Kali ini penulis akan membahas salah satu karya dari komikus asal Yogyakarta yang bernama Kharisma Jati. Karya berjudul 17+ ini lebih pantas disebut novel grafis karena formatnya yang tebal, ukurannya yang lebih besar daripada komik dan memiliki alur cerita (plot) yang bisa digolongkan sebagai “alur campuran” layaknya format-format yang akrab ditemukan di dalam novel konvensional.

Sekilas tentang Kharisma Jati

Kharisma Jati mulai meraih perhatian publik ketika komik one-shot-nya yang berjudul God You Must Be Joking alias GYMBJ mulai “menyupai racun” gagasan nihilistik seputar isu-isu sensitif (komedi satir seputar ras, agama dan ideologi) yang kerap menjadi sarapan warganet alias “netizen +62″ untuk saling mencemooh di ruang maya.

Bisa dibayangkan, dengan dinamika sosial-politik di Indonesia yang cukup semerawut, Kharisma Jati cukup berani menerjang nilai-nilai yang cukup tabu untuk divisualisasikan dan dikritik. Tentunya hal ini bukan tanpa resiko.

Kharisma Jati juga pernah menuai kontroversi akibat karyanya yang dianggap mendiskreditan seorang komikus perempuan. Hal tersebut terjadi pada tahun 2016 yang lalu. Beberapa komikus dan warganet pun sempat mengecam tindakan Kharisma Jati. Untungnya, hal tersebut sudah terselesaikan dan beliau pun berhasil membuktikan bahwa sebuah kesalahan bukan merupakan alasan untuk berhenti dalam berkaya. Hal ini bisa kita bisa jadikan pembelajaran bersama dalam berdinamika.

Setelah membahas sedikit tentang Kharisma Jati (dari sini penulis akan menyingkatnya sebagai KJ) mari kita bersama-sama membahas salah satu mahakarya KJ berjudul 17+.

Sinopsis

Sumber gambar: kjati.wordpress.com

Bercerita tentang dinamika kehidupan anak SMA yang ternyata memiliki masalah-masalah yang tidak seindah mitos: Kisah Kasih di Sekolah. Ada Yudi si juara kelas yang menganggap hidupnya terus diliputi kesialan. Ada persahabatan Dewi, Nina dan Tika yang terlihat “baik-baik saja”. Ada Dila yang penuh dengan tanda tanya.

Kehidupan stagnan itu seolah berubah ketika munculnya seorang siswa baru bernama Bimo yang penuh dengan misteri. Di sekolah, Bimo berhasil menggeser semua orang yang berprestasi di bidangnya untuk turun dari tahta. Bimo pintar secara akademis, rupawan dan juga mempunyai bakat atletik yang beragam. Tak sedikit gadis-gadis di sekolahnya pun langsung jatuh hati padanya.

Namun, di balik semua pesona, di balik ketampanan rupa dan segala imajinasi manusia yang melihatnya—Bimo menyimpan sebuah tujuan ekstrim yang sangat tidak lazim dimiliki oleh anak seusianya: sebuah pembalasan dendam untuk mencabut nyawa!

Dari ekspresi tergelap yang Bimo emban inilah, cerita yang kompleks pun akan berkembang menjadi sebuah runutan “upacara panjang” para remaja ini untuk menyelami onggokan perkara perihal hidup dan kehidupan.

Gejolak kawula muda yang bertabrakan dengan kaburnya nilai-nilai di masyarakat pun seakan menjadi suatu cerita yang menarik untuk kita coba jelajahi.

Latar Cerita

Bila dilihat dari konteks visualiasi, KJ terinspirasi dari suasana Indonesia pada rentan waktu di era 90-an akhir. Inspirasi utamanya tampak secara eksplisit menggambarkan suasana Yogyakarta pada masa tersebut.

Apa buktinya? Bukti visual perihal latar Yogyakarta ada di salah satu panel gambar yang menunjukan plat nomor polisi yang ditunggangi oleh Yudi. Penjurusan SMA yang baru dimulai pada kelas 12, membikin surat cinta, menjamurnya hobi bermain BMX, penggunaan sepeda sebagai transportasi jarak dekat, penggunaan telepon kabel dan mulai menjamurnya telepon genggam adalah bukti yang cukup otentik menggambarkan suasana di akhir 90-an.

Gambaran latar di atas tentunya bisa menjadi pemandangan segar bagi generasi muda yang tidak pernah mengalami hal tersebut secara langsung. Bagi pembaca yang lebih “berumur,” latar di dalam 17+ bisa dijadikan ajang nostalgia untuk merayakan beberapa “kepunahan kegiatan” yang ada di dalam latar cerita.

Namun, penilaian tersebut tentunya sangat tidak cepat bila kita telan secara utuh. Banyak kode-kode konotatif dan tersembunyi yang selalu KJ sisipkan di dalam latar yang ia bangun. Kode-kode itu bisa berbentuk kode teks/sastra dan juga kode visual.

Kode Teks/Sastra: Contoh kode sastra yang akan sering dijumpai oleh pembaca adalah sisipan puisi yang penuh dengan nilai filosofis, terutama pada awal bagian dan akhir bagian. Teks-teks yang mengacu pada referensi kekalutan sejarah kelam bangsa Indonesia dapat di jumpai pada 17+ Chapter 3 Side B—setelah saya (Penulis Artikel) amati, mungkin KJ banyak mengambil referensi dari pembantaian 1965 dan juga rezim berdarah di era Orde Baru.

