Dalam novel visual berjudul Narcissu 10th Anniversary Anthology Project, ada salah satu bagian dari downloadable content-nya yang bernama Narcissu-A Little Iris. Bagian ini lebih sering disebut sebagai side story dari kumpulan antologi Narcisssu. 

A Little Iris penulis anggap cukup menarik, karena ceritanya tidak terikat dengan serial Narcisssu yang lain. Walaupun tidak terikat, A Little Iris tetap hadir dengan kualitas cerita yang cukup solid dan tentunya masih tetap penuh elegi alias kegalauan (ciri khas dari Stage-nana).

Seperti janji penulis artikel, semua bagian dari Narcissu 10th Anniversary Anthology Project akan  penulis ulas satu per satu. Ya, sebuah ulasan yang nanti ujung-ujungnya akan nyerempet ke kehidupan nyata sebagai contoh perbandingannya. Tujuannya? Agar jangan lupa sama yang nyata aja walau lagi di dunia virtual. Mari kita mulai!

Judul: Narcissu – A Little Iris
Produksi: Stage-nana
Penerbit: Sekai Project
Penulis: Kataoka Tomo
Laman: stage-nana.sakura.ne.jp (Stage-nana) sekaiproject.com (Sekai Project)

Sinopsis

Iris adalah seorang putri dari kerajaan kecil di sebuah daerah yang sedang dalam kondisi perang. Hidupnya mewah dan serba berkecukupan. Namun, apa lacur, di balik semua kemewahan itu dia hanyalah sebuah pion yang dipersiapkan Keluarga Kerajaan sebagai “hadiah” buat kerajaan lain.

Iris
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

Singkat cerita, perkawinan politik pun dipersiapkan. Pada umur 8 tahun, Iris pindah ke kerajaan lain dengan status calon istri pangeran dari kerajaan lain. Sayang, menjelang pernikahan, pangeran itu telah lebih dulu tewas di medan peperangan. Pihak dari kerajaan Iris pun ternyata berbalik menyerang kerajaan yang kini Iris diami.

Karena semua hal itu, Iris kehilangan statusnya sebagai calon putri dan harus mendekam di dalam penjara bawah tanah sambil menunggu eksekusinya yang akan dilaksanakan ketika perang berakhir. Lemah, masih bocah, dan kehilangan arah―Iris pun makin sering mempertanyakan arti hidupannya secara lirih.

Masyarakat, ksatria, dan para ekstrimis yang menganggap salah satu penyebab dari peperangan adalah Iris pun makin naik pitam. Mereka berniat membunuh Iris tanpa memperdulikan regulasi mengenai eksekusi resmi. Satu persatu, orang-orang pun berniat menantangnya dalam duel maut di penjara bawah tanah.

Memang harusnya Iris mati pada malam pertama dari duel tersebut. Bisa kita bayangkan, bagaimana mungkin seorang bocah berumur 8 tahun bisa menang melawan orang dewasa. Namun, sipir yang juga mantan pengawalnya menyelamatkannya saat itu. Sipir tak bernama itu pun mulai membuat jebakan di sekitar sel dan juga mulai melatih Iris cara menggunakan pedang.

Sambil menunggu eksekusi resmi, Iris berhasil membunuh semua orang yang berniat untuk membunuhnya di dalam penjara. Saat umurnya menginjak 18 tahun, dia bukan lagi gadis polos yang ketakutan saat menghadapi kematian.

Setelah 10 tahun, peperangan pun berakhir. Artinya, eksekusi resmi dari Iris pun resmi akan dilaksanakan. Pada malam terakhir sebelum eksekusi, sipir penjara pun membawa Iris kabur dari lubang neraka. Namun, Iris tidak dibawa kabur untuk dibiarkan bebas, dia dikirim ke sebuah hutan untuk dieksekusi oleh pemuka agama dan para pembunuh bayaran sewaannya.

Eksekusi ternyata tidak berjalan sesuai rencana, salah satu pembunuh bayaran bernama Johan tiba-tiba membelot dan membunuh semua orang di lokasi tersebut. Hanya Iris yang ia biarkan hidup.

Iris yang tak punya arah tujuan pun berjalan mengikuti Johan. Pelarian mereka berdua sebagai pembunuh pun akan terjalin dengan latar suasana musim dingin yang keji dan tak kenal ampun.

Tokoh Utama

Iris Camonis Alena

Iris
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

Gadis yang sedari kecil tidak punya kendali atas hidupnya sendiri sebagai pribadi. Hidupnya yang terombang-ambing dari satu kepentingan ke kepentingan lain pun membuatnya bermetamorfosa menjadi pembunuh berdarah dingin.

Johan

Iris
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

Mantan ksatria Perang Salib yang beralih menjadi pembunuh bayaran. Berkeliling dunia untuk menemukan momen kematiannya yang tepat dan terhormat dalam suatu laga pertempuran. Berbekal masa lalunya sebagai pembunuh yang suram, dia berusaha untuk membuat Iris berhenti untuk menjadi pembunuh.

Cara-caranya menyadarkan Iris pun berlangsung secara persuasif. Pembunuh yang menasehati seorang pembunuh untuk berhenti membunuh. Cara seperti apa yang harus dilakukan oleh Johan untuk memutus mata rantai itu?

Skenario

Iris
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

Novel visual ini terbagi menjadi 8 bab dan 1 epilog. Lama permainannya hampir sama dengan serial Narcissu pertama. Bedanya, latar mengambil suasana abad pertengahan yang sedang dilanda perang dan wabah.

