Usagi Drop merupakan sebuah anime yang bisa digolongkan pada anime yang mengangkat cerita yang dekat dengan kondisi kenyataan kebudayaan. Di dalamnya, terdapat contoh yang cukup relevan untuk menjalankan serangkaian cobaan dalam hidup, apalagi dalam hal mengurus anak beserta tetek bengek permasalahan yang meliputinya.

Dewasa ini, anime memang telah berkembang pesat dan ‘melayani’ berbagai macam genre dalam pengembangannya. Mulai dari yang untuk semua umur hingga yang berbau mesum, anime pun semakin bisa dinikmati oleh banyak kalangan.

Tidak sedikit seseorang atau kelompok/komunitas mendedikasikan dirinya untuk mencintai anime. Bahkan, penyimpangan mental dan seksual pun ada yang berakar dari penyalahgunaan anime yang malah diresapi terlalu ‘ugal-ugalan’.

Komplikasinya; ada yang makin aktif berkarya dan ada pula yang makin pasif dalam menjalani hidup. Dalam poin pertama, asalkan karya itu mendorong seseorang dalam suatu medan kreasi yang positif, tentunya tak menjadi soal. Poin kedualah yang seharusnya bisa menjadi perhatian dan kepedulian berbagai kalangan, perlu ada penyuluhan yang berimbang agar orang-orang tersebut tidak terjerumus dalam kekosongan.

Dari semua pembahasan itulah, mari kita sedikit membahas Usagi Drop yang penulis kira jalan ceritanya sangat bermanfaat sebagai refleksi dalam menjalani hidup yang makin absurd.

Sinopsis

Kawachi Daikichi adalah seorang kelas pekerja berumur 30 tahun yang hidupnya serasa kurang akan makna. Walaupun dia sudah mempunyai jabatan yang cukup baik di sebuah perusahaan retail, dia merasa hidupnya sangat monoton dan kerap ragu dalam mengartikulasikan arti kebahagiaan.

Usagi Drop
(kredit: Production I.G)

Suatu hari, kakek Daikchi yang juga ayah dari Ibu Daikichi yang bernama Kaga Souichi pun meninggal. Tanpa disangka-sangka, ternyata sang kakek telah mengadopsi seorang gadis kecil bernama Rin. Awalnya, Daikchi mengira bahwa Rin merupakan anak haram milik kakeknya. Seiring berjalanya cerita, spekulasi kakek cabul pun hilang seiring berkembangnya fakta.

Usagi Drop
(kredit: Production I.G)

Tidak ada satupun pihak keluarga dari Daikchi yang ‘benar-benar’ peduli perihal hak asuh Rin. Dengan bermacam alasan, mereka pun saling lempar tanggung jawab layaknya para pemangku kebijakan yang sedang bermain ‘ping-pong tanggung jawab’. Daikichi pun spontan bertindak dan menawarkan Rin untuk mengasuhnya.

Usagi Drop
(kredit: Production I.G)

Dari kejadian inilah nantinya cerita akan berkembang. Akan terlukis bagaimana usaha Daikchi menjadi seorang Orangtua Wali dari Rin. Perjuangan dari Daikchi akan terasa mengharukan ketika dia pun memprioritaskan Rin dalam berbagai dinamika kehidupannya. Terlepas dari berbagai macam pengorbanan, Daikchi pun terlihat lebih menikmati hidupnya pasca kehadiran Rin.

Keputusan Daikchi dan Kemandirian Rin

Keputusan Daikchi dalam mengurus Rin bukan tanpa cobaan, dia benar-benar belajar dari titik terendah untuk mengupayakan dirinya menjadi seseorang yang dapat membahagiakan dan menjadi motivator pertumbuhan Rin menjadi seorang manusia.

Daikchi rela untuk turun pangkat demi bisa mencurahkan waktunya bagi Rin. Dia pun mempersiapkan kebutuhan Rin dengan ‘berguru’ dari para rekan dan single parent yang lain. Bahkan Daikchi berhasil menjadi penengah dalam konflik rumah tangga yang dihadapi oleh saudarinya.

