Di saat industri film Indonesia sedang sibuk-sibuknya menghidupkan tokoh-tokoh yang sudah berada di alam baka dengan cara menghidupkannya melalui aktor dan aktris yang masih hidup, Sekala Niskala hadir menerjang garis tipis antara makna kehidupan dan kematian lewat film.

Pada penayangan komersil perdananya, penulis artikel ini harus susah payah pergi ke bioskop yang jauh dari rumah karena film-film populer sedang asyik masyuk bertengger di bioskop-bioskop yang dekat dengan daerah rumah penulis. Hujan lebat di Bandung pun membuat perjalanan pulang harus ditempuh dengan waktu yang dikali, ditambah, dan tak mau dibagi atau dikurang (bonus rumah yang sebagian lantainya sudah terhempas luapan air selokan alias semi-banjir).

Dan akhirnya, penulis pun sadar: film yang sejauh ini sudah dapat 3 penghargaan dan 3 nominasi dalam kancah Internasional tidak serta-merta membuat pengusaha dan penikmat film Indonesia menerimanya. Nasibnya kayak Lady Bird yang dapat nominasi oscar tapi sempit ruang di bioskop kita. Mungkin, melihat wajah rupawan dalam layar, lalu kemudian merasakan percintaan dan tertawaan dalam bioskop masih menjadi konsumsi utama kita?

Setelah sedikit curhat dan agak baper dengan kenyataan, mari kita memulai ulasan tentang Sekala Niskala yang saya coba ulas sepenuh hati dan syukur-syukur dapat menggerakan hati penikmat film di Indonesia untuk lebih peduli dengan karya yang satu ini.

Judul: Sekala Niskala (The Seen and Unseen)
Tahun Produksi: 2017
Sutradara: Kamila Andini
Penulis: Kamila Andini
Produksi: Doha Film Institute, Treewater Productions
Durasi: 86 menit
Negara: Indonesia
Bahasa: Bali, Indonesia

Sinopsis

Berkisah tentang kehidupan anak “kembar pengantin” atau kembar buncing dalam budaya Bali. Yang perempuan bernama Tantri (diperankan Ni Kadek Thaly Titi Kasih) dan yang laki-laki bernama Tantra (diperankan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena). Mereka menjalani kehidupan di suatu daerah pertanian yang asri di Bali. Keakraban antara kedua saudara ini terjalin dengan sangat harmonis.

Suatu ketika, Tantra mengambil sebuah telur dari altar persembahan yang berada di tengah sawah dan kemudian meminta menggorengkan telur itu kepada Tantri. Mereka pun memakan satu telur mata sapi itu dengan cara dibagi; kuning telur untuk Tantra dan putih telur untuk Tantri.

Tak lama setelah peristiwa itu, Tantra tiba-tiba saja jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Kondisinya terus melemah dan sedikit demi sedikit kehilangan kemampuan inderawinya. Tantri terlihat enggan menemui kembarannya yang sedang terbujur lemah di kamar perawatan.

Uniknya, ketika suasana terlukiskan berangsur sunyi, antusiasmenya untuk bertemu Tantra malah menggelora. Ketika matahari dan rembulan mulai bertukar posisi yang bersemayam sunyi, ia bertemu dan bermain dengan Tantra. Ketika transisi kegelapan mulai diwarnai sunyinya dini hari, ia pun bertemu dan bermain dengan Tantra.

Dalam pertemuannya yang terkadang ditemani sinar rembulan, dinginnya malam, dan sunyinya kelam, mereka pun bermain wayang, menanam padi, menari, dan bernyanyi. Dunia tersebut bagai utopia mereka berdua yang diciptakan penuh sukacita. Perjumpaan tersebut dilukiskan tercipta tanpa sepengetahuan Ibu (diperankan Ayu Laksmi) dan Bapak (diperankan I Ketut Rina) mereka.

Plot

Alur cerita memiliki tempo yang mengalir lambat. Cerita bergerak perlahan yang seakan ingin menuntut penonton untuk memperhatikan secara seksama suasana dalam film ketimbang pemeran. Narasi cerita pun menitikberatkan pada kacamata anak-anak. Luapan emosi dan eskpresi perasaan lebih banyak dituturkan melalui nyanyian daerah, musik, dan tarian-tarian yang disandingkan dengan suasana-suasana eksotis dari Bali.

