Banyak dari kita mungkin sudah sering mendengar istilah pedofilia yang kurang lebih berarti sebagai penyimpangan seksual yang menjadikan anak-anak sebagai ‘sasarannya,’ yah faktor seperti kasus kriminalitas model itu sudah mulai marak di Indonesia. Tapi bagaimana dengan nekrofilia?

Nekrofilia berasal dari dua suku kata berbahasa Yunani;  νεκρός (nekros; ‘mayat’ atau ‘mati’) dan  φιλία (philia; ‘persahabatan’). Kalau dalam gim dan novel fantasi mungkin kalian akrab dengan Necromancer alias seorang yang ahli menghidupkan orang mati atau dalam Antropologi mungkin kalian akrab dengan Nekropolis alias kota yang mendekati kematian. Lalu apa yang dimaksud dari nekrofilia dalam konsesus umum?

Menjawab pertanyaan tersebut, nekrofilia kurang lebih berarti sebagai penyimpangan seksual yang menjadikan ‘mayat’ sebagai sasaran tembaknya. Bisa yang ekstrim seperti menyetubuhinya atau memutilasinya dan yang minim seperti terobsesi dengan mayat tersebut dalam hal lain selain kepuasan seksual; megang-megang, gerepe-gerepe, memandangi mayat, atau mungkin berswafoto dengan mayat dan diunggah ke instagram? Mungkin kalau kalian berfoto dengan jiwa-jiwa dan nurani kalian yang hampir ‘mati’ tidak akan tergolong dalam kategori nekrofilia.

Nekrofilia
Sampul belakang dari novel Mayat-mayat merangsang (Dokumentasi penulis)

Setelah membaca kalimat-kalimat pembuka yang mungkin  membosankan, kita akan membicarakan nekrofilia dalam gagasan utama yang di usung oleh novel jadul Indonesia cetakan 1977 berjudul Mayat-mayat Merangsang karya seorang seniman multitalenta bernama Ali Shahab. Mungkin kalau kalian demen dengan horor klasik, kalian akan mengingat film horor yang pernah ia sutradarai berjudul Beranak Dalam Kubur.

Bisa kalian bayangkan, Ali Shahab memperkenalkan cerita yang mengusung gagasan utama yang pastinya masih asing dalam alam kebudayaan Indonesia pada akhir era 70-an!

Menghadapi situasi dimana film nasional dan buku-buku saku terlibat pada ide yang itu-ke itu juga sehingga membosankan publik, maka Ali Shahab menyusun satu novel yang agak lain dari thema-thema cerita yang banyak beredar saat ini….. -Pengantar Penerbit dalam Mayat-mayat Merangsang (1977)

Hal di atas mungkin bisa membuka wawasan kita bahwa Ali Shahab sedang berusaha memberikan alternatif tema bacaan dalam kondisi kebudayaan populer yang kala itu sedang berada dalam arus monoton. Kalau pake istilah kekinian, mungkin beliau bisa dianggap salah satu seniman anti-mainstream.

Novel ini pernah diadaptasi dalam bentuk film dengan judul Misteri Sumur Tua yang dirilis pada tahun 1987 dan disutradarai oleh penulis novel itu sendiri.

Sinopsis

Cerita mengambil latar pada suatu desa antah berantah yang tidak pernah disebutkan namanya, tapi tentunya masih di Indonesia karena dalam beberapa adegan, tampak ada kutipan-kutipan perihal kota Jakarta. Alkisah Tuan Gunawan, orang paling kaya di desa tersebut sedang berduka; istrinya yang umurnya terpaut setengah dari hidup Tuan Gunawan itu telah meninggal dunia.

Konon, Margareta sang almarhumah dan istri Tuan Gunawan adalah seorang perempuan cantik yang kecantikannya bagaikan bidadari yang turun ke desa tersebut. Diboyong dari ibu kota oleh Tuan Gunawan setelah menikah. Rumornya, Tuan Gunawan membawanya ke desa karena sedikit paranoid kalau-kalau Margaretha masih jadi incaran para pemuda-pemuda kota yang rata-rata doyan asusila.

Setelah baru saja melewati proses pemakaman, jasad sang Istri dari Tuan Gunawan pun diketahui lenyap keesokan harinya. Singkat cerita, jasad yang hilang tersebut kembali berada di liang lahat pada hari keempat. Setelah dilakukan otopsi, terindikasi bahwa mayat Margareta telah disetubuhi oleh seseorang. Hal itu disimpulkan dengan adanya bukti otopsi berupa butiran-butiran garam dari keringat manusia dan juga seonggok sperma segar yang tertanam dalam rahim Margareta.

