Pernah merasakan keadaan mati segan, hidup tak mampu? Mungkin kira-kira itulah suasana dan gagasan besar yang ingin diseret oleh novel visual berjudul Narcissu. Sebagai pemain/pembaca karya-karya dari Stage-nana, penulis merasa dalam setiap untaian karya mereka memang selalu dipenuhi dengan tema-tema yang bisa dibilang “gelap” dan telah menjadikan hal tersebut ciri khas mereka dalam berkarya.

Bila kalian telah membaca ulasan tentang Ame no Marginal, tentunya kalian akan bisa merasakan sensasi yang sama mengenai cara Stage-nana mengocok-ocok perasaan kalian di novel visual Narcissu.

Tanpa panjang, lebar, tinggi, dan bangun ruang mari kita mulai saja ulasan mengenai Narcissu.

Narcissu
(Kredit: Stage-nana)

Rumah Produksi: Stage-nana

Laman: stage-nana.sakura.ne.jp

Tanggal Rilis: 21 Agustus 2005

Tautan: vndb.org/v10

Sinopsis

Sakura Setsumi merupakan gadis yang mengidap kelainan jantung dan dirawat di lantai 7 sebuah rumah sakit. Lantai 7 dari rumah sakit itu adalah tempat inkubasi para penderita penyakit yang oleh dokter divonis tidak bisa lagi disembuhkan.

Kenyataan tersebut membuat Setsumi menjadi gadis pesimis dan sulit berkomunikasi dengan lingkungannya. Suatu waktu protagonis tak bernama (bernama Atou Yuu dalam novel nacrcissu) yang memiliki riwayat penyakit mirip Setsumi pun direlokasi ke lantai 7 rumah sakit itu.

Mereka berdua pun bertemu, dan Setsumi pun menggelontorkan suatu peraturan di tempat itu yang sudah turun-temurun dibudayakan pada para penghuni lantai 7 yang sedang menunggu ajal. Aturan tersebut bukan merupakan sebuah regulasi senioritas mirip ospek, melainkan cara untuk melarikan diri dari tempat tersebut beserta tips perihal tanda-tanda kematian yang mungkin akan dialami oleh pasien penghuni lantai 7.

Beberapa waktu kemudian, Yuu yang melihat ekspresi elegi Setsumi ketika melihat bunga narcissus di televisi pun mengajak gadis itu lari untuk mencari bunga itu. Sayangnya bunga itu hanya tumbuh di Awaji-shima yang berjarak ratusan kilometer dari rumah sakit. Dengan mobil curian milik ayahnya, Yuu pun mengajak Setsumi untuk pergi melihat hamparan bunga narcissu sebelum kesempatan itu hilang digerogoti waktu.

Perjalanan mereka berdua mengelilingi Jepang dengan mobil inilah yang nantinya akan menjadi inti cerita dari Narcissu yang penuh dengan pilu.

Skenario

Narcissu
(Kredit: Stage-nana)

Yuu: “Say”
Setsumi: “What?”
Yuu: “Are you scared?”
Setsumi: “Is it better if I were?”
Yuu: “No, not really…”

―Narcissu

Novel visual ini termasuk dalam kategori kinetic novel yang berarti hanya memiliki jalan cerita tunggal dan tanpa pilihan ganda. Pemain/pembaca akan lebih pasif dalam menentukan akhir dari cerita layaknya membaca novel pada umumnya.

Plot yang bercabang biasanya dimiliki oleh novel visual berkonsep eroge, galge, dan nukige. Peran partisifatif pemain/pembaca lebih aktif dalam konsep novel visual berjenis itu.

Penulis membutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk mencoba membaca novel visual ini secara menyeluruh. Menyeluruh di sini dengan maksud untuk menyerap makna harfiah dan simbolik dari teks, musik, visual, dan seni peran (dalam konteks voice acting) yang terdapat dalam Narcissu.

Meresapi semua hal itu dalam kondisi fokus membuat gim ini terasa bernuasa kelam dan penuh keharuan. Novel visual ini mengajak pemain/pembacanya masuk dalam pengalaman kedua tokoh utamanya. Ya, walaupun pemain/pembaca berperan utama sebagai Yuu, ada adegan-adegan yang akan menghantarkan pemain/pembaca untuk menyelami batin dari sang heroin itu sendiri, yaitu Setsumi.

Cerita dari Narcissu diolah dengan sangat baik, terutama masalah perenungan mengenai eksistensi dari manusia-manusia yang harus berkutat dengan takdir. Selain hal tersebut, Stage-nana memang salah satu rumah produksi yang tidak bosan-bosannya membahas kompleksitas budaya bunuh diri yang ada di Jepang.

Sisi gelap tentang angka bunuh diri di Jepang berdasarkan data pun ikut menjadi perhatian dalam cerita. Menariknya, cerita dan pembahasan tentang fenomena bunuh diri ini disisipkan tanpa tendensi untuk memoralisasi pemain/pembacanya untuk tidak melakukan bunuh diri.

Narcissu meminjam analogi dari mitologi Yunani bernama Narcissus/Narkissos versi Echo/Ekho sebagai pelengkap cerita. Dalam istilah freudiansime dan psikoanalisis, terminologi narsisme diambil dari mitologi mengenai Narkissos yang bisa diartikan sebagai ketidakmatangan emosional yang berimplikasi pada penghargaan terhadap diri/kepercayan diri sendiri yang terlalu berlebihan.

Penulis pertama kali mengenal novel visual ini pada tahun 2011. Beberapa kutipan dalam Narcissu tentang realitas yang terkadang membuat penulis merenungkan makna kehidupanlah yang membuat penulis terkadang ingin kembali membaca novel visual ini.

