Berpakaian lusuh, nyeker, mengikuti petunjuk Injil, tanpa tongkat, dan ransum. Begitulah usaha Santo Fransiskus dan beberapa muridnya dalam upaya menciptakan dunia yang lebih baik. Warna kehidupan mereka seakan menolak segala bentuk kemapanan. Kerap mereka menyebut diri mereka sebagai frates minores dalam bahasa Latin, dan dapat diartikan sebagai “saudara-saudara hina”.

Penggalan-penggalan penjelasan di atas tervisualisasikan dalam film The Flowers of St. Francis atau Francesco, giullare di Dio dalam bahasa Itali. Film ini dirilis pada 14 Desember 1950, berdurasi 89 menit, buatan Itali.

Film ini disutradarai oleh Robert Rossellini, seorang maestro dari Itali yang giat mengadaptasi fragmen-fragmen bersejarah menjadi film yang memiliki kecenderungan  sejarah visual. Pada tahun 1960-1970, beliau banyak membuat film tentang sejarah Eropa. Rossellini sendiri dianggap sebagai salah satu dari sutradara yang mengusung konsep neorealis di Italia.

Meskipun penulis bukanlah seorang Nasrani, tapi penulis sangat tertarik dengan film ini karena menemukan bahwa penggambaran sejarah visual yang dilakukan Rossellini sangat memiliki arti bagi penulis, terutama dalam konteks penggambaran film bernuansa sejarah beserta teladan dalam religiusitas dari tokoh-tokoh sejarah di dalamnya.

Film ini bukan bekingan Amerika. Umumnya film-film sejarah dengan label made in USA terlalu mengedepankan efek-efek CGI agar terlihat teatrikal, kolosal yang ditandai dengan  adegan penuh aksi perkelahian-pertempuran, dan seringkali melupakan detail-detail mengenai fakta sejarah di dalamnya yang ujung-ujungnya jadi ahistoris.

Seperti contoh film Titanic yang lebih mengedepankan tokoh-tokoh semifiksi yang dimabuk bercumbu sehingga setelah ritual ‘belah duren’ pun kapal mereka ikut terbelah. Film ditutup dengan aksi heroik Leonardo DiCaprio menyelamatakan Kate Winslet pun membuat para penonton terharu. Mungkin, penonton pria terkadang jadi ngarep dapet cewek seksi dan kaya, dan penonton perempuan jadi berandai-andai dapat lelaki badboy tapi rela berkorban dan setia.

Film Titanic sangat minim fakta sejarah bila dibandingkan dengan adegan-adegan spektakulernya. Perkelahian, melukis telanjang, percintaan, dan seks ibarat over-micin, sehingga film ini dalam konteks sejarah terbilang cukup menyedihkan.

Contoh lain bisa kita simak dalam film Pompeii yang (lagi-lagi) lebih mempertontonkan kisah asmara antara gladiator dari suku Celtic, Inggris yang nyasar ke Itali dan memadu asmara dengan putri dari pemimpin Pompeii. Detail-detail sejarah mengenai kondisi sosial-ekonomi masyarkat Pompeii yang konon mirip dengan kondisi sosial di Soddom dan Gommorah pun tidak pernah terpotret.

Kedua contoh tersebut lebih menonjolkan estesisme dalam film yang ditandai dengan studio khusus special effects dan setting/latar buatan. Ditambah dengan narasi cerita yang diidealkan oleh masyrakat dan menyampaikan cara hidup Barat khususnya Amerika sambil menyelipkan nilai-nilai seperti kebebasan atau demokrasi.

Berbeda dengan kedua contoh di atas, Rossellini mencoba hadir dan mengolah Sejarah dalam artian yang jauh berbeda. Berikut kutipan dari Rosselini perihal Sejarah yang penulis kutip dari terjemahan bebas Anton J, Solihin:

Sejarah, melalui pengajaran secara visual, tidak hanya sekedar tanggal dan nama – dapat menjadi sebuah pijakan. Buanglah (serangkaian doa-doa) perang umum yang dipakai, dengan begitu sejarah dapat melepaskan faktor-faktor yang sifatnya politis, ekonomis, dan sosial. Sejarah akan dibangun, bukan berdasarkan fantasi tetapi melalui suasana, situasi. pakaian, pengetahuan sejarah, dan (tentu saja) orang-orang yang punya nilai penting dalam peristiwa sejarah serta membangun perkembangan sosial kita saat ini. —Roberto Rossellini 1963

Berdasarkan kutipan Rossellini di atas, tentunya cara Rossellini dalam mengolah film akan sangat berbeda seperti film-film sejarah ala Amerika Serikat.

Kilasan Film

Film ini menceritakan tentang sembilan bagian cerita paralel tentang kehidupan Santo Fransiskus dan murid-muridnya setelah pulang dari Roma pada 1209. Gerakan keagamaan yang diusung oleh Fransiskus ini mendapat persetujuan dari Paus Innocent III.

Santo Fransiskus

Meskipun cara hidup mereka layaknya pertapa dan sangat anti keduniawian, mereka bukanlah gerombolan pengemis. Terekam ilustrasi mereka menjalani kehidupan melalui serentetan usaha yang tekun dengan cara membangun gereja Santa Maria degil Angeli, serta pelayanan bagi orang sakit dan miskin.