Sekala Niskala
(Kredit: Doha Film Institute,Treewater Productions)

Makna terlahir dari aspek psikologis dan estetik, bukan lahir dari konteks dan posisi sosial sang pelaku. Tindakan seakan terlihat lebih penting dari peristiwa yang terjadi di realitas. Terkadang, kehedak dari sang pelaku pun lebih unggul dari pada pikiran.

Atmosfer cerita terbalut dengan gamang yang terpadu di antara keindahan yang temporal dan sisipan kesuraman yang penuh dengan pertanyaan. Kumpulan pertanyaan yang akan mengajak penonton masuk ke dalam pusaran suasana yang penuh dengan nuansa magis, mistis, dan kesenduan yang ritmis.

Sinematografi

Sekala Niskala, The Seen and Unseentampak dan tidak tampak―visualisasi terasa bersemi mesra sama seperti judulnya. Pengambilan gambar dengan teknik Extra Long Shot, Long Shot dan Medium Long Shot sangat mendominasi dalam film ini. Uniknya, sering sekali terlihat ada scene ketika subjek (dalam konteks ini pemeran) seakan masuk dalam frame (bidang gambar) secara tidak utuh. Contoh; ekspresi kegundahan pemeran hanya masuk frame dalam potongan gambar hentakan kaki atau scene tarian pertarungan yang hanya memperlihatkan kaki yang menari dalam frame yang luas.

Sekala Niskala
Kental dengan Extra Long Shot (Kredit: Doha Film Institute,Treewater Productions)
(Kredit: Doha Film Institute,Treewater Productions)

Teknik yang tidak ortodoks dari pengambilan subjek tetap terasa holistis ketika berbagai elemen objek (barang, suasana, pemandangan) tetap mempererat suasana ketegangan dalam film. Contoh: ternyata gambaran subjek (pemeran) yang terpotong itu ingin menunjukan keindahan ketika tangan subjek ingin menunjukan keindahan suatu objek (mentari) dengan cara menyibak sebuah dahan pohon sehingga cahaya mentari akan tersingkap dengan indah dan estetis.

Sekala Niskala
Salah satu teknik komposisi framing dalam Sekala Niskala (Kredit: Doha Film Institute,Treewater Productions)

Ada beberapa pengambilan gambar dengan komposisi framing (teknik komposisi yang membuat gambar subjek terisolasi oleh objek lain dalam bidang gambar dengan maksud untuk memperkuat pesan dan kesan dalam gambar) yang akan membuat suasana dalam film seakan ikut bercerita.

Ada pula pergerakan kamera dengan teknik handheld yang akan memberikan kesan gambar yang sedikit terguncang-guncang dengan perlahan. Penulis merasakan sensasi dengan teknik handheld cukup terasa saat scene dimana Tantra dan Tantri sedang memakan telur mata sapi hasil dari mencuri di altar persembahan dan juga scene dimana Tantri sedang berlari di areal persawahan.

Dalam scene yang pertama, mungkin teknik ini digunakan untuk memperkuat peringatan akan suatu hal yang tabu, dan dalam scene yang kedua hal ini mungkin dimaksudkan agar penonton bisa merasakan sensasi berpartisipasi dalam kegiatan Tantri.

Film ini juga diperkuat dengan teknik post-synchronized (pengambilan suara pasca-syuting dengan cara dubbing [bisa suara dari suasana alam atau bunyi dari bermacam objek]) dalam teknik pengambilan suara. Penulis merasakan teknik itu digunakan saat adegan dimana Tantri mengupas telur yang ternyata isinya tanpa kuning telur, adegan menyanyi di alam terbuka, atau ketika suara-suara dari kegiatan bapak Tantri sedang bertani.

Dengan bantuan teknik post-synchronizedkualitas suara yang tajam akan tetap tercipta meskipun dominasi pengambilan gambar ada di alam terbuka. Dengan post-synchronized juga, pergerakan dan peletakan kamera bisa lebih dinamis tanpa perlu takut kehilangan kualitas suara sehingga teknik pengambilan gambar yang eksperimental pun tidak menjadi soal.

Sekala Niskala
Teknik available light (Kredit: Doha Film Institute,Treewater Productions)

Dalam film ini juga terdapat banyak penggunaan teknik available light (memanfaatkan cahaya yang ada) pada komposisi pencahayaannya. Teknik ini membuat suasana sunyi dan gelap pada dini hari terlihat dengan sangat natural dan tetap estetis.