Dari titik berangkat itu, Letnan Parman dan Sersan Joko pun berusaha mengusut rangkaian pembunuhan yang ternyata telah menyelimuti desa itu dalam kurun waktu yang sudah menahun. Pada kurun waktu yang sama, Marta sang adik dari Margareta berencana untuk melayat dan sedikit bersantai pada suasana pedesaan yang damai. Gadis yang mirip dan tak kalah cantik dari Margareta itu akan terjebak dalam petualangan liar dan membahayakan nyawanya.

Sepuluh kilometer dari tempat tinggal Tuan Gunawan, berdirilah sebuah rumah megah yang besarnya sama dengan rumah Gubernur Jendral pada masa kolonial. Kemegahan rumah itu telah berubah menjadi onggokan rumah tua yang tak terawat sehingga menerbitkan aura angker bagi para penduduk desa.

Beberapa tahun lalu, rumah itu dikepalai oleh seorang keturunan Belanda bernama Tuan Karel yang kini sudah almarhum. Tuan Karel adalah pemilik onderneming (perkebunan) teh yang sangat luas, namun kini sudah menjadi lahan tidur. Di rumah angker itu dihuni oleh sang janda Tuan Karel bernama Netty, dan anak laki-kalinya yang ketampanannya mirip Tuan Karel bernama Pieter. Mereka punya pelayan setia bernama Omen yang mukanya cacat tapi kelaki-lakiannya tidak pernah cacat sehingga dia masih sehat, bugar, dan perkasa untuk menjadi pembantu setia di rumah itu.

Dalam suatu babak, Pieter yang pendiam dan memiliki ‘kelainan’ terpikat dengan Marta. Serta Marta, si primadona kota yang dikejar-kejar oleh ribuan pria kota kaya raya, diam-diam jatuh hati pada pria bertampang blesteran dengan penampilan lusuh khas penggembala. Entah apa yang dicari Marta dalam diri Pieter, yang jelas ia jatuh hati pada bayangan Pieter yang misterus di pandangan pertama.

Nantinya, Marta dan Pieter akan terjebak dalam asmara absurd yang perlahan akan membuka tabir dari teror yang menyelinap dalam desa seperti; pembunuhan, penculikan, pemerkosaan mayat, dan prahara rumah tangga dari Keluarga Tuan Karel yang membidani semua peristiwa utama dalam novel ini.

Siapakah dalang dibalik semua kebejatan itu? Apakah benar sang nekrofilis adalah pelaku kejahatan murni yang bisa didakwa dengan pasal berlapis? Atau ada yang ‘memelihara’ sang nekrofilis menjadi pengidap gangguan mental yang membuatnya tak bisa membedakan salah dan benar?

Penokohan dan Sedikit Teori

Salah satu unsur afektif yang menarik dari novel ini adalah Ali Shahab berhasil membangun suatu citra tokoh utama yang hidup dalam kawasan ‘abu-abu’ (Pieter Sang Nekrofilis). Di satu sisi Pieter bisa dianggap bersalah, namun di sisi lain dia tumbuh sebagai pemuda yang tenggelam dalam kondisi lingkungan yang memang benar-benar dapat membuat kebanyakan orang jauh dari kata waras.

Sewaktu kecil hingga umurnya mencapai 13 tahun, dia adalah seorang laki-laki yang tumbuh normal dan serba berkecukupan. Ayahnya yang seorang Tuan Tanah kaya dan berhati mulia sangat berwibawa dalam mendidik Pieter.

Dalam umurnya yang mencapai ‘angka keramat’ itulah hidupnya mulai berubah; Karel diracun, Netty (Ibunya) yang mantan aktris dari sandiwara keliling bersekongkol dengan Albert (mantan pacaranya yang muda dan ganteng sewaktu dia masih aktif di sandiwara keliling). Karel pun meninggal, Netty dan Albert semakin hedonis menghabiskan harta jambretan dan Pieter pun diperlakukan layaknya babu.

