The Promised Neverland atau yang juga dikenal dengan Yakusoku no Neverland merupakan manga mahakarya dari Kaiu Shirai (Pengarang) yang berkolaborasi dengan Posuka Demizu (Ilustrator). The Promised Neverland mulai dipublikasikan sejak 1 Agustus 2016 dan statusnya masih ongoing alias belum tamat.

Manga yang satu ini sangat menarik dan berhasil menyedot perhatian seluruh dunia dengan pujian yang tidak sedikit dari bermacam komunitas pencinta kultur pop Jepang. Bila kamu penggemar Death Note, Shingeki no Kyojin/Attack on Titan, Battle Royale, Cage of Eden/Eden no Ori atau Btooom!, kemungkinan besar kamupun bakal menyukai manga yang satu ini.

Daripada terlalu banyak lama, mari kita langsung masuk pada babak ulasan tentang The Promised Neverland!

Sinopsis

Emma, seorang gadis berumur belasan sedang menikmati hari-harinya yang dikelilingi kelembutan, kenyamanan, dan kasih sayang di sebuah panti asuhan bernama Green Field House. Walaupun tanpa orang tua, dia selalu merasa bersyukur karena hari-harinya tetap berarti dengan kehadiran saudara-saudarinya yang tidak sekandung di tempat itu.

Ditambah dengan kehadiran Mama Elizabeth yang merupakan pengurus dan penanggung jawab dari Green Field House. Hampir semua kebutuhan fisik dan mental dari Emma dan teman-temannya terpenuhi di tempat itu hampir tanpa sedikitpun kekurangan.

Hari-hari Emma berubah ketika ia diam-diam mengikuti Conny, temannya yang baru saja mau pergi dari Green Field House dengan dalih telah diadopsi. Emma yang mengintip kepergian Conny pun tampak kaget dengan kenyataan yang harus ia alami: Conny ternyata dibunuh untuk dijadikan santapan para Demon.

Singkat cerita, perlahan Emma mulai mengetahui latar belakang dari berdirinya Green Field House: tempat itu bukan panti asuhan, melainkan sebuah peternakan manusia demi memuaskan selera para Demon. Perlahan pun diketahui bahwa Mama Elizabeth bekerja sama dengan para Demon dan berperan sebagai ‘peternak,’ sedangkan anak-anak panti adalah ‘ternaknya’.

Emma harus menghadapi kenyataan pahit bahwa anak-anak panti dari Green Field House adalah ‘ternak’ untuk menghasilkan ‘makanan berkualitas premium’ untuk para Demon. Dengan modal kecerdasan yang memang ia dapatkan dari Green Field House, ia merencanakan sebuah pelarian besar demi membebaskan nasib mereka yang tak tertata.

Akhirnya, 3 murid terbaik dan tercerdas dari institusi Green Field House; Emma, Norman, dan Ray pun merencanakan sebuah pelarian yang mereka susun secepat dan serapih mungkin. Bisakah kecerdasan mereka menerabas kejamnya realitas?

Latar Cerita

The Promised Neverland mengambil latar cerita bahwa dunia telah genap berumur 2045. Pada prolog pun diceritakan bahwa manusia bukanlah pemegang hierarki tertinggi dalam sistem ‘rantai makanan’.

Dengan awal cerita yang seperti dijelaskan pada sinopsis, membuat kita akan percaya bahwa dunia pada tahun 2045 adalah dunia pasca-apokaliptik yang telah dikuasai oleh Demon. Orang dewasa terlukiskan tidak lain adalah pengabdi para Demon yang lebih memilih menjadi budak untuk tetap hidup.

Imaji-imaji mengenai anak-anak yang sudah tidak memiliki tembok perlindungan dari orang dewasa pun akan kental terlihat dalam latar cerita. Anak-anak harus berjuang mengatasi semua kebuntuan mereka dengan cara bekerjasama antar sesama untuk tetap bertahan hidup.