Narasi puitis

Alasannya? Saya ambil berdasarkan adegan pembantaian sekelompok orang yang terlihat sedang dipersekusi dan dieksekusi di sebuah ladang tebu. Di sebuah adegan, diceritakan bahwa nampak kelompok tersebut dituduh sebagai pesakitan politik yang pantas untuk mati tanpa peradilan. Ada indikasi bahwa referensi tersebut bisa saja di ambil dari buku yang berjudul Palu Arit di Ladang Tebu. Buku itu berisi tentang peristiwa pembantaian yang terjadi di sekitar Kediri dan Jombang pada era 1965-1966.

Di Chapter 3 pun diceritakan bahwa ayah angkat dari salah seorang tokoh utama di novel grafis ini merupakan anggota paramiliter yang kebal hukum. Bagi yang mengikuti sejarah perihal rezim Orde Baru, tentunya tidak asing dengan dugaan bahwa ada sekelompok paramiliter yang digerakan oleh rezim untuk melakukan perbuatan yang bisa menembus kode etik dari hukum untuk membersihkan orang-orang yang tidak sejalan dengan sistem.

Persekusi atas nama ideologi politik

Itulah yang menarik! KJ berani membikin latar cerita yang tentunya tidak mungkin dia ambil dari kekosongan budaya. Dengan sisipan kode visual di atas, tidak menutup kemungkinan para pembacanya akan mencoba mempelajari Deschooling Society yang di gagas Ivan Illich maupun literasi lainnya.

Masih banyak kode teks/sastra dan kode visual lainnya yang menunggu untuk ditemukan dan diinterpretasikan oleh para pembacanya.

Plot

Plot yang digunakan dalam 17+ bisa dibilang merupakan alur campuran. Batas antara peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan diaduk sedemikian rupa sehingga epilog dari cerita akan sangat sulit ditebak dan diurai.

Penokohan

Tokoh-tokoh dalam novel grafis ini sangat dinamis dan manusiawi. Tidak seperti sinetron ataupun teenlit Indonesia yang sangat senang menyekatkan sifat manusia ke dalam dua golongan; baik dan jahat. Padahal, dalam kenyataanya manusia akan terus berdinamika sampai akhir hayatnya: nemo ante mortem beatus.

Cara manusia mengambil sikap, terkadang disebabkan oleh rentetan kejadian masa lalu yang ia emban. Perubahan, terkadang harus dialami ketika manusia terjebak dalam kondisi yang ekstrim. Nilai dan perspektif akan saling hantam dalam realita yang diwarnai oleh dimensi yang berlapis.

Semuanya berjalan layaknya kehidupan yang nyata; baik dan buruk hanya akan terjadi dalam pencarian panjang yang kondisinya akan selalu berubah. Kebaikan dan keburukan yang sejati pun terlukis semakin abstrak.

Dari semua perjalanan di ataslah, KJ nampak membangun sebuah keadaan nihilistik yang gamang. Sekali lagi, pembaca pun diajak untuk menyikapi konflik tersebut secara mandiri. Nihilistik pasif? Atau nihilistik aktif?

Dari titik berangkat ini, saya merasa KJ mampu membangun tema nihilisme sekelas Asano Inio saat membikin Oyasumi Punpun.

Estetika

Saya rasa KJ sudah cukup matang untuk membangun sebuah ciri khas dalam berkarya. Yang paling menonjol adalah arsiran-arsiran berbentuk lurus yang terkadang tampil dalam posisi vertikal maupun horizontal.

Gaya gambar yang ditekuni KJ di novel grafis ini jarang ditekuni oleh para komikus pada umumnya. Gaya gambar ini memudahkan kita membedakan KJ dengan komikus lain.

Perlu digarisbawahi, karya yang satu ini memang diperuntukan untuk dewasa (x-rated). Banyak terdapat adegan kekerasan (Chapter 2-3), bahkan konten seksual yang tidak diperuntukan oleh anak-anak di bawah umur.

Meong!

Konten seksualnya tidak dieksploitasi, cukup diwakilkan sedemikian rupa dan disensor dalam kode visual yang konotatif. Hasilnya? Kesan pornografi yang terdistorsi dengan epik. Saya pribadi malah tertawa pada bagian ini.

Kesimpulan dan Penutup

Dalam transisi perjalan manusia menuju fase kedewasaan, tentunya elegi alias kegalauan pun menjadi suatu bagian yang harus dialami para remaja. Novel grafis ini mencoba mengangkat tema tersebut dengan cara yang berbeda.

Bentuk komunikasi dari KJ untuk menyampaikan hal ini dengan cara yang khas dan menolak sesuatu yang serba rutin. KJ mengajak kita masuk kedalam kompleksitas ini untuk menemukan berbagai macam penafsiran. Tentunya, janganlah berhenti dari penafsiran di artikel ini.

Kita sebagai pembaca diajak dalam kegalauan para remaja dalam penemuan makna.

Bagi kalian yang bosan dengan karya-karya komik, webtoon ataupun novel grafis mancanegara, ada baiknya kalian mencoba membaca karya yang satu ini. Yang bosan melihat eksploitasi romansa, kearifan lokal yang dipaksakan atau kisah pewayangan yang didaur ulang —tentunya bisa mencicipi untaian kesegaran yang ditawarkan oleh KJ dalam 17+.

Yang jelas, kalian harus cukup umur untuk menikmati karya yang satu ini!

KJ melakukan penerbitan mandiri, bagi yang ingin memesan novel grafis ini silahkan kunjungi kanal media sosial dari KJ. Calon pembeli harus bisa menunjukan bukti kepemilikan KTP atau SIM untuk membeli karya ini.

Jangan dibajak dan difotokopi! Tunjukkan apresiasi kalian dengan cara membeli novel grafis asli dari KJ. Info lengkapnya akan saya lampirkan di artikel ini.