Tokoh Utama

Narcissu
(Kredit: Stage-nana)

Yuu: “Do you have a place you want to go? If there’s a place you want to go…”
Setsumi: “…i don’t know. Do you have one?”
Yuu: “Me? I don’t know either…It’s just, wherever, with you…”
―Narcissu, Bonus Episode: Awaji-shima Sea Area

Atou Yuu, namanya sama sekali tidak pernah disebutkan dalam versi novel visual. Kalau kalian sudah terbiasa memainkan gim karya-karya Stage-nana, tentunya kalian tak akan kaget tentang hal tersebut.

Pemuda yang ramah, altruis, dan pemalu. Dia menghadapi takdir tentang vonis kematiannya dengan sikap acuh dan cenderung kalem. Vonis “menunggu mati” yang belum lama ia sandang membuatnya tidak terlalu putus asa dalam menghidupi sisa kehidupan.

Interaksinya dengan Setsumi selalu menghadirkan rasa solidaritas dan kepedulian yang tinggi terhadap gadis itu. Yuu memiliki intuisi yang tinggi dan mampu menyesuaikan dan menerka relung hati Setsumi yang terdalam, walaupun Setsumi selalu saja bersikap dingin padanya.

Yuu adalah pemuda yang penuh dengan sukacita berusaha mencegah segala gejolak pesimisme dalam diri Setsumi yang sekarat. Dengan segala hal tersebut, dia tetap selalu berusaha menghormati keputusan dari Setsumi tentang kehidupan.

Dalam pelarian, Yuu ingin selalu berusaha selalu memberi meskipun pada kenyataanya tak ada lagi yang tersisa dan bisa ia berikan terhadap Setsumi.

Narcissu
(Kredit: Stage-nana)

…to yearn, to eager, to strive, if someday you would be rewarded then fine…

But, when it doesn’t come true, what should we do?

At that time, to say ‘oh, it wasn’t possible’ and laugh?

I’m not that strong…

What could i do, was give up from the start. To not wish for anything…

―Setsumi, Narcissu

Dalam perspektif budaya pop Jepang, Setsumi termasuk golongan karakter yang bersifat kuudereGadis berumur 22 tahun ini sangat pintar dan mengerti banyak tentang peta Jepang dan dunia otomotif. Latar belakangan dari pengetahuannya akan terungkap di Narcissu 2nd Side yang merupakan prekuel dari Narcissu.

Setsumi telah menjadi pasien di lantai 7 cukup lama. Pemalu, antisosial, tertutup, dan pesimis adalah cuplikan-cuplikan dari sifatnya yang akan sering kalian lihat di Narcissu. Sikap pesimisnya lahir karena orang-orang yang pernah bersosialisasi dengannya perlahan melupakan eksistensinya sebagai manusia.

Setsumi pun berubah menjadi orang yang tabah, dingin, serta menafikan semua harapannnya mengenai kehidupan. Di dalam hatinya masih tersimpan berjuta keinginan, namun ia selalu berhasil menyembunyikan keinginan itu terutama di depan Yuu. Setsumi selalu berhasil melakukan itu dengan “topeng” acuhnya ketika berkomunikasi dengan Yuu.

Berdasarkan narasinya dalam cerita, gadis ini seakan berubah menjadi puitis ketika semua takdir hidupnya harus ia telan secara perlahan.

Grafis

Narcissu
(Kredi: Stage-nana)

Grafis dari Narcissu kelewat sederhana. Ini juga sudah merupakan ciri khas karya-karya dari Stage-nana. Visual dibentuk sedemikian rupa agar sederhana. Dalam mayoritas cuplikan dan adegan, wajah dari kedua tokoh utama hanya muncul beberapa kali.

Narcissu
(Kredit: Stage-nana)

Mayoritas ilustrasi visual pun hanya nampak 1/4 dari layar. Bentuknya pun rata-rata hanya pemandangan dan suasana dalam cerita. Suguhan seperti ini seakan ingin membuat para pemain/pembaca lebih berfokus pada teks dan membiarkan imajinasi si pembaca/pemain tetap berfungsi.

Penulis pribadi tidak berkeberatan dengan hal ini, karena konteks dari permainannya adalah novel visual yang tentu saja harus lebih mengedepankan teks dibandingkan unsur pelengkapnya. Penggemar novel visual yang lebih suka membaca dengan pertimbangan grafis harus agak sedikit kecewa mungkin?

Ini bukan eroge, nukige, atau gim mesum lainnya. Jadi, pertimbangan perihal grafis tentunya sangat-sangat bisa dikompromikan dalam novel visual.

Sistem

Novel visual sederhana tidak membutuhkan GUI (Graphic User Interface) yang kompleks. Kurang relevan membahas hal seperti ini dan mengkomparasikannya dengan novel visual kekinian seperti Tokyo Necro (2016) ataupun Memories Off: Innocent Fille (2018).

Musik

Musik yang baik ada dalam Narcissu, bisa disamakan dengan musik balada tanpa vokal. Musiknya sama sekali tidak menggagu voice acting dalam gim. Ketegangan dalam teks terartikulasi dengan baik beriringan dengan musik yang mendukung suasana tersebut.

Kesimpulan

Narcissu sangat layak untuk dibaca dan tidak akan membuang waktu Anda karena novel visual ini berdurasi cukup singkat, namun “cukup dalam” terutama gagasan besar di dalam ceritanya.

Tak ada konten seksual di dalamnya, bisa dibaca oleh remaja, tentunya harus dengan dukungan pikiran yang berusaha untuk menjadi matang agar tidak menelan teks di dalamnya secara serampangan. Novel visual itu ibarat buku yang jika kualitas ceritanya baik tak akan pernah lekang dimakan oleh waktu.