Netty digambarkan sebagai perempuan berdarah panas yang pikirannya gampang tergoda oleh buaian Albert sang lelaki bajingan. Netty mengalami alienasi, pendapat dan pendiriannya terlumat nikmat dunia yang terus dihembuskan Albert di atas ‘ranjang’. Semua cinta, ketulusan, dan kedermawanan Karel dalam benak Netty pun akhirnya dinilai sebagai sesuatu yang ‘remeh’ dibandingkan dengan gombalan dan kesompralan Albert:

Sikap gallant Karel buat Netty cuma suatu sikap dingin dan tidak bersemangat dari laki-laki…..Sebaliknya dia menghendaki kebrutalan, diremet-remet, didengus-dengusi lelaki bernapas banteng, dibikin lusuh dan dibikin tidak berkutik pada akhir percumbuan….

-Mayat-mayat Merangsang, halaman 68

Selama 7 tahun diperlakukan layaknya budak, Pieter pun tumbuh besar di tangan Omen, si pembantu berwajah cacat. Pieter sebenarnya mempunyai kriteria sebagai penerus ayahnya yang sangat ramah, percaya diri, dan dermawan. Namun, di tangan Omen yang memang bermental budak dan kekuasaan despotik Netty-Albert, asa itu telah lama hilang. Pieter tumbuh besar dalam keadaan kurang normal, tertekan, dan rendah diri:

Jiwa budak yang dia dapat dari Omen membuat dia jadi sedia melakukan apa saja yang disuruh Netty atau Albert….

Dari tingkah Omen dia dapat pelajaran dan kepercayaan bahwa kedua orang yang paling berkuasa di rumah itulah manusia-manusia yang harus dipatuhi semua kehendaknya zonder boleh pikir-pikir benar atau salah.

-Mayat-mayat Merangsang, halaman 76

Beberapa tahun kemudian, Albert memperkosa dan menghamili Meriam, adik tiri Pieter yang ikut tinggal di rumah itu pasca kematian Karel. Hal itu akhirnya terungkap oleh Netty, dan membuatnya menyuruh Omen membunuh Meriam di ruang bawah tanah rumah itu.

Netty sudah mengetahui kalau diam-diam Pieter mencintai adik tirinya. Setelah membunuh Meriam, Netty pun menyuruh Pieter mencabuli jasad Meriam di bawah todongan pistol yang Netty todongkan ke arah Pieter. Netty bertindak seperti itu demi membalas sakit hatinya kepada Albert.

Setelah Pieter terlentang lemas dan tertidur di atas jasad Meriam yang telah menjadi boneka birahinya, Netty pun mengundang Albert untuk menonton adegan tersebut. Pada saat Albert ingin menyerang Pieterlah, Netty kemudian menghabisinya dengan senjata api.

Selain menggauli mayat, Pieter pun sering sekali disuruh melayani birahi dari Netty. Pieter sering merasa malu, namun Netty tidak. Semenjak itulah, Netty sering memberikan kado ulang tahun untuk Pieter yang berbentuk jasad perempuan dan juga dirinya.

Dari sudut pandang psikoanalisis, Netty dan Albert seringkali melakukan ‘rasionalisasi’ pada setiap tindakannya. Awalnya Albert memepengaruhi Netty, setelah dikhianati Netty menjelma menjadi ‘Albert kedua’ saat ‘memanfaatkan’ Pieter. Dengan rasionalisasi seseorang melakukan dorongan yang sebenarnya terlarang, tetapi dicarikan penalaran/pembenarannya sedemikian rupa sehingga seolah-olah tindakan menyimpangnya dapat dibenarkan.

Dari sudut pandang feminisme, perempuan-perempuan dalam novel ini terkesan sangat inferior, pasif,  dan tidak berdaya. Selain tokoh Netty yang sering ‘disetir’ oleh Albert, tokoh Marta pun dilukiskan sebagai perempuan yang sama sekali tidak punya ‘benteng pertahanan,’ baik verbal maupun non-verbal ketika menghadapi gelagat Pieter dan Tuan Gunawan.  Ada juga pengibaratan yang mencap semua perempuan itu tolol kalau sedang birahi:

Semua perempuan memang jadi tolol manakala birahi sudah membendungnya dia akan jadi lamban, bebal, dan tidak bisa diajak berpikir atau tepatnya malas untuk berpikir…

-Mayat-mayat Merangsang, hal 194

Dari penuturan di atas, kita bisa mengetahui bahwa faktor lingkungan dan pengalaman seksual Pieter yang mencekamlah yang membuatnya menjadi nekrofilia. Proyeksi seksual utama Pieter selalu pada jasad, bahkan bibit cinta Pieter terhadap Marta lahir dari bayangan Pieter yang melihat cara tidurnya Marta mirip sekali dengan mayat.