Sekala Niskala
(Kredit: Doha Film Institute,Treewater Productions)

Musik latar (background music/BGM) pun terdengar samar-samar dan kental dengan musik etnik. Minornya musik latar digantikan oleh alunan lagu yang sengaja dinyanyikan dengan kesan natural. Tentunya beda dengan film musikal yang dinyanyikan dengan rentetan kesan artifisal macam bollywood. Lagi-lagi, nyanyian lirih yang natural mampu menjadi elemen pendukung yang membantu menancapkan suasana dalam film agar terkesan lebih dramatis.

Dualisme

Bagi penulis artikel, simbol-simbol filosofis tentang dualisme banyak dipaparkan dalam film ini terutama kesadaran kosmis perihal dualisme antara; perempuan dan laki-laki, siang dan malam, baik dan buruk, kehidupan dan kematian, serta yang terlihat dan tak terlihat, sama seperti judul dari film ini: Sekala Niskala.

Tanpa dualisme tersebut, kesadaran perihal keseimbangan akan tampak sangat rapuh. Bayangkanlah jika di dunia ini didominasi oleh laki-laki? Oh, maaf sudah terbayang dan terjadi ya? Agak kacau bukan? Kalau gitu bayangkanlah gimana kalau semua perempuan punah? Terciptakah keseimbangan? Tentu tidak, dan tentunya film Sekala Niskala pun tidak akan tercipta jika itu terjadi, karena sutradaranya juga perempuan.

Yah, itu contoh kecilnya. Kesan dari penulis, Sekala Niskala secara tidak langsung menjembatani pemikiran kita pada renungan hidup perihal kesadaran akan dualisme.

Penutup

Film ini sangat unik dan agak lain dari film-film Indonesia lainnya. Perhatian besar terhadap dunia anak-anak yang bersentuhan dengan tabu seperti tradisi dan kematian pun tercipta dengan cara yang benar-benar kreatif. Perihal tentang mencoba menebak pikiran anak dalam film ini sedikit mengingatkan penulis tentang tampilan seorang tokoh anak bernama Dewa dalam film Biola Tak Berdawai

Pengambilan gambar  dan teknik pencahayaan yang bertajuk suasana yang alami, indah, dan estetis dalam film ini mengingatkan penulis pada film Dersu Uzala karya sutradara jenius dari Jepang bernama Akira Kurosawa. Menikmati film dengan merenungkan suasana-suasana dalam film adalah kenikmatan yang jarang ditemukan pada film-film jaman now.

Pemilihan aktor dan aktrisnya mengingatkan saya pada sutradara neorealis sekaliber Robert Rossellini yang membiarkan para pemerannya berperan sedekat mungkin dengan kehidupan nyata si pemeran. Kamila Andini memilih orang Bali untuk memerankan peran sebagai orang Bali dan Rossellini memilih para pastor asli dalam pemilihan peran sebagai pastor dalam The Flower of St. Francis. Semuanya tercipta tanpa perlu pemain terkenal yang doyan skandal.

Bagi yang belum terbiasa menonton film dengan konsep seperti ini, kalian mungkin akan merasa sedikit mengantuk. Apalagi bagi orang-orang yang sudah terbiasa menonton film-film hollywood yang rata-rata memiliki alur yang cukup cepat.

Kalau berminat menonton, silahkan nikmatilah film ini secara perlahan dan resapi setiap unsur-unsur yang ada di dalamnya tanpa tergesa-gesa seperti menaiki tangga.

Film ini sangat penulis rekomendasikan bagi para penggiat film yang ingin mencari referensi perihal teknik-teknik sinematografi yang tidak ortodoks alias anti-mainstream. Banyak teknik-teknik yang menurut penulis sangat keren pake banget!

Teknik-teknik itu tentunya tidak direkomendasikan buat para pengguna Tik-tok, YouTuber, Snapchatter, dan tukang posting Instagramstory. Aduh jangan deh! Film ini minim interaksi lewat percakapan, banyolan, ketampanan dan keseksian soalnya! (bercanda gaes).

Dan terkahir, kalian bisa apreasiasi karya Indonesia yang sudah masuk dalam skema internasional ini dengan mencoba menontonnya di bioskop. Masa pas penulis nonton di bioskop, penontonnya bisa dihitung pakai jari?Siapa nih biang keroknya?