Cerita dan Plot

Latar yang kelam itu semakin lengkap ketika peran cerita seakan menghadirkan sebuah ‘harapan’ bagi Emma dan kawan-kawan. Jalan keluar dari hampir semua kebuntuan anak-anak dilhasilkan dari proses ketekunan akan pembelajaran.

Rasa ingin tahu, kemauan untuk belajar dari berbagai sumber dan perilaku, serta diskusi antar sesama sedemikian rupa dapat menjembatani kebuntuan anak-anak tersebut dalam bertahan hidup. Dari semua perliaku yang disebutkan di atas, harapan akan terus lahir dan tumbuh bersama mereka.

Sekitar chapter 1 sampai chapter 30, para pembaca akan dibawa untuk mengarungi rasa putus asa anak-anak beserta jalan keluarnya. Perlu usaha yang cukup keras untuk memahami logika-logika awal yang ada dalam The Promised Neverland. Dalam babak itu, gampangnya kalian bakal disuruh ‘mikir’ perihal eksistensi dunia ciptaan pengarang beserta isinya sekaligus merasakan kondisi psikologis pada setiap anak secara bersamaan.

Setelah pembaca diajak ‘belajar’ pada chapter awal, plot yang berfungsi sebagai benang merah dari cerita pun akan membawa kalian berpetualang dan bertahan hidup bersama Emma di Neverland.

Hal di atas akan melahirkan keasyikan saat membaca mahakarya yang satu ini: perlu kalian tahu, dalam biografi singkatnya Kaiu Shirai memang suka ‘menipu’ pembacanya dengan jurus-jurus plot twist-nya yang sangat dramatik dan menarik!

Penokohan

Tokoh-tokoh dalam The Promised Neverland adalah tokoh-tokoh yang dinamis. Tak selamanya mereka itu baik, tak selamanya mereka itu jahat. Idealisme-idealisme yang harus berhadapan dengan kenyataan pun bakal membuat tokoh-tokohnya berkompromi untuk hidup yang lebih realistis.

Menariknya, dengan jalan realistis tersebut tidak serta merta membuat tokoh-tokoh dan ceritanya menjadi semacam dunia yang penuh dengan egosentris. Kebersamaan yang akan bertujuan untuk mengedepankan kepentingan bersama pun masih menjadi gagasan besar dari The Promised Neverland.

Nilai-nilai moral pun berserakan di setiap lembar cerita. Pembaca pun sengaja dibawa untuk mengumpulkan kepingan-kepingan moral itu dengan artikulasinya masing-masing.

Estetika

Gaya gambar dalam berkesenian adalah hak pribadi dari masing-masing pekerja seni. Namun, penulis artikel ini menilai bahwa Posuka Demizu berhasil menghadirkan kesatuan yang apik sehingga gaya gambarnya nampak sangat baik, holistik, dan mampu menerjemahkan cerita dari Kaiu Shirai secara lebih menarik dalam bentuk visual.

Hal itu akan kental terasa saat kalian melihat sampul-sampul dan ilustrasi-ilustrasi pembuka dari The Promised Neverland dalam setiap chapter. Ilustrasi-ilustrasi tersebut sangat dalam dan mampu mewakilkan isi cerita dalam setiap chapter pada indera pengelihatan pembaca.

Rupa anak-anak yang imut akan berpadu kontras dengan tampang-tampang para Demon yang brutal dan angker. Namun, Posuka Demizu tetap bisa memadukan kedua hal yang berlawanan ini secara proposional.

Kesimpulan dan Penutup

Dari penilaian di atas, sejauh ini hampir tidak ada celah untuk mengatakan bahwa karya ini tidak baik. Semua aspek yang diracik sedemikian apik telah menghasilkan suatu suguhan yang baru bagi para pencinta manga.

Penulis artikel tentunya tidak akan kaget bahwa mungkin manga ini akan diadaptasi menjadi anime. Tema-tema survival seperti Promised Neverland mungkin bisa menyamakan populartias Shingeki no Kyojin saat di-anime-kan.

Kalau ada sedikit waktu luang, cobalah untuk membaca karya yang satu ini dan jangan lupa membeli versi yang orisinilnya bila The Promised Neverland sudah masuk Indonesia.