Dalam waktu yang terus melaju, penulis (lagi-lagi) akan mengulas salah satu dari antologi Narcissu yang terbit dan lebih dikenal dengan nama Narcissu 10th Anniversary Antholohy Project. Setelah membahas Narcissu, Narcissu Side 2nd, Narcissu Himeko’s Epilogue dan Narcissu -A Little Iris-, akhirnya kita akan membahas cerita ke-4 yang berjudul Narcissu 0.

Kira-kira apa ya maksud dari angka “0” dari judul di atas? Nol? Kosong atau awal? Setelah penulis memainkannya, kurang lebih “0” di sini lebih merujuk pada kata “awal”. Awal? Awal dari apa? Awal dari gagasan besar yang tentunya terjadi di Narcissu dan Narcissu Side 2nd.

Cerita dalam Narcissu 0 merupakan kunci awal pembuka dari rangkaian plot yang akan terjadi dalam seri selanjutnya. Epilog-epilog yang terkesan “menggantung” dari sekuel-sekuel Narcissu pun seakan mendapat penebusannya dalam Narcissu 0.

Daripada banyak lama, penulis pun akan langsung mencoba mengulas secara lebih lugas! Dan seperti biasa: dengan minim spoilers tentunya. Agar dapat membuat para calon pemain yang bergabung dalam poros anti-spoiler gak baper.

Judul: Narcissu 0
Penulis: Kataoka Tomo
Pengembang: Stage-nana
Penerbit: Sekai Project (versi bahasa Inggris/Amerika Utara)
Tanggal Rilis: 24 Juni 2010 (Jepang), 28 Januari 2018 (Global)
Laman: stage-nana.sakura.ne.jp (Stage-Nana), sekaiproject.com (Sekai Project)

Sinopsis

Dibuka dengan Makie Hiroshi, sang dokter senior penanggung jawab dari lantai 7 sebuah rumah sakit Katolik―berbincang dengan Sakura Setsumi si pasien lantai 7. Dalam Narcissu, lantai 7 dari rumah sakit bersinonim dengan lantai bagi para pasien yang sedang menunggu ajal dan tidak lagi memiliki harapan hidup.

Setsumi yang antisosial pun akhirnya berangsur membuka diri ketika Dokter Hiroshi menyinggung perihal “peraturan rahasia pasien lantai 7”. Seharusnya, peraturan itu hanya diketahui oleh penghuni lantai 7. Hiroshi pun mulai menerangkan latar belakang dia mengetahui hal itu. Ternyata, sang pembuat aturan tersebut adalah salah satu perempuan yang sangat berarti dalam hati Hiroshi.

(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

Cerita pun langsung larut dan membawa pembaca pada suasana Jepang di tahun 1970, kurang lebih 25 tahun setelah Hirohito berhenti mengakui dirinya titisan dewa setelah kalah dalam Perang Dunia ke-II. Kala itu, Hiroshi masih muda dan tak punya “peta” untuk menyongsong masa depannya.

Singkat cerita, Hiroshi yang doyan bolos pun harus rela tinggal kelas. Ternyata, bukan hanya dia yang tinggal kelas: teman sekelasnya yang bernama Kusaka Youko pun turut tinggal kelas. Berhubung tengsin alias malu bergaul dengan adik kelas, gadis itu pun memberanikan diri untuk mencoba lebih akrab bergaul dengan Hiroshi.

Dari momentum itulah, anak tangga dari kehidupan dan takdir mereka pun akan diwarnai oleh warna-warna yang kadang membahagiakan dan kadang menyakitkan. Momen-momen yang tercampur dalam suasana penuh solidaritas, kerjas keras, mimpi, harapan, angan yang nantinya bakal bersinggungan dengan “pil pahit” kenyataan.

Para Lakon Utama

Makie Hiroshi 

“It’s easy to say something is impossible, but if you never start anything then you’ll never begin…”

―Makie Hiroshi, Narcissu 0

Dokter penanggung jawab dari lantai 7 di sebuah rumah sakit Katolik. Layaknya dokter, dia adalah dokter senior yang terbiasa menyaksikan kematian. Seorang dokter yang mengaku tidak pernah berniat menjadi dokter.