Tantangan Membaca Novel ‘Jadul’

Ejaan di indonesia sudah untuk kesekian kalinya berubah. Hal ini memang konsekuensi dari dinamisnya perkembangan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, selain tata bahasa, banyak sekali kata-kata yang jarang lagi dipakai pada kondisi penulisan bahasa di zaman sekarang.

Terlihat ada beberapa unsur kata asing dari bahasa Belanda yang masih populer pada zaman itu seperti kandelaar (chandelier [tempat lilin]) yang dideskripsikan bercabang enam mirip dengan menorah yahudi, zonder (tanpa), dan onderneming (perkebunan).

Kata-kata jaman old seperti; mengkirik (bergidik), menginterlokal (menelpon interlokal), menjerang (merebus), dan lain-lain pun cukup membuat pembaca semakin terbata-bata dalam mecerna novel ini. Bagi yang susah payah menikmatinya dan berusaha belajar darinya, mungkin mereka akan menemukan kejutan-kejutan dan referensi yang bisa kita aplikasikan dalam proses kreasi di jaman now.

Cukup sulit untuk membaca cerita ini secara heuristik, namun makna intensional (intentional meaning) dari novel ini akan selalu setia membawa pembacanya dalam menikmati sastra. Sensasi-sensasi itu takkan pernah hilang termakan zaman:

LELAKI memang bisa lebih kurang ajar dari anjing kalau dia mulai dikasih hati.

-Mayat-mayat Merangsang, halaman 69

 

Netty tahu apa yang ada di kepala lelaki perkasa yang beberapa menit yang lalu sudah menghempaskan dirinya habis-habisan ke pantai birahi sehingga dia basah dan kuyup.

-Mayat-mayat Merangsang, halaman 69

Contoh makna intensional yang ‘nakal’ seperti itu mungkin akan mengingatkan sebagian pembaca perihal karya Enny ‘Sukaesih’ Arrow. Bedanya, mungkin Enny Arrow lebih ‘berani’ mengilustrasikannya.

Opini Perihal Keganjilan dan Potensi yang Terlewatkan

Di awal cerita, pemakaman Margareta dihadiri Letnan Parman. Padahal, kematian Margareta tidak dideskripsikan sebagai suatu tindak kejahatan atau kecelakaan. Seorang polisi yang terkenal sibuk menghadiri suatu pemakaman menurut saya akan melahirkan sedikit spekulasi dan keraguan.

Diceritakan Meriam adalah adik tiri Pieter dari istri tua mendiang Karel yang sudah meninggal. Dari penalaran tersebut, mustinya istri Karel yang sudah meninggal itu lebih tua dari Netty bukan? Kalau lebih tua, seharusnya Meriam lahir lebih dulu dari Pieter tentunya. Namun, kenapa Meriam tidak hadir sebagai kakak tiri dari Pieter?

Novel itu tergolong novel piskologis yang bertugas untuk ‘mengaduk-aduk’ kondisi mental si pembaca. Namun, gaya penulisan dengan perspektif orang ketiga membuat novel ini kurang kuat dalam menggambarkan latar psikologis tokoh-tokohnya.

Kita sebagai pembaca, ibaratnya hanya mengatahui ‘isi otak’ tokoh-tokohnya melalui penuturan narator sebagai pemegang kunci cerita. Kalau saja novel psikologis ini lebih menitikberatkan cerita dengan gaya penulisan sudut pandang orang pertama sebagai pencerita, tentunya kita bisa mengetahui dengan lebih dalam ‘isi jeroan’ otak si tokoh tersebut.

Penutup

Novel ini masih layak baca walaupun sudah hadir lebih dari 40 tahun. Banyak hal yang bisa dipelajari dari ‘masa lalu’. Cocok bagi yang gemar sastra dan juga gemar linguistik.

Kualitas metafora dari novel ini sangat baik, dan sangat menggambarkan kondisi budaya pada era itu. Kita bisa tahu perangko atau album foto masih populer karena kedua barang itu diibaratkan sebagai pasangan yang selalu menempel dan tidak mau pergi contohnya.

Bisa kita simpulkan bahwa, suatu karya tidak mungkin bisa lahir dari kekosongan budaya.

Jangan kira novel populer In the Fog  karya Issei Sagawa saja yang berani bercerita tentang nekrofilia. Mayat-mayat Merangsang sudah terlebih dulu hadir beberapa tahun sebelum Issei membunuh, memperkosa jasad, dan menyantap Renée Hartevelt di Paris.