Jubah-jubah berkain kasar dan perkakas-perkakas yang mereka dapatkan dari hasil sumbangan manusia dan alam pun kerap menemani perjalanan spiritual mereka. Selalu rendah diri, merenung pada gejala-gejala kehidupan yang ada di depan mata dan berdoa agar mereka selalu merasa kecil jika dibandingkan dengan Tuhan adalah salah satu ritual mereka sehari-hari.

Ada satu fragmen cerita yang menceritakan sedikit tentang kedatangan Santa Chiara/Clare/Claire/Klara yang mengunjungi Santo Fransiskus dan murid-muridnya. Perlu diketahui, Santa Klara merupakan seorang martir Katolik perempuan yang juga menjalani hidup miskin demi keyakinan agamanya.

Film ini bertambah menarik ketika Rossellini pun menyorot kehidupan para murid-murid Santo Fransiskus dalam mengamalkan kebijakan-kebijakan Santo Fransiskus. Petuah Fransiskus yang meyakini aksi akan lebih bermakna daripada kata-kata untuk menggerakan jiwa pun di praktikan oleh Ginepro. Ginepro berhasil menghentikan invasi Tiran Nicolaio dengan aksi penyerahan dirinya yang sangat anti kekerasan.

Santo Fransiskus
Ginepro saat menghadapi kaum barbar pimpinan Tiran Nicolaio

Bila mereka mendapatkan rezeki berlebih, lantas mereka langsung mengolah dan membagi-bagikannya kepada kaum yang membutuhkan. Tidak perlu menunggu jadi calon pemimpin, caleg, atau capres bagi Santo Fransiskus dan murid-muridnya untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kondisi pinggiran kota yang penuh dengan kaum miskin kota pun dilukiskan jelas dalam film ini.

Film ditutup dengan perintah Santo Fransiskus kepada murid-muridnya untuk menyerukan cinta ke beberapa penjuru mata angin yang berbeda. Sekilas, penggambaran Rosselini tentang cara ini seakan ingin menunjukan bahwa religiusitas adalah sebuah perjalanan, bukan semata-mata usaha memaksa seseorang untuk meyakini kepercayaan dengan paksaan.

Rossellini dan Penggambaran Sejarah

Dalam The Flower of St,Francis, Rossellini berhasil membangun suatu kesatuan antara suasana, situasi, pakaian, pengetahuan sejarah, dan tokoh-tokoh bersejarah. Suasana ia bangun dengan melibatkan suasana pedesaan Itali yang indah, seakan kehidupan Santo Fransiskus dan murid-muridnya di pegunungan Umbria benar-benar terekam.

Situasi ia bangun dengan menggambarkan kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi kala itu. Cara Fransiskus dan murid-muridnya dalam menyikapi semua kondisi itu cukup tergambar secara gamblang dan sederahana.

Pakaian dan pengetahuan sejarah pun ia racik sedemikian rupa. Usaha tekun dan nyata dari Fransiskus pasca kepulangannya dari Roma pun digambarkan dengan cara yang cukup keren. Kehidupan miskin yang mereka jalani tergambar bukan terlahir dari kemalasan, melainkan perjalanan untuk membagikan semua aspek kehidupan mereka agar orang-orang mengingat akan kebesaran Tuhan.

Untuk menggambarkan tokoh-tokoh bersejarah dalam alam religius, Rossellini tidak memakai aktor dan aktris terkenal, lagipula Rossellini seorang neorealis. Para pendeta dibintangi juga oleh pendeta betulan yang juga berperan layaknya pendeta.

Pada akhirnya, neorealisme lebih memfokuskan untuk memotret kenyataan sosial, kemiskinan, dan keputusasaan yang dialami masyarakat kala itu. Mungkin, jika Rossellini ingin menggambarkan suasana perayaan religius saat ini, dia akan berfokus bagaimana perilaku konsumtif sebagian besar masyarakat dalam menghadapai perayaan besar keagamaan, perihal refleksi, dosa, dan masyarakat yang sengsara, bisa jadi nomor dua.

Cinta dan kasih sayang mungkin saja disamaratakan dengan “bermateri” secara serampangan.

Penutup

Terlepas dari perspektif individu terhadap keyakinan. Dari The Flower of St. Francis kita bisa belajar cara seseorang dalam menyikapi keduniawian. Beberapa adegan dalam film tersebut hanyalah salah satu contoh usaha manusia untuk menghadirkan perasaan bahwa kenikmatan duniawi tidak seharusnya memalingkan diri terhadap Tuhan.

Kasih sayang dilukisakan bagaikan kamu yang berusaha untuk tetap memberi meskipun sesungguhnya tak ada lagi yang bisa ia berikan, dan untuk itu mungkin kamu akan menghela nafas panjang dari hati yang hening dan jiwa yang perih.

Semangat untuk menyelami relung-relung eskatologi (perihal kehidupan setelah kematian atau ketidakekalan dunia) mungkin dapat terpacu setelah kalian menonton film ini. Tentunya, beragam cara bagi setiap individu untuk menemukan kedamaian rohani tentunya berbeda. Perbedaan adalah fitrah.

Sebagai penutup, akan disuguhkan kutipan Averroes yang berbunyi:

(azquotes,com)

Dan kira-kira beginilah terjemahan bebas dari penulis:

Ketidakpedulian berujung pada ketakutan, ketakutan berujung pada kebencian, dan kebencian berujung pada kekerasan. Itulah Rumusnya. -Ibnu Ruysd

Apakah kita sudah cukup siap untuk mempelajari segala sesuatu dengan lebih bijak?