Wabah Black Death yang pernah membunuh sebagian besar warga Eropa pada abad ke-14 pun diceritakan sebagai sisipan. Nama kerajaan dan daerah tidak disebutkan secara detail dan cenderung dilukiskan secara fiktif. Cuplikan perihal Perang Salib yang menjadi masa lalu Johan pun hanya dilukiskan sebagai narasi akan pertanyaan seputar eksistensi ketuhanan.

Bila kita mengkorelasikan Black Death dan Perang Salib secara bersamaan dalam konteks gim ini, mungkin novel visual ini mengambil jenjang waktu kejadian sekitar pasca-perang salib pertama (di atas tahun 1291) dan awal mula wabah Black Death menyebar (di atas tahun 1347).

Kondisi perempuan yang terkungkung dan tereksploitasi adalah salah satu tema besar yang terdapat dalam gim ini. Fakta kerasnya, kondisi kesetaraan hak perempuan baru dikenal daerah Eropa pada sekitar abad ke-19. Selain hal di atas, hanya di era Nabi Muhammad kesetaraan perempuan mendapat perhatian yang lebih baik. Semeninggalnya Nabi Muhammad, hal itu kembali tenggelam dan diperparah dengan populernya budaya yang mengurung perempuan dalam harem yang terasimilasi dari budaya kerajaan Bizantium dan Persia.

Yang bikin cerita ini menarik, faktor-faktor seperti budaya patriarki, wabah, dan kondisi peperangan tak membuat tokoh perempuan dalam novel visual ini pasif. Dia mencoba bertahan hidup berkat tekad yang tersudut oleh rasa frustasinya akibat keadaan.

Iris
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)
Iris
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

Walaupun banyak tokoh laki-laki yang mengajarkan tokoh perempuan untuk bertahan hidup. Mereka tidak tampil sebagai laki-laki yang menginginkan tokoh perempuan dalam konteks percintaan atau persetubuhan yang menjamin perasaan aman atas timbal balik tersebut.

Semua gejolak dan perubahan dalam diri tokoh perempuan terjadi akibat usaha perempuan tersebut untuk mencari makna kehidupan yang baru tanpa upaya yang berlebihan dari tokoh laki-lakinya. Hal ini cukup menarik karena biasanya seorang putri dari cerita-cerita zaman Eropa selalu identik dengan perempuan yang pasif, lemah, dan tak berdaya. Sementara tokoh laki-lakinya bertualang, membunuh naga, penyihir, dan bandit.

Tidak ada gagasan tentang “perempuan yang harus dicintai supaya ia bahagia”. Tidak ada perempuan yang apabila ingin dicintai, ia harus menunggu kedatangan cinta. Tidak ada lagi un jour mon prince viendra (suatu hari nanti, pangeranku akan datang) dalam gagasan cerita.

Perspektif cerita terbagi rata; ada disaat Iris mengambil peran utama, ada disaat Johan mengambil cerita utama. Keduanya mengalir apik dan saling melengkapi dalam keseimbangan.

Grafis

Iris
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)

Kebaruan grafis yang menonjol adalah motion effect yang hadir untuk meramaikan elemen visual dalam gim. Saat suasana menggambarkan musim salju, interface (tampilan antarmuka) pun dipercantik dengan efek hujan salju yang bergerak secara perlahan pada bidang layar.

Adegan pertarungan pun diramaikan oleh motion effect dari sabetan pedang dan sedikit efek gore yang cukup meningkatkan ketegangan dalam permainan. Bagi yang pernah memainkan novel visual Fate/Stay NIghtmungkin Anda akan sedikit merasakan sensasi adegan pertarungan yang hampir mirip.

Bagi Anda yang lebih senang dengan tampilan klasik dari novel visual keluaran Stage-nana, tersedia mode klasik dengan nama Novel Mode. Imajinasi Anda tidak akan terlalu didikte dalam mode ini.

Sistem

Sistem tetap dipertahankan sesederhana mungkin. Mengingat, gim ini memiliki durasi yang cukup pendek, kompleksitas bukan merupakan suatu urgensi. Tidak ada mode auto-read dalam gim ini.

Musik

Kental dengan alunan biola dan instrumental. Ada beberapa musik latar yang tidak terlalu eksklusif, karena beberapa musik latar dalam gim ini kembali digunakan dalam serial Narcissu yang lain. Namun, musiknya tetap sangat mendukung suasana dan ketegangan yang ada dalam gim.

Kesimpulan dan Penutup

Novel visual ini mengambil jalan cerita tentang suasana Eropa abad pertengahan. Kebaruan di dalamnya adalah bagaimana tokoh-tokoh perempuan dalam ceritanya dilukiskan sangat bersebrangan dengan rata-rata tokoh perempuan dalam cerita Eropa klasik.

Ceritanya pun sangat kental dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan ketuhanan yang beririsan dengan kondisi wabah, peperangan, dan budaya patriarki. Cocok buat perempuan yang mengaku “Kartini Masa Kini” tanpa dipoligami (suami Kartini berpoligami).

Laki-laki yang membacanya secara fokus dapat menelusuri kehidupan lawan jenisnya yang nelangsa. Bagus untuk memperkuat empati dan melenturkan egosintresime atas nama gender. Memberi, tanpa harus menerima bisa menjadi salah satu tema yang cukup epik dalam gim ini.

Cukup sekian pembahasan dari penulis. Kali ini pembahasan akan ditutup dengan CG favorit penulis:

Iris
(Kredit: Stage-nana, Sekai Project)