Saat masih berstatus sebagai pelajar, dia sering membolos dan lebih memilih bekerja di apartemen kecil milik keluarganya. Ruang kelas baginya adalah tempat yang membosankan untuk mempelajari kehidupan.

Dia lebih memilih bersosialisasi dengan penghuni lain di apartemen milik keluarganya atau nongkrong di sebuah kafe yang bernuansa budaya pop Amerika. Dari bersosialisasi dan bekerja paruh waktulah dia mendapat pelajaran yang ia harapkan bagi hidup dan kehidupan.

Kusaka Youko

Narcissu 0
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

“Well, because I can’t become God… I guess there’s nothing to do but become a doctor?”

―Kusaka Youko, Narcissu 0

Gadis yang harus tinggal kelas layaknya Hiroshi. Bedanya, Youko terpaksa harus tinggal kelas karena dia tergolong orang yang gampang sakit. Kondisi tubuhnya yang tidak stabil harus memaksanya pulang-pergi dari rumah sakit sehingga membuat absensinya belang betong alias “bolong-bolong”.

Sangat berambisi menjadi dokter karena kondisi kesehatannya yang tidak stabil. Youko adalah gadis yang cenderung lugu, polos, dan pemalu. Tapi, dia selalu berusaha jujur dan tampil apa adanya di depan Hiroshi. Mungkin itu karena dia sangat mempercayai Hiroshi.

Youko adalah gadis yang menjadi inspirasi Hiroshi untuk lebih menghargai masa kini dan masa depan. Tanpa Youko, mungkin Hiroshi tidak akan pernah bekerja keras untuk menggapai angan dan harapan.

Sakura Setsumi

Narcissu Side 2nd
(Kredit: Stage-nana)

Penghuni dari lantai 7 di sebuah rumah sakit Katolik. Sikapnya acuh, cenderung antisosial, dan raut wajahnya selalu datar. Hanya Atou Yuu yang berhasil membuatnya tersenyum di Narcissu. Dalam Narcissu 0, perannya hanya sebagai karakter figuran. Gadis ini adalah perempuan yang menjadi protagonis perempuan di Narcissu pertama.

Atou Yuu

Narcissu
(Kredit: Stage-nana)

Pasien di lantai 7 sebuah rumah sakit Katolik. Mempunyai rasa ingin tahu dan tingkat kepedulian yang cukup tinggi. Dalam Narcissu 0, porsi kehadirannya tidak terlalu banyak Namun, di akhir epilog―Yuu adalah tokoh yang dihadirkan sebagai pemegang kunci dari korelasi ketiga seri Narcissu (Narcissu 0, Narcissu, dan Narcissu Side 2nd).

Skenario

Narcissu 0
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

Narcissu 0 terdiri dari prolog tunggal dan 9 Bab. Dilengkapi dengan epilog tambahan yang akan menghubungkan beberapa kejadian dalam novel visual ini dengan novel visual Narcissu dan Narcissu Side 2nd. Epilog tersebut akan sedikit mengobati hati para penggemar seri Narcissu yang merasa disuguhi akhir cerita yang  terkesan sedikit “menggantung”. Epilog tersebut lebih berfokus pada akhir riwayat kehidupan dari Atou Yuu, sang protagonis dari Narcissu pertama pasca pelariannya dari rumah sakit bersama Setsumi.

Dalam Narcissu 0, jallinan hubungan remaja laki-laki dan perempuan adalah inti pembangun cerita. Jalinan itu tidak dibangun secara ugal-ugalan layaknya mayoritas muda-mudi urban zaman sekarang yang pola romansanya pasti tidak jauh-jauh dari pola konsumsi.

Bukan ketertarikan secara fisik dan persentuhan secara fisik yang mereka utamakan di awal jalinan, melainkan pertemanan. Pertemanan itu terus dibina dan dipupuk dari sikap sederhana dan kejujuran. Dari titik itu, pribadi mereka pun terbentuk dan tumbuh untuk dapat lebih beradaptasi agar semakin memahami atas kekurangan masing-masing. Kekurangan itu tidak disembunyikan dengan rayuan atau kencan di tempat mewah, melainkan dicoba untuk dipecahkan dengan solusi-solusi yang mereka bangun bersama.