Rin pun tumbuh menjadi gadis yang mandiri walaupun tanpa figur seorang Ibu. Dalam Usagi Drop, Rin tidak dilukiskan sebagai gadis/perempuan yang pasif dan terus menerus menunggu laki-laki untuk mendidiknya. Terkadang, ketika Daikichi mendapat tekanan dan menjadi depresi, Rin berhasil menghiburnya dan berubah menjadi gadis yang nampak bijak walaupun dibawakan dengan gaya khas anak-anak.

Bahkan pada suatu titik, Daikchi berkontemplasi; apakah dia yang mengurus Rin? Atau Rin sendiri yang berhasil mengurus Daikchi menjadi pria yang lebih baik.

Inilah salah satu contoh yang membuat Usagi Drop menarik, terlepas dari jarak umur, Daikchi dan Rin memang nampak diluksikan sebagai seorang ‘murid’ yang ingin belajar meresapi peran sosialnya secara lebih baik. Jadi, orang tua yang semena-mena dan merasa paling benar tidak eksis dalam anime ini.

Tokoh Lain yang Membuat Usagi Drop Menarik

Usagi Drop tidak melulu berfokus pada Rin dan Daikchi. Lingkungan dan orang-orang yang secara langsung dan tidak langsung membantu membuat mereka makin menikmati hidup pun tak luput disorot dalam anime ini.

Sebut saja Nitani Kouki, seorang bocah seumuran Rin yang tergolong anti-ayah. Bocah ini tumbuh dan dibesarkan oleh Ibunya: Nitani Yukari seorang diri. Digambarkan, bahwa sang ayah bajingan itu meninggalkan mereka berdua tanpa sebab. Sikap Kouki pun secara bertahap berubah ketika melihat Daikchi yang walaupun masih bujang, namun memiliki naluri seorang ayah yang kuat dan bertanggung jawab saat bersama Rin.

Nitani Yukari, janda beranak satu dilukiskan sebagai perempuan kuat dan aktif dalam menjalani hidup. Tidak ada kesan perempuan yang harus pasif; menunggu, tertidur, atau bermimpi di siang bolong sambil menunggu seorang ‘Pangeran’ datang. Dia bekerja keras membanting tulang demi buah hatinya: Kouki dan terus mencurahkan kasih sayang dan mendengarkan keluh kesah Kouki layaknya Ibu yang bijak.

Kouki dan Yukari (kredit: Production I.G)

Kouki dan Yukari pun kerap membantu Daikchi dan Rin dalam menjalani dinamika kehidupan. Solidaritas antara kedua kubu pun makin erat dan berujung baik karena mereka saling merasakan cobaan yang sama dalam menjalani hidup.

Masih banyak juga tokoh yang akan mewarnai petualangan Daikchi dan Rin. Kadang konflik pun terlahir dari pergesekan itu. Konklusi pun akan tersuguh manis dan penuh renungan filosofis sebagai penyeimbang.

Kesimpulan dan Penutup

Usagi Drop adalah cermin. Cermin yang akan memberikan suatu contoh konkrit dalam mengurus seorang anak manusia yang kebutuhannya tidak hanya bisa dipenuhi dengan kebutuhan material. Hal seperti ini penulis kira cukup relevan untuk kita, agar bisa lebih menghargai ‘dunia anak-anak’ yang harus dipahami dengan lebih teliti.

Tidak ada kursus atau les privat untuk menjadi orang tua. Paling yang ada hanyalah kursus mengurus bayi atau seminar-seminar mahal yang belumtentu menjadi kebutuhan utama sang anak. Kenapa penulis beropini demikian? Setiap cara mengurus anak memiliki pertimbangan akan dimensi yang berlapis-lapis; mulai dari lingkungan, faktor ekonomi, kondisi fisik/mental anak, perkembangan IPTEK, bahkan regulasi dari pemerintah.

Mendidik anak adalah proses yang terbata-bata dan tidak hanya bisa diselesaikan melalui seminar yang mahal. Variabel-variabel tak terduga tentunya akan hadir sesuai dengan perkembangan zaman yang dinamis. Usagi Drop berani menunjukan bahwa anak harus dilibatkan sebagai subjek, bukan sebagai objek dalam pertumbuhannya.