalanan kota Bandung yang masih relatif sepi dan tidak banyak berubah seperti di sekitar Jalan Aceh, Bandung. Pada bagian itu, nampak properti-properti film—terutama sedan klasik turut menghiasi suasana dalam mata kamera.

Dari beberapa contoh di atas, dapat dirasakan bahwa pastinya sangat sulit membangun imajinasi tentang Bandung periode 1990.

Penutup

Sekilas, pada fase remaja—film ini menyiratkan gambaran bahwa cowok lebih suka pada cewek baik tapi berani bertindak “nakal” hanya untuk si cowok tersebut, bukan cowok lain. Sebaliknya, senakal-nakalnya, sebrutal-brtualnya cowok, segoblok-gobloknya cowok, cewek lebih suka pada cowok yang uring-uringan tapi selalu sayang, lembut, dan perhatian pada si cewek.

Dilan 1990 bisa menjadi ajang nostalgia bagi generasi yang sezaman dengan Dilan. Film ini pun bisa jadi ajang referensi dan komparasi bagi kids jaman now. Kalian bisa melihat tren fesyen yang dikenakan para tokohnya dan mungkin akan tersadar bahwa fase mode akan terus selalu berulang dari jaman old ke jaman now sehingga predikat orisinal mungkin hanya bisa disandang oleh orang yang disebut gila bahkan dihujat oleh arus zaman.

Penulis pribadi , walau memang masih orok di tahun 1990 pun masih bisa merasakan beberapa pengalaman yang pernah ada di Dilan 1990. Ujung-ujungnya melahirkan nostalgia bercampur sedikit kegembiraan dan keresahan atas plus-minusnya jaman now seperti:

Angkot adalah tempat curhat para supirnya yang semakin resah mencari nafkah karena kehadiran transportasi online, geng motor telah berubah menjadi ormas, telepon umum sudah tidak lagi relevan ketika alat komunikasi pribadi  sudah diklaim smart, pedagang makanan kecil dihantui raksasa-raksasa modal yang bergentayangan di areal sekolahan—bahkan selebritis pun ikutan, Bandung semakin terhimpit kemacetan dan papan iklan, budaya tulis sudah jadi budaya mengetik, dulu baca novel—sekarang nonton novel, dan puisi terganti viralisasi.

Mana yang baik dan buruk bagi penulis serta mana yang baik dan buruk bagi pembaca? Silahkan pertimbangkan dengan kebijakan masing-masing pihak untuk menakarnya secara khidmat.

Walaupun terkesan klise, akhirnya setelah sekian lama tinggal di Bandung, penulis merasakan bahwa para pria Sunda atau yang berjiwa Sunda memang rata-rata humoris. Ya macam Dilan.