Dari hal itu, rasa kepedulian dan rasa ingin berkorban satu sama lain pun lahir. Rasa simpati dan saling memilki tersebut pun harus diuji oleh takdir yang nantinya bakal mewarnai kehidupan mereka berdua. Alur pun mengalir; terkadang manis dan terkadang pahit. Walaupun mereka seakan sudah masuk dalam fase solidaritas yang tak terpisahkan, momen-momen di mana mereka harus menghadapi problematika pribadi mereka pun akan hadir.

Pada momentum itu, terlukis bahwa ada fase di mana manusia harus menghadapi persoalannya sendiri-sendiri dan tidak boleh merasa tergantung dan membebani orang yang mereka sayangi. Lagi-lagi, dalam fase itulah rasa percaya dan kejujuran yang telah mereka bina sejak lama pun banyak membantu mereka.

Konflik yang hadir menitikberatkan campur tangan takdir. Bukan Kataoka Tomo kalau karyanya tidak mempertanyakan perihal ketuhanan. Takdir yang datang tak diundang itu membuat tokoh yang mengalaminya mulai mempertanyakan perihal arti hidup.

Konflik itu diracik sedemikian rupa agar terlihat manusiawi. Keragu-raguan tokoh perihal Tuhan seakan terlukiskan sebagai pertanyaan dalam upaya untuk menghormati kebenaran. Keraguan yang seakan tampak bersinonim dengan penghormatan kepada kebenaran yang tidak dijalankan dengan bentuk ritual peribadatan.

Selain itu, eksistensi dan arti kehidupan secara personal pun turut dipertanyakan. Suasana jiwa tokohnya dinamis dan naik turun seiring beririsan dengan konflik. Perjuangan tokohnya adalah perjuangan bukan untuk melawan takdir yang sudah baku, melainkan berkompromi agar eksistensi tokohnya tidak terkikis walaupun berhadapan dengan takdir yang sudah baku.

Sistem

Sistem pengoperasian dari gim ini sederhana layaknya cerita-cerita yang lain dalam antologi ini. Tidak dilengkapi dengan sitem auto-read, sehingga tangan kalian harus tetap bersiaga layaknya membaca buku ketika memainkan novel visual ini.

Kekurangan yang menonjol adalah Anda harus tetap membaca prolog awal sebelum memasuki menu yang berisi pilihan daftar isi dari cerita dalam novel visual ini. Sangat tidak praktis.

Novel visual ini dilengkapi voice acting, Anda bisa memilih mode fully voiced atau mode klasik sebagai pilihan penyuguhan permainan. Di mode fully voiced, suara dari protagonis laki-lakinya akan terdengar dan bidang gambar pun hadir dengan dimensi 2 : 4 dalam layar.

Dalam mode klasik, bidang gambar hadir dengan tampilan dimensi 1 : 4 dalam layar. Selain itu, suara Hiroshi saat muda pun tidak dilengkapi dengan pengisi suara.

Musik

Musiknya hampir sama dengan antologi Narcissu yang lain. Ada beberapa varian lagu yang eksklusif hadir untuk Narcissu 0 di dalamnya. Musik latarnya diolah dengan cukup baik dan mampu mendukung suasana yang dibangun dalam gim ini.

Kesimpulan dan Penutup

Narcissu 0 adalah sekat. Sebuah sekat yang membuka babak awal dari cerita yang terjadi di Narcissu dan Narcissu Side 2nd. Babak awal, dari upacara panjang menuju akhir dari kehidupan. Akhir kehidupan pun bisa dimaknai sebagai pemicu “energi hidup” bagi orang yang masih berada dalam “upacara panjang” tersebut.

Dari cerita ini, kita bisa belajar bahwa kepercayaan dan kejujuran bisa menjadi faktor yang lebih berarti dibandingkan perilaku konsumsi dan pencintraan dalam menjalani prinsip hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan.